-->

RIWAYAT SULTAN ABDUL JALIL ALAMUDDIN SYAH

makam SULTAN ABDULJALIL ALAMUDDIN SYAH

Disusun oleh DADANG IRHAM 20 maret 2020
BAGIAN 2

Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah merupakan gelar kebesaran dari Tengku Alam atau Raja Alam sewaktu beliau menjabat sebagai Sultan dari Kerajaan Siak pada 16 januari 1761 M, sedangkan nama kecil beliau biasanya di panggil dengan sebutan Tengku Rabiul Alam atau Raja Alam. Sultan Alamuddin Syah ini dilantik sebagai Sultan Siak yang ke empat setelah beliau merebut kekusaan dari kemenakan beliau yang bernama Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah anak dari adik beliau yang bernama Raja Buwang Asmara atau Tengku Muhammad yang merupakan Sultan Siak yang ke dua setelah menggantikan kedudukan ayahnya yaitu Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau yang lebih di kenal dengan nama Raja Kecik sang pendiri kerajaan Siak Sri Indrapura.

Sultan Alamuddin Syah adalah Sultan Siak yang ke empat yang memerintah di Senapelan. Kelak nantinya Senapelan ini akan di kenal sebagai cikal bakal berdirinya sebuah kota besar yang bernama Pekanbaru. Sultan Alamuddin Syah ini adalah putra tertua Raja Kecik Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah Zilillah Fil Alam Khalifatul Mukminin Ibni Sultan Mahmud Syah Mangkat Dijulang pendiri Kerajaan Siak dengan istri pertamanya yang bernama Ncik Kecik yang merupakan anak dari Dipati Batu Kucing asal Musi Rawas Jambi.

Raja Alam di perkirakan lahir di Rawas antara tahun 1705-1712 dengan nama Tengku Rabiul Alamuddin. Raja Alam ini merupakan abang dari Raja Muhammad atau Tengku Buwang Asmara Sultan Siak yang kedua, jika Raja Muhammad terlahir dari perkawinan Raja Kecik dengan seorang perempuan Bangsawan Melayu maka Raja Alam terlahir dari perempuan orang asli yang merupakan penguasa di Batu Kucing daerah Rawas Jambi.

Kemunculan pertama Raja Alam di Siak diperkirakan terjadi pada tahun 1725/1730 M, sebelum menjadi Sultan Siak yang ke empat perjalanan panjang telah dilalui oleh Raja Alam dalam suka dan duka.

Pengembaraan Raja Alam keluar dari kerajaan Siak terjadi sekitar tahun 1735 setelah kalah dalam suksesi perebutan kekuaan antara Raja Alam dan adiknya Raja Buwang yang lebih di sukai oleh para pembesar istana terutama oleh Empat Datuk sebagai dewan kerajaan yang sangat berpengaruh dalam sistem pemerintahan Kerajaan Siak nantinya.

Perselisihan antara Raja Alam dan Raja Buwang serta kepergian Raja Alam dari Negri Siak ini terekam dalam Syair Perang Siak berikut ini :

Tiada berapa lama antara
Tiadalah mufakat dengan saudara
Hampirlah negri huru hara
Hendak menanggung duka sengsara

Dengan saudara tiada mufakat
Masing masing dengan hakikat
Sebab kebesaran tiada serikat
Kurang pendapat laksana sikat

Sudahlah takdir khalilul bahri
Alamat susah seluruh negri
Segala hulu balang dengan mentri
Gundahnya tiada lagi terperi

Mendirikan kubu sebelah menyebelah
Orang senegri sudah terbelah
Sudahlah dengan takdir Allah
Tidak mencari benar dan salah

Banyaklah orang berhati pilu
Seorang di hilir seorang di hulu
Banyaklah kena sudah berlalu
Sebelah menyebelah menjadi malu

Berperang itu sama senegeri
Gundahlah hati segala menteri
Heran memandang tiada terperi
Karena berkelahi sama sendiri.

Yang keempat suku tidak bersatu
Baginda maelihat berhati pilu
Remuk redam tiada tertentu
Laksana kaca jatuh ke batu

Demikian konon kabarnya garang
Mufakat tak dapat lalu berperang
Dalam negri serang menyerang
Ada yang lebih ada yang kurang

Baginda pun tahu lalulah murka
Merah padam karena duka
Haram sekali tiada di sangka
Akan menjadi mala petaka

Datanglah titah duli baginda
Suruh menghadap paduka ananda
Serta dengan adinda dan kanda
Ada diperkelahikan dengan saudara

Didalam negri jangan berperang
Engkau tidak dapat dilarang
Jangan menjangka larang wirang
Pergilah engkau salah seorang

Kutipan syair diatas jelas menunjukan pertentangan antara Raja Alam dan Raja Buwang yang sudah berkembang menjadi perperangan sehingga menimbulkan huru hara di dalam Negri Siak, sehingga salah seorang di antara mereka harus meninggalkan Negri Siak.

Sejak keluar dari Kerajaan Siak, Raja Alam mulai melakukan pengembaraan yang sangat berharga dan membuatnya lebih siap untuk menduduki tahta Siak suatu saat nanti. Dalam pengembaraan tersebut Raja Alam banyak menguasai dan berhubungan dengan daerah-daerah yang kelak akan menjadi pendukung bagi kekuasaannya, seperti beliau pernah menjadi Raja Muda Pelalawan, menguasai daerah Batu Bara sebagai basis kekuasaannya pada tahun 1741 dengan tetap mengontrol daerah Siantan sampai tahun 1749/1750.

Pada akhir tahun 1749 atau diawal tahun 1750 Raja Alam menikah dengan Daeng Tijah atau Tengku Ampuan binti Daeng Pirani atas jasa dan usaha dari Syaid Usman yang merupakan orang kepercayaanya yang juga kelak akan menjadi menantunya.

Dalam merebut haknya untuk menduduki tahta Siak, sering kali terjadi perang antara Raja Alam dengan Raja Buwang yang mana dalam perperangan ini kekalahan dan kemenangan terjadi secara silih berganti, perperangan pertama terjadi sekitar bulan Mai 1753 dimana dalam puncaknya pada tanggal 20 mei 1753, Raja Buwang terusir dari tahtanya yang direbut oleh Raja Alam namun pada bulan agustus 1754 Raja Buwang kembali merebut tahtanya yang menyebabkan sekali lagi Raja Alam kembali ke basis utamanya di Batu Bara akan tetapi begitu mendapat dukungan yang yang cukup besar dari sekutu dan para bawahannya pada bulan oktober 1754 sekali lagi Raja Alam menaklukkan Raja Buwang yang menyebabkan kembali terusirnya Raja Buwang dari tahta Siak.

Pada bulan Agustus 1755 dengan bantuan dari pasukan Belanda serta bantuan dari pasukan Johor dibawah pimpinan Raja Sulaiman yang merupakan adik dari ibunya, akhirnya Raja Buwang kembali merebut tahtanya dari Raja Alam hingga setelah kemenangannya ini Raja Buwang lalu memindahkan pusat kekuasaannya dari Buantan ke Mempura.

Perebutan kekuasan ini mencapai puncaknya pada 16 juni 1761, Mempura yang merupakan pusat pemerintahan Raja Buwang /Muhammad yang telah digantikan oleh anaknya yaitu Raja Ismail dapat dikalahkan oleh Raja Alam dan pada tanggal 26 juli 1761. Raja Alam secara resmi dilantik sebagai Sultan Siak dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Pada awal tahun 1763 Raja Alam mulai berencana memindahkan pusat pemerintahannya ke arah hulu tepatnya di daerah Senapelan saat ini rencana pemindahan ini sempat tertunda akibat sakit serius yang dialami oleh Raja Alam sejak bulan April sampai Juni, tapi pada bulan Juli secara resmi Raja Alam telah memindahkan ibukota kerajaan dari Siak (Mempura) ke Senapelan. (VOC 3090 Letter from Siak : Report of Siak Everhard Cramer,26-3-1763 ; Letter from Raja Alam to Governor David Boelen and Council, 4-8-1763).

Sultan Alamuddin Syah memerintah Kerajaan Siak dari Senapelan selama tiga tahun kurang, mulai dari tahun 1763-1765. Selama memerintah di Senapelan beliau dikhabarkan membangun Istana, Balairung Sri dan Masjid di samping itu juga beliau mulai merintis pembangunan sebuah Pekan untuk memotong jalur perdagangan dari Pagaruyung dan Petapahan yang menuju Johor agar dapat singgahi oleh para pedagang di daerah Senapelan begitu juga sebaliknya.

Selama berkuasa di Senapelan beliau memakai gelar kebesaran, dari Sultan Alamuddin Syah berubah menjadi Sultan Alamuddin Riayat Syah, akan tetapi sangat disayangkan, Pekan yang beliau bangun ini sebelum berkembang pesat beliau sudah dipanggil keharibaan Allah SWT pada bulan September 1765 (tepatnya pada tanggal 18 septeber 1765 sekitar jam 3 dini hari) pada usia sekitar 63 tahun dan beliau di makamkan pada sebuah bukit yang sekarang berada di derah Kampung Bandar Senapelan saat sekarang ini.

Sesuai dengan adat lembaga kerajaan, beliau dikuburkan dengan adat istiadat kerajaan. Sewaktu pemakaman beliau inilah beliau di berikan gelar terakhirnya untuk mengingatkan akan jasa-jasa beliau, sehingga beliau di gelari dengan gelar MARHUM BUKIT yang maknanya lebih kurang Almarhum yang meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit. Tetapi ada juga yang mengatakan gelar ini beliau sandang karena beliaulah yang memindahkan pusat pemerintahan dari Mempura ke Senapelan tepatnya di Kampung Bukit sehingga bergelar Marhum Bukit.

Semasa hidupnya Raja Alam mempunyai beberapa orang istri akan tetapi yang tercatat hanya dua saja yaitu istri pertamanya yang berasal dari Jambi dan mempunyai dua orang anak yaitu Tengku Muhammad Ali dan Tengku Akil, sedangkan dengan Daeng Tijah/Khadijah alias Tengku Ampuan beliau mempunyai anak antara lain Tengku Embung Badariah yang kelak menikah dengan Syaid Usman Syahabuddin, Tengku Mas Ayu, Tengku Suma dan Tengku Hawi/Hawa yang kemudian menikah dengan Syaid Syech Al Jufri berasal dari Jambi.


Catatan :

Bersambung ke bagian tulisan lainnya : mengenai 6 (enam) makam utama dalam Komplek Makam Marhum Pekan tersebut dirinci dalam tulisan berikut ini :

  1. Makam Sultan Siak IV Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah
  2. Makam Sultan Siak V Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazam Syah
  3. Makam Syaid Syarif Usman Syahabuddin
  4. Makam Sultanah Khadijah / Daeng Tijah / Tengku Puan binti Daeng Perani
  5. Makam Tengku Embung Badariah binti Tengku Alam
  6. Makam Syaid Zen Al Jufri alias Tengku Pangeran Kesuma Dilaga


RiauMagz, Sejarah Riau, Sejarah Siak, Sejarah Pekanbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel