Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kampilan Suku Iranun, Pedang Prajurit Sulu yang Tajam dan Kuat dari Filipina

RiauMagz.com - The Kampilan, the Sulu Sea Raiders Swords. Kampilan adalah senjata tradisional pedang mata satu berbentuk lurus dan panjang serta melebar di ujungnya dengan terdapat candik ataupun tidak serta gagang atau hulu tangkai bercabang, yang dipergunakan masyarakat Filipina secara umum maupun masyarakat di wilayah Kesultanan Sulu di Filipina Selatan termasuk Suku Iranun Melayu Timur di wilayah asalnya Mindanao maupun di wilayah tempat mereka menetap sekarang yang menyebar sampai ke Indragiri Hilir Riau serta Tanjung Jabung di Jambi maupun daerah lainnya di Indonesia. Pedang kampilan sering digunakan bahkan menjadi senjata utama dalam pertempuran oleh prajurit Kesultanan Sulu, termasuk prajurit Suku Iranun, selain didampingi senjata lainnya seperti kris, kelung, panabas, dan lain sebagainya. Defenisi kampilan ini dirangkum dari berbagai sumber definisi yang dituliskan berikut ini.

Gambar paling atas bersumber dari WikiCommons tentang Datu Lapu Lapu King of Mactan, slaying Ferdinand Magellan. A depiction of the Battle of Mactan in the Magellan shrine. Sumber aslinya tidak diketahui.

Senjata dengan nama Kampilan ini berasal dari wilayah Filipina secara umum, tetapi kata “kampilan” tersebut telah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimulai dari Kamoes Indonesia yang disusun oleh Elisa Sutan Harahap terbitan G. Kolff pada tahun 1948. Buku Kamoes Indonesia atau Kamus Indonesia dengan 452 halaman ini salah satunya disimpan di University of California, USA.

Kemudian berkembang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, dimana kata Kampilan sebagai varian dari kata Kampil yang diartikan sebagai kelewang panjang. Sedangkan kelewang diartikan sebagai pedang pendek yang bilahnya makin ke ujung makin lebar. Kemudian pedang diartikan sebagai parang panjang. Pengertian ini tidak spesifik pada senjata Kampilan yang panjang, lurus dan lebar di ujung, dimana senjata Panabas juga mirip pedang panjang yang ujung bilahnya akan melebar, bahkan sangat lebar dan sedikit melengkung dengan gagang yang lurus berbeda dengan gagang pedang kampilan. Walaupun dalam pengertian lain, Panabas tidak dianggap sebagai jenis pedang.

Sedangkan Merriam-Webster Dictionary menjelaskan dengan lebih rinci tentang Kampilan sebagai sebuah pedang yang memiliki sarung atau sarong (sheath / scabbard / slipcover) berbentuk lurus dan panjang serta melebar di ujungnya untuk menebas atau memotong yang dipergunakan oleh orang Moro di Mindanao dan Sulu.
a long straight-edged sheathed cutlass broadening toward the point that is used by the Moro peoples of Mindanao and Sulu.
Howard McKaughan dalam bukunya berjudul Stories from the Darangen yang diterbitkan oleh De La Salle University Press pada tahun 1995, menyebutkan pada halaman 376 bahwa Kampilan merupakan senjata berbilah panjang dan berat yang digunakan dalam pertempuran, sering juga digunakan dengan kedua tangan. Terbuat dari baja, ditempa dengan tiga desain bilah; melengkung, lurus, atau dengan dua ujung.
Kampilan is a long, heavy-bladed weapon used in combat, often employed with both hands. Made of steel, it is forged with any one of three blade designs; curved, straight, or with two points.
Ujung Pedang Kampilan Jenis Pertama
Ujung Pedang Kampilan Jenis Pertama dengan Candik dan 2 Mata Ketam
http://www.vikingsword.com
Sumber buku asli belum diketahui.

Ujung Pedang Kampilan Jenis Kedua
Ujung Pedang Kampilan Jenis Kedua dengan Candik dan 2 Mata Ketam
http://www.vikingsword.com
Sumber buku asli belum diketahui.

Penulis tentang ilmu beladiri tradisional bernama Mark V. Wiley dalam buku berjudul Filipino Martial Culture, yang diterbitkan oleh Tuttle Publishing tahun 1997 pada bagian 8 berjudul Typology of Weapons menjelaskan bahwa Kampilan adalah pedang yang panjangnya kira-kira empat puluh empat inci (sekitar 110 cm), gagangnya diukir berbentuk cabang garpu, dan pelindung yang membentuk rahang buaya yang besar. Kampilan umumnya dihiasi dengan jumbai rambut yang diwarnai merah atau hitam. Bilahnya panjang dan lurus dengan satu tepi yang tajam dan melebar ke ujung serta memiliki ujung runcing ganda.

Di masa lalu dan sekarang, menurut Mark, senjata pedang kampilan menunjukkan keberanian prajurit, persaudaraan sesama suku, dan balas dendam kepada musuh, dimana pedang ini akan diperlakukan dengan baik dan sangat dirawat.

Ragam Jenis Senjata Selatan Filipina

Ada beragam jenis senjata yang dipergunakan masyarakat di Kesultanan Sulu yang secara umum diketahui selain Kampilan, misalnya Panabas, tameng maupun tombak, yang umumnya akan disertai dengan alat musik Kelintang yang dimainkan sebagai musik penyemangat perang. Mengenai alat musik Kelintang dapat dibaca di :
Alat Musik Kelintang Melayu Timur Suku Iranun di Reteh Indragiri Hilir Riau.

Senjata tradisional Filipina maupun Suku Iranun serta suku-suku lain di Kesultanan Sulu memiliki banyak jenis, baik dari jenis pedang, tameng (penangkis), maupun tombak. Untuk jenis pedang ukuran panjang maupun pendek (pisau atau parang) terdapat beragam bentuk dan penamaan misalnya Bagobo, Balasiong (Balisiong, Balicon), Balisword, Susuwat, Bangkung atau Bangkon, Banyal atau Punyal, Barong, Batangas, Dahong Palay atau Dahon palay atau Dahompalay, Pirah atau Pira, Pukal, Kalis, Kris atau Keris, Gayang, Kambang atau Kamyang, Laring, Janad atau Janap, Sundang, Panabas, Lahot atau Lakot, Utak atau Itak, Gunong, Ginunting, Sansibar, Talibong, Klewang atau Klewe atau Kelewang atau Klevang atau Klervang, Sikin, Surik, maupun Kampilan.

Selain pedang, masyarakat Filipina juga menggunakan senjata Bagakay yang terbuat dari kayu dengan fungsi mirip dart, juga terdapat senjata bernama Karasak, Sangkil, Taming, Kelung, Budjak, Bicuco (Bikuko), dan lain sebagainya.

Kampilan Senjata Masa Lalu

Kampilan dipakai secara luas di Filipina, baik di wilayah utara maupun di wilayah selatan. Friedrich Ratzel yang menulis 3 buah buku pada tahun 1894 dalam Bahasa Jerman dan kemudian diterjemahkan oleh Arthur John Butler dalam bahasa Inggris berjudul The History of Mankind Volume 1 yang dipublikasikan oleh Macmillan and Company Limited London di tahun 1896, pada halaman 417 menjelaskan bahwa kampilan dari Suku Ilongotes, yang meskipun hidup miskin, tetapi mereka merupakan pekerja pandai besi dan sangat mengerti bagaimana mengolahnya dalam hal menempa dan menjadi senjata.
... as the kampilan of Ilongotes, who though in other respects poor, are clever workers in iron and understand how to temper it.
Ilongotes atau Ilongot atau Bugkalot atau Ibilao merupakan suku yang hidup di wilayah selatan dari Sierra Madre dan Caraballo Mountains yang merupakan wilayah timur dari Luzon di Filipina. Suku ini berhubungan dengan suku Igorots, Ibanag dan Ilocano serta etnis Austronesian Filipina. Lokasi suku ini berada jauh di utara dari wilayah Suku Iranun, Maranao maupun Mindanao di Pulau Mindanao.

Kumpulan tulisan pada Colburn's United Services Magazine, Naval and Military Journal, Part 1 yang diterbitkan oleh Colburn & Co. Great Marlborough Street di London pada tahun 1852 khususnya pada halaman 339 bagian Piracy on the Coast of Borneo, menjelaskan bahwa Lanun, bagaimanapun kehidupannya, memiliki dua senjata lain berupa "pedang pemenggal kepala" dan "kampilan". Yang pertama merupakan senjata panjang, dengan gagang kayu. Pedangnya melengkung ke belakang di ujungnya, dan lebar ujungnya tiga kali lipat dibandingkan bagian dekat gagang. Senjata Lanun yang disebut pertama ini, lebih menunjukkan kepada senjata tradisional Panabas.
The Lanuns, however, have two other weapons, the “beheading sword", and the “kampilan”. The former is a long weapon, with a wooden handle. Its blade curves backwards at the end, and is there treble the breadth of that part near the hilt.
Pedang Kampilan, Sarung dan Bentuk Gagang Kampilan
Pedang Kampilan, Sarung dan Bentuk Gagang Kampilan dengan Umbai Rambut
http://www.vikingsword.com
Sumber buku asli belum diketahui.

Kemudian Colburn’s Magazine melanjutkan penjelasan bahwa kampilan merupakan sebuah senjata besar sering digunakan dengan dua tangan, dan gagangnya dihiasi dengan jumbai rambut manusia.
The kampilan is a huge weapon, wielded often with two hands, and decorated at the hilt with tufts of human hair.
James Richardson Logan (edt.) yang menyusun sebuah jurnal berjudul The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Volume 5 No. IX yang diterbitkan berdasarkan The Asiatic Society and The Ethnological Society of London and The Batavian Society of Arts and Sciences melalui penerbit Kraus Reprint di Singapore tahun 1851, halaman 49 khususnya pada daftar barang-barang dikumpulkan oleh Pemerintah Labuan untuk Pameran Industri Bangsa-bangsa di Singapore, tercatat pada No. 17, produk Kampilan yang diproduksi di Tampassuk dengan penjelasan bahwa produk ini merupakan pedang yang digunakan Suku Illanun di perairan Borneo.

William Henry Scott dalam bukunya berjudul Barangay Sixteenth Century Philippine Culture and Society yang terbit pada tahun 1994, di halaman 148 menjelaskan bahwa kata kampilan masuk ke dalam bahasa Spanyol selama ekspedisi Spanyol ke wilayah Maluku pada abad keenam belas (1500-an. -red.), dimana kampilan diartikan sebagai sebagai "pedang yang berat dan runcing [alfange / panjang.]"—namun, secara spesifik tidak tepat, karena terdapat pedang lebih pendek memiliki bilah melengkung ujungnya untuk pukulan tebasan (dalam hal ini adalah Panabas. –red), sedangkan kampilan yang sebetulnya berbentuk lurus. Kedua senjata ini memiliki fungsi yang mirip tetapi bentuk yang berbeda.
The word kampilan came into Spanish during the Moluccan campaigns of the sixteenth century as “a heavy, pointed cutlass [alfange.]”—inappropriately, however, since a cutlass had a curved blade weighted toward the tip for slashing blows, while the kampilan was straight.
Pembuatan pedang kampilan masa lalu memiliki proses yang rumit dan mirip dengan proses penempaan besi Damaskus yang disepuh menggunakan air pada proses akhirnya. Hal ini dijelaskan William yang sebagiannya mengutip dari tulisan Francisco Ignacio Alcina dari buku Historia de las islas e indios visayas del Padre Alcina tahun 1668, masih pada halaman buku yang sama bahwa pedang-pedang kampilan ditempa dari lapisan baja dengan tingkat yang berbeda, sehingga membentuk tampilan permukaan yang berurat atau berbintik-bintik - damascended atau "berair" atau proses tempa Damaskus dengan sepuh air. “Watered” dalam hal ini juga berarti tampilan permukan logam tempaan akan terlihat bergelombang seperti gelombang air. Pada keris Jawa gelombang air itu disebut pamor yaitu guratan terang dan gelap pada bilah keris karena adanya pencampuran 2 atau lebih jenis logam. Proses yang sama juga dilakukan terhadap pedang-pedang samurai katana Jepang yang sebagian masih melakukannya secara tradisional.
Blades were forged from layers of different grades of steel, which gave them a veined or mottled surface -- damascended or "watered." But even the best Visayan products were considered inferior to those from Mindanao or Sulu, and these in turn were less esteemed than imports from Makassar and Borneo. Alcina (Historia de las islas e indios de Bisayas. 1668) thought the best of them excelled Spanish blades.
damascus steel kampilan process
Guratan Gelombang Air Hasil dari Proses Damaskus
Setiap tempaan besi Damaskus tidak akan pernah sama bentuk guratan airnya
Sumber : Koleksi Antik dari Worthopedia https://www.worthpoint.com/

Pedang kampilan terbaik yang dibuat di Visayan, memiliki kekuatan dan ketajaman lebih rendah daripada pedang kampilan yang dibuat di Mindanao atau Sulu. Kemudian mereka lebih menggunakan pedang-pedang kampilan yang dibuat di Makassar dan Borneo yang ternyata lebih baik lagi, sehingga dapat mengungguli pedang-pedang Spanyol sebagai musuh mereka.

William selanjutnya menjelaskan pada halaman yang sama bahwa senjata ini tampaknya tidak pernah diproduksi oleh pandai besi Visayan tetapi diimpor dari bagian Mindanao, baik Muslim maupun penganut pagan, yang memiliki kontak budaya langsung dengan Maluku. Seperti halnya dengan senjata keris, kampilan dilapisi dengan racun sebelum berperang, dan terdapat elemen fiksi atau bahan yang belum diidentifikasikan (fictional metal ataupun fictional elements) pada logam itu sendiri yang telah menjadi beracun disebabkan proses alkimia yang belum diketahui, sehingga senjata ini sangat unik dan bernilai tinggi.
It apparently was never manufactured by Visayan smiths but imported from parts of Mindanao, both Muslim and pagan, which had direct culture contact with the Moluccas. Like the kris, it was coated with poison before going into battle, and the fiction that the metal itself had been rendered poisonous by some arcane alchemy no doubt enhanced its market value.
Senjata yang sangat bernilai tinggi ini diwariskan secara turun temurun. William menjelaskan bahwa Kampilan yang bagus diturunkan, dari ayah ke anak. Terkadang kampilan memiliki nama atau penyebutan yang khas oleh pemiliknya, yang juga diketahui musuh sehingga musuh akan gentar mendengar nama pada kampilan dengan penyebutan khusus tersebut. Selain itu, kampilan dapat dikenali dari suara lonceng kecil yang merupakan bagian dari hiasan berumbai di gagangnya.
Fine ones were handed down, from father to son, bore personal names known to the enemy, and could be recognized by the sound of little bells which formed part of their tasseled decoration.
Dalam epos Maranaw Darangen, ketika Pangeran Bantugan meninggalkan Kerajaan Bumburan (kerajaan di wilayah Lanao del Sur yang sekarang masuk ke wilayah Amai Manabilang bagian dari Muslim Mindanao Autonom Region) yang disayanginya untuk diasingkan,
In the Maranaw epic Darangen, when Prince Bantugan leaves his beloved Bumburan for exile,
He took his great kampilan, wrapped the strap.
Securely round his hand, and held his shield before him.
While he danced out the road and swung.
His bright kampilan round his head in such a wise.
That all the little bells upon the handle.
Could be heard within the palace tower (Frank Laubach, 1930, 96).
Dia mengambil kampilan besarnya, membalut talinya.
Dengan aman melingkari tangannya, dan memegang perisainya di depannya.
Sementara dia menari di jalan dan berayun.
Kampilannya yang mengkilat mengelilingi kepalanya dengan begitu baik.
Lonceng kecil di gagangnya pun berbunyi.
Dapat didengar sampai ke dalam menara istana (Frank Laubach, 1930, 96).
Stories from the Darangen yang disusun oleh Howard McKaughan yang diterbitkan oleh De La Salle University Press di Manila Philippines pada tahun 1995, merupakan buku yang disusun dalam bahasa Inggris dari buku aslinya berjudul Darangen dalam bahasa Maranao. Buku ini berisi puisi panjang sastra tradisional Maranao yang ditulis dalam bahasa Maranao. Karya epik puisi ini menceritakan petualangan para pahlawan Maranao, sebelum kedatangan agama Islam, dimana pada halaman 284 tertulis syair puisi :
Na palanang kano dakar
Sa kampilan a go kelong
A tadaran ki sinayan
A bato apoy karaban
Yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Howard McKaughan :
Each one of you should now take up
Your kampilan and your kelong
And swing them hard so as to cause
Sparks as blades clash against iron
Syair puisi yang memiliki untaian kata tentang semangat dan kehebatan pedang kampilan. Bangunlah semuanya, bawa kampilan dan kelong milikmu. Ayunkanlah dengan keras sehingga timbul percikan api karena benturannya dengan besi. Sedangkan pada halaman 301 dari buku Howard McKaughan tersebut tertulis :
Sa kampilan a go kelong
Na domakar ako mambo
Sa kampilan a go kelong
Na sagobain ko melad
A kampilan and a kelong
Then I will follow and hold
A kampilan and a kelong
So I can accompany you
Untaian kata pada halaman 301 ini menunjukan semangat persaudaraan sesama prajurit termasuk kedekatan mereka dengan senjata kampilan itu sendiri. Kampilan dan kelong akan kupegang dengan erat, sehingga aku selalu dapat bersamamu.

Jenis Kampilan

Kampilan dengan bentuk gagang yang sama yaitu bercabang ke arah atas dari arah mata pedang, sedikitnya terdiri dari 2 jenis yaitu Kampilan Jantan yang memiliki candik (ujung tajam tambahan) dengan 2 mata ketam. Ujung kecil yang berada diatas ujung pedang itu dalam Suku Iranun Melayu Timur Reteh Indragiri Hilir Riau menyebutnya sebagai candik. Sedangkan 2 mata diatas ujung kecil itu disebut mata ketam.

Jenis senjata tradisional pedang kampilan sulu suku iranun
Beragam Pedang Kampilan
Disimpan di University of Pennsylvania Museum, USA
Sumber : Mark V. Wiley in Filipino Martial Art Anthology

Mark V Wiley dalam bagian tulisannya berjudul Philipine Arms and Armor in the University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology yang tercantum dalam buku Filipino Martial Art Anthology terbitan Media Publishing Company pada tahun 2017, menyebutkan bahwa kampilan merupakan pedang yang berat berujung 2.
... the kampilan, a heavy dual-pointed sword, ...
Sedangkan Kampilan Betina adalah kampilan yang tidak memiliki candik atau ujung kecil diatas ujung pedang dan tentunya tidak memiliki 2 mata ketam. Bagian ujung runcing kampilan betina dapat berbentuk menyerong sedikit melengkung ataupun serong lurus menyerupai Parang Pattimura.

Jenis lainnya adalah Kampilan Bolo yang bilah pedangnya mirip dengan Kampilan Betina tetapi bentuk gagangnya berbeda.

Kampilan memiliki gagang bercabang yang bagian cabangnya mengarah ke atas berlawanan dengan arah mata pedang atau searah dengan punggung pedang. Gagangnya dihiasi dengan rambut yang juga dapat menunjukkan status pemiliknya yang tidak biasa. Dekorasi gagang terkadang memiliki ukiran sederhana sampai ukiran yang rumit. Majalah Arts of Asia Volume 21 yang terbit oleh Art of Asia Publishing pada tahun 1991 dan fisik majalah masih tersimpan di University of California menjelaskan pada halaman 113 bahwa :
... penambahan rambut pada gagang kampilan menunjukkan status pemilik di atas rata-rata. Gulungan rumit pada pegangan selain sebagai dekorasi juga untuk memperkaya dan memperkokoh pegangan kampilan yang bercabang.

Cara Menggunakan Kampilan

Mark V. Wiley dalam bukunya berjudul Filipino Martial Culture yang diterbitkan oleh Tuttle Publishing an imprint of Periplus Editions (HK) Ltd. di Singapore pada tahun 1997, khususnya pada bagian 8 berjudul Typology of Weapons menyebutkan bahwa Kampilan ditutup dengan sarung yang terpisah dari pedangnya dan terdiri dari dua potong bilah kayu yang dibentuk sesuai dengan kontur mata pedang, dan kemudian diikat pada dua tempat dengan tali atau sulur.

Bentuk sarung pedang yang unik ini membuat prajurit mudah untuk menarik dan menghunus pedangnya serta kemudian menebas lawannya dalam satu gerakan. Ketika bertemu lawan dan akan akan melakukan tebasan, maka prajurit menarik kampilan dari sarungnya hingga tali sarung terputus dan sarungnya terlepas dan terpisah atau terbelah 2, sehingga pedang kampilan akan keluar dengan sendirinya. Semua gerakan itu hanya dilakukan dalam 1 gerakan. Hal ini mengakibatkan banyaknya ditemukan kampilan-kampilan tua yang tidak memiliki sarung, karena sarungnya telah terpisah.

Friedrich Ratzel yang menulis buku dalam Bahasa Jerman dan diterjemahkan oleh Arthur John Butler berjudul The History of Mankind Volume 1 yang dipublikasikan oleh Macmillan and Company Limited London di tahun 1896, pada halaman 417 menjelaskan bahwa untuk memberikan cengkeraman yang lebih baik, gagang pedang kampilan diikat dengan benang yang dicelupkan ke dalam resin, sarungnya terbuat dari kayu, dan terdiri dari dua potong yang diikat bersama dengan pita lebar. Kampilan dilekatkan pada ikat pinggang dari anyaman halus yang dikenakan di bahu atau di sekeliling badan.
To give a better grip this is bound with threads dipped in resin, the sheath is of wood, and consist of two pieces fastened together with broad bands of rush. The kampilan is attached to a belt of fine webbing worn over the shoulder or round the body.
Pedang Kampilan juga dilengkapi dengan seutas tali yang diikat pada gagang pedang dan disebut sebagai tali kelili kampilan. Fungsi tali kelili kampilan ini adalah untuk menguatkan pegangan tangan terhadap pedang mengingat pedang ini cukup berat dan panjang. Frank Laubach dalam bukunya berjudul An Odyssey from Lanao yang terbit tahun 1930, pada halaman 96 menyatakan bahwa Pangeran Bantugan melilitkan atau membalutkan tali di pedang kampilan pada tangannya sehingga pegangan menjadi aman dan kuat, kemudian memegang tameng dan mengayunkan pedangnya di atas kepalanya.

Cara mengikat atau membuat simpul tali kelili kampilan ini pun sangat khusus dengan beberapa ragam simpulan. Walau terdapat beragam simpulan tali kelili ini, fungsinya tetap sama yaitu untuk memperat atau memperkokoh pegangan tangan pada gagang pedang kampilan.

Tali kelili kampilan diikatkan agak longgar pada hulu gagang pedang kampilan dimana tali ini masih dapat berputar sehingga arah ikat dapat mudah diatur. Sebagian kampilan menggunakan cincin besi yang ukurannya lebih besar sedikit dari gagang, sehingga cincin besi masih dapat berputar pada gagang. Tali kelili lalu diikatkan pada cincin besi yang mudah berputar arah tersebut, dan pengguna kampilan pun akan mudah mengarahkan ikatan ke tangannya.

Tali kelili kampilan dapat dibuat dari kain ataupun kulit. Bahan tali ini harus nyaman ketika digunakan mengikat tangan ke gagang. Ketika tali kelili telah diikat ke tangan, maka prajurit telah siap bertempur.

Penggunaan pedang kampilan untuk menyerang musuh merupakan gerakan tebas mengayun dari arah atas ke bawah, baik dari arah sedikit menyerong dari kiri maupun kanan posisi kepala pengguna.

Gerakan tebas atau sabet ke arah bawah merupakan gerakan menebang (tetak) yang langsung tanpa jeda diikuti gerakan mengiris yang cepat dari atas ke bawah, mirip dengan gerakan penggunaan “draw or cut slice” atau “naname suburi” ataupun ragam gerakan “suburi” lainnya pada pedang samurai katana Jepang yang dimulai dari furikaburi (mengangkat samurai melewati kepala) pada posisi hidari (kiri) maupun migi (kanan) lalu menebas furioroshi (mengayun samurai secara cepat ke bawah) dengan arah kanan atas ke kiri bawah, maupun dari kiri atas ke kanan bawah.

Gerakan tebas pedang kampilan tersebut umumnya menggunakan 1 tangan, walaupun dapat menggunakan kedua tangan. Gerakan menebas ini mirip dengan gerakan menebas dengan mengayunkan pedang dari atas ke bawah secara umum pada penggunaan pedang lainnya baik pedang Eropa, Arab, Amerika maupun Asia. Tetapi masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri baik pada posisi kaki, gerakan kaki, tangan, kepala, badan maupun jauh dekatnya ayunan pedang serta posisi pedang itu sendiri.

Penggunaan pedang kampilan dengan cara mengayun untuk menebas musuh juga dijelaskan oleh James Francis Warren dalam bukunya Iranun and Balangingi; Globalization, maritime raiding and the birth of ethnicity yang diterbitkan tahun 2002, pada halaman 231 sebagai berikut :
Para prajurit akan memblokir serangan pukulan pedang pihak lawan dengan Kampilan, lalu mengayunkan pedang kampilan untuk menebas dan menusuk belati ke lawan. Kemudian prajurit itu akan mengayunkan Kampilan, Barong atau Kapak ke arah bawah untuk menjatuhkan dan mencederai lawan.
Pierre Marie François de Pagès dalam bukunya Reisen um die Welt; Korrespondenten der Akademie der Wissenschaften zu Paris yang diterbitkan di Frankfurt und Leipzig di tahun 1786, menyebutkan pada halaman 175 bahwa orang Indi lokal akan membuat gentar musuh dengan senjata kampilan, alat yang sama dengan yang dia gunakan untuk menebang pohon besar, atau mencabut pirogue (piratten -red) dengan cara mengayunkannya.
Derfelbe Inder wird eine zither ober heige mit eben dem kampilan verfertigen, mit welchem er einen groffen Baum gefpalten, oder eine Piroge ausgeholt hat.
Carlos V. Francisco, The Battle of Mactan, 1964, Watercolour.
Perang Mactan
Disebelah kiri atas terlihat Pedang Kampilan, Kelung dan Kris
Pelukis : Carlos V. Francisco. 1964.
https://www.alamy.com

Untuk belajar menggunakan senjata tradisional pedang kampilan sebagai seni ilmu bela diri, agar menghubungi pelatih kampilan yang trampil di Reteh, Sungai Batang atau daerah lainnya. Seperti senjata tajam lainnya, sangat butuh latihan untuk menggunakannya.

Mengingat masa-masa perang telah usai, pedang-pedang kampilan pun disimpan dan umurnya pun sebagian telah tua lebih dari 50 tahun bahkan 200 tahun. Sebagian disimpan turun menurun, sebagian lagi disimpan di museum maupun disimpan oleh para kolektor senjata tradisional.

Beberapa ahli metalurgi maupun ahli tempa logam, tetap berusaha mencari dan membuat pedang kampilan yang memiliki kekuatan dan ketajaman seperti pedang kampilan masa lalu. Beberapa ahli tempa logam yakin akan proses penempaan Damaskus maupun bahan-bahan dasar besi Damaskus itu sendiri. Wootz yang diyakini sebagai bahan dasar besi Damaskus dianggap telah hilang sejak beberapa abad lalu.

Dan hal ini patut menjadi budaya yang dipertahankan sehingga “The Kampilan, the Sulu Sea Raiders Sword” atau Kampilan sebagai Pedang Prajurit Sulu khususnya Suku Iranun dapat menjadi sebuah penghormatan kepada para prajurit yang telah menggunakannya.


Sumber :
  1. William Henry Scott. Barangay Sixteenth Century Philippine Culture And Society. Ateneo de Manila University Press. Manila, Philippines. 1994. Salah satu buku ini tersimpan secara fisik di Melbourne Library.
    https://archive.org/details/BarangaySixteenthCenturyPhilippineCultureAndSociety/page/n77/mode/2up?q=kampilan
  2. James Richardson Logan (edt.). The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Volume 5 No. IX. The Asiatic Society and The Ethnological Society of London and The Batavian Society of Arts and Sciences. Kraus Reprint. Singapore. 1851.
  3. Colburn's United Services Magazine, Naval and Military Journal, Part 1. Colburn & Co. Great Marlborough Street. London. 1852.
  4. Francisco Ignacio Alcina, berupa tulisan tangan dan ditulis ulang oleh Maria Luisa Martin-Meras dan Maria Dolores Higueras. Historia de las islas e indios visayas del Padre Alcina 1668. Consejo Superior de Investigaciones Cientificas. Instituto Historico de Marina. Graficas Lormo. Madrid, Spain. 1975. Tulisan Alcina tidak memiliki judul, tetapi tulisan tangan Alcina pada bagian awal bertuliskan “Historia natural del sitio, fertilidad y calidad de las islas e Indios de Visayas compuesto por el P. Franc. Ignacio Alcina de la compania de Jesus duespues de mas de treinta y tres anos en ellas y entre ellos de ministerio. Ano de 1668.” Alcina adalah sejarawan Spanyol dan misionaris Jesuit, yang lahir di Gandia Spanyol pada 2 Februari 1610 dan wafat di Manila Filipina pada 30 Juli 1674.
  5. Frank Laubach. An Odyssey from Lanao. Philippine Public Schools 3:8. 1930. Reprinted as “How Bantugan died below the mountain by the sea”, in Asuncion David-Madamba, cd., Early Philippine Literature. Manila 1971.
  6. James Francis Warren. Iranun and Balangingi; Globalization, maritime raiding and the birth of ethnicity. 2002.
  7. Mark V. Wiley. Filipino Martial Culture. Tuttle Publishing an imprint of Periplus Editions (HK) Ltd. Singapore. 1997.
  8. Mark V. Wiley, Michael A. DeMarco (preface). Philipine Arms and Armor in the University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology. Filipino Martial Art Anthology. Media Publishing Company. Santa Fe, USA. 2017.
  9. Arts of Asia - Volume 21. Art of Asia Publishing. 1991.
  10. Friedrich Ratzel dan Arthur John Butler. The History of Mankind Volume 1. Translated from the Second German Edition (1894). The Webster Collection of Social Anthropology (Hutton Webster and Winifred Fry Webster). Macmillan and Company Limited. London. 1896.
    https://www.google.co.id/books/edition/The_History_of_Mankind/S9UKAAAAIAAJ?hl=id&gbpv=0
  11. Pierre Marie François de Pagès. Reisen um die Welt; Korrespondenten der Akademie der Wissenschaften zu Paris. Johann Georg Fleischer. Frankfurt und Leipzig. 1786. Buku ini secara fisik berada di Perpustakaan Nasional Republik Ceko dengan judul lengkap : Herrn de Pages Königl. Französischen Schifskapitans, Ritterrs vom St. Ludwigsorden, Korrespondenten der Akademie der Wissenschaften zu Paris. Reisen um die Welt. und nach den beiden Polen zu Lande und zur See in den Jahren 1767, 1768, 1769, 1770, 1771, 1773, 1774 und 1776. Aus dem Französischen übersetzt. Mit 7 Karten. Pierre Marie François de Pagès. bei Johann Georg Fleischer. 1786.
    https://www.google.co.id/books/edition/Herrn_de_Pages_K%C3%B6nigl_Franz%C3%B6sischen_Sc/qbcof1ovTAgC?hl=id&gbpv=0

Sumber bacaan lainnya :
  1. Sword; Tell About Swords in Human History
    https://www.google.co.id/books/edition/Sword_Tell_about_sword_in_human_history/QVcmEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=kampilan&pg=PA215&printsec=frontcover
  2. Edward Balfour (edt.). Cyclopaedia of India and of Eastern and Southern Asia, Commercial, Industrial and Scientific; Products of the Mineral, Vegetable and Animal Kingdoms, Useful Arts and Manufactures. Bagian 15, Volume 3. Scottish and Adelphi Presses. 1873. Salah satu buku berbahasa Inggris ini berada di Universitas Oxford, Inggris.

Sumber belum ditemukan aslinya :
Die Haumesser vom Kampilan-Typ. die bevorzugte Kampfwaffe der Moros von Nord-Mindanao, haben lange, sich der Spitze
An Klingenformen kommen alle Varianten vor, neben der geraden Krisklinge

Sumber Gambar :
  1. Suku Iranun Kampilan
    http://www.vikingsword.com/vb/attachment.php?attachmentid=34257&stc=1&d=1225142512
  2. Suku Iranun Kampilan Klinge typ 1
    http://www.vikingsword.com/vb/attachment.php?attachmentid=34258&stc=1&d=1225142512
  3. Suku Iranun Kampilan Klinge typ 2
    http://www.vikingsword.com/vb/attachment.php?s=d6b9788a8c568e8aad911dd517144a52&attachmentid=34259&stc=1&d=1225142512
  4. Lapu Lapu King of Mactan, slaying Ferdinand Magellan.
    Suku Iranun MactanShrinePainting.jpg
    https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_conflicts_in_the_Philippines#/media/File:MactanShrinePainting2.jpg
  5. Carlos V. Francisco. The Battle of Mactan, 1964, Watercolour.
    https://bit.ly/3Kp1b7w
  6. Military Wiki
    https://military-history.fandom.com/wiki/Kampilan
  7. Malay World Edged Weapons. Copyright © 2000
    http://old.blades.free.fr/swords/klewang/kampilan/kampilan.htm
  8. Traditional Filipino Weapons
    https://web.archive.org/web/20090129080448/http://marcialtirada.net/traditional_filipino_weapons
    https://marcialtirada.net/
  9. Michael Bankman Lt. World Art – Rare Antique Asian, Islamic & Colonial Decorative Arts
    https://www.michaelbackmanltd.com/object/mindanao-kampilan-machete-sword/
  10. Banyal by David J. Atkinson Swords
    http://atkinson-swords.com/collection-by-region/south-east-asia/philippines/mindano-and-sulu-archipelag/banyal/
RiauMagz, Budaya Riau, Wisata Riau