Suku Bangsa Laut di Indonesia

Suku Bangsa Laut di Indonesia bajau bajo

Suku Laut di Indonesia
Suku laut di Indonesia terdapat di berbagai daerah, diantaranya di daerah pesisir Kepulauan Riau, daerah Riau, daerah Dabo Singkep, Tajur Biru, Suku Laut di Indragiri Hilir serta di Kampung Bajo Laut Lukko Siangpiong di Kabupaten Konawe Utara, merupakan kawasan perbatasan antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Kehidupan suku laut yang gemar berpindah dari satu lautan ke daerah lautan yang lain tanpa mengetahui batas teritorial suatu daerah menyebabkan suku ini bisa singgah dan mendiami kawasan mana saja yang memungkinkan untuk disinggahi. Seperti suku laut yang berada di Dabo Singkep, kebanyakan mereka adalah suku laut dari Bugis yang sudah lama berlayar di lautan dan tak kembali ke daerahnya. Lihat juga artikel Suku Laut di Kepulauan Riau.

Suku Bajo di Sulawesi, Indonesia
Suku Bajo atau yang lebih dikenal dengan suku bajak laut mendiami daerah Sulawesi terbilang cukup unik dibandingkan suku laut daerah lainnya. Sebagian suku ini juga ada yang mendiami daerah pesisir Malaysia dan Thailand. Mereka tinggal di tepi laut dengan rumah-rumah kayu beratap rumbia dan daun kelapa. Tiang rumah terbuat dari kayu bakau yang tingginya bisa mencapai 4 meter. Bila kondisinya sudah rapuh atau terancam tenggelam dengan tingginya air pasang, maka biasanya pemilik rumah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Rumah-rumah tersebut berjejer di tepi laut, namun lebih sering kosong ditinggalkan oleh penghuninya berlayar di lautan. Meskipun telah memiliki rumah di lautan, rumah tersebut umumnya hanya dijadikan sebagai tempat singgah saja, kehidupan utama suku bajo lebih banyak dihabiskan di lautan. Sebuah rumah suku bajo biasanya akan terhubung dengan sebuah jembatan kayu panjang ke daratan. Fungsinya digunakan apabila suku bajo ingin ke daratan, sekedar menukar ikan dengan barang-barang harian atau jika ada keluarga yang meninggal dan akan dimakamkan.

Salah satu yang bisa menjadi pertanda bahwa suku bajo sedang ada di rumah adalah, apabila terlihat soppe di depan rumahnya. Soppe merupakan perahu panjang berukuran 8 hingga 10 meter yang dilengkapi dengan atap. Biasanya atap terbuat dari bahan rumbia, nipah dan sejenisnya. Di dalam kapal inilah suku bajo berlayar selama berbulan-bulan bersama keluarga, anak-anak mereka. Bahkan melangsungkan pernikahan hingga mengasuh anak-anak mereka lakukan di kapal tersebut. Suku bajo dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka mampu menaklukkan kondisi alam di lautan. Mereka juga memakai kondisi alam seperti arah angin, bintang dan sebagainya sebagai kompas arah perjalanan mereka.

Bahasa yang digunakan oleh suku laut di daerah Sulawesi adalah bahasa bugis. Mereka seringkali dianggap sebagai bajak laut atau suku yang suka merusak, namun sebenarnya mereka memiliki kearifan lokal yang cukup tinggi dalam mengelola ekosistem laut. Karena hanya menggunakan peralatan tradisional dan aktivitas mereka pun yang sifatnya tradisional, kelestarian kekayaan laut sebenarnya lebih terjaga dengan keberadaan suku laut tersebut.

Suku Ameng Sewang di Bangka Belitung
Suku Ameng Sewang merupakan suku laut di Indonesia yang mendiami kawasan Pulau Belitung, Bangka Belitung, Sumsel. Seperti suku laut pada umumnya, suku ini juga berpindah dari satu lautan ke lautan yang lainnya mengikuti musim panen ikan yang ada. Pada abad ke-17, suku Ameng Sewang berperan melawan penjajah Belanda dalam mempertahankan Pulau Belitung yang kaya dengan timah. Suku ini melawan Belanda karena menganggap Belanda akan merusak ekosistem laut setempat dengan melakukan penambangan ilegal. Pada tahun 1950-an, jumlah suku Ameng Sewang masih mencapai ribuan, lalu menurun menjadi ratusan jumlahnya pada tahun 1980-an. Jumlahnya semakin berkurang seiring kondisi laut yang semakin keras sementara kekuatan untuk menaklukkan laut hanya dilakukan dengan cara-cara sederhana. Sebagian suku ini memiliki kepercayaan animisme. Mereka pun sudah akrab dengan minuman keras yang biasanya terbuat dari nira kelapa. Demikian juga merokok, sebagian dari orang-orang suku ini telah banyak yang melakukannya.

Suku Laut Riau dan Kepulauan Riau
Suku laut di daerah Riau dan Kepulauan Riau termasuk suku laut yang memiliki rekam jejak sejarah yang cukup kuat. Hingga saat ini keberadaan suku laut di dua kawasan ini juga masih banyak kita temukan. Suku laut di Kepulauan Riau merupakan suku yang berperan penting dalam perjuangan Kesultanan Malaka dalam mengusir Portugis. Kesultanan Johor yang menggantikan Kesultanan Malaka pasca jatuhnya Malaka ke tangan Portugis juga tetap didukung perjuangan suku laut di daerah tersebut. Demikian juga terhadap kerajaan Sriwijaya, suku laut di daerah tersebut juga memiliki kesetiaan yang tinggi.

Baca juga artikel kami : Suku Laut di Kepulauan Riau

Suku laut yang ada di daerah Riau sendiri saat ini sedikit demi sedikit telah mengalami perubahaan kondisi sosial dan budaya. Sudah banyak yang mulai menetap di daratan, menempuh pendidikan, bahkan telah ada yang menjadi dosen di perguruan tinggi. Pemerintah memberikan edukasi kepada masyarakat suku laut tentang pentingnya menjaga kebersihan, kebutuhan bermukim di daratan serta resiko hidup di lautan yang lebih besar. Jika ingin melihat kondisi kehidupan suku laut yang masih cukup kuat dengan tradisi kelautannya, bisa melihat langsung beberapa suku laut yang ada di daerah Kepulauan Riau.

Umumnya, suku laut yang telah lama bermukim di daratan dan mulai merasakan kebaikan tinggal di darat, mereka sudah enggan untuk berlayar lagi. Anak-anak suku laut lebih nyaman tinggal di darat karena bisa mendapatkan lebih banyak hiburan seperti menonton televisi. Hidup di lautan ternyata membosankan. Hanya berteman air dan angin, sementara resiko keselamatan jauh lebih besar. Meskipun demikian, kita harus mengakui, keberadaan suku laut telah memberikan kontribusi kekayaan budaya dan suku di Indonesia, bahkan beberapa mereka dikenal sebagai penjaga ekosistem laut.

Salah satu tradisi Suku Laut di Riau khususnya bagi Suku Laut Duano di Indragiri Hilir (mereka lebih senang dipanggil Suku Laut daripada Suku Duano) adalah kegiatan Menongkah yaitu mengambil kerang di lumpur laut ketika laut sedang surut.

Silahkan baca Manongkah Karang Suku Duano - Warisan Budaya Tak Benda Riau

Suku Bangsa Laut di Indonesia Manongkah Duano Indragiri Hilir


[RiauMagz | Wisata Riau | Wisata Kepulauan Riau | Suku Laut | Bangsa Laut]