Silek Tigo Bulan, Silat Langka Dari Rokan Hulu

Warisan Budaya Tak Benda Riau 2018 silek tigo bulan

RiauMagz.com - Riau memiliki berbagai jenis silat tradisional yang dikenal di beberapa kabupaten seluruh Riau. Salah satu yang paling terkenal adalah Silek Tigo Bulan yang berasal dari Kabupaten Rokan Hulu. Silat ini masuk dalam kategori Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Riau yang pada tahun 2018 lalu diresmikan secara nasional dan mendapatkan sertifikat WBTB dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bersama 13 jenis Warisan Budaya Tak Benda lainnya, silat khas Rokan Hulu ini pun secara resmi telah dinyatakan sebagai warisan budaya yang harus dilindungi keberadaannya.

Mengenal Lebih Dekat Silek Tigo Bulan, Rokan Hulu

Nama silek tigo bulan diambil dari bahasa daerah setempat yang artinya silat tiga bulan. Dinamakan tiga bulan karena memang masa mempelajari jenis silat ini membutuhkan waktu selama tiga bulan. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama silat tradisional di daerah Rokan Hulu, seperti misalnya silek rimau, silek boruk, silek ula dan sebagainya. Namun, silek tigo bulan ini dikenal lebih khas dan menjadi silat yang banyak dipelajari masyarakat setempat.

Secara garis besar, Silet Tigo Bulan ini terbagi dalam dua kelompok yakni sendeng dan tondan. Tondan biasanya mencakup latihan yang menekankan pada ketangkasan gerakan dalam silat, sementara sendeng lebih menekankan pada ketahanan fisik yang dimiliki. Latihan-latihan yang dilakukan pada dua tahapan silat tersebut menekankan pada target dari dua tahapan yakni ketangkasan gerak dan ketahanan fisik. Para pesilat biasanya melakukan latihan tondan lebih dulu yang menekankan pada ketangkasan gerak. Selanjutnya setelah tangkas dalam gerakan barulah melakukan latihan ketahanan fisik.

Pelajaran inti dari silat ini untuk memahirkan penggunaan cahaya. Menurut kepercayaan para pelaku silat, ada tiga jenis cahaya yang harus dimahirkan penggunaannya selama pelatihan berlangsung. Waktu untuk belajar memahirkan cahaya tersebut kurang lebih 3 bulan gerak silat di tanah, barulah setelah itu ditambah 10 hari untuk menamatkan kaji batin. Kaji di rumah selama 10 hari tersebut meliputi beberapa hal di antaranya tujuh hari belajar kaji batin, sehari kaji togak (silat dalam posisi berdiri), sehari kaji duduk (silat dalam posisi duduk), dan sehari hari kaji guliang (silat dalam posisi guling).

Kaji guling ini dilakukan dengan mandi balimau terlebih dulu, selanjutnya guru menggulingkan muridnya. Dalam kondisi guling tersebut murid lalu diserang dengan tikaman pisau. Murid yang terguling tadi biasanya dapat menghindar karena telah josom. Adapun ujian silat yang terakhir adalah dua orang berada dalam satu kain sarung dan dibekali masing-masing dengan sebilah pisau, kemudian mereka saling menikam. Jumlah bilangan hari hingga tamat belajar silat tiga bulan ini adalah total 100 hari.

Pertunjukan Silek Tigo Bulan

Silek Tigo Bulan menjadi salah satu pertunjukan tradisional yang bisa kita temukan pada masyarakat suku Melayu Rokan. Silat ini biasanya dilakukan sebagai kegiatan memeriahkan beberapa acara seperti acara pengangakatan ninik mamak, pernikahan, khitanan, penyambutan terhadap tamu yang dihormati dan sebagainya. Tempat pelaksanannya bisa di mana saja baik di dalam atau luar ruangan. Misalnya untuk menyambut tamu atau tamu-tamu kehormatan, silat bisa dilakukan di halaman, tanah lapang dan sebagainya. Pada tradisi pernikahan, silat ini biasanya juga ditampilkan untuk menyambut arak-arakan mempelai laki-laki yang datang ke tempat kediaman mempelai wanita. Suasana menjadi terlihat lebih ramai dengan penampilan tradisi silat sebagai budaya masyarakat setempat.

Alat-alat yang digunakan pada tradisi silat ini di antaranya pisau belati, tali plastic untuk pembatas lapangan. Selain itu juga disediakan meja dan kursi sebagai tempat duduk ninik dan mamak yan turut hadir untuk menyaksikan. Para pendekar yang menampilkan silek tigo bulan ini biasanya berjumlah 2 hingga 3 orang atau sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, silat ini juga diiringi dengan tabuhan alat musik tradisional yakni gong, calempong dan gendang. Dalam satu kali durasi pertunjukan hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja. Dalam waktu tersebut, para pendekar biasanya menunjukkan beberapa macam gerakan di antaranya tikam buang liar, tikam kungkong batak, tikam buang luar, tikam buang dalam, tikam kungkong bawah, dan tikam sepetak.

Keberadaan silat tradisional ini menjadi salah satu pertunjukan budaya bagi masyarakat Rokan Hulu. Keberadaannya kini semakin langka dan terancam hilang karena hadirnya berbagai tradisi modern yang lebih beragam. Silat dipandang sebagai hal yang kurang menarik bagi generasi muda, apalagi karena sifatnya terlihat tradisional. Oleh karena itulah pada tahun 2018, Silek Tigo Bulan sebagai salah satu budaya tak benda suku asli di Rokan Hulu turut diajukan dalam pemilihan Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Keunikan tradisi ini berhasil memikat juri dan akhirnya mengantarkan tradisi silat langka ini meraih sertifikat WBTB di tahun 2018.

Silek Tigo Bulan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Riau di Tahun 2018

Tepat pada tanggal 10 Oktober tahun 2018 yang lalu Silek Tigo Bulan tercatat resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta. Penetapan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tradisi tersebut yang menjadi identitas suku asli di daerah Rokan Hulu dan keberadaannya yang sudah terancam punah.

Sebuah budaya tak benda akan mendapatkan WBTB apabila secara keberadaannya memiliki dampak beberapa aspek bagi kehidupan masyarakat setempat. Silek Tigo Bulan sendiri memiliki beberapa aspek selain budaya, nilai-nilai sosial hingga aspek seni yang terkandung di dalamnya. Keberadaannya yang sudah langka dan terancam punah juga turut mendukung ditetapkannya Silek Tigo Bulan sebagai Warisan Budaya Tak Benda di tahun 2018.

Manfaat ditetapkannya Silek Tigo Bulan sebagai WBTB dari Riau pada tahun 2018 tersebut memberikan beberapa dorongan bagi pengembangan tradisi silat tesebut di Riau khususnya, yakni:
  1. Mendorong pemerintah lebih meningkatkan upaya pelestarian tradisi silat tradisional ini, ada langkah-langkah nyata yang dilakukan untuk melindungi dan melestarikan budaya yang hampir punah tersebut.
  2. Mendorong pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk memanfaatkan potensi anugerah WBTB ini untuk pengembangan wisata. Keberadaan silat bisa menjadi wadah pengembangan pariwisata yang lebih menarik di daerah.
  3. Menjadi bukti bahwa ada banyak kekayaan budaya di Riau yang unik dan terbukti semakin langka karena telah bersaing dengan budaya modern yang lebih diminati generasi saat ini. Harus ada upaya untuk membawa tradisi lama dengan konteks kekinian sehingga tetap dikenal oleh masyarakat masa kini.

Pada tahun 2018 lalu ada 14 Warisan Budaya Tak Benda dari Riau yang mendapatkan sertifikat dari Kemendikbud, di antaranya adalah:
  1. Silek Tigo Bulan (Rokan Hulu),
  2. Ratik Bosa / Ratik Togak (Rokan Hulu),
  3. Lukah Gilo Riau (Rokan Hulu),
  4. Ghatib Beghanyut (Siak),
  5. Syair Siak Sri Indrapura (Siak)
  6. Tari Gendong (Siak, Meranti, Bengkalis),
  7. Kayat Kuansing / Kayat Rantau Kuantan (Kuantan Singingi),
  8. Nandung Indragiri Hulu (Indragiri Hulu),
  9. Silat Pangean (Kuantan Singingi),
  10. Belian (Pelalawan),
  11. Basiacuong (Kampar),
  12. Pantun Atui (Kampar),
  13. Badondong (Kampar), dan
  14. Kotik Adat Kampar (Kampar).

RiauMagz, Wisata Riau, Rokan Hulu.