-->

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru


Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Peta Wisata Kampung Bandar Pekanbaru
peta wisata kampung bandar pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan

Marhum Pekan Graves Complex
Disusun dan ditulis ulang oleh
Jupel. Makam Marhum Pekan
Dadang Irham 081268446547
M. Thohiran 085271715050

Komplek Makam Marhum Pekan yang terletak di kawasan Mesjid Raya Pekanbaru merupakan salah satu bukti sejarah Kerajaan Siak di abad ke 18 M. Dalam kompleks tersebut terdapat 6 buah situs makam, yaitu

Komplek Makam Marhum Pekan resided in Mesjid Raya Pekanbaru areas that was ether one of proof the Empire of Siak histories at 18th century AD. In complex have 6 graves historical sites, i.e. :

Makam Sultan Siak VI Sultan Tengku Muhammad Ali (Marhum Pekan)

1. Makam Sultan Siak VI Sultan Tengku Muhammad Ali (Marhum Pekan)

Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Sultan Siak V dan Yang Dipertuan Siak Sri Indrapura (1766-1779), adalah putra tertua Sultan Abdul Jalil Alamuddin Ra’ayat Syah ibni Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah Marhum Buantan, dari istrinya Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. Menikah tahun 1761 dengan Tengku Aisha binti Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Mazaffar Syah (Sultan Siak II), dari istrinya Datuk Wai.

Tahun 1760 dilantik sebagai Tengku Panglima Besar dan tahun 1765 diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda. Menggantikan kedudukan ayahnya, Raja Alam, sebagai Sultan Siak tahun 1766.

Sultan Muhammad Ali meneruskan cita-cita ayahnya dengan membangun kembali pasar yang baru di sekitar pelabuhan Pelindo sekarang. Menurut catatan Imam Suhil Siak, tepatnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H sempena 23 Juni 1784 M yang kemudian dijadikan sebagai hari Jadi Kota Pekanbaru.

Beliau wafat di Pekanbaru tanggal 6 Juli 1791 dan dimakamkan di Kompleks Makam Marhum Pekan dengan gelar Marhum Pekan.

Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Sultan of Siak V and Yang Dipertuan Siak Sri Indrapura (1766-1779), eldest son of Sultan Abdul Jalil Alamuddin Ra’ayat Syah ibni Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah Marhum Buantan, by his wife, Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. Married in 1761 with Tengku Aisha binti Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Mazaffar Syah (Sultan Siak II), by his wife, Datuk Wai

In 1760 appointed Tengku Panglima Besar, and promoted to the title of Yang di-Pertuan Muda, 1765. Succeeded on the abdication of his father, Raja Alam, as Sultan of Siak, 1766.

Sultan Muhamad Ali was continued his father aspiration to build the pekan (market) of baharoe (new) around the Port of Pelindo. Followed from the historical record of Imam Suhil of Siak, was that occurrence, exactly, Tuesday 21th Rajab 1204 H coincidentally of 23th July 1784 so that later than referable of Pekanbaru birthday.

He dead at Pekanbaru, 6th July 1791, and be laid to rest in Komplek Marhum Pekan with with the posthumous as Marhum Pekan.



Makam Sayyid Usman Syahabuddin (Marhum Barat)

2. Makam Sayyid Usman Syahabuddin (Marhum Barat)

Maulana al-Habib as-Sayyid as-Sharif Usman Syahabuddin adalah anak Sayyid Abdurrahman al-Syahab dari istrinya, Siti Hitam binti Sayyid Jalaluddin ibni Sayyid Abdul Majid Datuk Tambak dari Pulau Paisang. Menikah tahun 1781 dengan Tengku Embong Badariah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah dari istrinya Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. Semasa Raja Alam berkuasa Sayyid Usman diangkat sebagai Panglima Tertinggi Kerajaan Siak.

Sayyid Usman adalah seorang bangsawan Arab dari bangsa Sayyid Alawi asal Hedramaut dari keturunan Rasulullah yang ke-30 jika dihitung dari Sayyidina Hussain RA sehingga pernikahan ini memiliki arti penting bagi sejarah Kesultanan Siak, karena merupakan tonggak awal munculnya pemerintahan Kesultanan Siak keturunan Arab dari Dinasti Sayyid Usman ini.

Sayyid Usman tewas dalam peperangan di Batubara, Sumatera Utara. Oleh anaknya, Sultan Syarif Ali, jenazah beliau dipindahkan ke Senapelan dan dimakamkan di Kompleks Makam Marhum Pekan dengan gelar Marhum Barat.

Maulana al-Habib as-Sayyid as-Sharif Usman syahabuddin, son of Sayyid Abdurrahman al-Syahab, by his wife, Siti Hitam binti Sayyid Jalaluddin ibni Sayyid Abdul Majid Datuk Tambak of Pulau Pasang. In 1781 married with Tengku Embong Badariah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, by his wife, Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. During Raja Alam's reign, Sayyid Usman promoted to the title of Panglima Tertinggi Kerajaan Siak.

Sayyid Usman is a nobleman of Arab of the Alawi Sayyids of Hadramaut form the 30th descent of Rasulullah by lineage of Sayyidina Hussain RA so that was take on more importantly Kesultanan of Siak’s history, because the reign was first king of Arab descent of the Malay kingdom of Siak from the Sayyid Usman Dynasty.

He dead in warfare at Batubara, North Sumatera. By his son, Sultan Syarif Ali, his corpse moved to Senapelan for be laid to rest in Kompleks Makam Marhum Pekan with the posthumous title as Marhum Barat.



Makam Tengku Embong Badariah

3. Makam Tengku Embong Badariah

Tengku Embong Badariah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, lahir tahun 1750, merupakan anak Raja Alam dari istrinya yang bernama Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. Menikah tahun 1781 dengan Sayyid Usman Syahabuddin bin Sayyid Abdurrahman As-Syahab. Meninggal di Pekanbaru dan dimakamkan di Kompleks Marhum Pekan.

Tengku Embong Baradiah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, born 1750, eldest daughters of the Raja Alam, by his wife, Sultanah Khadijah binti Uppu Daeng Parani. Merried in 1781 with Sayyid Usman Shihabuddin bin Sayyid Abdurrahman As-Syahab. She dead at Pekanbaru and be laid to rest in Komplek Marhum Pekan.


Makam Sultanah Khadijah

4. Makam Sultanah Khadijah

Sultanah Khadijah (Daeng Tijah) adalah anak kedua dari Uppu Daeng Parani, dari istri pertamanya, Encik Fatima binti Abdul Malik, Nakhoda Alang, Siantan, Kepulauan Natuna. Ayahnya, Uppu Daeng Parani ibni Uppu Tendriburang Daeng Lakkai (Rilaka) ibni La MaddusIla Karaeng Tanete ibni Wetenrileleang.

Merujuk Lontar versi Luwu di Museum Batara Guru di Palopo, Sulawesi Selatan dan Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa Wetenrileleang merupakan Raja Bugis yang ke-26 dan ke-28 yang memerintah Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan.

Daeng Tijah lahir di Siak tahun 1717. Menikah dengan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, sekitar November 1749. Beliau meninggal di Senapelan tahun 1766 dan dimakamkan di sebelah makam suaminya, Raja Alam, di Kompleks Makam Marhum Pekan.

Sultanah Khadijah (Daeng Tijah) is second daughter of Uppu Daeng Parani, by his first wife, Encik Fatima binti Abdul Malik, Nakhoda Alang, of Siantan, Natuna Island. Her father, Uppu Daeng Parani ibni Uppu Tendriburang Daeng Lakkai (Rilaka) ibni La MaddusIla Karaeng Tanete ibni Wetenrileleang.

Made reference to Lontar Lumu version in Batara Guru Museum at Palopo, South.Sulawesi and Kitab Negarakertagama, Wetenrileleang is the 26th and 28th Bugis King, reigned of Kerajaan Luwu, South.Sulawesi.

Daeng Tijah born at Siak, 1717. Married with Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, November 1749. She dead at Senapalan, 1766, and be laid to rest at the elbow her husband gravein, Raja Alam, in Kompleks Makam Marhum Pekan.



Makam Sultan Siak IV Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit)

5. Makam Sultan Siak IV Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit)

Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Raja Alam), putra tertua Sultan Abdul Jalil Rahmad Shah Zilullah fil Alam Khalifat ul-Mukminin ibni Sultan Mahmud Syah, dari istri pertamanya, Encik Kecil binti Adipati Batu Kucing, asal Jambi. Lahir di Rawas tahun antara 1705-1712 dengan nama Tengku Rabiul Alamuddin. Raja Alam diiangkat sebagai Yang Dipertuan Raja Muda di Pelalawan, 22 Mei 1753.

Raja Alam mengangkat diri sebagai Sultan Siak IV dan Yang Dipertuan Kerajaan Siak (1761-1766) dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, 16 Januari 1761.

Tahun 1762 beliau memindahkan pusat Kerajaan Siak dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan dan mendirikan pasar (pekan) di Senapelan yang diikuti dengan pembangunan istana raja, balai kerapatan adat dan mesjid. Beliau meninggal di Senapelan tahun 1779 dengan gelar Marhum Bukit.

Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Raja Alam), eldest son of Sultan Abdul Jalil Rahmad Shah Zilullah fil Alam Khalifat ul-Mukminin ibni Sultan Mahmud Syah, by his first wife, Encik Kecil binti Adipati Batu Kucing, from Jambi. Born at Rawas, 1705-1712, as Tengku Rabiul Alamuddin. Proclaimed with tittle of Yang Dipertuan Raja Muda at Pelalawan, 22nd May 1753.

Raja Alam, who succeeded as Sultan of Siak IV and Yang Dipertuan of Siak Sri Indrapura (1761-1766), with tittle Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, 16th January 1761.

In 1762, he moved the central of the Siak Kingdom from Mempura Besar to Bukit Senapelan and built the market (pekan) at Senapelan that followed with the building of king’s palace, the hall of customary law density and mosque. He dead at at Senapalan, 1779, with the posthumous title as Marhum Bukit.



Makam Tengku Pangeran Kusumadilaga (Sayyid Zein Aljufri)

6. Makam Tengku Pangeran Kusumadilaga (Sayyid Zein Aljufri)

Sayyid Zein Aljufri bergelar Tengku Pangeran Kesuma Dilaga lahir tahun 1757. Menikah dengan Tengku Ambab binti Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Mazam Syah (Marhum Pekan) dan merupakan saudara sepupu sebelah ibunya. Ayahnya bernama Sayed Syech Aljufri dan ibunya bernama Tengku Hawa (Awi) binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit). Tengku Pangeran Kesuma Dilaga meninggal di Senapelan dan dimakamkan di Kompleks Makam Marhum Pekan.

Sayyid Zein Aljufri, the tittle of Tengku Pangeran Kesuma Dilaga, born at 1757. Merried with Tengku Ambab binti Marhum Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazam Syah, youngest daughter of his material uncle. His father’s name is Sayed Syech Aljufri, by his wife, Tengku Hawi binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit). He died at Senapelan and be laid to rest in Kompleks Makam Marhum Pekan.

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru

Komplek Makam Marhum Pekan Kampung Bandar Pekanbaru


Tenun Kampung Bandar Pekanbaru

Kota Pekanbaru

RiauMagz, Wisata Riau, Wisata sejarah di Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan Kota Pekanbaru Provinsi Riau.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel