Sasampek Rayo Onam Kenegerian Kototuo Baserah; Menjunjung Kebersamaan Negeri
Sasampek Rayo Onam Kenegerian Kototuo Baserah; Menjunjung Kebersamaan Negeri Menuju Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, tepatnya di Kenegerian Kototuo Baserah, tersimpan sebuah khazanah budaya yang tak hanya unik secara visual, namun kaya akan nilai filosofis. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Sasampek Rayo Onam. Setiap tanggal 8 Syawal, masyarakat di wilayah ini merayakan kemenangan pasca menunaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal dengan sebuah ritus bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Bagi masyarakat lokal, Sasampek Rayo Onam bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah identitas, simbol persatuan empat suku, dan manifestasi dari kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi.
Menilik Makna di Balik Nama
Istilah Sasampek sendiri memiliki akar yang dalam dalam dialek lokal. Secara bahasa, kata ini berasal dari kata “sempat” yang berubah menjadi “sampek”. Sasampek berarti “disempat-sempatkan”, yang menggambarkan keharusan atau prioritas masyarakat untuk meluangkan waktu demi kepentingan bersama.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul pemaknaan baru yang lebih populis, terutama di kalangan muda: Sasampek diartikan sebagai akronim dari “samo-samo dapek” (sama-sama dapat). Filosofi ini merujuk pada distribusi makanan yang dibawa saat perayaan. Dalam Sasampek Rayo Onam, makanan yang dipersiapkan dengan susah payah oleh setiap suku akan dibagikan dan dinikmati bersama, memastikan bahwa setiap orang tanpa memandang status sosial mendapatkan bagian secara merata.
Wujud Kebersamaan: Sasampek dan Jambae
Daya tarik utama dari perayaan ini terletak pada wadah makanan yang disebut Sasampek. Sasampek bukan sekadar keranjang; ia adalah karya seni tradisional yang terbuat dari kerangka bambu yang disusun sedemikian rupa. Kerangka ini kemudian dihias dengan kertas dan bunga-bunga krep berwarna-warni yang dibuat dengan ketelitian tangan para ibu dan para lelaki di setiap suku.
Selain Sasampek yang dijunjung oleh para ibu di atas kepala, terdapat pula Jambae. Jika Sasampek berukuran lebih ramping, Jambae adalah wadah makanan berukuran besar dengan bentuk yang bervariasi sesuai identitas suku. Pada perayaan tertentu, Suku Melayu mungkin membuat Jambae berbentuk burung, Suku Tigo Kampung memilih bentuk gajah, Suku Limo Kampung membentuknya menyerupai guci, dan Suku Cemin menghadirkan bentuk ikan yang dilengkapi cermin. Keragaman bentuk ini tidak memecah belah, melainkan menjadi simbol kebanggaan masing-masing suku yang tetap bersatu dalam satu tujuan.
Alur Prosesi: Dari Tugu Menuju Rumah Suku
Perayaan Sasampek Rayo Onam adalah sebuah prosesi yang teratur dan penuh khidmat. Pagi hari di tanggal 8 Syawal, suasana Baserah berubah menjadi lautan manusia yang mengenakan pakaian terbaiknya. Para pemimpin adat mengenakan baju teluk belango hitam, sementara alim ulama tampil dengan nuansa putih.
Rombongan berkumpul di Tugu Baserah, titik nol perjalanan. Dengan diiringi musik tradisional seperti rarak dan calempong, serta suara randai yang membangkitkan semangat, arak-arakan bergerak perlahan menuju Rumah Suku masing-masing. Urutan barisan pun telah disepakati melalui musyawarah adat, mencerminkan ketaatan masyarakat pada pemimpin adat mereka—sesuai pepatah "pemimpin adat dimajukan selangkah, ditinggikan seranting."
Sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih satu kilometer, kesopanan dan adat istiadat dijunjung tinggi. Antar suku saling sapa dan ajak-mengajak untuk singgah, sebuah cerminan harmoni sosial yang jarang ditemukan di tempat lain.
Puncak Kegembiraan: Barabuik Sasampek
Sesampainya di Rumah Suku, rangkaian acara berlanjut dengan petuah adat, doa bersama, dan puncaknya adalah acara makan bersama. Namun, sebelum menyantap hidangan, ada satu tradisi yang paling dinantikan: Barabuik Sasampek (berebut Sasampek).
Begitu aba-aba dimulai, dalam hitungan detik, seluruh makanan yang tersusun rapi di Sasampek dan Jambae akan berpindah tangan. Tua, muda, remaja, hingga anak-anak ikut berpartisipasi. Bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena kebahagiaan yang terpancar dari proses berebut ini melambangkan keberkahan. Wajah-wajah ceria yang tampak adalah manifestasi dari syukur atas selesainya ibadah puasa dan eratnya silaturahmi.
Akar Identitas: Suku dan Garis Keturunan
Keberlangsungan tradisi ini tak lepas dari struktur sosial yang kokoh di Baserah. Empat suku besar yaitu Melayu, Cemin, Limo Kampung, dan Tigo Kampung, menjadi pilar utama yang menjaga tatanan adat.
Pernikahan dalam satu puak (suku) dilarang keras, yang secara tidak langsung memperkuat ikatan persaudaraan antar suku karena setiap orang harus mencari pasangan di luar sukunya. Inilah yang membuat rasa persatuan di Baserah begitu kental; mereka semua merasa sebagai satu keluarga besar yang terikat oleh sejarah, adat, dan tradisi Sasampek Rayo Onam.
Mengapa Tradisi Ini Harus Dilestarikan?
Kajian yang dilakukan oleh Tim Kajian Warisan Budaya Takbenda Dinas Kebudayaan Provinsi Riau menegaskan bahwa Sasampek Rayo Onam bukan sekadar ritual profan. Ia adalah instrumen penguat identitas. Di era globalisasi yang seringkali mengikis akar budaya, tradisi ini tetap kokoh karena adanya faktor habituasi dan hereditas yang kuat. Anak-anak yang tumbuh di Baserah melihat kerangka Sasampek sebagai "monumen" kebesaran tradisi mereka, yang menanamkan rasa bangga sejak dini.
Secara ekonomi, perayaan ini juga memberikan multiplier effect. Perputaran uang di pasar Baserah meningkat tajam, mulai dari pembelian bahan pangan hingga jasa transportasi dan kerajinan. Ini adalah bukti nyata bahwa melestarikan budaya juga berarti menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Sasampek Rayo Onam adalah bukti bahwa masyarakat Kototuo Baserah berhasil memadukan nilai Islam dengan adat istiadat secara apik. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sebuah warisan yang tak hanya perlu diingat, tetapi terus dirayakan. Sebagaimana pesan para tetua: "lomak dikojon basamo-samo"—lebih enak dikerjakan bersama-sama. Begitulah Baserah merawat budayanya, dengan kebersamaan yang disempat-sempatkan, dan kebahagiaan yang sama-sama didapat.Artikel ini disusun berdasarkan dokumen kajian "Sasampek Rayo Onam Kenegerian Kototuo Baserah", sebuah upaya pendokumentasian warisan budaya takbenda untuk masa depan Indonesia.
File kajian dapat di donlot pada link berikut:
https://www.academia.edu/170692189/Kajian_Sasampek_Rayo_Onam_Baserah_Kuansing
RiauMagz, Wisata Riau

