Candi Muara Takus Sebagai Wisata Edukasi dan Bukti Sejarah di Riau


Tulisan ini dibuat 6 April 2013 untuk www.RiauMagz.com versi lama (cc. Riau Heritage)

Sejarah Candi Muara Takus sangatlah panjang. Candi ini merupakan situs candi paling tua di Pulau Sumatera, sekaligus juga merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Propinsi Riau yang terkenal dengan sejarah Melayu. Candi yang bersifat campuran Hindu dan Buddha tersebut merupakan bukti bahwasannya agama Hindu dan Buddha pernah berkembang di daerah tersebut. Candi Muara Takus merupakan yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Candi tersebut berjarak kurang lebih sekitar 135 kilometer dari arah Kota Pekanbaru.

Candi Muara Takus merupakan satu-satunya situs candi Buddha di Riau yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Candi Muara Takus juga dianggap oleh sebagian para ahli sebagai peninggalan agama Hindu di Riau. Situs tersebut berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru sebagai ibu kota Propinsi Riau. Bangunan situs Candi Muara Takus dikelilingi sebuah tembok berukuran 74 x 74 meter. Bahan dari tembok tersebut terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm. Sementara di kawasan luar arealnya terdapat pula tembok tanah dengan ukuran 1,5 x 1,5 kilometer. Tembok tanah tersebut mengelilingi kompleks sampal ke arah pinggir Sungai Kampar Kanan.

Di dalam kompleks Candi Muara Takus terdapat beberapa bangunan candi lainnya yang disebut dengan Candi sulung atau Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa serta Palangka. Disamping bangunan-bangunan tersebut, di dalam kompleks candi ini juga ditemukan gundukan yang diprediksi sebagai tempat pembakaran tulang-tulang manusia. Di luar kompleks candi ini terdapat pula bangunan-bangunan bekas yang terbuat dari batu bata. Hingga saat ini belum dapat dipastikan jenis dari bangunan tersebut.

Candi Muara Takus sendiri telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, meskipun para ahli sejarah belum bisa memastikan kapan tepatnya candi tersebut didirikan. Candi tersebut dianggap sebagai salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Secara arsitektur bangunan, bahan dari pembuatan Candi yang sudah tua ini berbeda dengan candi pada umumnya yang terdapat di Pulau Jawa. Bila candi-candi di Pulau Jawa umumnya terbuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan, maka Candi yang ada di Riau ini terbuat dari tanah liat yang diambil dari sebuah desa bernama Pongkai. Desa tersebut terletak di daerah hilir dari Candi Muara Takus. Pongkai sendiri berasal dari bahasa Cina yang artinya lubang tanah akibat dari penggalian pembuatan Candi.

Ciri yang menunjukkan bahwa bangunan candi tersebut merupakan bangunan dari agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa berasal dari seni India awal. Bentuknya menyerupai anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dilengkapi dengan bata atau timbunan yang diberi puncak meru. Stupa merupakan ciri khas bangunan suci dari agama Budha. Di dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya, bentuk dan fungsi stupa bisa berubah-ubah. Pada bangunan di kompleks Candi dari tanah liat ini, stupa berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing tetap sebagai bangunan lengkap.

Candi Muara Takus Sebagai Bangunan Sejarah di Tepi Sungai
Nama dari Candi Muara Takus berasal dari dua kata, yakni muara dan takus. Muara berarti aliran akhir dari sebuah sungai, yakni berupa laut atau sungai yang lebih besar. Sementara takus berasal dari bahasa Cina yang artinya besar, tua dan candi. Jadi Candi Muara Takus berarti candi tua atau besar yang terletak di muara sungai.

Candi ini merupakan bangunan candi tua yang dahulunya terletak di ujung Sungai Kampar Kanan. Aliran sungai di Pulau Sumatera pada masa lalu merupakan salah satu jalur transportasi perdagangan yang cukup pesat. Para pedagang yang singgah di daerah tersebut membutuhkan tempat peribadatan bangunan suci berupa candi tersebut. Candi akhirnya juga digunakan sebagai tempat menjalankan upacara ritual keagamaan, baik oleh para pedagang yang singgah maupun masyarakat setempat.

Candi Muara Takus
Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies
Ruïnes, vermoedelijk van de Hindoetempel tandji Bongsoe bij Moeara Takoes in West-Sumatra
Taalambtenaren Th.G.Th. Pigeaud en P. Voorhoeve bezoeken Hindoeruïnes bij Muara Takus
Date : 1939-02-28

Keunikan Arsitektur Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan candi peninggalan agama Budha yang ada di Propinsi Riau. Hal ini diketahui dengan adanya stupa yang menjadi ciri khas dari candi agama Budha. Stupa sendiri berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata ataupun timbunan dan diberi puncak meru. Pada sejarahnya, stupa terdiri dari berbagai bentuk diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Stupa yang berdiri sendiri ataupun berkelompok namun masing-masing sebagai bangunan lengkap.
  2. Stupa yang menjadi bagian dari sesuatu bangunan
  3. Stupa yang menjadi pelengkap kelompok sebagai candi perwara.

Stupa yang ada di Candi Muara Takus mengikuti model stupa yang pertama yakni berdiri sendiri ataupun berkelompok namun masing-masing sebagai bangunan lengkap. Arsitektur dari stupa yang ada di Muara Takus cukup unik, tidak ditemukan pada bangunan candi-candi yang ada di Indonesia. Stupa di Muara Takus mirip dengan yang ada di negara Myanmar, Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, bentuknya hampir sama dengan arca yang ada di kompleks Candi Muara Takus.

Di kompleks bangunan Candi Muara Takus terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yakni Candi Sulung dan juga Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa terdapat dibagian depan candi atau dibagian tangga masuk candi tersebut. Sementara pada Candi Mahligai arca singa ditemukan pada keempat sudut bagian pondasinya. Penempatan patung singa tersebut, berdasarkan atas konsep yang berasal dari kebudayaan India, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh kejahatan karena singa mernjadi simbol dari kekuatan terang atau baik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa kompleks bangunan Candi Muara Takus tersebut dahulunya merupakan bangunan Buddhis yang terdiri dari bangunan biara serta beberapa buah candi.

Candi Muara Takus merupakan candi agama Budha yang dibangun dengan konsep air suci seperti yang diyakini di negara India. Dimana bangunan suci haruslah berada di dekat sumber air yang dianggap suci. Air tersebut nantinya akan digunakan sebagai sarana dalam berbagai upacara ritual. Peran air tak hanya digunakan untuk keperluan upacara ritual saja, namun secara teknis juga dibutuhkan dalam kegiatan pembangunan ataupun pemeliharaan bangunan serta kelangsungan hidup dari bangunan itu sendiri.

Agar supaya suatu tempat tetap terjaga kesuciannya, maka haruslah dipelihara daerah di sekitar titik pusat bangunan atau Brahmasthana dan keempat titik mata angin dimana dewa Lokapala (penjaga mata angin) ada untuk melindungi serta mengamankan daerah tersebut sebagai bentuk Wastupurusamandala (perpaduan alam gaib dan alam nyata). Selanjutnya dilakukan berbagai bentuk upacara untuk mensucikan tanah di daerah tersebut. Dalam hal ini air sangat memiliki peran selama kegiatan upacara berlangsung, karena air selain mampu mensucikan juga dapat menyuburkan daerah tersebut.


Ada beberapa aspek yang bisa kita temukan pada pendirian Candi Muara Takus, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Aspek teknologi
Jenis bahan yang dipakai adalah batu bata. Ukuran bata yang dipakai membangun candi ini bervariasi, panjang antara 23 sampai 26 cm, lebar 14 sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm. Bata pada masa lampau memiliki kualitas yang lebih baik dari bata pada masa sekarang. Ini dikarenakan tanah liat yang digunakan disaring sampai benar-benar tidak ada komponen lain selain tanah liat, misalnya pasir. Selain itu, terdapat ”isian” di dalam bata, biasanya berupa sekam. Maksud dari isian ini, supaya bata kuat. Perekatan antar batu bata menggunakan sistem kosod. Sistem kosod merupakan sistem perekatan bata dengan cara menggosokkan bata dengan bata lain dimana pada bidang gosokannya tersebut diberi air.

2. Aspek sosial
Pembangunan dari kompleks bangunan candi dilakukan secara gotong royong oleh orang ramai.Demikian juga pada saat upacara, diikuti oleh para pemimpin dan pengikutnya.

3. Aspek religi
Tampak jelas pada bangunan stupa yang ada di Candi Muara Takus. Stupa menunjukkan tempat pemujaan agama Budha aliran Mahayana.

Keberadaan dari bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berada pada Sungai Kampar Kanan sebagai kawasan Candi Muara Takus cukup mengancam kelestarian kawasan bersejarah tersebut. Keberadaan bendungan PLTA sering kali menyebabkan kondisi air Sungai Kampar Kanan meluap sehingga sangat berpotensi terjadi banjir khususnya di musim penghujan. Walaupun belum pernah terjadi banjir di halaman candi ini. Oleh karena itu, perlu diupayakan sebuah peraturan yang baik agar kawasan situs Candi Muara Takus dapat terus terjaga kualitas dan kelestariannya. Sebab Candi tua ini juga memiliki nilai pariwisata yang cukup banyak peminatnya, terlebih nilai sejarah yang dimilikinya tak bisa digantikan dengan nilai-nilai materi.

Candi Muara Takus dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Sementara bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak sekitar 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai berasal dari Bahasa Cina, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat diartikan sebagai lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus. Bekas lubang galian itu sendiri sekarang telah tenggelam oleh adanya genangan waduk PLTA Koto Panjang.

Candi Muara Takus
Twee heren voor de overwoekerde reliektoren van de Moeara Takoes op Sumatra
www.geheugenvannederland.nl

Candi Muara Takus di Riau Sebagai Bukti Sejarah Agama Hindu-Buddha


Bangunan utama dari kompleks Candi Muara Takus adalah stupa yang besar. Sementara di bagian luar bangunan candi terdapat beberapa bangunan candi lainnya yakni sebagai berikut:

1. Candi Mahligai

Bangunan ini merupakan bangunan yang paling utuh dibandingkan yang lainnya. Candi Mahligai terdiri dari tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa tersebut memiliki pondasi yang berdenah persegi panjang dengan ukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 bagian sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuknya berada di sebelah Selatan.

Pada bagian alas bangunan tersebut terdapat ornamen lotus ganda, sedangkan di bagian tengahnya berdiri sebuah bangunan menara silindrik dengan 36 sisi yang berbentuk kelopak bunga pada bagian sebelah dasarnya. Bagian atas dari bangunan tersebut berbentuk lingkaran.

Menurut Snitger, dahulunya pada ke-empat bagian sudut pondasi terdapat 4 buah arca singa dalam posisi duduk yang terbuat dari batu andesit. Selain itu, berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, dahulunya bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya.

2. Candi Bungsu

Candi bungsu berdiri di bagian sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Pada bagian timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat tangga yang terbuat dari batu putih. Di bagian pondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat teratai.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan adanya sebuah lubang di bagian pinggiran padmasana stupa. Di bagian dalamnya terdapat tanah dan abu. Di dalam tanah tersebut didapatkan tiga buah keping potongan emas. Satu keping lagi terdapat di bagian dasar lubang, yang digores dengan aneka gambar tricula dan tiga huruf Nagari. Di bagian bawah lubang, ditemukan pula sepotong batu berbentuk persegi yang pada bagian sisi bawahnya ternyata juga digores dengan gambar tricula dengan sembilan buah huruf.

3. Candi Tua

Bangunan Candi Tua terbagi menjadi tiga bagian, yakni kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m. Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran pondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m. Pondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran.

4. Candi Palangka

Bangunan candi tersebut terletak pada bagian di sisi timur dari Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar 2 meter. Candi Palangka terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara. Candi Palangka pada masa lampau diduga difungsikan sebagai altar.

Silahkan baca artikel lain :

Sejarah Candi Muara Takus


Tulisan dibawah ini dibuat tanggal 3 Mei 2013 untuk www.RiauMagz.com versi lama (cc. Riau Heritage)

Candi Muara Takus dan Kerajaan Sriwijaya

Pada umumnya para ahli sejarah dan para peneliti bersepakat bahwa memang bangunan Candi Muara Takus merupakan salah satu bukti sejarah tertua dari Kerajaan Sriwijaya yang ada di Propinsi Riau. Seorang pakar arkeologi asal Jerman bernama F.M. Schnitger, memiliki pendapat yang cukup berbeda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan olehnya yakni pada tahun 1935, 1936, dan 1938, ia menyatakan bahwa kompleks candi itu dibangun pada kisaran abad ke-11 dan ke-12. Namun ada juga pakar lainnya yang menyatakan bahwa candi-candi tersebut dibangun pada masa abad sebelum itu, yakni pada sekitar abad ke-10.

Menurut Moens, catatan pendeta Budha asal Cina, I-tsing menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya pada kondisi tengah hari orang berdiri tanpa bayangan. Hal ini merujuk pada lokasi di garis khatulistiwa. Selanjutnya lokasi Muara Takus berada dekat dengan pertemuan dua sungai, yakni Kampar Kanan dan Batang Mahat. Dua jalur sungai tersebut menjadi jalur perdagangan yang ramai. Ia pun selanjutnya menyimpulkan bahwa setelah menguasai Kerajaan Melayu, pusat Kerajaan Sriwijaya selanjutnya pindah ke Muara Takus.

Denah Candi Muara Takus


The Forgotten Kingdoms in Sumatera
F. M. SCHNITGER, ph.D.
Halaman 36-37
https://archive.org/stream/in.ernet.dli.2015.280056/2015.280056.Forgotten-Kingdoms#page/n45/mode/2up

Akan tetapi menurut Prof. Dr. Herwandi, seorang Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, ada banyak sarjana yang memprediksikan bahwa Kerajaan Melayu yang dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya pada saat itu berlokasi di Jambi sekarang. Prediksi tersebut terutama sekali berdasarkan pada hasil penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera pada tahun 1950-an. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pada abad ketujuh, daerah Jambi dan Palembang masih berada dekat dengan daerah laut. "Semakin bertambah tahun, menurut para ahli pantai, daratan di daerah pantai timur ini akan bertambah sepanjang 75 meter setiap tahun," ujarnya.

Belum ditemukan prasasti sejarah yang mengungkap secara pasti kapan berdirinya kompleks bangunan Candi Muara Takus. Hanya Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan pada tahun 604 Saka, yang bertepatan dengan tahun 683 Masehi. Di dalam Prasasti Kedukan Bukit tersebut tertulis bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, seorang penguasa Sriwijaya pada saat itu, telah melakukan perjalanan naik perahu membawa sejumlah puluhan ribu tentara. Perjalanan dari Minanga Tamwan tersebut dilakukan pada hari ketujuh bulan Jesta ke daerah selatan. Beberapa ahli sejarah yang menafsirkan bahwa kawasan Minanga Tamwan tersebut adalah kawasan Muara Takus sekarang.

Legenda Candi Muara Takus

Legenda Putri Reno Bulan merupakan salah satu legenda yang dikaitkan dengan sejarah Candi Muara Takus. Dikisahkan bahwa Awalnya candi Muara Takus bisa terbangun disebabkan oleh Tiga orang datuk yang terdiri dari Datuk Tukang Tembak, Datuk Tukang Solam dan Datuk Tukang Ubek. Diawal cerita termenunglah Datuk Tukang Ubek, ia teringat di dalam hati tentang soko-nya yang hilang. Akhirnya Datuk tersebut pun memanggil dua orang temannya yakni Datuk Tukang Tembak dan Datuk Tukang Solam.

Lalu berangkatlah mereka bertiga bertapa ke tempat Koto Pondam, dan sekembalinya dari bertapa mereka berlayar menuju ke dondang. Dondang ba namo kulik kombuong. Dan sampailah mereka ke laut merah dan terdengarlah seseorang minta tolong. Rupanya seekor elang bangke yang sedang membawa seorang putri, maka berdialoglah (berseteru) datuok yang bertiga. Tersurat di gelang tangan putri tersebut ternyata namanya adalah Reno Bulan.

Kembali cerita ke negeri India. Putri Andam Dewi (orang tua Reno Bulan) sudah dua hari mencari anaknya (Reno Bulan) dan maghatok atau meratapi anaknya. Dan mereka pergi ke tukang nujum untuk menanyakan keadaan anaknya. Dan tukang nujum tersebut menceritakan dimana keberadaan anaknya.

Lalu berangkatlah Raja India untuk mencari putrinya. Raja mempersiapkan serdadu-serdadu, cerdik pandai serta tokoh-tokoh para petinggi kerajaan beserta keluarga besar Kerajaan India dengan membawa sebuah kapal yang besar.

Dan ketika sampai di pelabuhan di Koto Pulau Sijangkang di sambutlah oleh anaknya yakni Putri Reno Bulan. Mereka pun bertemu dengan tiga orang datuk yang telah menyelamatkan putrinya. Sebagai ungkapan rasa terimakasih, Putri Reno Bulan memohon kepada raja untuk membuatkan sebuah istana seperti yang ada di Kerajaan India. Istana itulah yang akhirnya kini dikenal sebagai bangunan Candi Muara Takus.

Candi Muara Takus, Wisata Edukasi di Riau

Objek Wisata Riau menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang untuk berkunjung ke provinsi ini. Tidak hanya wisata alamnya, ternyata riau juga memiliki wisata budaya dan sejarah. Salah satu wisata sejarah yang banyak dikunjungi di Provinsi Riau ialah Candi Muara Takus. Candi bersejarah ini dapat kita kunjungi dengan jarak tempuh 138 km jika dari Pekanbaru atau sekitar dua setengah jam perjalanan.

Objek Wisata Riau ini sayang untuk dilewatkan. Selain akan memperoleh pengetahuan sejarah, kita juga akan disuguhi pemandangan menarik dari candi yang satu ini. Situs candi yang bersejarah ini tepatnya berada di Desa Muara Takus Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi Budha yang satu ini terbuat dari bata (tanah liat) untuk bangunannya. Sedangkan untuk bagian pagar terbuat dari batu putih. Hal ini berbeda sedikit dari candi-candi Budha lainnya yang biasanya terbuat dari batu.

Candi Muara Takus ini telah terdaftar menjadi Benda Cagar Budaya pada tahun 2000. Candi ini dahulunya merupakan sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau dari agama Hindu-Budha. Candi ini juga digunakan sebagai tempat pemujaan para dewa-dewa.

Nama Candi Muara Takus sendiri berasal dari nama sebuah anak sungai yang bernama Takus, sungai tersebut bermuara di Batang Sungai Kampar Kanan. Sedangkan “Muara” sendiri menunjukkan suatu tempat anak sungai mengakhiri alirannya ke laut ataupun sungai yang lebih besar lagi. “Takus” juga berasal dari bahasa China yakni “ta” yang berarti besar, “ku” yang berarti tua, dan “se” yang memiliki arti candi.

Ketika kita sampai di situs purbakala ini, maka kita akan disambut dengan pemandangan indah candi yang terbuat dari bahan batuan merah ini. Bahan tersebut dipercaya merupakan tempat bagi para dewa bertahta. Ciri utama yang menunjukkan bahwa Candi Muara Takus merupakan bangunan suci dalam agama Budha adalah dari keberadaan stupanya.

Di tempat ini, kita juga akan menemukan beberapa perbedaan unik dibandingkan dengan candi lainnya di Indonesia, yakni arsitektur bangunan stupa dari bangunan Candi Muara Takus. Di sini, bentuk stupa-nya yaitu ornamen sebuah roda dan kepala singa. Kita hanya bisa menemukan yang serupa dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Asoka.

Kawasan Candi Muara Takus ini berdasarkan hasil penelitian arkeologi pada tahun 1994 lalu terdiri atas pagar keliling, Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, Candi Palangka, Bangunan I, Bangunan II, Bangunan III, Bangunan IV, Bangunan VII, dan Tanggul kuno.

Selain itu, ketika mengelilingi candi ini kita juga akan menemukan beragam benda bersejarah yang tentu saja menambah pengetahuan. Di antaranya yaitu fragmen arca singa, fragmen arca gajah pada puncak candi Mahligai, inskripsi mantra dan pahatan vajra, serta gulungan daun emas yang juga dipahat mantra dan gambar vajra pada bagian permukaannya.

Tentu saja melakukan kunjungan Candi Muara Takus menjadi salah satu destinasi yang masuk ke dalam daftar lokasi wisata di Riau bagi Anda yang tinggal di Provinsi Riau maupun diluar Provinsi Riau. Selain akan menambah pengetahuan tentang sejarah, Candi ini juga bisa menjadi objek berfoto yang bagus.

“Menjaga sejarah adalah menjaga marwah daerah Riau!”


[ Riaumagz Wisata Riau | Sejarah Riau ]

Riaumagz

Semua tentang Riau & Indonesia
TWITTER & INSTAGRAM : @riaumagz
Repost : tandai & ikuti kami Gambar dilengkapi keterangan.
#riau #riaumagz #pekanbaru