Belajar Biologi Menjadi Perjalanan Dalam Memaknai Kehidupan
A. Identitas Buku
| Sumber Resensi: | ||
| Judul | : | Biologi untuk SMA/MA Kelas XII |
| Penulis | : | Shilviani Dewi, Amalia Shari, Rani Elisa Purba, dan Remigiu Gunawan Susilowarno |
| Penerbit | : | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi |
| Tahun Terbit | : | 2022 |
| Jumlah Halaman | : | x + 254 halaman |
| ISBN | : | 978-602-427-958-5 (jilid 2) |
Sumber Referensi Utama,
L.N. Firdaus (2025). Filsafat Pendidikan Biologi: Dasar Filosofis, Epistemologis, Dan Aplikatif Dalam Pendidikan Biologi. Deepublish, Yogyakarta.
L.N. Firdaus (2025). Filsafat Pendidikan Biologi: Dasar Filosofis, Epistemologis, Dan Aplikatif Dalam Pendidikan Biologi. Deepublish, Yogyakarta.
B. Sinopsis Buku
Buku Biologi untuk SMA/MA Kelas XII membahas enzim dan metabolisme, genetika dan pewarisan sifat, evolusi, serta inovasi bioteknologi. Materi disajikan melalui uraian konsep, ilustrasi, aktivitas, percobaan, diskusi, dan refleksi filosofis. Susunan materi membawa pembaca dari proses kehidupan menuju penerapannya, sekaligus membuka pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan biologi dibangun dan digunakan.
Dalam filsafat pendidikan biologi, L.N. Firdaus (2025) menempatkan dasar filosofis, epistemologi, nilai, dan penerapan pembelajaran sebagai persoalan yang berhubungan. Secara ontologis, peserta didik bertanya tentang realitas biologis yang dipelajari seperti bagaimana enzim bekerja, sifat diwariskan, dan perubahan makhluk hidup dijelaskan. Secara epistemologis, mereka mempertanyakan alasan sebuah penjelasan itu bisa layak dipercaya, termasuk bukti, metode, penalaran, dan batas kesimpulan. Secara aksiologis, mereka menimbang tujuan serta dampak penggunaan pengetahuan bagi manusia dan kehidupan. Apa yang dianggap sebagai objek kajian memengaruhi cara penyelidikan; hasil penyelidikan kemudian menjadi dasar tindakan yang harus dipertanggungjawabkan.
Hubungan tersebut tampak pada Aktivitas 4.19 tentang rekayasa gen embrio manusia. Pertanyaan ontologis mengarahkan peserta didik memahami objek biologis dan proses genetik yang dibahas. Pertanyaan epistemologis mengajak mereka memeriksa bukti, metode, serta batas kepastian seperti bagaimana kemungkinan tidak otomatis membuktikan keberhasilan tersebut. Pertanyaan aksiologis kemudian menguji tujuan teknologi, pihak yang memperoleh manfaat, risiko, keadilan, dan tanggung jawab.
C. Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan buku ialah menghadirkan kegiatan yang mempertemukan konsep dengan objek, data, dan argumen. Dalam Aktivitas 4.1, peserta didik mengamati tempe, tape, kecap, yoghurt, dan mentega, lalu mengidentifikasi bahan dasar serta agen biologisnya. Aktivitas 1.3 menyelidiki pengaruh pH dan suhu terhadap kerja enzim katalase melalui perbandingan perlakuan dan pencatatan gelembung gas. Aktivitas 2.4 membahas pengamatan kromosom lalat buah, sedangkan Aktivitas 2.9 mengamati mitosis pada ujung akar bawang bombai. Kegiatan itu menghubungkan fenomena dan penjelasan.
Dari sisi epistemologi dan metodologi ilmu biologi yang dibahas Firdaus (2025), pengamatan belum otomatis menjadi pengetahuan. Data harus ditafsirkan, dibandingkan, dan dinilai kecukupannya sebelum menjadi dasar kesimpulan. Pada percobaan katalase, misalnya, guru dapat meminta siswa menjelaskan variabel yang diubah, faktor yang dikendalikan, alasan membandingkan perlakuan, dan kemungkinan penyebab hasil berbeda. Jika hasil tidak sesuai prediksi, mereka perlu meninjau prosedur, mutu data, atau dugaan awal. Proses ini melatih sikap terbuka pada koreksi.
Kegiatan ini selaras dengan pembahasan konstruktivisme L.N. Firdaus (2025). Peserta didik membangun pemahaman melalui pengalaman, diskusi, dan peninjauan kembali gagasan awal, bukan hanya menerima penjelasan guru. Namun, pengalaman tidak otomatis menghasilkan pemahaman yang tepat; pertanyaan pengarah dan refleksi tetap diperlukan. Guru perlu meminta siswa membedakan apa yang diamati, bagaimana data ditafsirkan, dan kesimpulan apa yang benar-benar didukung bukti. Dengan demikian, kegiatan praktik menjadi kesempatan membangun pengetahuan secara sadar dan bertanggung jawab.
Materi rekayasa gen embrio manusia memperlihatkan bahwa pengetahuan ilmiah juga bersinggungan dengan nilai. Hal ini sejalan dengan pembahasan L.N. Firdaus (2025) tentang etika dan bioetika dalam pendidikan biologi. Diskusi pro dan kontra akan dangkal apabila siswa hanya memilih pihak. Guru perlu meminta mereka memisahkan fakta ilmiah dari penilaian moral, menguji kekuatan alasan, mengenali pihak terdampak, serta mempertimbangkan manfaat, risiko, keadilan, dan tanggung jawab. Etika tidak menggantikan bukti, tetapi membimbing penggunaannya.
Kekurangannya, kegiatan yang tersedia belum tentu dengan sendirinya menumbuhkan kesadaran filosofis. Jika siswa hanya mengikuti petunjuk, menyalin hasil, dan mengulang kesimpulan, kegiatan dapat berubah menjadi rutinitas tanpa pemeriksaan alasan. Pertanyaan tentang asumsi, keterbatasan pengamatan, mutu bukti, dan perubahan kesimpulan ketika muncul data baru perlu dibuat lebih eksplisit melalui bimbingan guru. Guru dapat bertanya: apa yang benar-benar ditunjukkan data, penjelasan alternatif apa yang mungkin, dan bukti tambahan apa yang diperlukan? Pertanyaan itu mengalihkan fokus pada penilaian kritis atas klaim ilmiah.
D. Manfaat Buku untuk Pembaca
Bagi peserta didik, buku ini membantu memahami konsep serta melatih pengamatan, pemberian alasan, dan kesediaan memperbaiki pendapat. Bagi guru, buku ini menyediakan titik awal untuk merancang pembelajaran yang memperhatikan bagaimana pengetahuan diperoleh, bukan hanya apakah jawaban siswa benar. Mahasiswa Pendidikan Biologi dapat menelaah hubungan materi, metode, dan nilai pendidikan melalui buku ini. Manfaat tersebut lebih kuat ketika guru secara sadar mengaitkan aktivitas dengan pertanyaan filosofis.
Ketiga dimensi filsafat memperluas makna belajar biologi. Ontologi menuntun siswa mengenali realitas dan proses kehidupan yang dikaji, epistemologi membantu mereka menilai bagaimana klaim dibangun serta dibenarkan, aksiologi mengajak mereka mempertimbangkan tujuan dan konsekuensi penerapan ilmu. Keterpaduan ini menjadi bahan refleksi bagi guru, sebab pilihan aktivitas, pertanyaan, dan penilaian mencerminkan pandangan ilmu serta manusia yang hendak dibentuk. Karena itu, buku teks tidak cukup dinilai dari kelengkapan isi, tetapi juga dari peluangnya membangun penalaran, tanggung jawab, dan sikap reflektif.
E. Kesimpulan dan Rekomendasi
Buku Biologi untuk SMA/MA Kelas XII layak digunakan karena memadukan konsep dengan pengamatan, percobaan, diskusi, dan persoalan bioetika. Namun, nilai filosofisnya perlu dihidupkan melalui pembelajaran, bukan dianggap muncul otomatis dari aktivitas.
Merujuk pada Firdaus (2025), guru disarankan menghubungkan hakikat objek biologis, dasar pembenaran pengetahuan, dan pertimbangan nilai secara konsisten. Peserta didik perlu ruang untuk menguji klaim, merevisi penjelasan, dan menjelaskan alasan etisnya. Dengan begitu, perjalanan belajar biologi tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi membantu mereka lebih memahami kehidupan secara ilmiah, kritis, dan bertanggung jawab.
Penulis : Nabila Haq (Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Riau)

