Pacu Jalur Pesta Rakyat Kuantan Singingi

Pacu Jalur Pesta Rakyat Budaya Kuantan Singingi

Tradisi Pacu Jalur - Paduan Olahraga, Seni dan Olah Batin

Pacu Jalur telah resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau tahun 2015 yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pacu Jalur sebuah budaya yang memperkaya pariwisata Riau
Pacu Jalur adalah tentang SEMANGAT PERSATUAN membangun negeri

Pacu jalur merupakan acara pertunjukan perlombaan dayung menggunakan perahu besar yang disebut dengan jalur. Acara ini merupakan kegiatan wisata tahunan yang bisa disaksikan di daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Pacu Jalur disebut-sebut sebagai even budaya dengan jumlah penonton terbesar di Indonesia. Pada satu pertunjukan pacu jalur yang digelar, bisa disaksikan ribuan orang yang tumpah ruah memenuhi tribun tenda dan tepian sungai kuantan yang disebut Tapian Narosa.

Pada tahun 2015, Pacu Jalur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tingkat nasional sehingga even tahunan yang bernilai ekonomi sangat tinggi ini perlu terus dikembangkan, bukan hanya untuk keuntungan pemerintah daerah setempat, namun juga Riau secara umum.

Pacu Jalur Pesta Rakyat Budaya Kuantan Singingi

Pacu jalur merupakan perlombaan dayung sampan atau perahu tradisional yang diadakan di Tepian Batang Narosa Sungai Kuantan, Taluk Kuantan - Kabupaten Kuantan Singingi - Riau. Pacu berarti lomba atau adu cepat melawan arus Sungai Kuantan, sedangkan "jalur" adalah perahu panjang yang dapat memuat 40 sampai 60 orang pendayung yang disebut "anak pacu". Sampan atau perahu yang disebut Jalur tersebut, dibuat dari sebatang pohon Bonio atau Kulim Kunyian dengan panjang 30 meter atau lebih dengan diameter sekitar 2 meter. Pohon tersebut kemudian dibentuk menjadi Jalur dengan tatacara adat mulai dari saat menebang pohon sampai dengan Jalur selesai dibuat.

Pacu Jalur mulanya hanya diadakan untuk memperingati Maulid Nabi atau menyambut Tahun Baru Hijriyah. Tetapi, setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Festival Pacu Jalur ini lebih sering diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Festival lomba perahu ini, sekarang menjadi salah satu kegiatan wisata dalam kalender wisata nasional yang dilangsungkan pada tanggal 23-26 Agustus setiap tahunnya.

Pacu Jalur Kuantan Singingi - Riau
Warisan Budaya Tak Benda yang menjadi daya tarik Pariwisata Riau



Sejarah Pacu Jalur
Seperti diketahui, kendaraan jalur atau perahu panjang telah dikenal masyarakat tepian sungai di Taluk Kuantan semenjak abad ke-17. Pada saat itu, jalur digunakan sebagai kendaraan transportasi air untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan. Seiring waktu, jalur mulai berkembang sebagai wujud identitas masyarakat setempat. Jalur mulai dihias dengan ukiran selembayung, aneka gambar binatang dengan dihias cantik seperti kendaraan istimewa. Mereka yang dianggap memiliki strata sosial lebih tinggi akan mengendarai jalur yang lebih indah.

Sekitar satu abad kemudian, masyarakat mulai menilai potensi dari kendaraan jalur secara lebih luas. Mulai lah digelar even lomba pacu jalur antar kampung di daerah Kuantan Singingi. Perlombaan ini biasanya digelar di hari-hari besar Islam dan tampak lebih sakral.

Pacu Jalur Pesta Rakyat Budaya Kuantan Singingi

Pada tahun 1905, bertepatan dengan datangnya Belanda ke Riau, Belanda menjadikan pacu jalur sebagai acara untuk merayakan ulang tahun ratu Wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Semenjak itulah orang mulai berpikir tentang pemanfaatan pacu jalur bukan hanya untuk acara-acara keagamaan. Hingga orang menjadikan pacu jalur sebagai momen perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya di bulan Agustus.

Silahkan simak --> Daftar Juara Pacu Jalur 1955-2017

Saat ini pacu jalur merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Kuansing selama beberapa hari di bulan Agustus dengan melibatkan ribuan penonton baik dari daerah tempat maupun wisatawan dari luar.


Mengenal Kendaraan Jalur
Jalur merupakan perahu panjang yang terbuat dari kayu panjang sekitar 25-30 meter dengan diameter 1-2 meter. Kayu ini dapat menampung sebanyak 40 hingga 60 orang. Kayu yang digunakan sebagai jalur bukan sembarang kayu. Tetua kampung atau para dukun biasanya terlebih dahulu akan mengadakan upacara menyemah kayu yang akan dipilih sebagai jalur. Selanjutnya kayu ditebang lalu dibawa secara beramai-ramai oleh warga dari hutan menuju kampung. Barulah penukangan dilakukan di kampung dengan mengukir, menghaluskan dan mengasapi kayu. Setelah itu, jalur yang sudah jadi akan dimasukkan ke dalam sungai secara beramai-ramai.

Pertunjukan Pacu Jalur
Permainan pacu jalur biasanya melibatkan banyak orang yang menempati posisi-posisi sebagai berikut:
  1. Anak jalur, merupakan puluhan orang yang bertugas mendayung jalur secara serempak dan harmonis, sangat menentukan laju dan kemenangan perlombaan jalur yang digelar.
  2. Tukang tari, seorang anak kecil yang biasanya berusia belasan tahun akan berdiri di bagian depan jalur sambil menari. Fungsi dari tukang tari ini untuk mengetahui sejauh mana jalur melaju dan sudah pada posisi bagaimana dibandingkan jalur yang lain.
  3. Tukang onjai, seorang yang berdiri di bagian belakang jalur, bertugas memberi irama agar jalur bisa lebih cepat dan laju serta mudah didayung.
  4. Tukang timbo ruang, merupakan orang yang bertugas memberi aba-aba kepada para anak jalur untuk mendayung secara serentak. Biasanya dilakukan dengan meniup pluit dan mengibaskan pelepah. Seperti namanya, tukang timbo juga bertugas menimba air selama dalam proses pertandingan. Jika ada air yang masuk ke dalam jalur maka tukang timbo lah yang membersihkannya.

Pacu Jalur Pesta Rakyat Budaya Kuantan Singingi

Kepercayaan masyarakat setempat, pertunjukan pacu jalur bukan sebatas pertunjukan fisik semata. Setiap jalur yang berlomba biasanya memiliki pawang atau dukun. Kehebatan jalur yang menang seringkali diukur dari kehebatan dukun yang mengawal jalur tersebut. Sehingga pertunjukan pacu jalur seringkali menjadi ajang adu kekuatan para dukun-dukun yang ikut berlaga.

Pacu Jalur dan Upacara Adat
Untuk membuat Pacu banyak ritual adat yang mesti dilaksanakan. Kayu yang diambil dari pohon pilihan dihutan, sebelum ditebang harus diawali dengan upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh pawang. Pohon kayu tersebut dianggap memiliki "penghuni", sehingga untuk menebangnya harus meminta ijin melalui upacara adat yang yang dilakukan agar proses penebangan dan pemanfaatan kayu menjadi jalur dapat berjalan lancar. Kemudian pohon ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat yang kemudian diseret bersama-sama ke desa dengan menggunakan tenaga manusia yang dilaksanakan secara gotong royong dan kebersamaan. Jalur yang akan dibuat ini akan mewakili sebuah desa, jadi satu desa akan memiliki satu jalur utama yang akan berlomba di Festival Pacu Jalur.

Sesampai di desa, batang pohon tersebut akan di-layur (diasapi) selama kurang lebih 12 jam. Proses pelayuran atau pengasapan ini dilakukan pada malam hari yang diiringi dengan upacara adat dan tari-tarian yang dihadiri oleh seluruh masyarakat desa bersangkutan. Pelayuran atau pengasapan ini bertujuan agar kayu menjadi kering dan ketika menjadi jalur tidak berat saat dipacu. Setelah itu baru dilakukan proses pembuatan jalur dengan menetapkan panjang dan melubangi bagian dalam batang pohon sehingga terbentuk sebuah sampan atau perahu atau jalur tersebut.

pacu jalur sungai kuantan singingi riau

Pacu jalur yang awalnya dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam seperti Maulid nabi, Idul Fitri, Tahun Baru Islam 1 Muharam, tetapi ketika Penjajah Belanda memasuki daerah Riau diawal tahun 1900 terjadi perubahan tujuan. Belanda memanfaatkan kegiatan ini sebagai acara peringatan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina pada setiap tanggal 31 Agustus. Tujuan acara ini kemudian berubah lagi sejak Indonesia merdeka, Pacu jalur diadakan untuk memperingat Hari kemerdekaan, biasanya diadakan sekitar tanggal 20-an Agustus setiap tahunnya.

Sekarang ini, kegiatan yang acaranya mirip dengan Perahu Naga ini, tidak hanya diikuti oleh Jalur dari Kecamatan yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh Jalur dari Kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi tetangga dan juga negara lain.

Kehebatan Pacu Jalur dalam Aspek Sosial
Keberadaan pacu jalur telah menjadi even yang benar-benar menjadi puncak kegiatan paling ditunggu selama setahun oleh masyarakat Kuantan Singingi. Konon seorang suami bisa menceraikan istrinya jika dilarang menghadiri kegiatan tersebut. Bukan hanya setakat acara puncak budaya, tetapi juga menjadi kegiatan puncak ekonomi masyarakat setempat. Acara yang digelar beberapa hari bisa menyedot ribuan penonton setiap harinya. Tentunya memberikan imbas pengaruh yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat Kuantan Singingi.

Pacu Jalur Pesta Rakyat Budaya Kuantan Singingi

Bagi Anda yang ingin berkunjung di kegiatan tahunan pacu jalur Kuantan Singingi, bisa menuju ke Kabupaten Kuantan Singingi, tepatnya di Tepian Narosa di Kecamatan Kuantan Tengah, sekitar 150km dari ibu kota Pekanbaru dengan menggunakan jalur darat. Salah satu acara budaya akbar yang dikenal oleh seluruh masyarakat Riau adalah pacu jalur tersebut. Bukan hanya Riau tetapi even ini juga dikenal sebagai even budaya nasional tahunan. Para peserta pacu jalur dari seluruh Riau dan luar daerah bertarung memperebutkan posisi bergengsi. System yang dipakai dalam perlombaan ini adalah system gugur. Tim yang menang akan diadu dengan tim yang menang lainnya. Pemenang dalam kompetisi ini adalah mereka yang selalu bertanding memenangkan permainan.

Hal unik dari dimulainya pertunjukan pacu jalur tersebut adalah dengan dibunyikan nya meriam sebanyak tiga kali untuk menandakan dimulainya perlombaan. Mengapa menggunakan meriam? Sebab dengan jumlah penonton ribuan yang tersebar di sepanjang tepian sungai dibutuhkan bunyi yang keras dan dapat didengar oleh semua orang, maka meriam menjadi pilihan yang tepat. Dentuman pertama menandakan para peserta sudah berderet di garis start, dentuman kedua peserta bersiap dan dentuman ketiga pada anak jalur mulai mendayung ke tengah sungai. Jumlah pasti anak jalur yang diperbolehkan bermain tidak begitu menjadi masalah pada setiap jalurnya, sebab kepercayaan masyarakat setempat, kemenangan bukan ditentukan oleh banyaknya para pengayuh jalur tetapi oleh kekuatan magis para pawang yang melindungi setiap jalur. Sehingga adu kekuatan para dukun lah yang paling menentukan dalam setiap lomba.

Bersatu Nogori Maju sebagai slogan Kabupaten Kuantan Singingi merupakan cerminan dari kekuatan Pacu Jalur itu sendiri. Pacu Jalur berfungsi sebagai pemersatu masyarakat baik dalam satu desa maupun rumpun suku apalagi rumpun kabupaten. Walaupun mereka bersaing dalam perlombaan, tapi rasa persatuan itu telah terasa sejak pembuatan jalur sampai akhir perlombaan.

pacu jalur sungai kuantan singingi riau

CARA MENUJU TALUK KUANTAN (LOKASI PACU JALUR)
Jika dari luar Riau, capailah dahulu Kota Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau baik dengan penerbangan (11 jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru) melalui Jakarta, Batam, Medan, Bandung, Singapura dan Kuala Lumpur, maupun dengan transportasi darat serta air. Dari Pekanbaru lanjutkan perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi. Terdapat banyak pilihan kendaraan yang tersedia diantaranya taxi, rental mobil Pekanbaru, mobil angkutan umum maupun menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan darat dari Pekanbaru menuju Taluk Kuantan ditempuh dengan waktu lebih kurang 4-5 jam. Banyak penginapan tersedia di Taluk Kuantan sehingga tidak perlu khawatir.

Pacu Jalur Kuantan Singingi - Riau


Pacu Jalur Tradisional Kabupaten Kuantan Singingi



Pacu Jalur @Riaumagz



Foto Pacu Jalur :
Riau Daily Photo
Riau Magz
FB Dendis Malayu
@Novri_PCI
@KuansingPict
@DesaPantai_
@PalimoOlangPutie
@BimaGuntaraa
@Putrik.Amanda

[Riaumagz | Wisata Riau | Pacu Jalur]
loading...

Riaumagz

Semua tentang Riau & Indonesia
TWITTER & INSTAGRAM : @riaumagz
Repost : tandai & ikuti kami Gambar dilengkapi keterangan.
#riau #riaumagz #pekanbaru