-->

Sejarah Batik di “Jantung Budaya” Jawa Tengah

Sejarah Perkembangan Batik di Jantung Budaya Jawa Tengah

RiauMagz.com - Lewat tangan para pengrajin batik, para generasi milineal bisa bangga memadu padankan batik dalam kegiatan sehari-hari. Tak hanya pakaian, tetapi mulai dari kerudung, kalung, gelang, sepatu hingga kipas bisa dibuat dengan menambahkan unsur batik.

Meski sempat mati suri pada 1980 an karena dianggap ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan kiblat trend brand luar negeri, membuat anak muda enggan menggunakan batik. Pasar yang tidak mendukung membuat banyak pengusaha batik yang gulung tikar. Barulah setelah adanya pengakuan UNESCO yang menjadikan batik sebagai warisan budaya tak benda milik bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan. Perkembangan produktivitas dan inovasi batik mulai berkembang pesat.

Batik sebagai Warisan Budaya TakBenda

Pada tanggal 2 Oktober 2009 melalui sidang tahunan Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-4, Komite menerima Batik Indonesia masuk dalam Daftar Warisan Budaya TakBenda UNESCO dengan Kategori "Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity". Sampai saat ini, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Sejarahnya, penetapan Batik dalam Daftar Representatif Warisan Budaya TakBenda Umat Manusia yang dicatat UNESCO merupakan upaya pemerintah Republik Indonesia untuk melindungi dan mengembangkan Batik Indonesia. Pemerintah RI pada tahun 2008 mengusulkan Batik Indonesia untuk masuk dalam Daftar Warisan Budaya TakBenda Dunia pada UNESCO. Sertifikat ditandatangi pada 30 September 2009 oleh Director-General of Unesco Koïchiro Matsuura. Pada November 2009, dia digantikan oleh Irina Bokova.

Sejalan dengan usulan pemerintah Indonesia terkait praktik baik (best practice) untuk perlindungan Batik Indonesia, pada 1 Oktober 2009, UNESCO juga menetapkan program "Pendidikan dan Pelatihan Warisan Batik Indonesia untuk SD, SMP, SMU, SMK dan Mahasiswa Politeknik, bekerjasama dengan Museum Batik Pekalongan". Program ini merupakan sebuah program pelestarian batik yang paling mencerminkan prinsip dan tujuan Konvensi Pelindungan Warisan Budaya Takbenda Unesco.

Berbagai kalangan kini bisa menggunakan batik yang telah diakui berbagai dunia itu. Padahal dahulu batik hanya digunakan oleh mereka yang termasuk anggota keluarga keraton saja. Para abdi keraton-lah yang menularkan ilmu membatik ke lingkungannya hingga berkembang hingga seperti saat ini.

Buku Sejarah Batik di Jantung Budaya Jawa Tengah

Etimologi dan Motif Batik

Proses membatik adalah pengerjaan membatik yanng dilakukan dengan cara ditulis menggunakan canting ataupun dengan cara menggunakan cap berbahan logam yang dicelupkan ke dalam cairan lilin sebagai pembentuk motif sebelum dicelup ke dalam cairan pewarna baik yang berbahan dasar alami maupun kimia. Membatik merupakan bentuk pengetahuan tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya, melalui proses pembelajaran. Dalam proses membatik, juga terdapat nilai-nilai sosial, dimana kesabaran dan ketelitian menjadi kunci utamanya.

Berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata “mba” yang dalam bahasa jawa diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali dan “tik” berasal dari kata titik. Jadi, membatik berarti melempar titik-titik berkali-kali pada kain.

Dalam pengertian lain, Batik adalah berasal dari bahasa Jawa yaitu "amba" yang artinya menulis dan "tik" yang berarti titik. Secara harfiah, batik adalah merupakan seni menghias kain dengan ditulis dan diisi dengan titik-titik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam (lilin) pada kain tersebut, lalu pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Batik di Indonesia dibedakan dua kelompok yang ada sejak jaman Belanda dan tetap berlaku hingga sekarang, yaitu baik Vorstenlanden dan batik pesisir. Batik Vorstenlanden adalah batik yang merujuk kepada dua daerah keraton-sentris yaitu Solo dan Jogja yang bersifat simbolis berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa dengan warna-warna dominan sogan, indigo (biru), hitam dan putih. Sedangkan Batik Pesisir adalah batik yang dibuat diluar pakem keraton Solo dan Yogya, selain itu batik ini banyak dibuat di pesisir utara Jawa.

Dalam konsepsi kejawen lebih banyak berisi makna spiritual yang berwujud dalam bentuk simbol filosofi yang erat kaitannya dengan makna-makna simbol. Motif yang tersebar di Indonesi juga diyakini memiliki kandungan filosofis sesuai tempat produksinya. Dianggap spiritual, dibeberapa tempat ada cara membatik yang harus didahului dengan ritual tertentu, seperti membaca mantera atau berpuasa terlebih dahulu.

Batik Indonesia memiliki pola dan motif yang sarat makna. Hal ini berhubungan dengan status sosial, kehidupan bermasyarakat, alam, sejarah dan budaya tradisional. Motif batik dapat digambarkan dalam bentuk binatang, tanaman dan bentuk-bentuk geografis lainnya. Sebagai bagian dari kebudayaan, motif batik tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, kain dengan motif yang dibatik ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah penghasil batik. Sejak proses kelahiran seorang anak sampai kematiannya, batik menjadi bagian dari siklus hidup atau "life cycle" masyarakat penggunanya.

Sesuai dengan banyaknya ragam upacara adat dan keagamaan diperkirakan ada sekitar 400 an motif batik di Jawa sendiri. Diantaranya ada motif batik pola truntum, gompol, nagasari, gringging, ceplok, mangkara, sido asih, sido mukti, semen rama, pola nitik cakar ayam yang menyimbolkan kesuburan bagi orang untuk mereka yang baru mengarungi biduk rumah tangga.

Ada pula motif parang barong yang memiliki tingkat kerumitan dan membutuh kehati-hatian dalam prosesnya ini khusus hanya digunakan oleh sultan, raja dan seluruh leluhurnya. Setiap garisnya membentuk pola harus ditulis dengan satu tarikan nafas agar tidak terputus, sehingga membutuhkan konsentarasi lahir dan batin agar tidak terjadi kesalahan. Untuk motifnya juga mengandung larangan untuk dipakai orang lain, diluar kesultanan karena batik ini dinilai sangat sakral.

Sejarah Perkembangan Batik di Jantung Budaya Jawa Tengah
Bab Sindjang (Manuskrip Perpustakaan Nasional RI)

Sejarah Batik

Jawa Tengah dikenal sebagai Provinsi dengan seni budaya yang adiluhung dan juga “jantung” budaya Jawa. Batik menjadi salah satu hasil karya seni yang tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang. Kesenian batik telah diketahui ada sejak jaman kerajaan majapahit dan terus berkembang hingga kerjaan dan raja-raja selanjutnya.

Melihat sejarahnya, kegiatan membatik diketahui berasal dari Jawa yang dipengaruhi oleh budaya keraton dan kehidupan diluar keraton. Batik diketahui sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak kurang lebih abad ke-7 maupun abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuni yang berkembang di Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan arkeologis yang berasal dari masa itu. Bahkan arca-arca dari jaman tersebut biasanya mengenakan kain batik dengan motif batik ceplok bunga atau motif kawung yang sederhana, yang hingga sekarang masih dikenal.

Pada akhir abad ke 18 kesenian batik baru meluas menjadi milik masyarakat, khususnya suku Jawa. Sejarah mengenai ini bisa ditemukan dalam bentuk relief candi, seperti kesamaan corak batik dengan prasasti atau lukisan busana yang dikenakan raja atau ratu yang ada di candi prambanan dan Borobudur. Adanya pengaruh kebudayaan kerajaan hindu, agama islam serta kebudayaan negara, seperti Cina, Belanda, Arab, India, Jepang dan lainnya menjadi ciri khas batik Jateng.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pada awalnya hanya kalangan tertentu yang bisa menggunakan batik. Di Jawa Tengah pun perkembangan batik berawal dari lingkungan keraton Surakarta. Adanya peristiwa politik perjanjian Giyanti 23 februari 1755 menjadi titik awal penyebaran batik diluar keraton terasa pada industri maupun ragam hiasnya yang berkembang pesat.

Setelah perang diponegoro berakhir, batik barulah menyebar luas ke daerah pesisir (Rembang, Semarang, Batang, Pekalongan, Tegal) dan daerah pedalaman (Sragen, Klaten, Purworejo, Kebumen, Banyumas dan Brebes).

Catatan pertama sejarah tentang batik, dikutip dari Dewi Yuliati, 2010*, adalah dalam bentuk prasasti batu yang muncul di abad ke 10 sekitar tahun 929 M berupa Prasasti Gulung-gulung atau disebut juga Prasasti Singosari V yang ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Tengah. Sebagai prasasti tertua karena sebagai prasasti pertama dari masa Raja (Mpu) Sindok, prasasti ini tertera hari Selasa Pahing, tanggal 9 Suklapaşa, bulan Waiśaka, tahun 851 Śaka atau tanggal 20 April 929 M. Prasasti yang bertulisan pada 4 sisi sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.58.

Dikutip dari Ninik Setrawati, 2009, Prasasti Gulung-gulung yang telah dialih-aksarakan ini tertera dalam buku Tiga Prasasti Batu Jaman Raja Sindok terbitan Museum Nasional karangan Trigangga dan Endang Sri Hardiati tahun 2003. Pada sisi depan prasasti batu Singosari V ini disebutkan berbagai pembuat, pengrajin dan barang dagangannya pada baris 16-19 dan 25-30.

Dikutip dari Ninik yang menjelaskan baris ke-26 Prasasti Gulung-gulung tersebut, tertera :
(kha), mańapus, mapahańan, matarub, manūla wuńkudu, mangdyun, mańubar, manghapū, manglurung, magawai ruńki, payung wlu, mopih,
(maka)


Baris ini diartikan sebagai berikut :
soga, pembuat benang atau tali, pembuat pernis (?), pembuat kandang (itik), pengolah mengkudu (wungkudu), pembuat periuk, pembuat bahan pewarna merah, pengolah kapur, pembuat minyak jarak, pembuat sarung keris, pembuat payung bulat, pembuat payung upih

Di bagian footnote diterangkan bahwa :
Wuńkudu (Sunda: cangkudu; Jawa: pace; Latin: Morinda citrofolia) adalah sejenis tumbuhan yang bagian akarnya dapat dimanfaatkan untuk bahan pewarna kain yang menghasilkan warna merah-jingga (Stutterheim, 1925: 274; Goris: 1954: 221- 237) (dalam Trigangga, 2003: 42, cat no. 63).

Dalam arti tersebut juga tertera khusus tentang pembuat bahan warna merah yang dianalisa bersama arti mengkudu adalah bahan pewarna kain yang kemudian dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai batik.

Catatan khusus :
dalam baris yang diartikan tersebut diatas terdapat kata "pengolah kapur" berasal dari "manghapu" dalam kata lain "wli hapu" yang diterangkan pada bagian footnote bahwa kapur yang diolah adalah kapur yang dugunakan dalam perjamuan makan sirih. Hal ini disebabkan karena prasasti-prasasti lainnya menyebutkan barang dagangan tersebut yaitu pucang (pohon/buah pinang) dan sereh (pohon/daun sirih). Jamuan ini banyak disebut sebagai jamuan Sekapur Sirih yang telah dilaksanakan masyarakat jaman dahulu sebagai kegiatan perjamuan menghormati tamu. Tidak salah apabila di setiap istana memiliki abdi dalem atau pelayan yang bertugas menyiapkan "sekapur sirih".
----

Buku Sejarah Batik di Jantung Budaya Jawa Tengah

Ninik pada halaman 89 membahas Bahan Pewarna yang disebutkan pada beberapa prasasti, seperti kata manambul (pembuat warna hitam), manawring (pembuat warna merah ungu), manubar (pembuat warna merah). Selain itu ada kata manula wunkudu (pengolah mengkudu) ditemukan bersama kata "kasumba" dalam prasasti yang lain yang berhubungan dengan pewarnaan. Kasumba adalah sejenis tanaman yang bunganya diambil dan diolah sebagai pewarna kuning dan merah untuk mewarnai kain. Buah pinang disebut juga sebagai bahan pewarna merah kain batik selain untuk obat-obatan (Hoare 2002 dalam Ninik Setrawati 2009).

Berdasarkan hal tersebut, bahwa abad 10 telah ada usaha kerajinan dan perdagangan barang berupa kain dan batik. Dalam pembuatan kain yang dimulai dari wusu-wusu untuk menyisir kapas dan menghilangkan bijinya, mangragi sebagai proses pembuatan corak atau motif, sampai proses pewarnaan.

Catatan sejarah berpindah ke Babad atau Bab Sindjang (Batik) yang menjelaskan proses membatik pada sindjang (sinjang) yang berarti kain panjang. Proses membatik dimulai dari pemilihan kain (mori), membuat corak atau motif, membatik menggunakan canting, pencelupan kain, dan proses lain sampai menghasilkan kain batik yang berkualitas. Bab Sinjang juga menampilkan 38 motif Sekar Emas dan 9 motif Jarit Cindhe. Bab Sindjang tidak diketahui tahun pembuatannya.

Melompat sedikit ke pulau Sulawesi, JA. Bakkers menulis sebuah artikel di Makassar pada tanggal 10 Desember 1863 dengan judul Het Leenvorstendom Boni atau Prinsip Pinjaman Boni (Bone). Artikel ini telah dimuat pada Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde, Deel XV Series I, Lange and Co., Batavia, 1866. Pada bagian tulisan berjudul Gebruiken bij het Huwelijk atau penggunaan pada pesta pernikahan, halaman 48 disebutkan bahwa pengantin wanita memberikan beberapa hadiah kepada pengantin pria, yang terdiri dari sarung halus, celana sutra, disulam dengan atau tanpa emas, batik dan penutup kepala kain kasumba yang harus digunakan oleh pengantin pria pada hari pesta. Tulisan ini tidak menyebutkan asal kain batik tersebut, tetapi dengan jelas bahwa kain batik telah ada juga di Sulawesi saat itu, terkhusus daerah Bone.

GP. Rouffaer dan HH. Juynboll di tahun 1899 menerbitkan buku yang menjelaskan tentang Batik Jawa baik proses dan perdagangannya. Kemudian sebuah tulisan berjudul Snippers oleh K. F. Holle. De trappen van vergelijking hal 231 dalam Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde, Deel XX Series III tahun 1873 menyebutkan bahwa Batik terbaik sebenarnya dibuat dari bahan putih halus, yang disebut moeslin, yang lebih pendek dari linen kasar, mirip kain katun. Satu gulungan kain muslin tersebut jika dipotong akan mendapat 8 potong kain sarung, sehingga kain potongan untuk sarung tersebut disebut kain Potong Delapan.

Mousseline atau disebut kain Muslin merupakan kain katun polos dengan berbagai jenis mulai dari serat yang ringan dan halus sampai pada serat yang berat dan kasar. Diperkirakan pertama kali dibuat di kota Mosul dekat Irak. Kain Muslin pada abad 17 diproduksi di India dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah termasuk Eropa, sehingga akhirnya di produksi di Eropa di Skotlandia dan Inggris.

Selanjutnya pada halaman 238, Holle menyebutkan bahwa penggunaan batik Solo di kalangan wanita Sunda agak memudar dengan mode baju lengan lebar yang lebih mudah dibanding menggunakan kain sarung, penutup kepala (selendang) yang membutuhkan biaya beli kain yang lebih banyak.

Tulisan lain muncul dari Suzanne April Brenner menulis dalam The Domestication of Desire: Women, Wealth, and Modernity in Java pada Bab A Neighborhood Comes of Age halaman 24 bahwa perkembangan industri batik menjadi sumber utama perekonomian di Laweyan Solo. Menurutnya, masyarakat lokal telah meyakini bahwa Laweyan Solo lebih dulu menjadi pusat perdagangan jauh sebelum berdirinya Surakarta di tahun 1745. Diyakini Laweyan telah ada sekitar abad ke 16 yang berlokasi antara 2 aliran sungai. Aliran sungai yang sekarang sudah mengecil, dahulunya menjadi jalur transportasi menuju Sungai Solo (Bengawan Solo) dan lalu menuju Suarabaya dan Gresik. Di tahun 1900, Laweyan lebih dikenal sebagai pusat produksi batik dan menguasai pasar seluruh Solo bahkan seluruh Netherlands East Indies.

Suzanne menjelaskan bahwa dengan melihat pangsa pasar yang bagus terhadap kain batik, bangsa Eropa mulai membuat batik imitasi yang harganya lebih murah melalui pabrik tekstil. Thomas Stamford Raffless sebagai Letnan Gubernur Inggris di tahun 1812 mulai memperkenalkan batik imitasi ke Indonesia. Pabrik tekstil Inggris mulai memproduksi kain batik imitasi dengan menggunakan kain sistetis yang dicetak motif batik dan mengekspor ke Jawa di tahun 1814. Bangsa Belanda kemudian juga membuat pabrik batik imitasi di Leiden pada tahun 1835 dengan menggunakan tenaga kerja dari Jawa. Batik imitasi ini lebih dikenal dengan batik "cap" atau "chop" yang merubah kegiatan membatik yang banyak dilakukan para wanita menjadi sebagian proses cap dilakukan oleh pekerja pria.

Catatan sejarah batik cukuplah panjang dan tidak akan muat dalam sebuah artikel. Beberapa tulisan sejarah batik lainnya dibagi-bagi berdasarkan asal daerah. Sebagian lagi menulis berdasarkan orang yang memproduksi batik di suatu daerah. Apapun tulisan itu, akan menjadi catatan-catatan sejarah perkembangan batik di Indonesia dimana batik telah menjadi warisan budaya Indonesia dan juga telah tercatat sebagai warisan budaya dunia.

Sumber :
Leaflet Pekan Kebudayaan Nasional 2019 (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia)
Buku Sejarah Batik Jawa Tengah milik Badan Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Dewi Yuliati, Mengungkap Sejarah dan Motif Batik Semarangan, Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro, termaktub dalam Jurnal Paramita Vol. 20 No. 1 Januari 2010 (ISSN: 0854-0039).

Ninik Setrawati, Perdagangan Pada Masa Pu Sindok Berdasarkan Data Prasasti, Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi, Universitas Indonesia, 2009.

Manuskrip Bab Sindjang (Batik) dari Perpustakaan Nasional RI
https://www.perpusnas.go.id/collections-detail.php?lang=id&id=Manuskrip&link=102915

Muhammad Rendrawan Setiya Nugraha, Proses Membatik dalam Naskah Bab Sinjang, Jurnal MANUSKRIPTA, Manasa (Masyarakat Penaskahan Nusantara), Vol 6 No 2, 2016. Diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Universitat Leipzig.

Snippers door K. F. Holle. De trappen van vergelijking. Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde, Deel XX Series III, Bruining and Wijt, Batavia, 1873.

J.A. Bakker, Het Leenvorstendom Boni, Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde, Deel XV Series I, Lange and Co., Batavia, 1866

Suzanne April Brenner, The Domestication of Desire: Women, Wealth, and Modernity in Java, Princeton University Press, New Jersey, 1998.

Lihat juga :
Gerret Pieter Rouffaer dan ‎Hendrik Herman Juynboll, De Batikkunst in Nederlandsch Indie En Haar Geschiedenis, diterbitkan oleh H. Kleinmann and Co., Haarlem, 1899.
https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.533878/page/n5/mode/1up

Batik akan selalu dekat dengan stagen. Nah ini dia video membuat tenun stagen Yogyakarta

RiauMagz, Wisata Riau, Wisata Batik Indonesia, Wisata Sejarah Batik Jawa Tengah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel