TRAUMA KECELAKAAN DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN KEMAMPUAN BERBICARA
TRAUMA KECELAKAAN DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN KEMAMPUAN BERBICARA
Oleh: Maisarah Alika
Oleh: Maisarah Alika
RiauMagz.com - Kecelakaan lalu lintas tidak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga dapat menimbulkan dampak psikologis yang mendalam. Salah satu dampak yang jarang diperhatikan oleh masyarakat adalah perubahan dalam kemampuan berbicara, seperti yang dialami oleh FR (21) salah satu korban kecelakaan lalu lintas yang mengalami kelambatan berbicara setelah peristiwa traumatis tersebut. Dalam perspektif psikolinguistik, fenomena ini tidak hanya soal keberanian dalam berbicara melainkan berkaitan erat dengan keadaan mental dalam memproduksi bahasa.
Psikolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan proses kognitif di otak. Ketika seseorang berbicara, maka otak bekerja melalui tahapan yang kompleks: merancang konsep yang akan dibicarakan, memilih kosakata, menyusun kosakata menjadi kalimat, hingga menghasilkan bunyi melalui organ artikulasi. Seseorang yang mengalami trauma pasca kecelakaan dapat mengganggu tahapan-tahapan tersebut.
Secara psikologis, korban kecelakaan berisiko mengalami gangguan stres pasca trauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang gejalanya seperti kecemasan berlebihan, gangguan konsentrasi dan kilas balik peristiwa traumatis, hal tersebut dapat menghambat kerja memori serta fokus. Dalam kondisi cemas, otak cenderung dalam mode siaga sehingga energi kognitif terbuang untuk mengelola rasa takut, bukan untuk memproduksi bahasa secara lancar. Akibatnya, ujaran menjadi lambat, banyak jeda dan sering kali terputus dalam pembicaraan.
Secara neurologis, jika kecelakaan menyebabkan cedera di kepala, gangguan dapat terjadi pada area bahasa di otak. Dikutip dalam Hasan dkk, Paul Broca menunjukkan bahwa kerusakan pada bagian tertentu di otak dapat menyebabkan kesulitan dalam memproduksi ujaran. Penderita dapat memahami pembicaraan tetapi kesulitan merangkai kata secara lancar. Kondisi tersebut dikenal sebagai afasia motorik yang sering ditandai dengan bicara lambat dan terfragmentasi.
FR mengakui bahwa ia mengalami cedera kepala hingga mengakibatkan hilang ingatan (Amnesia). FR tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, dirinya, bahkan orang-orang sekitarnya. Penyembuhan yang memakan waktu lama hingga FR perlahan-lahan mampu mengingat kembali siapa dirinya, orang-orang sekitarnya serta peristiwa yang terjadi padanya. Tanpa ia sadari adanya perubahan dalam komunikasi bicaranya.
FR mengatakan bahwa ia selalu merasa takut dan kebingungan tatkala berkomunikasi. Bicaranya lambat karena memahami serta memikirkan kosakata yang akan diucapkannya, banyaknya jeda dalam berbicara hingga FR merasa malu, takut dihakimi lalu terjadinya konflik batin. Dalam kasus ini, trauma fisik dapat memicu gangguan stres pasca trauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang mengganggu fungsi eksekutif termasuk perencanaan tuturan dan pemilihan kata. Namun secara neurologis, FR wajar mengalami kelambatan berbicara karena kesulitan merangkai kata secara lancar akibat cedera kepala yang mengganggu fungsi memori kerja dan pemrosesan leksikal akibat stres ekstrem atau dampak fisiologis kecelakaan. Tuturannya terfragmentasi bukan karena konflik emosional, melainkan karena ketidakmampuan merekonstruksi urutan peristiwa atau memilih kata yang tepat. Dalam kasus ini, kompetensi linguistik mengalami gangguan sementara bukan permanen, namun cukup signifikan untuk menghambat komunikasi lisan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan kondisi psikologis dan neurologis seseorang. Ketika trauma mengganggu keseimbangan mental, proses akses kosakata dalam leksikon mental pun melambat. FR mungkin tahu apa yang ingin diucapkan tetapi membutuhkan waktu lama untuk menemukan kata yang tepat.
Referensi
- Miftahudin, H., Mualimin, D. R., & Haq, M. E. S. (2025). Neurolinguistics and Psychosociolinguistics. Al-Afkar, Journal for Islamic Studies, 8(4), 1254-1264.
- Hasan, F., Kalra, N., Siddique, N. A., Kumar, P., & Kumar, V. (2024). Broca’s Aphasia: A Detailed Review of Its Features, Origins, Diagnosis, and Management. International Journal of Chemical Studies, 12(5), 8-14.

