-->

Pesona Pariwisata Halal Indonesia

Konsep dan Pesona Pariwisata Halal Indonesia titik nol sabang provinsi aceh
RiauMagz.com - Tahun 2019 yang lalu menjadi tahun menggembirakan bagi dunia pariwisata halal Indonesia. Pada bulan April 2019 yang lalu, Indonesia dinobatkan di peringkat pertama peraih destinasi wisata halal versi Global Muslim Travel Index (GMTI). Indonesia berhasil mengalahkan 130 negara di dunia dan bersaing ketat dengan Uni Emirat Arab di peringkat ke-2.

Meskipun Indonesia telah meraih prestasi membanggakan di tingkat internasional, faktanya orang Indonesia sendiri masih banyak yang belum mengerti istilah dan makna wisata halal.
Pariwisata Halal menurut Sutono dalam makalah tentang pariwisata halal yang dipublikasikan pada bulan Maret 2019 menyebutkan, pariwisata halal adalah merupakan seperangkat layanan tambahan amenitas, atraksi dan aksesbilitas yang ditujukan dan diberikan untuk memenuhi kebutuhan, pengalaman dan keinginan para wisatawan muslim. Jadi penyediakan wisata halal mengaju pada beberapa aspek utama yang meliputi akses, kenyamanan, lingkungan, pelayanan dan sebagainya bagi para wisatawan muslim. Hal ini sesuai dengan konsep pariwisata halal.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan GMTI, Indonesia mendapatkan poin tertinggi dalam aspek pelayanan komunikasi yang ramah dan nyaman bagi wisatawan. Sementara untuk aspek akses, lingkungan dan pelayanan, Indonesia masih tertinggal beberapa poin dari Uni Emirat Arab yang berada di posisi kedua. Hal ini menjadi evaluasi bagi pengembangan dan peningkatan pengelolaan wisata halal di Indonesia.

Potensi Wisata Halal Indonesia dari Tahun ke Tahun

Mengapa pemerintah memandang potensi industri wisata halal di Indonesia perlu terus ditingkatkan kualitasnya? Setidaknya ada beberapa indikator yang menunjukkan potensi contoh wisata halal Indonesia bagi negara lain yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan, di antaranya adalah:
  1. Pertumbuhan Wisatawan Mancanegara
    Pertumbuhan kunjungan wisata mancanegara ke Indonesia berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami peningkatan jumlah yang sangat signifikan di tahun 2018, yakni mencapai angka hingga 15,81%. Angka ini tertinggi sejak tahun 2006 yang hanya mencatatkan angka 6,32%. Dari jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung tersebut, jumlah wisatawan muslim dari seluruh dunia terutama dari negara-negara Timur Tengah cukup signifikan jumlahnya.
  2. Menyumbang Devisa yang Cukup Besar
    Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui hingga bulan Juli 2019, industri pariwisata halal Indonesia menghasilkan devisa sebesar 255,8 triliun rupiah. Jumlah ini cukup signifikan dibandingkan dengan dengan jumlah dari industri lainnya.
  3. Penghargaan Pariwisata Nasional yang Melimpah
    Sejak tahun 2016 hingga tahun 2019, industri pariwisata Indonesia mendapatkan berbagai penghargaan skala internasional. Sepanjang tahun 2016, Wonderful Indonesia mendapatkan sebanyak 46 kali penghargaan. Selanjutnya di tahun 2017, Wonderful Indonesia mendapatkan 27 penghargaan dari berbagai event yang diselenggarakan di 13 negara. Lalu pada tahun 2018, penghargaan meningkat menjadi 66 buah penghargaan yang didapatkan dari event-event yang diselenggarakan di 15 negara di dunia. Dan hingga bulan Juni 2019, Indonesia telah meraih sebanyak 35 penghargaan yang didapatkan dari event-event yang dilaksanakan di 13 negara di dunia.
  4. Penghargaan Pariwisata Halal Indonesia
    Khusus untuk industri wisata halal Indonesia, pada tahun 2015 Indonesia meraih 3 penghargaan internasional, dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 12 jenis penghargaan pada event World Halal Tourism Award.

Berdasarkan data dari SGIE tahun 2018/2019 sektor-sektor halal di Indonesia meliputi berbagai aspek, di antaranya:
  1. Islamic finance
  2. Halal food
  3. Halal travel
  4. Modest fashion
  5. Halal media and recreation
  6. Farmasi halal
  7. Kosmetik halal
Dari ketujuh aspek di atas, sektor tertinggi diraih oleh halal travel yang mencapai 65% lebih banyak dibandingkan sektor lainnya. Angka ini menunjukkan potensi wisata halal Indonesia yang memang sangat potensial untuk dikembangkan. Uniknya lagi, dari jumlah wisata muslim mancanegara yang meningkat dari tahun ke tahun, usia wisatawan didominasi oleh kalangan generasi milenial (lahir pada tahun 1981-1997) dan generasi Z (lahir 1997-2012).

Inilah 10 Destinasi Pariwisata Halal Unggulan Indonesia

Dalam upaya untuk mengembangkan secara serius industri pariwisata halal di Indonesia, sebelum ini pemerintah telah menetapkan 10 destinasi wisata halal Indonesia yang tersebar dari daerah timur hingga barat. Penetapan itu berdasaran konsep pariwisata halal dan konstruksi definisi pariwisata yang diterapkan.

Destinasi wisata tersebut mencakup wisata alam, budaya, sejarah dan sebagainya yang kental dengan suasana halal. Penetapan ini didasarkan pada penelianan yang dilakukan oleh Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) dengan mengacu kepada aspek penilaian yang dibuat oleh GMTI. Ke-4 aspek tersebut adalah akses, komunikasi, lingkungan dan pelayanan. Adapun ke-10 destinasi wisata unggulan tersebut adalah:
  1. Lombok
    Wisata Lombok berada di peringkat pertama dari 10 destinasi unggulan wisata halal di Indonesia. Peringkat ini didasarkan pada penilaian 4 aspek standar dari GMTI yakni akses, komunikasi, lingkungan dan pelayanan. Lombok meraih poin tertinggi dibandingkan 9 destinasi wisata lainnya yang ada.
    Wisata Lombok dinilai memiliki aspek komunikasi terbaik meskipun dari segi akses lebih rendah dan sulit serta service yang juga perlu ditingkatkan. Dalam hal lingkungan destinasi wisata daerah timur ini cukup tinggi poinnya yang artinya kondusif bagi seorang traveller muslim.
  2. Aceh
    Wisata halal Aceh sama seperti Lombok. Akses masih sedikit sulit tetapi cukup unggul dalam hal komunikasi, lingkungan dan pelayanan. Destinasi wisata halal Aceh berada di posisi kedua setelah Lombok.
  3. Riau dan Kepulauan Riau
    Dua provinsi yang identik dengan tradisi dan budaya Melayu ini masuk di peringkat ketiga sebagai destinasi wisata halal unggulan di Indonesia. Dalam hal akses, pelayanan dan komunikasi, kualitasnya cukup baik. Hanya saja untuk poin lingkungan masih harus ditingkatkan agar lebih baik. Gambar dibawah adalah bagian dalam Mesjid Raya Pekanbaru dengan 6 tiang lama yang masih dipertahankan.
    Konsep dan Pesona Pariwisata Halal Indonesia
  4. Jakarta
    Sebagai ibukota negara, Jakarta hanya mampu berada di posisi ke-4 sebagai destinasi wisata halal Indonesia. Di sini poin akses nyaris sempurna karena memang rata-rata wisatawan mancanegara akan sampai dengan mudah di ibukota. Sayangnya poin terendah daerah ini adalah aspek komunikasi dan pelayanan. Kondisi sosiologi masyarakat di daerah perkotaan turut mempengaruhi aspek ini.
  5. Sumatera Barat
    Daerah Sumatera Barat memiliki poin penilaian tertinggi dari aspek lingkungan yang nyaman bagi seorang traveller muslim. Tetapi masih butuh peningkatan di ketiga aspek lainnya yakni akses, pelayanan dan komunikasi.
  6. Jawa Barat
    Sama seperti provinsi tetangganya, Jawa Barat mendapatkan poin tertinggi dalam hal akses. Sementara untuk tiga poin lainnya yakni lingkungan, komunikasi dan pelayanan masih harus ditingkatkan lagi.
  7. Yogyakarta
    Dalam hal akses, destinasi wisata di Yogyakarta cukup unggul. Hanya saja dalam hal lingkungan yang mendukung kenyamanan wisatawan muslim masih perlu ditingkatkan lagi karena memang kondisi keberagaman kehidupan beragama di daerah Jogjakarta cukup tinggi.
  8. Jawa Tengah
    Jawa Tengah unggul dalam hal akses, tetapi cukup rendah pada komunikasi dan lingkungan. Kondisinya hampir sama dengan Yogyakarta di mana heterogenitas kehidupan beragama di daerah tersebut cukup tinggi.
  9. Jawa Timur
    Jawa Timur diwakili oleh daerah Malang yang masuk dalam 10 besar daerah wisata halal unggulan di Indonesia. Malang memiliki aspek akses yang baik tetapi cukup rendah di aspek pelayanan dan komunikasi.
  10. Sulawesi Selatan
    Daerah lain di Timur yang juga masuk dalam peringkat 10 besar destinasi wisata halal unggulan Indonesia adalah Sulawesi Selatan. Daerah ini masih unggul dalam hal akses dan perlu dukungan di ketiga aspek lain yakni komunikasi, pelayanan dan lingkungan.

Kesepuluh daerah wisata halal unggulan di Indonsia tersebut harus terus dikembangkan dalam berbagai aspek, di antaranya aspek pemasaran, pengembangan destinasi dan pengembangan industri kelembagaan. Pemerintah perlu melakukan penyuluhan lebih intensif kepada masyarakat lapisan bawah terutama di daerah-daerah wisata unggulan tersebut agar masyarakat paham dan mendukung sepenuhnya upaya pengembangan wisata di daerahnya. Jangan sampai karena istilah halal yang digunakan menjadi polemik di lapisan masyarakat tertentu. Pengembangan industri ini dianggap pengembangan yang bernuansa SARA dan perlu ditentang secara kolektif. Hal ini tentu menjadi keprihatinan bagi dunia pariwisata halal Indonesia.

Pengembangan industri destinasi pariwisata halal perlu dilakukan masif di daerah-daerah yang masuk dalam peringkat 10 besar nasional tersebut. Suasana wisata harus diciptakan sehingga kualitas destinasi mengalami peningkatan kualitas dan jumlahnya. Pengembangan destinasi baru perlu dilakukan dengan upaya pengembangan intensif destinasi-destinasi yang sudah populer. Dengan demikian diharapkan target jumlah wisatawan mancanegara Indonesia pada tahun 2026 sebanyak 230 million traveller dapat tercapai dan berdampak langsung pada pengembangan ekonomi nasional Indonesia.



RiauMagz, Wisata halal Riau dalam konsep pariwisata halal Indonesia masih perlu dikembangkan lagi. Hal ini khususnya menghadapi masa pandemi Covid 19 dan Kehidupan Yang Baru. Pariwisata Halal 2020 masih menyusun ulang sinergitas dan mulai agak meningkat sedikit di akhir tahun. Sedangkan pariwisata halal Indonesia 2021 butuh pemahaman konsep yang lebih mendalam tentang, misalnya penyediaan tempat ibadah, terkhusus penyediaan makanan halal tanpa menghilangkan konsep makanan lokal dimana wisatawan muslim itu berkunjung. Bagaimana penerapan pariwisata halal Indonesia di tahun 2022 sesuai Standar Kehidupan Yang baru?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel