Dikei Sakai, Pengobatan Suku Terasing di Riau

Warisan Budaya Tak Benda Riau 2019 Dikei Sakai

RiauMagz.com - Suku Sakai merupakan salah satu suku terasing yang tinggal di daerah pedalaman Provinsi Riau. Di tahun 2019 ini, salah satu tradisi suku Sakai yakni Dikei Sakai yang sudah cukup langka dan nyaris punah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Riau yang disahkan langsung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tradisi pengobatan masyarakat suku Sakai yang dilangsungkan di hutan belantara ini terpilih menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional dari Provinsi Riau bersama 5 budaya tak benda lainnya yang juga disahkan di tahun 2019.

Mengenal Tradisi Dikei Sakai

Suku Sakai merupakan suku terasing yang mendiami beberapa daerah di Riau seperti Minas, Bengkalis dan daerah-daerah di Siak. Dalam proses pengobatan penyembuhan dari berbagai penyakit, suku terasing ini menggunakan konsep pengobatan dengan kedekatan mereka dengan alam. Unsur-unsur bahan alami dan roh-roh halus menjadi tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Dikei Sakai merupakan tradisi pengobatan suku Sakai dengan mengundang roh-roh halus untuk menyembuhkan aneka jenis penyakit yang diderita. Upacara pengobatan ini dipimpin oleh seorang dukun yang disebut dengan istilah kemantan. Komponen utama yang dijadikan sebagai sarana penyembuhan dalam proses pengobatan ini dinamakan mahligai 9 telingkek atau 9 tingkat.

Mahligai ini merupakan jalinan daun-daun khusus bernama daun angin-angin yang ada di hutan dan dibuat sebanyak tujuh tingkat ke atas. Komponen inilah yang memegang peran cukup penting dalam pengobatan. Menurut kepercayaan sang kemantan, di atas puncak kesembilan itulah putri dari makhluk halus terlihat duduk di atas singgasana untuk membantu proses penyembuhan yang sedang berlangsung.

Selain mahligai 9 telingkek, ada juga beberapa obor api yang dihidupkan dari kayu damar. Pada proses pengobatan ini, nyala api yang digunakan hanya berasal dari nyala api damar tersebut. Suasana remang-remang akan terlihat dan mengundang kesan mistis yang lebih dalam. Nyala api tersebut harus dijaga beberapa orang secara khusus agar tidak padam. Penjaga api ini juga memiliki peran penting selama proses pengobatan berlangsung.

Seorang dukun akan menyanyikan mantera dengan bahasa suku Sakai, lalu satu atau dua orang menabuh gendang untuk mengiringi nyanyian mantera tersebut. Sebuah tarian bernama olang-olang dilakukan untuk mengiringi tabuhan gendang dan alunan mantra yang dibacakan oleh kemantan. Tari olang-olang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan kain penutup berwarna hitam dengan gerakan seperti mengepak-ngepakkan sayap sambil berputar-putar.

Mantra-mantra dengan kesan magis diperdengarkan selama pengobatan berlangsung dan nyanyian mantra tersebut dalam satu kali proses pengobatan dapat berganti-ganti. Proses pengobatan ini bisa berlangsung selama satu jam atau lebih dan biasa dilakukan pada malam hari di dalam hutan oleh suku Sakai.

Tradisi Dikei Sakai ini membuat beberapa aspek di antaranya aspek musik, ritual alam, tarian, nyanyian hingga mistis yang menjadi aspek kehidupan paling dekat dengan suku terasing tersebut.

Dalam kepercayaan suku Sakai, sebuah penyakit yang dialami manusia dapat terjadi akibat adanya hubungan yang tidak harmonis antara manusia dengan makhluk-makhluk halus yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, hubungan tersebut harus dipulihkan melalui tradisi Dikei Sakai ini. Suku Sakai percaya roh-roh halus yang ada di sekitar manusia ada yang baik dan bisa dipanggil untuk mengatasi masalah kesehatan pada manusia sekaligus mengembalikan hubungan baik antara manusia dengan makhluk-makhluk tersebut. Oleh karena itu, dalam setiap even pertunjukan tradisi ini, biasanya seorang kumantan akan berkata, “roh-roh yang kita undang adalah roh-roh yang baik dan akan mengetahui maksud-maksud buruk di hati orang-orang yang hadir.” Inilah hal yang diyakini oleh suku Sakai karena interaksinya yang masih terbatas dalam lingkungan hutan belantara setiap hari.

Masyarakat suku Sakai yang masih mempertahankan tradisi mereka hingga saat ini masih menggunakan tradisi ini untuk proses penyembuhan dari berbagai penyakit. Walaupun sudah ada juga kalangan yang mulai modern dan memilih berobat ke rumah sakit. Kondisi inilah yang membuat tradisi Dikei Sakai semakin langka dan nyaris punah. Tradisi dari suku yang hampir punah tersebut dipertahankan melalui ritual-ritual pertunjukan yang dipentaskan dalam ajang festival seni dan budaya.

Seiring semakin sedikitnya kelompok masyarakat suku Sakai yang tinggal di pedalaman, tradisi ini pun semakin lama semakin punah. Teater pertunjukan modern banyak yang mengadopsi konsep tradisi ini menjadi seni pertunjukan modern yang ditampilkan di kegiatan-kegiatan besar. Salah satunya pada even Pesta Olahraga Nasional (PON) yang diselenggarakan di tahun 2012 yang lalu di Riau. Sajian tradisi Dikei Sakai ditampilkan dalam kegiatan seremony akbar tingkat nasional tersebut.

Selain itu, para seniman juga banyak yang mengabadikan tradisi ini dalam karya sastra tulisan dan nontulisan. Upaya konservasi terus dilakukan walaupun di satu sisi keberadaan suku ini juga terancam punah.

Dikei Sakai Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Tahun 2019

Pada tanggal 8 Oktober tahun 2019, Dikei Sakai secara resmi disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional dari Provinsi Riau bersama 5 budaya tak benda lainnya yang juga disahkan di waktu yang sama. Tradisi ini dinilai memenuhi syarat untuk disahkan karena beberapa aspek, di antaranya:
  1. Mewakili identitas kelompok tertentu di Riau yakni suku Sakai
  2. Mendesak untuk dilestarikan dan terancam punah
  3. Unik dan memiliki beberapa aspek untuk kehidupan suku terkait
  4. Merupakan tradisi kehidupan yang dilakukan oleh suku Sakai di Riau.

Selain itu terpenuhinya berkas dan persyaratan teknis lainnya juga mendukung disahkannya budaya ini sebagai WBTB di tahun 2019. Disahkannya Dikei Sakai sebagai WBTB di tahun 2019 menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk melindungi keberadaan suku terasing di Riau ini yang kondisinya hampir punah. Perlindungan dari ancaman lingkungan perambahan hutan, pembakaran hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan menjadi penyebab utama kepunahan suku terasing ini. Padahal pada banyak aspek, suku pedalaman ini memiliki interaksi yang baik dalam menjaga dan melestarikan alam lingkungan. Punahnya suku terasing sekaligus akan menghilangkan berbagai tradisi unik yang mereka miliki.

Selain Dikei Sakai, di tahun 2019 ini Riau juga meloloskan 5 WBTB lainnya yakni Buwong Kwayang, Tari Cegak, Zapin Siak Sri Indrapura, Syair Surat Kapal dan Tepuk Tepung Tawar Riau. Ditetapkannya warisan budaya tak benda dari berbagai daerah yang ada di Indonesia menjadi referensi bagi pemerintah sebelum mengajukan budaya nasional ke organisasi internasional seperti UNESCO. Budaya daerah yang ada di berbagai provinsi di Indonesia tersebut akan semakin memperkaya kebudayaan Indonesia di tingkat internasional.

Dikei Sakai hanya salah satu dari tradisi suku terasing di Riau yang sudah dilirik di tingkat nasional, suku-suku lainnya juga memiliki tradisi lain yang juga tak kalah uniknya. Melalui penetapan WBTB ini akan semakin memberi jalan bagi pemerintah Provinsi Riau untuk menjaga dan melestarikan tradisi yang ada.


Dikei Sakai Pago Ghumah


Dikei Sakai dan Mahligai 9 Telingkek

RiauMagz, Wisata Riau, Dikei Sakai cara lain pengobatan masyarakat Suku Sakai di Bengkalis dan Siak Sri Indrapura Provinsi Riau