Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Asal-Usul Perpustakaan dan Kearsipan Tenas Effendy Pekanbaru

Asal-Usul Sejarah Perpustakaan dan Kearsipan Tenas Effendy Pekanbaru

Asal-Usul Perpustakaan dan Kearsipan Tenas Effendy Pekanbaru

Finie Lestari
Email : lestariifiniie11@gmail.com

Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi yang berkembang sangat pesat di segala sektor baik infrastruktur, pendidikan, kependudukan, dan lain-lain. Salah satunya dari segi sarana prasarana, membaca di kalangan pelajar, mahasiswa dan khususnya warga kota Pekanbaru, Riau, dengan tersedianya Perpustakaan Provinsi Soeman Hs, dan Perpustakaan Kota Tenas Effendy.

Budayawan dan sastrawan asal Kampung Tanjung Malim Kuala Panduk, Kerajaan Pelalawan, Provinsi Riau, H. Dr. Tengku Nasaruddin Said Effendy bin Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri atau lebih dikenal dengan Tenas Effendy telah resmi terdaftar sebagai nama Perpustakaan Kota Pekanbaru sejak 23/06/2020. Perpustakaan yang berjenis Perpustakaan Umum ini dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru. Sebagai seorang penulis, Effendy telah berkontribusi pada banyak simposium, lokakarya, pembicaraan dan seminar yang berhubungan dengan Melayu di negara-negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan dan Madagaskar. Effendy sangat menghargai dan peduli terhadap kemajuan dan perkembangan kebudayaan Melayu.

Tenas Effendy pertama kali menulis tentang kebudayaan pada tahun 1952. Minat dan antusiasmenya terhadap budaya Melayu tidak lepas dari kecintaan keluarganya terhadap adat istiadat Melayu, neneknya seorang penyair terkenal pada waktu itu. Saat itu, ia masih kuliah di Universitas Bengkalis. Selain pandai berpuisi, neneknya juga pandai menenun dan mengenakan pakaian adat kerajaan Melayu di Pelalawan.

Ia belajar sendiri untuk menguasai makna filosofis yang terkandung dalam benda-benda budaya sejak kecil. Sejak kecil, ia terbiasa hidup di lingkungan budaya Melayu yang kuat dan adat istiadat yang kuat. Ruang ini mendorongnya untuk belajar memahami budaya Melayu dan kemudian menulis tentangnya. Ia mengawalinya dengan menulis ulang pantun, petata petitih, frasa, puisi, guridam, dan segala hal lain yang berkaitan dengan kebudayaan Melayu.

Kepala Dispusip Kota Pekanbaru saat itu, mengatakan bahwa penggunaan nama Tenas Effendy merupakan pengakuan atas kontribusinya terhadap negara, khususnya pada karya sastra Melayu. Selain itu, kehadiran perpustakaan berperan strategis dalam meningkatkan minat membaca masyarakat.

Sadar akan kekayaan aset budaya Melayu yang begitu kaya dan masih terlalu banyak yang belum bisa dikumpulkannya, ia mendirikan Yayasan Tenas Effendy, sebuah lembaga yang berusaha membantu para sarjana atau siapapun yang tertarik dengan berbagai karya penelitian. Hasil usahanya selama ini juga mencakup setumpuk buku terbitan Finlandia dan luar negeri. Hingga saat ini, Tenas sedikitnya telah menulis 70 buku dan ratusan presentasi di berbagai pertemuan budaya dalam dan luar negeri, seperti Belanda, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand, dimana ia sering diundang menjadi pembicara. Ia diundang sebagai penulis tamu oleh Dewan Bahasa dan Perpustakaan Malaysia.

Karena ketertarikannya pada dunia tulis menulis, lahirlah nama pena Tengku Nasaruddin Said Effendy yang disingkat "Tenas Effendy" ketika karyanya diterbitkan. Karyanya seperti Lancang Kuning, Kubu Laste, Donatur dan Penerima Amanah Tunjung Ajar Melayu (Cetak II) dan lainnya yang lahir dari kesederhanaan hidup serta kepekaan, kepedulian dan kearifan sosial masyarakat Melayu.

Peresmian nama perpustakaan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. Sementara itu, Walikota Pekanbaru menandatangani nama Perpustakaan Tenas Effendy di Kompleks Perkantoran Tenayan Raya saat perayaan HUT Pekanbaru ke-236. Tengku Hidayati Efiza selaku putri almarhum Tenas Effendy, turut menyaksikan proses penandatanganan itu.

Beberapa buku Tenas Effendy juga diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Mengingat buku-buku yang ditulis oleh Tenas Effendy menyentuh berbagai aspek budaya Melayu, maka hampir separuh dari kurang lebih 70 buku yang ia hasilkan dijadikan sebagai bahan pedoman baik bagi pelajar maupun masyarakat umum. Keluarga sebagai bahan pendidikan dan aturan sosial. Bahkan, sebagian besar pemerintah kabupaten di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau menjadikan buku-buku karangan Tenas Effendy sebagai buku yang wajib dibaca oleh pegawai pemerintah daerah.

Ia bukan hanya seorang budayawan yang berkompeten, tokoh adat yang kharismatik, namun ia kerap terpanggil untuk bertindak terkait kebijakan-kebijakan yang dirumuskan dan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Tenas seringkali harus menyelesaikan permasalahan sosial. Sebagai tokoh masyarakat, Pak Tenas begitu ia disapa juga terlibat dalam berbagai organisasi masyarakat sebagai presiden, anggota dewan, dan pengurus. Tenas Effendy tidak hanya mengumpulkan dan mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan khazanah sastra Melayu, tetapi juga menyadarkan bahwa sastra adalah bagian dari mesin raksasa yang disebut kebudayaan. Untuk menguraikan dan menafsirkan kandungan filosofis di balik khazanah sastra Melayu, ia juga menerjemahkan dan mengungkap makna berbagai artefak budaya.

Karya-karya Tenas Effendy Hang Nadim, (1982), Upacara Mandi Air Jejak Tanah Petalangan, (1984), Ragam Pantun Melayu, (1985), Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu, (1986), Cerita-cerita Rakyat Daerah Riau, (1987), Bujang Si Undang, (1988), Persebatian Melayu, (1989), Kelakar Dalam Pantun Melayu, (1990) Ulang Tahun Jordan Michael Manurung (30 April 2013) dan lainnya.

Ajaran bahasa Melayu mengandung berbagai nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dan bekal kehidupan masa depan yang penuh dengan nilai luhur agama dan budaya Islam. Nilai-nilai itulah yang bila dianut, dihayati dan diamalkan dengan sepenuh hati, akan menjadi identitas Melayunya. Dengan memegang jati diri tersebut, setiap orang menjadi pribadi yang terpuji, amanah, terhormat, setara, bijaksana dan cerdas, berpengalaman, berwawasan luas, berbudi luhur, bermartabat dan bermartabat sebagai manusia, kebahagiaan dan kehormatan, yang akan didatangkan oleh Tuhan. Kesejahteraan lahiriah dan batiniah dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Membaca dan memahami suatu karya sastra tidaklah mudah, sebab pengarang berhadapan dengan suatu teks tertentu (baik lisan maupun tulisan) yang harus diberi makna oleh pengarangnya. Pada akhirnya dalam perencanaan dan pemprograman Museum Tenas Effendy ini akan dibuat dan diimplementasikan suatu konsep desain dalam bentuk perancangan dan perancangan dan perencanaan, berdasarkan kaidah arsitektur Malaysia.

Kesantunaan berbahasa sesuatu masyarakat itu dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma budaya masyarakat yang tersebut. Ia meninngkatkan kesantunan berbahasa pada tiga aspek, yaitu aspek kebahasaan, aspek kesastraan dan budaya. Dari segi berbahasa, kesantunan dapat dilihat sebagai sapaan lisan atau tulisan, kehalusan penggunaan bahasa atau kesopanan penggunakan bahasa dan sistem sapaan dan sapaan tertentu. Provinsi Riau sangat perlu didukung dengan fasilitas infrastruktur yang memadai berupa gedung perpustakaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan berbagai fasilitas perpustakaan yang dapat menarik minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan.

Tenas Effendy adalah seorang sastrawan yang mempelajari kebudayaan melayu dan merupakan seorang pendidik. Dengan ilmu dan pengalamannya Tenas Effendy mengajarkan masyarakat akhlak yang sesuai dengan ajaran agama islam dan norma masyarakat.

Riaumagz