2017-11-11

Pusat Pelatihan Gajah Minas Siak dan Sebanga Duri - Sejarah dan Konflik


Bermain dengan Gajah Liar di Pusat Pelatihan Gajah Minas

Bingung menghabiskan akhir pekan yang panjang di Pekanbaru atau sekitarnya? bukan waktunya lagi sekarang mengomel bahwa di sini tidak ada tempat rekreasi. Sebab di Minas, Kabupaten Siak terdapat Pusat Pelatihan Gajah (PLG), yang bisa jadi alternatif rekreasi keluarga Anda. Tempat ini merupakan kawasan kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau. Terdapat kurang lebih 30 gajah betina dan 30 gajah jantan yang siap menyambut kedatangan Anda ke sana.

Sangat mudah menemukan lokasi ini. Anda cukup membawa kendaraan keperbatasan Pekanbaru menuju Minas melewati Rumbai. Kemudian teruskan perjalanan Anda disepanjang Jalan Raya Pekanbaru-Minas Tersebut. Setelah melewati Hotel Rindu Sepadan dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasim, kira-kira sekitar 5 km dari lokasi itu, di bagian sebelah kiri, Anda akan menemukan plang nama Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak.

Belokkan kendaraan Anda ke arah tersebut. Apapun jenis kendaraan Anda pastikan tangguh, karena selepas belokan itu, Anda tidak akan menemukan jalan aspal lagi. Namun tenang aja, jalanan tanah ditengah-tengah perkebunan sawit dan ladang minyal tersebut cukup keras, bahkan jika hujan sekalipun. Anda hanya harus hati-hati memperhatikan tanda petunjuk arah menuju lokasi Pusat Pelatihan Gajah. Karena salah-salah Anda bisa berbelok di lokasi yang salah. Tenang saja, tersasar adalah kemungkinan kecil, karena PLG Minas sangat gampang ditemukan.


Setelah perjalanan sekitar 20 menit, maka Anda akan menemukan gerbang Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas yang bertuliskan SELAMAT DATANG DI PUSAT LATIHAN GAJAH MINAS dengan logo Balai Besar KSDA Riau dan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) di antaranya.


Berikutnya, Anda bisa enjoy dengan gajah-gajah liar yang telah dilatih untuk bersahabat dengan manusia tersebut. Datanglah pada pagi hari jam 08.00 pagi, karena saat itu gajah akan digiring oleh para pawangnya menuju hutan. Namun sebelumnya mereka akan mandi dulu di sungai yang terdapat di tempat tersebut. Sekalian saja, Anda nikmati pengalaman memandikan gajah.

Atau jika anda merasa jam 8 pagi itu kepagian, datanglah sekitar pukul 16.00 sore hari. Karena pada saat itu, puluhan gajah, kembali dari hutan bersama pawangnya (mahot) dan menghabiskan waktu mereka dengan beristirahat di sungai dan di bawah pohon yang terdapat dikawasan itu.

Ok, jika itu malah terlalu sore bagi Anda. Silahkan hubungi pihak pengelola PLG Minas yang contact personnya bisa Anda dapatkan dari Balai Besar KSDA Riau (mereka akan dengan senang hati membantu). Mintalah pihak Pusat Pelatihan Gajah untuk tidak menggiring semua gajah-gajah tersebut ke hutan sehingga kapanpun Anda datang, ada gajah yang siap menemani Anda bermain.

Jangan lupa ya sebelumnya, siapkanlah makanan gajah sebagai oleh-oleh, misalnya pisang, tebu, sayuran, atau buah-buahan lainnya yang gampang untuk Anda peroleh. Biasanya Anda juga akan diberi kesempatan untuk memberi makan gajah-gajah tersebut sendiri. Menaiki punggung gajah sambil keliling lokasi pelatiihan, atau diangkat dengan belalainya.

Tenang saja, bagi Anda yang parnoan atau takut dengan hewan raksasa ini, karena setiap satu gajah, ada satu pawang yang akan menjaganya. So safety, bukan? Oh iya, nama lain sebutan bagi pawang adalah mahot.

Tapi jangan aneh dulu, sebab gajah-gajah tersebut merupakan gajah liar yang telah dilatih menjadi gajah pengendali konflik manusia vs gajah yang kerap terjadi di wilayah Riau. Dan jangan mengharapkan pelayanan ekstra seperti di kebun binatang, karena di sana bukan kebun binatang. Tapi fasilitas yang mereka miliki dan kelengkapan peralatan mereka jauh lebih bagus dari di kebun binatang.

Selamat menikmati liburan Anda.


Penebangan Hutan dan Kepunahan Gajah
Riau memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Namun jumlah hutan mulai menurun seiring dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit dan industri lainnya. Belum lagi pembalakan liar terhadap hutan yang mengganggu ekosistem di dalamnya. Salah satu binatang dilindungi yang terancam kepunahannya akibat penebangan hutan di Riau adalah gajah. Tak jarang karena habitatnya diusik, gajah keluar dari hutan secara liar dan mengganggu masyarakat di sekitarnya. Jika sudah begini, bukan hanya gajah yang merasa terancam kepunahannya, namun juga keamanan manusia yang tinggal di kawasan yang baru saja ditebangi hutannya. Di Riau misalnya di beberapa daerah transmigrasi, gajah seringkali datang di malam hari dan mengganggu keamanan warga.

Di satu sisi, gajah tidak boleh dibunuh dan harus dilindungi, oleh karena itulah, pada tahun 1988 didirikan Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga Duri di Provinsi Riau. Di tempat inilah gajah-gajah liar yang mengganggu warga ditempatkan, untuk kemudian dilatih, dijinakkan, dididik agar lebih bersahabat dengan manusia. Selain itu, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat perlindungan gajah, khususnya Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) yang merupakan satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Perpindahan PLG karena konflik dengan masyarakat kami tulis di bawah ini.

Apa yang ada di Pusat Pelatihan Gajah?
Pusat Pelatihan Gajah ini banyak dikunjungi oleh mereka para pecinta lingkungan atau yang ingn melihat hiburan dari atraksi hewan gajah. Di tempat ini, pengunjung bisa menyaksikan berbagai atraksi gajah seperti gajah melompati kayu-kayu besar, gajah mengangkat kayu-kayu besar, gajah hormat pada pengunjung, melangkahi manusia yang terbaring di tanah, dan masih banyak lagi atraksi lucu binatang gajah di tempat ini. Selain itu, pengunjung juga bisa mencoba atraksi menaiki gajah dengan tarif khusus.

Gajah-gajah yang mengganggu kawasan yang didiami manusia biasanya akan ditangkap dengan cara tembak bius, selanjutnya dibawa ke PLG. Di sini, sedikitnya selama 2 hingga 4 minggu, gajah akan melalui proses penjinakan. Selama masa penjinakan, gajah diletakkan di tempat khusus yang diberi nama runk. Seorang pawang gajah akan melatih binatang ini menggunakan alat-alat seperti ganco, tali, tombak, rantai rotan dan sebagainya.

Setelah lulus proses penjinakan, selanjutnya gajah akan menjalani proses pelatihan. Proses ini dilakukan melalui tiga tahapan yakni, Latihan Tingkat Satu (LTS) dilanjutkan Latihan Tingkat Dua (LTD), dan Latihan Tingkat Tiga (LTT).


Setelah menjalani tiga tahapan di atas, barulah gajah dilatih dengan keterampilan khusus. Diantaranya seperti keterampilan untuk gajah latih, keterampilan gajah tangkap, keterampilan gajah atraksi, keterampilan gajah kerja dan sebagainya. Gajah nantinya akan dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk pembangunan nasional.

Sejarah Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas - Siak

Sejak tahun 1980an keberadaan gajah liar sudah mulai menjadi permasalah bagi masyarakat dan pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah. Agar tidak terganggunya program pembangunan di Indonesia maka dilaksanakanlah kegiatan penggiringan gajah besaran ke habitat aslinya agar keberadaan gajah dapat lestari, dimana pada saat itu dikenal dengan Operasi Ganesha dan Tata Liman.

Dalam perkembangannya, Pusat Latihan Gajah di Riau telah beberapa kali mengalami perpindahan lokasi. PLG Riau didirikan pertama kali di Sebanga – Duri pada tahun 1988, setelah lebih kurang tiga tahun PLG Sebanga berdiri terjadi pembakaran oleh masyarakat pada tahun 1991, agar aktifitas pelatihan dan pengelolaan gajah tetap berjalan untuk sementara waktu dipindahkan ke Desa Pinggir yang berlokasi di Suaka Marga Satwa Balai Raja.

Pada tanggal 29 Juni 1992 keluarlah surat keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Riau dengan Nomor : KPTS.387/VI/1992 menunjuk lokasi PLG di desa Muara Basung Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Km 100 Pekanbaru – Duri dengan luas sekitar 5.000 Ha. Namun adanya konflik lahan dengan masyarakat setempat dan perambahan lahan di lokasi Pusat Latihan Gajah menyebabkan aktifitas di Pusat latihan Gajah tidak berjalan lancar. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka pada tahun 2001 PLG Riau mulai menempati sebagian lahan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim II Siak yang berada di Kecamatan Minas Kabupaten Siak. Untuk saat ini jumlah gajah yang ada di Pusat Latihan Gajah Riau berjumlah 24 ekor, 18 ekor di Minas dan 6 ekor gajah tersisa di Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri.

Sumber :
MOTIVASI PENGUNJUNG DI PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) MINAS KABUPATEN SIAK
Nurfitriana
Jurusan Ilmu Administrasi – Program Studi Usaha Perjalanan Wisata
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau
Jurnal Online Mahasiswa
JOM FISIP Vol. 3 No. 2 – Oktober 2016
Halaman 10-11

Konflik Suaka Margasatwa Balai Raja dan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga - Duri - Bengkalis

Harian Kompas pernah menuis pada tanggal 5 April 2010 tentang lenyapnya Suaka Margasatwa Balai Raja di Duri yang menjadi perkebunan sawit warga. Seperti tulisan Nurfitriana diatas, konflik lahan terjadi dengan masyarakat. Kawasan hutan yang dahulunya seluas 16.000 hektar, saat Kompas berkunjung hanya tersisa 50 hektar saja termasuk berkurangnya lahan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga yang seharusnya 5.873 hektar. Suaka Margasatwa Balai Raja dan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga merupakan satu kesatuan kawasan untuk relokasi gajah yang sering berkonflik dengan manusia di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu, yang tidak jauh dari Sebanga.

Berkurangnya lahan SM Balai Raja menyebabkan batalnya relokasi kawanan gajah. Sisa hutan yang 50 hektar pun tidak layak disebut hutan. Lahan itu berupa semak belukar dari rawa-rawa yang ada di sekeliling kawasan PLG. Kawanan gajah itu selalu melalui jalur yang sama dari daerah Pelapit Aman di Pangkalan Pudu ke arah daerah Tegar dan kembali lagi ke Pelapit Aman. Demikian selalu kawanan gajah itu bolak-balik setiap tahun dari dahhulu kala.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2010/04/05/09294633/Suaka.Margasatwa.Balai.Raja.Lenyap


Pusat Pelatihan Gajah Sebanga Duri

Unit Pelaksana Teknis : BKSDA RIAU
Propinsi : Riau
Kabupaten : Kabupaten Bengkalis
Luas (Hektar) : 5.873,00
No. SK : Kep. Gub. No.387/VI/1992
Tanggal SK : 29-Jun-92

PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) SEBANGA DURI - RIAU
http://www.dephut.go.id sekarang menjadi www.menlhk.go.id

PENDAHULUAN
Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) merupakan satwa langka di Indonesia yang dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Satwa ini juga merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan Pembangunan Nasional.

Serangan Gajah timbul disebabkan karena ruang gerak mereka yang semakin sempit akibat areal hutan yang semula merupakan habitat dan daerah jelajah gajah tersebut dibuka untuk perluasan areal perkebunan, pembukaan areal pemukiman transmigrasi dan eksploitasi minyak, sehingga gajah semakin terdesak dan terpisah-pisah dalam kantong-kantong dan daerah gajah yang terisolir.Mengacu dari hasil upaya pencegahan terhadap gangguan gajah yang telah dilakukan, maka pada tahun 1988 didirikan Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri di Propinsi Riau.

MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan didirikan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Sebanga-Riau adalah sebagai sarana untuk menumbuh dan mengambalikan kesan kepada masyarakat bahwa gajah bukan sebagai satwa perusak yang harus dimusnahkan tetapi merupakan satwa yang bermanfaat bagi pembangunan Nasional.

SASARAN
Sasaran dari Pusat Latihan Gajah (PLG) adalah untuk menangkap gajah-gajah pengganggu terhadap daerah pertanian masyarakat, daerah pemukiman transmigrasi dan daerah perkebunan yang kemudian dijinakkan dan dilatih untuk dapat dimanfaatkan sebagai gajah tangkap/gajah latih, gajah atraksi dan gajah kerja.

LOKASI
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor : KPTS.387/VI/1992 tanggal 29 Juni 1992 luas Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau ± 5.000 Ha yang terletak di Desa Muara Basung Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis tepatnya pada Km.100 Pekanbaru-Duri masuk ke dalam lokasi jalan Caltex ± 15 Km, dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh dari Pekanbaru 2-2,5 jam dan dari Duri ke lokasi PLG ± 45 menit.

POTENSI FLORA DAN FAUNA
Sebagian besar Flora yang tumbuh adalah kayu jenis Meranti (Shorea spp) Jelutung (Dyera costulata) dan jenis lain yang tumbuh pada hutan sekunder. Pada tempat tertentu yang telah terbuka ditumbuhi alang-alang dan tumbuhan perdu lainnya, diantaranya terdapat juga beberapa jenis tumbuhan yang dapat dimakan oleh gajah.

Fauna yang ada antara lain : Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruang Madu (Helarctus Malayanus), Kancil (Tragulus sp), Rusa (Cervus sp), Babi (Sus sp) serta berbagai jenis Aves dan ayam hutan.

KEGIATAN
Sesuai dengan maksud dan tujuan dari Pusat Latihan Gajah, yaitu mempunyai prioritas kegiatan sebagai berikut :
Penangkapan
Penangkapan gajah dilakukan dengan sistem pelacakan terhadap lokasi keberadaan gajah/kelompok gajah yang terisolasir. Sedangkan metode penangkapan gajah yang digunakan ialah dengan sistem tembak bius.Penangkapan diprioritaskan disekitar hutan yang berbatasan dengan daerah gangguan atau populasi yang terancam kehidupannya karena habitatnya sempit oleh peruntukan lain. Tujuan dari penangkapan adalah untuk meredakan gangguan gajah yang mengganggu dipemukiman transmigrasi, perkebunan.


Penjinakan
Gajah liar yang pernah ditangkap dan setelah sampai di Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau menjalani kegiatan pertama yaitu penjinakan. Pada umumnya kegiatan penjinakan memakan waktu antara 2-4 minggu. Penjinakan dilakukan di tempat tertentu yang disebut Runk (tempat penjinakan gajah) dan para pelatih/pawang menggunakan alat-alat seperti ganco, tombak, tali, rantai rotan dan sebagainya.

Dalam kehidupan ini para pelatih/instruktur dibantu oleh gajah latih. Pada program ini gajah liar yang baru ditangkap diperkenalkan pada kehidupan baru dalam lingkungan manusia.

Pelatihan
Setelah gajah "lulus" pada program penjinakan, selanjutnya mengikuti program berikutnya, yaitu program pelatihan. Program pelatihan meliputi 3 tahap:
Latihan Tingkat Satu (LTS)
Latihan Tingkat Dua (LTD)
Latihan Tingkat Tiga (LTT)

Setelah gajah "lulus" mengikuti Latihan Tingkat Satu sampai dengan Latihan Tingkat Tiga maka selanjutnya gajah-gajah tersebut dilatih keterampilan sesuai dengan kebutuhan, seperti keterampilan untuk gajah tangkap, keterampilan sebagai gajah latih, keterampilan untuk gajah atraksi, keterampilan untuk gajah kerja dan lain sebagainya yang pada akhirnya nanti gajah tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk menunjang pembangunan Nasional.

PEMANFAATAN GAJAH
Gajah-gajah hasil didikan dari Pusat Pelatihan Gajah Minas Duri Riau yang telah dimanfaatkan oleh beberapa HPH dan Kebun Binatang sebanyak 22 ekor dari jumlah 78 ekor.

Silahkan baca juga tentang :
Gajah Sumatera Elephas Maximus Sumatrensis
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau


[ RiauMagz | Wisata Riau ]

2017-11-10

Tips Paling Lengkap Untuk Penggemar Tas Rajut Handmade


Tas rajut buatan tangan pun semakin menarik untuk menjadi oleh-oleh dari tempat wisata.

Jadi penyuka tas rajut itu gak mudah. Selain perawatan ekstra, kadang saat membelinya pun dituntut bersabar karena proses produksinya cukup lama. Kamu pasti tahu kan, kebanyakan seller varian item handmade ini pake metode pre-order. Oleh sebab itu, kita sebaiknya sangat selektif saat belanja item satu ini. Salah satu lokasi belanja barang berkualitas dan aman, yaitu Qlapa.

Tas rajut dapat dibeli secara online maupun langsung datang ke penjualnya bahkan beberapa daerah memiliki sentra-sentra produksi UMKM tas rajut. Produk-produk ini umumnya dipakai langsung oleh pembeli, maupun dijadikan hadiah atau oleh-oleh setelah berwisata ke suatu tempat.

Untuk itu, kita patut memperhatikan seluk-beluk dan tip membeli dan memelihara tas rajut dari A hingga Z, di antaranya adalah:

Bahan tas rajut
Berbagai koleksi tas rajut sangatlah banyak. Asam-manis membeli barang jenis ini pun jadi beragam terutama soal bahan. Seringkali kita bingung, apa sih bahan dari varian tas rajut ini yang bagus. Nah ternyata ada 9 (sembilan) material dasar pembuatannnya di antaranya:
  • Benang bulky. terbuat dari acrylic sehingga cenderung berserat, tetapi tetap lembut.
  • Benang poliester. Jenis material berikut paling sering dijadikan sebagai bahan baku. Alasannya, ia tidak mudah luntur atau kusut.
  • Benang acrylic. Material dasarnya sintetis dengan karakteristik ringan dan lembut. Saat kamu pegang akan terasa dingin.
  • Benang nilon. Bahan berikut sangat kuat dan mengkilat sehingga banyak produsen memilihnya sebagai material dasar.
  • Benang rayon. Dapat dikatakan sebagai semi sintetis yang mempunyai karakteristik kaku dan tidak mudah kusut.
Dari beberapa bahan baku yang disebutkan diatas, tidak ada istilah material terbaik. Semuanya sama-sama bainya. Tergantung model dan kegunaan yang akan dibuat. Terkadang, bahan kaku sangat cocok untuk tas di lingkungan ekstream, misalnya untuk tas rajut jenis outdoor yang cocok untuk berwisata.


Model tas rajut terbaru
Urusan model terbaru, sangat banyak tersedia di Qlapa, referensinya pun kebanyakan produk dari situs tersebut ya. Beberapa item terfavorit yaitu rajut serut seruni, bunga mekar, rajut pesta, prima hobo, dan flowery besar. Secara umum, kumpulan model itu dibuat dengan kombinasi 4 warna cerah yang berbeda. Tinggal pilih saja, kamu suka warna apa?

Selain itu, bahan pembuatnya pun dari katun. Supaya kelihatan lebih anak muda banget, tidak jarang produk dibuat dengan furing kain katun bermotif yang serasi. Proses finishing-nya pun sangat sempurna sehingga produk hasl produksinya sangat menawan.

Cara memilih tas rajut berkualitas
Sebelum membeli, teliti terlebih dulu. Begitu pula saat berbelanja tas rajut ya. pastikan memilih tas dari material berkualitas. Atau bahkan, ambil produk dari seller terpercaya. Biasanya, seller terpercaya itu bisa dilihat dari review atau testimoni dari pembeli sebelumnya.

Apabila ini kali pertama kamu berbelanja, cek foto produk. Pastikan tidak ada jahitan blepotan dan finishing ala kadarnya. Kalau pun itu belum terlalu meyakinkan dirimu, coba cari saja seller yang memiliki showrom sehingga bila terjadi apa-apa, kamu bisa mengklaimnya.

Cara mencuci tas rajut
Kalau pun kamu sudah mengoleksi puluhan jenis produk ini, kamu akan dibuat bingung bagaimana mempertahankan tampilan visual dan kualitas bahannya. Nah ada sedikit tips bagaimana mencuci tas rajut:
  • Hindari mencuci dengan mesin cuci. Untuk membersihkan jenis item berikut, terlebih dulu merendamnya di dalam air hangat. Beri sedikit deterjen untuk mengangkat noda-noda yang menempel. Rendamlah tas kesukaanmu itu kurang lebih sekitar 10 menit.
  • Jangan dikucek. Selain mesin cuci, produk ini sama sekali tidak boleh dicuci dengan dikucek. Cara ini dipakai supaya tekstur benang tetap terjaga. Jangan pula memilinnya saat akan dijemur. Cukup diremas saja ya.
  • Tambahkan pelembut atau pewangi pakaian saat merendamnya, agar wangi dan tekstur tas tetap terjaga.
  • Hindari menjemurnya di matahari langsung. Pengeringan jenis tas tersebut cukup diangin–anginkan saja. Pengeringan di bawah terik matahari langsung akan membuat warnanya cepat pudar.
  • Jangan menggantung saat penjemuran. Ada baiknya tas cukup digelar saat proses pengeringan. Menggantunganya akan merusak rajutannya karena tertarik oleh beban air ke bawah.

Bagi yang pertama kali beli produk ini pasti bakalan jatuh cinta. Sebelumnya itu, terlebih dulu tentukan bahan dasarnya, modelnya, serta simak pula bagaimana memilih tas berkualitas. Setelah itu, rawatlah dengan baik item kesayanganmu tersebut.

Tas rajut merupakan produk hasil kreasi. Ada perbedaan mencolok antara produk lokal dan non-lokal. Produk lokal seringkali menampilkan tampilan visual yang khas etnik budaya nusantara. Dari warna hingga motifnya, sangat estetik tapi tetap stylish.

[RiauMagz | Wisata Riau]

2017-11-03

Penetapan Mesjid Raya Pekanbaru Sebagai Benda Cagar Budaya

Mesjid Raya Pekanbaru
Sumber : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru
https://bpa.pekanbaru.go.id/

Jangankan merubah bentuk, untuk merubah warna saja dilarang

Mesjid Raya Tinggal Kenangan
Masjid Raya Pekanbaru yang awalnya bernama Mesjid Senapelan ini dibangun tidak permanen kali pertama sekitar 1762 M oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dalam lampiran Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor : KM.13/PW.007/MKP/2004, dinyatakan bahwa masjid ini yang awalnya tidak permanen kemudian didirikan secara permanen pada tahun 1927 oieh masyarakat secara bergotong royong diatas tanah wakaf milik Haji Muhammad dan Hajjah Sa'diyah. Mesjid ini dibangun secara bertahap dan baru selesai pada tahun 1937. Mesjid Raya ini beralamat di Jalan Masjid Raya, Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, Riau.

Masjid terdiri dari ruang utama, mihrab, mimbar dan serambi (Pawestren).Pada bagian ruang utama terdapat tujuh belas buah tiang yang melambangkan rakaat shalat dalam agama IsIam. Pada bagian mihrab terdapat sebuah mimbar yang menurut masyarakat setempat merupakan hadiah dari Kerajaan Siak. Mimbar tersebut berukuran panjang 205cm, lebar 121cm, tinggi 237cm. Mimbar ini kaya dengan ukiran sulur-suluran dan bunga warna kuning keemasan serta terdapat lima anak tangga. Dinding luar mihrab berbentuk setengah lingkaran, sedangkan atap masjid berbentuk kubah. Pintu masuk pada masjid ini sebanyak tiga buah, pintu utama berada di bagian tengah.

Sedangkan menurut Wan Ghalib berdasarkan tulisan GP. Ade Dharmawi, mesjid tua ini dibangun tahun 1929 dengan Ketua Pelaksana adalah Wan Enthol dengan memperbaharui bangunan yang lama. Mengenai penamaan mesjid tua ini kami telah mencantumkan kaitan artikel di bagian bawah tulisan ini.

Mengingat masjid lama yang dibangun oleh Sultan dan masyarakat telah dibongkar dan kemudian di tahun 2010 dibongkar lagi dan dibangun kembali dengan masa, bentuk dan warna yang jauh berbeda dari aslinya, maka secara historis masjid ini nilainya sudah tidak sama dengan masjid yang pertama. Hal ini menunjukkan telah terjadi penurunan nilai historisnya.

Pembongkaran ini mengakibatkan status Mesjid Raya Pekanbaru sebagai Benda Cagar Budaya Pekanbaru berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor : KM.13/PW.007/MKP/2004 telah berubah dan turun menjadi status Struktur Cagar Budaya.

Dengan memertimbangkan masih adanya peninggalan sejarah dan budaya yang tersisa berupa tiang, sumur, mimbar dan gerbang, maka Tim Ahli Cagar Budaya Nasional merekomendasikan untuk mengubah statusnya dari Bangunan Cagar Budaya menjadi Struktur Cagar Budaya, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 209/M/2017 tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru pada 3 Agustus 2017 yang ditandatangani oleh Mendikbud Muhadjir Effendy.

Mesjid tua ini tidak RAYA lagi yang penuh dengan untaian sejarah serta ukiran-ukiran kayu yang bagus, tetapi telah berubah menjadi mesjid biasa karena kesalahan pemugaran tanpa ijin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2009 yang melanggar ketetapan mesjid ini sebagai Benda Cagar Budaya. Perubahan dilakukan oleh Badan Revitalisasi Kawasan Mesjid Raya Pekanbaru. Hal yang sangat disayangkan bahwa seharusnya yang direvitalisasi adalah kawasan, tetapi pada pelaksanaannya adalah perubahan atas mesjid.

Mesjid Raya Pekanbaru
Sumber : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru
https://bpa.pekanbaru.go.id/

Mesjid Raya Pekanbaru
Sumber : http://www.melayuonline.com

Perubahan tersebut jelas melanggar Keputusan Menbudpar tahun 2004 diatas pada :
Diktum Ketiga : terhadap bangunan/gedung dengan halaman, lingkungan dan situs cagar budaya dilarang :
a. Mengubah bentuk atau warna dst.

Lihat lengkapnya :

KEPUTUSAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARlWISATA
NOMOR : KM.13/PW.007/MKP/2004
TENTANG
PENETAPAN ISTANA SIAK,BALAI KERAPATAN TINGGl, MAKAM SULTAN KASIM II, MASJID RAYA SYAHABUDDIN, KOMPLEKS MAKAM KOTO TINGGl,MAKAM SULTAN ABDUL JALIL RAHMAD SYAH,TANGSI BELANDA, GEDUNG CONTROLLEUR,BANGUNAN LANDRAAD, MASJID JAMI' AlR TIRIS, RUMAH ADAT BENDANG KENAGARIAN 50 KOTO, MASJID RAYA PEKANBARU YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROPINSI RIAU SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA,SITUS,ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

Diktum KETIGA :
Terhadap bangunan/gedung dengan halaman,lingkungan,dan situs cagar budaya sebagaimana tercantum dalam Diktum PERTAMA, dilarang :
a.mengubah bentuk atau warna, merusak, memugar, memisahkan bagian atau keseluruhan Benda Cagar Budaya dari kesatuannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;
b.memanfaatkan untuk kepentingan yang menyimpang dari kepentigan semula atau kepentingan pada saat berlakunya Keputusan ini sebagaimana dimaksud dalam Pasa1 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992;
c.mendirikan dan/atau menambah bangunan pada tanah yang berada di lingkungan bangunan sampai pada batas-batas sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA Keputusan ini.

dst.....

Untuk lebih lengkapnya lagi, Surat Keputusan tersebut dapat dilihat di :
Ruang Pelayanan Arsip
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru
Jl. Dr. Sutomo No. 1 Gobah
Pekanbaru

Baca juga artikel terkait :
Mesjid Raya Pekanbaru : Sejarah Berdirinya, Situs Sejarah dan Pergantian Nama
Rencana Gambar/Desain Mesjid Raya Pekanbaru







Untuk sekedar mengenang Mesjid Raya Pekanbaru lama yang masih berstatus Benda Cagar Budaya, kami masih menyimpan video milik Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah ini :


[ RiauMagz | Wisata Riau | Sejarah Riau | Sejarah Pekanbaru ]

2017-11-02

Festival Budaya Melayu 2017 di Provinsi Riau


Festival Budaya Melayu merupakan iktiar Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkenalkan dan memperluas wawasan budaya Melayu kepada khalayak ramai. Berbagai rancangan acara akan ditaja di Kota Pekanbaru selama beberapa hari di akhir Novermber 2017 ini. Tujuan pentingnya adalah melestarikan Budaya Melayu yang tersebar seantero Asia. Diharapkan juga kedatangan peserta-peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun beberapa peserta dari berbagai negera di kawasan Asia, khususnya di kawasan Asean.

Hal ini sangat erat kaitannya dengan Visi Riau 2020 yaitu "Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan bathin, di Asia Tenggara Tahun 2020".

Untuk menjadi Pusat Kebudayaan Melayu tentulah Provinsi Riau harus melestarikan budaya itu sendiri dan selanjutnya dapat dikerjakan sehari-hari. Dalam pelestarian, berbagai upaya yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Riau dalam hal ini Dinas Kebudayaan Provinsi Riau yang merupakan dinas pecahan yang dahulunya bernama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau. Upaya-upaya pelestarian itu misalnya melaksanakan pergelaran, mendokumentasikan, mengajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda berbagai seni budaya yang ada di Riau. Selain itu, pelatihan-pelatihan pun telah pula dilaksanakan.

Dalam Festival Budaya Melayu tahun 2017 kali ini yang dilaksanakan di Pekanbaru, Dinas Kebudayaan Prov Riau merencanakan berbagai acara dengan menampilkan berbagai seni budaya Riau yang jarang ditampilkan di khalayak ramai berdasarkan kabupaten/kota, misalnya :

Kabupaten Kampar :
  • Calempong Oguang
  • Baghandu
  • Baugam
  • Maratok
  • Malalak

Kabupaten Indragiri Hulu :
  • Gebane
  • Dabus
  • Zapin Inhu
  • Benaik Tambak yang Tunggal
  • Balai Terbang
  • Genggong Buluh

Kabupaten Kuantan Singingi :
  • Rarak Godang
  • Kayat
  • Calempong Onam
  • Randai

Kabupaten Meranti :
  • Zapin Meranti
  • Joget Sonde
  • Tari Gendong Suku Akit Selat Akar

Kabupaten Bengkalis :
  • Zapin Meskom
  • Tetawak
  • Nafiri
  • Zapin Api

Kabupaten Siak :
  • Zapin Mempura
  • Mahligai Sembilan Telingkat
  • Tari Poang Suku Sakai

Kabupaten Rokan Hulu :
  • Gondang Boroguang
  • Onduo
  • Koba Rokan Hulu
  • Tari Cegak
  • Badewo Suku Bonai

Kabupaten Rokan Hilir :
  • Koba Rokan Hilir
  • Gondang Ogung
  • Rantau Kopa

Kabupaten Pelalawan :
  • Zapin Maharani
  • Menumbai
  • Beadin

Kabupaten Indragiri Hilir :
  • Madihin
  • Syair Ibarat Khabar Kiamat
  • Bedindit
  • Kelintang Kuala Patah Parang Suku Laut

Kota Dumai :
  • Zapin

Kota Pekanbaru :
  • Zapin Persebatian

Selain itu, akan ditampilkan 2000 penari yang akan menari Zapin serentak pada acara pembukaannya. Acara yang diikuti oleh 29 delegasi yaitu 12 Kab/Kota se-Riau, 7 Masyarakat Adat, 5 Provinsi dan 5 Negara. Akan terjadi hal yang istimewa bahwa Festival Budaya Melayu 2017 ini akan menyelenggarakan Penabalan Gelar Adat Suku Laut.


[RiauMagz | Wisata Riau]