Tepuk Tepung Tawar Riau, Sepanjang Berjalan Menjulang Marwah

Warisan Budaya Tak Benda Riau 2019 Tepuk Tepung Tawar Riau

RiauMagz.com - Tepuk Tepung Tawar menjadi salah satu tradisi yang dikenal dalam masyarakat Melayu. Bukan hanya di Riau, tradisi ini juga ditemukan di daerah Kepulauan Riau. Namun, melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, pada tahun 2019 tradisi Tepuk Tepung Tawar Riau masuk dan disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama lima warisan budaya tak benda lainnya. Tepuk Tepung Tawar Riau dipandang memiliki banyak kelebihan, keunikan dan kondisi-kondisi tertentu yang memerlukan upaya konservasi secepatnya sebelum tradisi ini hilang di tengah masyarakat. Anda mungkin sering mendengar tradisi ini dilaksanakan pada acara-acara pernikahan, tetapi ternyata tradisi ini bukan hanya identik dengan pernikahan, berbagai ceremony adat istiadat pun banyak yang menggunakan tradisi Tepuk Tepung Tawar Riau.

Pelaksanaan Tepuk Tepung Tawar Riau

Tepuk Tepung Tawar Riau merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman raja-raja di Riau dulu. Tradisi ini berisi ungkapan doa, rasa syukur, dan bentuk penghormatan yang dirangkai dengan adat dan tradisi Melayu.

Dalam ungkapan Melayu, tradisi Tepuk Tepung Tawar ini memiliki beberapa makna, yakni:
  1. Menawar segala yang berbisa,
  2. Menolak segala yang menganiaya,
  3. Menjauhkan segala yang menggila,
  4. Mendindinkan segala yang menggoda,
  5. Menepis segala yang berbahaya,
  6. Mengandung segala restu,
  7. Terhimpun segala doa,
  8. Tertuang segala kasih sayang,
  9. Terpatri segala hara (zat kehidupan),
  10. Supaya Berkah Berkepanjangan,
  11. Supaya Restu Berkesambungan.

Bak kata orang-orang tua Melayu dalam ungkapan adat:
Tepung Tawar memberi berkah
Supaya jalan penuh tuah
Sepanjang berjalan menjulang marwah
Dunia akherat diridhoi Allah

Pelakasanaan tradisi tepuk tepung tawar yang beragam antar daerah ini biasanya dilakukan dalam beberapa momen seperti pernikahan, khitanan, syukuran, upacara adat, menempati rumah baru, punya kendaraan baru, kelahiran anak dan sebagainya. Perlengkapan yang digunakan dalam tradisi ini di antaranya:
  1. Teung Bedak dicampur air perenjis (meneduhkan hati dan kalbu)
  2. Daun sitawar
  3. Daun sidingin (cocor bebek)
  4. Daun juang-juang
  5. Daun ati-ati
  6. Daun rusa atau gandarusa
  7. Daun ribu-ribu
  8. Benang tujuh rupa
  9. Beras kunyit (melambangkan marwah dan harga diri)
  10. Beras putih basuh (melambangkan pemutihan hati)
  11. Beras bertih (perkembangan yang baik di kemudian hari)
  12. Bunga rampai dan melati
  13. Pandan
  14. Mawar
  15. Gambir dan air wangi

Disebut tepuk tepung tawar karena ada proses menepuk bedak yang telah diberikan air dan air limau. Tawar merupakan proses menawarkan sesuatu yang berbahaya bagi yang didoakan dengan menggunakan tetumbuhan.

Perlengkapan yang disiapkan pun memiliki makna. Beragam jenis tumbuhan yang digunakan tersebut diyakini sebagai bagian dari penawar penyakit atau bahaya bagi pihak-pihak yang didoakan dan dimuliakan. Daun sitawar untuk menawarkan yang berbisa dan berbahaya. Daun Sidingin untuk mendinginkan hal-hal yang panas, agar lebih tenang, damai, tentram. Daun Ati-ati bertujuan agar orang yang didoakan untuk selalu berhati-hati dan waspada dalam kehidupannya, baik dalam berbicara maupun dalam hal berbuat. Daun Rusa berguna untuk menangkal hal-hal yang tidak nampak. Keempat daun ini diikat oleh akar tumbuhan atau pun kulit pohon atau bahan tali dari tetumbuhan.

Seperti diungkapkan orang-orang tua:
"Bercakaplah dengan adat,
berbual dengan akal,
berbicara dengan kira-kira.

Supaya hidup selamat,
supaya musuh tidak mendekat,
supaya tidak datang mara".

Jenis beras kunyit sebagai perlambang rezeki. Beras putih basuh melambangkan kesucian dalam mencari rezeki. Beras bertih yang melambangkan keselarasan hidup mencapai tujuan yang lebih baik.

Bunga rampai dari pandan dan dicampur berbagai jenis bunga yang diiris kecil-kecil yang diberi wewangian yang melambangkan bahwa hidup ini penuh keragaman yang harus tetap bersatu sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Air Percung berupa air yang diberi wewangian yang melambangkan bahwa orang yang ditepuk tawar akan mengharumkan nama diri, nama keluarga, nama negeri dan bangsa.

Ramuan gambir dan air wangi yang dipakai juga melambangkan kondisi keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah dalam sebuah majelis pernikahan.

Tradisi tepuk tepung tawar yang ada di Riau ini juga sudah menjadi rangkaian upacara adat istiadat Melayu yang dilakukan untuk menjamu tamu-tamu dan tokoh kehormatan yang berkunjung ke Riau. Upacara adat yang diselenggarakan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau telah melakukan upacara tepuk tepung tawar ini untuk menyambut tokoh-tokoh nasional di antaranya Sandiaga Uno, Ustadz Abdul Somad, Agus Harimukti Yudhoyono, Jokowi dan sebagainya.

Langkah-Langkah Memulai Tepuk Tepung Tawar:

  1. Ambil daun perenjis yakni daun yang diikat dan diculupkan ke dalam air bedak, jeruk dan bunga mawar. Lalu renjiskan pada kedua tangan yang telungkup di atas paha. Alas dengan bantal tepung tawar dengan kain berwarna putih.
  2. Orang yang menepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, bertih, basuh dan bunga rampai lalu ditabur pada orang yang ingin dihormati. Bila orang yang ditepung tawari adalah orang terhormat maka ditabur sampai atas kepala dengan putaran dari kiri ke kanan diiringi bacaan shalawat.
  3. Renjiskan air percung pada pihak pengantin yang ditepung tawari. Ambil sedikit inai lalu oleskan di telapak tangan sebelah kanan dan kiri.
  4. Penepuk tepung tawar mengangkat tangan dengan posisi atur menyembah dan mengangkat tangan.
  5. Setelah semua pihak yang diminta melakukan tepuk tepung tawar selesai melakukan tepuk tepung tawar maka acara pun ditutup dengan doa-doa selamat. Jumlah penepuk tepung tawar ini harus ganjil yakni 3, 5, 7, 9, 11 atau 13.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menyaksikan video-video pelaksanaan tradisi tepuk tepung tawar ini di internet atau datang langsung ke acara-acara adat yang digelar Lembaga Adat Melayu Riau. Beberapa kegiatan pernikahan yang digelar orang Riau juga masih banyak yang menggunakan tradisi ini terutama dari kalangan suku Melayu yang menyelenggarakan pesta perkawinan.

Setiap gerakan atau aktivits dari tepuk tepung tawar ini pun memiliki makna tersendiri. Jenis beras kunyit sebagai perlambang rezeki. Beras putih basuh melambangkan kesucian dalam mencari rezeki. Beras bertih yang melambangkan keselarasan hidup mencapai tujuan yang lebih baik.

Menaburkan bunga rampai dari pandan dan dicampur berbagai jenis bunga yang diiris kecil-kecil yang diberi wewangian adalah melambangkan bahwa hidup ini penuh keragaman yang harus tetap bersatu sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Memercikkan Air Percung berupa air yang diberi wewangian adalah melambangkan bahwa orang yang ditepuk tawar akan mengharumkan nama diri, nama keluarga, nama negeri dan bangsa. Merenjis bagian kening bermakna meminta untuk berpikir sebelum bertindak, merenjis pada bagian bahu kanan dan kiri meminta agar siap menanggung beban dengan penuh rasa tanggung jawab, merenjis pada bagian punggung telapak tangan bermakna agar jangan pernah putus asa dalam mencari rezeki dan harus terus berusaha dalam menjalani kehidupan.

Sementara inai pada bagian telapak tangan menandakan bahwa sang mempelai sudah berakad nikah. Ini biasa dilakukan pada kegiatan upacara perkawinan. Doa pada bagian akhir rangkaian acara tepuk tepung tawar ini dilakukan untuk memohon berkah dan ridho dari Allah swt terhadap pasangan yang menikah atau orang yang dihormati dan dimuliakan dengan tradisi tersebut.

Penepuk tepung tawar terakhir adalah ulama yang akan sekalian menutup prosesi tepuk tepung tawar dengan memimpin pembacaan doa bagi keselamatan semua.

Penepuk tepung tawar pada acara pernikahan adalah laki-laki. Perempuan akan menepuk tepung tawar hanya pada prosesi khatam calon pengantin perempuan, berandam, maupun mandi damai. Ayah dan ibu pengantin tidak menepuk tepung tawar karena restu orang tua telah ada sepanjang hidup si pengantin.

Tepuk Tepung Tawar Riau Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional 2019

Tradisi unik asal Riau ini secara resmi telah ditetapkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2019 melalui nomor registrasi 201900842. Pada tanggal 8 Oktober 2019 pemerintah Provinsi Riau yang diwakili Gubernur Riau Syamsuar menerima langsung sertifikat penghargaan tersebut.

Tepuk Tepung Tawar menjadi satu dari enam WBTB Riau lainnya yang tahun 2019 diterima sebagai WBTB Nasional. Melalui sertifikat resmi ini diharapkan tradisi upacara adat Melayu ini semakin bisa dilestarikan dan diperkenalkan pada kalangan muda. Selama ini terkesan tradisi ini hanya milik sebagian orang yang masih mau menjalankan tradisi saja. Gelar acara pernikahan modern telah menghapus sedikit banyaknya berbagai tradisi pernikahan Melayu yang diwariskan secara turun temurun.

Tepuk Tepung Tawar menjadi tradisi yang asing bagi generasi muda saat ini, bahkan sudah banyak yang tak tahu adat istiadat tersebut. Melalui penetapan tradisi ini sebagai WBTB Nasional di tahun 2019 menjadi momen penting bagi pemerintah provinsi untuk meningkatkan upaya konservasi dan pengenalan pada generasi muda.

Tepuk Tepung Tawar Riau adalah tanda penghormatan, tanda orang Melayu akrab dengan nilai-nilai tradisi yang arif dan bijak. Ada banyak makna besar dalam setiap cara dan benda-benda yang terkandung dalam pelaksanaan upacara ini. Jadi sangat baik untuk dipertahankan dan diperkenalkan pada generasi yang akan datang.

Bukan hanya pesta pernikahan, Tepuk Tepung Tawar ini juga menjadi upacara kebanggaan orang Melayu untuk menghargai orang-orang yang datang ke tanah Melayu. Melalui tradisi ini orang akan mengenal betapa Riau kaya dengan tradisi yang memuliakan tamu, tradisi bijak yang menghormati orang lain.

Upacara Adat Tepuk Tepung Tawar Riau

RiauMagz, Wisata Riau, Upacara Adat Tepuk Tepung Tawar Riau supaya berkah dan diridhoi Allah.