Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinopsis Cerita Lancang Kuning

Artikel ini pernah dipublikasikan pada Riaumagazine Versi 1.0 pada 29 Maret 2012

Sinopsis Lancang Kuning ini adalah sinopsis untuk cerita Lancang Kuning yang merupakan cerita rakyat Melayu khususnya Riau yang dibawakan oleh Teater Mahligai. Bulan Mei 2012, Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru mengadakan pagelaran Sendratasik Lancang Kuning di negeri Belanda dan 5 negara Eropa lainnya.

gambar Sinopsis Cerita Rakyat Riau Lancang Kuning

SINOPSIS LANCANG KUNING

Lancang kuning berasal dari kata “lancang” (perahu kebesaran kerajaan) dan "kuning” (warna kebesaran kerajaan). Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat Lancang Kuning ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan kerajaan.

Suatu hari, Datuk Laksamana pemimpin Bukit Batu Bengkalis di Riau, memanggil dua panglimanya, yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan menghadap ke istana untuk diberi tugas ke Tanjung Jati menumpas perompak atau lanun yang selalu mengganggu kawasan tersebut di Senggoro kawasan mana tempat mata pencarian nelayan Bukit Batu. Dengan ketaatannya, Panglima Umar langsung berangkat melaksanakan tugas ini, meskipun harus meninggalkan istrinya yang cantik bernama Zubaidah. Sementara itu Panglima Hasan tidak ikut berangkat melaksanakan tugas itu, karena ternyata berita adanya perompakan di Tanjung Jati itu hanyalah rekayasa siasat Panglima Hasan sendiri agar Panglima Umar jauh dari isterinya Zubaidah dan Datuk Laksamana.

Selama kepergian Panglima Umar, diam-diam Panglima Hasan berusaha merayu Zubaidah agar mengkhianati suaminya dan menjanjikan kehidupan lebih baik, namun Zubaidah bertahan dengan kesetiaan dan marwahnya. Situasi ini membuat hati Panglima Hasan semakin marah dan brutal. Panglima Hasan mencari akal menghabisi Zubaidah. Bertepatan ketika peluncuran Lancang Kuning Kerajaan ke air, tiba-tiba Lancang Kuning berhenti tidak bergerak sama sekali, maka Panglima Hasan memutuskan mengambil Zubaidah sebagai tumbal untuk galangan lancang. Dengan bergalangan tubuh Zubaidah, maka lancang tersebut berhasil diluncurkan ke laut dan Zubaidah pun mengakhiri hidupnya di bawah lancang.

Tak lama setelah kematian Zubaidah, Panglima Umar yang baru pulang dari Tanjung Jati mendapat fitnah yang dibuat oleh Panglima Hasan sendiri, bahwa Datuk Lasemana lah yang membunuh Zubaidah dengan menjadikan tubuh Zubaidah sebagai tumbal galangan lancang. Hasutan Panglima Hasan ini termakan oleh Panglima Umar dan membuat Panglima Umar menjadi kalap dan amat marah. Tanpa pikir panjang Panglima Umar menyerang Datuk Laksemana. Datuk Laksemana memberi sumpah kepada Panglima Umar, bahwa apabila Panglima Umar melewati Tanjung Jati, akan tenggelam bersama kapalnya.

Setelah itu barulah Panglima Umar sadar akan fitnah itu, pertikaian dengan Panglima Hasan pun terjadi, dan berakhir dengan kematian Panglima Hasan yang tragis di ujung keris Panglima Umar.

Panglima Umar pun pergi menjalankan kutukan dari Datuk Laksemana, berlayar ke perairan Tanjung Jati dan tenggelam. Sejak saat itu pulau Bengkalis dikenal daerah yang berkembang dibawah kepemimpinan Datuk Laksamana.

Sinopsis Lancang Kuning untuk Pagelaran sendratasik Lancang Kuning
AKTOR dan AKTRIS / SENIMAN PAMERAN
Sendratasik “Lancang Kuning” dibawakan oleh aktor dan aktris yang sudah berpengalaman di bidang akting. Sebahagian ada yang sudah beberapa kali mengadakan pementasan di manca negara termasuk di Eropa. Demikian pula musisi penyanyi yang mendukungnya terdiri dari para seniman yang karyanya mendapat pujian dari peminat seni Eropa. Itulah sebabnya Sendratasik Lancang Kuning produk Teater Mahligai ini terpilih untuk ditampilkan pada beberapa even di negara-negara Eropa.

CAST
Halilintar (Director/Hulu Balang)
Christina Putri Susanti (Zubaidah)
Monda Gianes (Panglima Umar)
Ubaidillah bin Said Umar (Datuk Laksemana)
Gustansyah (Panglima Hassan)
Makhzun Hafas (Bathin Sanggoro)
Sri Deswita (Mak Bidan/Make up artist)
Hafizah Askacita (Rakyat/make up artist)

PENDUKUNG
Rino Deza Pati (Composer/Musician)
Muhammad Santoso David (Musician)
Viogy Rupiyanto (Musician)
Cendra Putra Yanis (Musician)
Syahru Ramadhan (Musician)
Aristofani (Musician)
Ardiansyah (Musician)
Iwan Kurniawan (Musician)
Fitrah (Musician)
Mekroza (Musician)
Loni Jaya Putra (Musician)
Tito Aldila (Coreographer/Musician)
Yunita Hartati binti Nadi (Singer/Dalang)
Suhenri Perdana (Dancer)
Awal Zumardi (Dancer)
Wan Harun Ismail (Dancer)
Riyo Tulus Pernando (Dancer)
Yeniati Astuti (Dancer)
Gemi Marta Jepri (Dancer)
Heppy Fitriana (Dancer)
Fanny Fifiyanti (Dancer)
Devienta Roza (Dancer)
Fahrizal (Artistik/Rakyat)
Indra Kumala (Dokumentasi/official)
Leonasri (Official/Crew)
Yulli Sullianti (Costum/Rakyat)

PENANGGUNG JAWAB : Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru

SINOPSIS LANCANG KUNING

Sumber Tulisan :
Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru