Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Bahasa Bayi ke Cadel: Pengaruh Lingkungan terhadap Kemampuan Artikulasi

Dari Bahasa Bayi ke Cadel: Pengaruh Lingkungan terhadap Kemampuan Artikulasi
Oleh: Chyntia Nurdiana

RiauMagz.com - Kesulitan mengucapkan bunyi tertentu atau yang lebih dikenal dengan cadel, terutama dalam pengucapan bunyi /r/ masih sering dijumpai bahkan pada usia dewasa. Hal ini terjadi pada salah satu mahasiswi yang berinisial KNO (22). Ia mengaku mengalami kesulitan mengucapkan bunyi /r/ sejak kecil. Kondisi ini terjadi bukan karena gangguan alat ucap melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor kebiasaan yang kurang tepat saat menggunakan bahasa.

Menurut Sudarwati, dkk. (2017) dalam buku Pengantar Psikolinguistik, menjelaskan bahwa psikolinguistik merupakan upaya mempelajari bagaimana proses bahasa terjadi di dalam otak, mulai dari proses memahami hingga menghasilkan ujaran. Artinya, kesalahan pengucapan tidak hanya dipengaruhi oleh alat ucap, tetapi juga bagaimana bunyi bahasa tersebut tersimpan dan diproses dalam pikiran.

Berdasarkan hasil wawancara, narasumber yang berinisial KNO (22) mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan mengucapkan bunyi /r/ sejak kecil. Ketika ia mengucapkan kata yang memiliki huruf /r/ di tengah atau di akhir, pelafalannya menjadi kurang jelas. Misalnya, ketika ia mengucapkan bunyi “merah” menjadi “meghah” dan mengucapkan kata yang berakhiran huruf /r/ dengan pelafalan yang kurang jelas, sering terdengar ada penambahan huruf /t/ di akhir pengucapannya.

Jika dilihat dari teori pemerolehan bahasa, sejak usia dini anak sudah mulai mengenal bahasa dari lingkungan pertama yang dikenalnya. Menurut Dardjowidjojo (2003) dalam bukunya Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, bahasa pertama anak diperoleh secara alami melalui interaksi sehari-hari dengan lingkungan terdekat, terutama keluarga. Artinya, jika sejak kecil anak mendapatkan contoh pengucapan yang salah maka kesalahan tersebut akan terbawa sampai besar.

KNO (22) juga menyebutkan bahwa ia pernah berusaha memperbaiki pengucapan bunyi /r/ sewaktu ia SMP, namun karena tidak dilakukan secara konsisten perubahan tersebut tidak terlalu terlihat.

Pola asuh dalam mengajarkan bahasa kepada anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara anak. Pola asuh yang kurang tepat dapat mempengaruhi cara anak berbicara, misalnya ketika orang tua tidak mencontohkan bahasa yang benar secara konsisten, membiarkan anak menggunakan bahasa yang salah tanpa dikoreksi. Hal tersebut dapat menjadi kebiasaan jika terus dibiarkan.

KNO (22) juga mengatakan bahwa sejak kecil orang tuanya sering berbicara dengan bahasa bayi (Baby Talk) kepadanya. Misalnya, ketika mengucapkan kata “roti” orang tua mengucapkannya dengan kata “loti”.

Pola asuh yang salah juga terlihat ketika orang tua terlalu sering menggunakan bahasa bayi (Baby Talk) dalam berbicara. Bahasa bayi memang bisa membantu kedekatan emosional antara orang tua dan anak, namun jika tidak diikuti dengan pembiasaan kata yang benar, anak akan menyimpan pola bunyi yang keliru, karena anak cenderung meniru bunyi yang sering didengar, bentuk bahasa yang salah dianggap benar olehnya.

Penggunaan bahasa bayi sebenarnya tidak salah jika digunakan pada tahap awal perkembangan tetapi tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama. Namun, orang tua tetap perlu memperkenalkan bentuk kata yang benar. Misalnya, jika mengucapkan kata “mamam”, orang tua dapat memperbaiki dengan mengucapkan kata “makan” dan untuk huruf yang sulit diucapkan seperti huruf /r/, orang tua perlu melatih anak untuk bisa mengucapkannya, agar anak terbiasa dengan bentuk yang tepat.

Dalam lingkungan pergaulan, KNO (22) mengaku bahwa ia pernah menjadi bahan candaan oleh teman-temannya. Ia juga merasakan kesulitan mengucapkan bunyi /r/ ketika sedang gugup.

Melihat kondisi tersebut, kesulitan pengucapan bunyi /r/ termasuk gangguan ringan karena tidak sampai menghambat komunikasi secara keseluruhan. Meskipun begitu, kebiasaan sejak kecil juga perlu diperhatikan agar tidak terbawa hingga dewasa. Orang tua juga harus memberikan contoh pengucapan yang benar.

Referensi:
  • Sudarwati, E., Perdhani, W. C., & Budiana, N. (2017). Pengantar Psikolinguistik. UB Press.
  • Soenjono Dardjowidjojo (2003). Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.