Hang Tuah Hikayat Ksatria Melayu - Bagian 1

HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU
Oleh :
MOSTHAMIR THALIB
MAHYUDIN AL MUDRA

Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Adicita Karya Nusa
Yogyakarta
Edisi Pertama, 2004

Bagi masyarakat Melayu, Hang Tuah merupakan tokoh yang sangat terkenal dengan keberanian dan kepahlawanannya. Semangatnya yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah dalam membela bangsanya patut diteladani oleh generasi muda penerus bangsa.

Cerita ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami serta gambar yang menarik menjadikan amanat tentang jiwa kepahlawanan, toleransi, saling menghormati, kejujuran, cinta kasih, serta nilai-nilai positif budi pekerti yang terkandung di dalamnya terasa ringan dicerna. Dengan demikian, sejak dini kepada anak-anak kita sudah ditanamkan semangat dan jiwa patriotik, agar mereka tumbuh dengan karakter kepahlawanan dan kemelayuan yang kuat. Semoga, usaha ini menjadi bagian dari ungkapan Hang Tuah yang sangat terkenal itu :
Takkan Melayu Hilang di Bumi.

Hang Tuah Hikayat Ksatria Melayu - Bagian 1

HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU – Bagian Pertama

Bintan adalah sebuah pulau yang indah dan subur di perairan Riau. Setelah sekian lama bagai tak berpemimpin, sekarang Bintan sudah beraja. Nama raja itu Sang Maniaka. Ia adalah putra pertama Sang Purba, raja besar yang bermahligai di Bukit Siguntang, Palembang. Kabar ini menyebar mulai dari tanjung, teluk, anak sungai, bukit, sampai ke pelosok-pelosok tasik rantau Melayu, dan disambut dengan sukacita. Kabar itu sampai pula ke Sungai Duyung, kampung halaman Hang Mahmud dan Dang Merdu, ayah dan bunda Hang Tuah.

Pada Suatu malam, Hang Mahmud bermimpi melihat bulan turun dari langit. Cahayanya memancar penuh menyinari kepala Hang Tuah. Ketika terbangun, Hang Mahmud memeluk dan mencium putranya itu dengan air mata berlinang. Mimpi itu merupakan pertanda baik, dan Hang Mahmud merasa sangat bahagia.

Esok harinya, Hang Mahmud melangir HangTuah serta memandikannya dengan air bunga. Si Tuah diberi pakaian berupa kain dan baju daster serba putih, serta diberi makan nasi kunyit dan telur ayam. Kemudian Hang Mahmud menjemput orang tua-tua untuk membacakan doa selamat.

“Anak kita ini harus dipelihara baik-baik,” ujar Hang Mahmud kepada istrinya, Dang Merdu.

Selanjutnya Hang Tuah dititipkan mengaji dari satu guru mengaji ke guru mengaji lainnya, mulai dari guru peranakan Keling sampai ke guru peranakan Cina. Selain mendalami ilmu agama, Hang Tuah juga mahir berbicara dalam beberapa bahasa, mulai dari bahasa Melayu sampai bahasa Keling, Jawa, Cina, Portugis, dan bahasa-bahasa lainnya.

Ketika berusia sepuluh tahun, Hang Tuah bersama empat karibnya, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu pergi berlayar ke Laut Cina Selatan. Sebelum berangkat, masing-masing dari mereka diberi sebihlah keris oleh orang tua mereka.

Di tengah pelayaran, di Riau Kepulauan. tiba tiba mereka diserang tiga buah perahu lanun. Namun mereka tidak sedikit pun gentar. Untuk menghadapi para lanun, Tuah mengarahkan perahunya ke sebuah pulau. Perahu mereka kecil, sedang ketiga perahu para Ianun lebih besar. Mereka akan kalah kalau berperang di laut. Para lanun terus mengejar perahu Hang Tuah.

Setibanya di pulau, pertempuran sengit segera terjadi. “Hai, budak-budak degil! Lebih baik kalian menyerah supaya tidak kami bunuh!” teriak salah seorang Ianun.

“Cih! Kalianlah yang harus tunduk kepada kami!" jawab Tuah. Malang bagi para Ianun itu. Banyak di antara mereka yang terkena tempuling, seligi, dan sumpitan Hang Tuah dan teman-temannya.
Lanun = bajak laut
Seligi = sejenis tombak atau lembing
Tempuling = sejenis tombak atau lembing untuk menangkap ikan
Budak degil = anak kecil yang nakal


Pertarungan sengit itu dimenangkan Tuah dan teman-temannya. Banyak Ianun yang terluka, hingga tinggal sepuluh orang yang akhirnya melarikan diri. Para Ianun yang terluka dibawa Hang Tuah dan ke empat karibnya ke Singapura. Di tengah Iautan, perahu Hang Tuah kembali dikejar gerombolan Ianun yang sebelumnya sempat melarikan diri. Untunglah, saat itu tujuh buah perahu Batin Singapura sedang melintas menuju Bintan. Tujuh perahu itu segera menghadang perahu para Ianun, yang akhirnya berbalik arah dan melarikan diri.

Keberanian Tuah dan teman-temannya diceritakan Batin Singapura kepada Bendahara Paduka Raja Bintan. Tuan Bendahara sangat kagum, dan berniat suatu ketika akan memanggil anak-anak itu.

Setelah pertarungan dengan para lanun di tengah laut, Hang Tuah dan keempat karibnya berguru [ada seorang pertama yang bernama Aria Putra yang mempunyai dua saudara. Sang Persata Nala dan Raden Aria Sena. Sang Persata Nala juga seorang pertapa di Gunung Wirana Pura, sedangkan Raden Aria Sena adalah pegawai Kerajaan Majapahit.

Suatu hari, sekembali dari berguru, Tuah membelah kayu api dengan sebilah kapak di depan kedai orang tuanya.

Tiba-tiba ada orang mengamuk. Orang-orang kampung dikejarnya Siapa pun yang mendekat langsung ditebasnya. Puluhan orang kampung mati dan terluka. Penduduk lainnya Iari lintang pukang dan bersemunyi. Sambil menghunus keris, pengamuk ltu semakln mendekati Hang Tuah. Melihat kejadian itu, Dang Merdu, ibu Hang Tuah, berteriak dari atas Ioteng.

“Hei,Anakku. Cepatlah naik ke kedai!”

Mendengar suara ibunya, Tuah langsung terkesiap dan seketika menyiagakan kapak di tangannya. Ia menghadapi pengamuk itu dengan gagah berani. Terjadilah perkelahian yang seru dan mendebarkan. Dengan ketangkasan dan kecerdikannya, akhirnya Tuah dapat mengalahkan si pengamuk. Orang-orang yang bersembunyi segera keluar. Mereka terkagum-kagum melihat kehebatan Hang Tuah.

“Kelak, anak ini akan jadi hulubalang besar di Tanah Melayu,” kata seorang penduduk.

Beberapa hari kemudian, Hang Tuah dan keempat karibnya kembali berhasil mengalahkan empat pengamuk yang ingin mengganggu Bendahara Paduka Raja Bintan. Beliau sangat kagum dan berterima kasih kepada Hang Tuah dan kawan-kawannya, Ialu mengangkat kelimanya sebagai anaknya. Kisah keberanian Hang Tuah dan teman-temannya disampaikan Bendahara Paduka Raja kepada Raja Bintan, Baginda Raja Syah Alam. Baginda Raja pun tertarik dan mengangkat kelima anak itu sebagai anaknya pula. Baginda lalu menghadiahkan sebilah keris yang elok kepada Hang Tuah. Setelah menyambut keris dan memberi hormat kepada Baginda Raja, Hang Tuah bersilat sambil berseru-seru.

“Cihh, manakah dia Hulubalang Melayu? Empat, lima orang tiada aku gentar menghadapinya!”

Baginda Raja tersenyum melihat kelucuan si Tuah. Diantara empat puluh Anak angkatnya, Baginda Raja menilai Hang Tuahlah yang paling pandai. Walaupun Hang Tuah masih kecil, tak jarang Baginda Raja meminta pendapabtnya jika menghadapi suatu masalah.

Beberapa tahun kemudian...

Baginda Raja Syah Alam ingin mencari tempat untuk dijadikan pusat kerajaan yang baru. Maka bertolaklah beliau bersama para pembesar kerajaan, Hang Tuah, dan keempat karibnya. Salah seorang tamu, Raden Wira Nantaja, Pangeran dari Daha, Tanah Jawa, juga diajak melancong ke sekitar Selat Melaka dan Selat Slngapura. Karena gemar berburu, Baginda Raja kemudian singgah di Pulau Ledang, dekat Semenanjung Melayu, untuk berburu.

Ketika sedang berburu, rombongan Baginda Raja melihat seekor kancil putih sebesar kambing. Untuk menangkapnya, Tuah segera melepaskan dua ekor anjingnya, Kibu Nirang dan Rangga Raya. Namun, kedua anjing itu justru digigit dan diterjang si kancil hingga jatuh ke dalam sungai. Hang Tuah dan Hang Jebat heran melihat kegarangan kancil itu. Anehnya lagi, ketika dikejar, kancil itu pun tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Menurut petuah dari orang tua-tua, jika ada kancil putih di hutan atau di mana saja, maka tempat itu bagus dibuat negeri,” kata Bendahara Paduka Raja. Setelah meminta pendapat para pembesar lainnya, usul Bendahara Paduka Raja disetujui. “Baiklah kalau memang begitu. Kita akan membangun negeri baru di sini.” Kata Baginda Raja.

Baginda Raja Syah Alam kemudian menitahkan Bendahara Paduka Raja dan Temenggung untuk memimpin pembangunan negeri di Pulau Ledang itu. Di tempat inilah pada mulanya diketemukan pohon Melaka yang kemudian menjadi asal-usul nama Melaka.

Ditengah kesibukannya memerintah negeri Kerajaan Melaka, Raja Syah Alam mendengar ada seorang putri cantik. Putri itu bernama Tun Teja, putri tunggal Bendahara Seri Benua di Indrapura. Dia cantik, tetapi keras kepala. Raja Syah Alam berkenan untuk meminang Tun Teja, sehingga diutuslah Tun Utama dan Tun Bija Sura ke lndrapura.

“Kami menyambut baik pinangan Raja Melaka. Namun, perlu jugalah Iebih dulu kami tanyakan kepada putri kami,” kata Bendahara Seri Benua ketika menerima Tun Utama dan Tun Bija Sura di Balai Kerajaan. Dia berkata demikian karena sudah sering putrinya menolak lamaran anak-anak raja lainnya.

Bendahara Seri Benua Ialu menemui Tun Teja dan mengutarakan maksud kedatangan utusan Melaka tersebut.

Mendengar penjelasan ayahnya, Tun Teja menjawab, “Ayahanda, Raja MeLaka adalah putra dari seorang raja besar sedangkan hamba hanyalah anak dari seorang raja kecil. Jadi mohon ampun, janganlah ananda dijodonkan dengan Raja Melaka itu!” kata Tun Teja

Tak hanya Bendahara Seri Benua, permaisuri pun membujuk Tun Teja. Namun, Tun Teja malah berkata, "Dibunuh pun saya rela, asalkan saya jangan dipaksa menikah dengan Raja Melaka itu,” tangis Tun Teja di pangkuan ibunya.

Akhirnya, Tun Utama dan Tun Bija Sura pun pulang ke Melaka tanpa berhasil meminangkan Tun Teja untuk Baginda Raja Syah Alam.

Baginda Raja Syah Alam sangat sedih pinanannya ditolak. Patih Kerma Wijaya mengusulkan agar Baginda Raja meminang putri tunggal Seri Betara Majapahit, Raden Galuh Mas Ayu. Mendengar hal itu, Raja Syah Alam lalu memerintahkan Patih Kerma Wijaya dan Hang Tuah serta keempat karibnya untuk pergi ke Majapahit. Mereka kemudian menyiapkan sebuah perahu yang sangat megah, bernama Mendam Birahi. Perahu itu sangat cepat. bak burung terbang menuju Tanah Jawa.

Setibanya di Majapahit. rombongan dari Melaka itu disambut dengan upacara kebesaran. Mereka diarak dengan empat puluh payung iram sebagai payung kebesaran kerajaan. Akan tetapi tiba-tiba muncul enam puluh orang mengamuk. Hang Tuan dan keempat karibnya tidak gentar. Terjadilah perkelahian, hingga akhirnya, para pengamuk yang ternyata diatur Patih Gajah Mada untuk menguji mental anak-anak Melayu itu mundur begitu saja.

Ketika sampai di paseban istana, Patih Kerma Wijaya meng-utarakan maksud kedatangan mereka, yaitu meminangkan Raden Galuh Mas Ayu bagi Raja Melaka. Pinangan tersebut disambut dengan sukacita, baik oleh Patih Gajah Mada maupun oleh Seri Betara Majapahit, yang bahkan menyarankan agar pernikahan segera dilaksanakan. Utusan Raja Syah Alam pun pulang ke Melaka dengan gembira.

Setibanya kembali di Melaka, Patih Kerma Wijaya melaporkan diterimanya pinangan Raja Syah Alam. Baginda Raja sangat gembira. Setelah melakukan persiapan beberapa hari, Raja Syah Alam lalu pergi ke Majapahit dengan perahu kebesaran Kota Segara. Perahu itu dilengkapi meriam dan dihiasi dengan berbagai ukiran Melayu. Perahu pengiringnya adalah Mendam Birahi.

Sesampainya di Majapahit Baginda Raja Syah Alam dan rombonan disambut, dan diarak dengan gajah menuju istaga Seri Betara, diiringi beberapa gajah lain dan kuda-kuda yang dihias. Tuah dan keempat karibnya tidak pernah jauh dari Bagnda Raja Syah Alam. Mereka disambut oleh raja-raja yang takluk kepada Majapahit beserta semua menteri dan kesatrianya.

Arak-arakan itu sangat semarak dan meriah. Payung iram kuning terkembang memanjang. Bunyi gendang, merangu, nafiri, gamelan, dan bermacam-macam alat musik lainnya semarak ramai mengiringi langkah para rombongan.

Setelah diterima Seri Betara, rombongan Raja Syah Alam istirahat selama beberapa hari di istana, menunggu tibanya hari pernikahan. Istana dan kota Majapahit dihias warna-warni. Segala permainan muncul di setiap sudut kota. Suara musik terus terdengar bagaikan tak pernah ada habisnya.

Sehari menjelang hari pernikahan, Raja Syah Alam dan rombongan beserta raja-raja yang takluk kepada Majapahit dijamu makan dan minum bersama di paseban istana. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh, menyeruak di tenagh-tengah keramaian.

“Taming Sari mengamuk….!” Pekik orang-orang sambil berlarian. Taming Sari adalah prajurit Majapahit yang sudah tua, tapi sangat kuat dan tangguh. Langkahnya cepat bagaikan kilat. Ketika ia sampau ke tempat perjamuan, Seri Betara segera membawa masuk Raja Syah Alam ke dalam istana. Tujuh lapis pintu istana pun ditutup. Hang Tuah segera berdiri menghadap Taming Sari.

Mengetahui dirinya dihadang, Taming Saru lalu menyerang Tuah. Serangan itu segera dibalas Tuah dengan tusukan keris. Anehnya, tusukan itu tidak berbekas pada tubuh Taming Sari. Karena memiliki firasat kalau kekuatan musuhnya terletak pada kerisnya, Hang Tuah segera berpikir untuk memperdayai Taming Sari.

“Hai, Taming Sari. Kau hanya seorang diri, sedangkan Seri Betara raja besar. Kalau beliau menginginkan engkau mati, mati juga engkau dengan sia-sia. Jika engkau ingin hidup, lebih baik kita bekerja sama. Seri Betara dan Gajah Mada kita bunuh. Engkau menjadi raja dan aku menjadi patihnya. Siapa yang sanggup melawan kita berdua? Aku lihat kerismu kurang kukuh. Ambil kerisku ini!”

Taming Sari terjebak siasat Tuah. Dia bersedia menukarkan kerisnya. Setelah mendapat keris Taming Sari, Hang Tuah menyerang. Mereka bertarung lagi. Taming Sari makin ganas menyerang. Karena gencarnya serangan itu, suatu ketika keris di tangan Taming Sari tertancap pada papan tebal di depan paseban istana. Pada saat berusaha mencabut kerisnya, Taming Sari tidak sanggup menghindari serangan Hang Tuah.

Akhirnya, Taming Sari rubuh. Hang Tuah lalu naik ke paseban istana, menyerahkan keris Taming Sari kepada Seri Betara. Namun, Seri Betara malah menghadiahkan keris itu dan menganugerahkan gelar Laksamana kepada Hang Tuah.

Ketika hari pernikahan tiba digelarlah upacara pernikahan yang megah dan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Larut tengah malam pada hari pertama, Hang Tuah dan keempat karibnya menlnggalkan istana tanpa pamit. Mereka menuju Gunung Wirana Pura menemui Sang Persata Nala. Saudara Aria Putra, untuk berguru. Sesampainya di kaki gunung. Tuah dan teman-temannya bertemu dengan murid-murid Sang Persata Nala.

“Tiga puluh orang anak raja yang mengabdi kepadanya pun tidak diajari, apalagi kalian. perantau jauh. Manalah pula Mahaguru berkenan untuk mengajar kalian."

“Kalau beliau tidak mau juga tidak apa-apa," kata Tuah si Laksamana, “bagaimana pun kami ingin bertemu dengannya Iebih dulu."

Setelah beristirahat semalam di kaki gunung, esok paginya Tuah dan keempat karibnya mendaki gunung, menemui Sang Persata Nala. Ternyata Sang Persata Nala berkenan menerima dan keempat karibnya sebagai murid. Lalu bergurulah mereka selama tiga hari tentang ilmu keprajuritan dan ilmu hulubalang. Hang Tuah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Hampir tiada mau ia berpisah dengan Sang Guru. Tak mengherankan kalau dia mendapat ilmu yang lebih banyak dibanding teman-temannya.

Setelah tiga hari, Hang Tuah dan teman-temannya mohon pamit kepada Sang Persata Nala untuk kemball ke Kotaraja Majapahit.

Hari kelima, Hang Tuah bersama teman-temannya sudah kembali berada di Kotaraja Majapahit. Mereka masih melihat kesibukan perhelatan pesta pernikanan itu. “Ke mana saja ananda-ananda ini? Lama sekali tak terlihat,” tanya Patih Gajah Mada kepada mereka.

“Maafkan saya, Paman. Saya sakit,” jawab Tuah yang lihai.

Seri Betara pun heran melihat Hang Tuah baru muncul. Saat beliau bertanya jawaban Hang Tuah tetap sama. Tanpa bertanya lagi, Seri Betara langsung berseru pada Sang Patih. “Hai, Patih Gajah Mada. Tolong ambilkan minuman arak empat piala untuk Laksamana!”

Hang Tuah dan para pembesar kerajaan lalu minum arak sambil bersuka ria. Walaupun sudah minum banyak, Hang Tuah tampak segar bugar.

“Seri Betara dan Patih Gajah Mada menjebak aku,” pikir Hang Tuah. “Apabila ak mabuk, aku pun akan mereka habisi.”

Hang Tuah tak habis pikir. Walaupun tampak baik, Raja Majapahit itu selalu ingin mencoba ketangguhannya dengan membuat kegaduhan dan tipu muslihat, peristiwa Taming Sari, dan saat ini, memaksanya agar mabuk. Untunglah, semuanya dapat dihadapi Hang Tuah.

Hingga pesta pernikahan selesai, Hang Tuah dapat melewati malam dan hari-hari selanjutnya dengan aman. Ketika pesta pernikahan selesai, Raja Syah Alam mohon pamit pulang ke Melaka bersama istrinya, Raden Galuh Mas Ayu.

Menjelang kepulangan ke Melaka, ketika Raja Syah Alam menghadap Seri Betara di istana untuk pamit. Hang Tuah bersama keempat karibnya pergi ke Taman Larangan yang hanya boleh dipakai Seri Betara dan permaisurinya. Mereka hendak membalas perbuatan yang dilakkan Seri Betara dan Patih Gajah Mada, yang sudah berkali-kali ingin membunuh mereka. Sesampainya di taman larangan, Hang Tuah menyergap penjaga taman yang sedang tertidur, lalu memaksanya membuka pintu taman.

“Tuan-tuan, jangan mandi di kolam Baginda Raja dan permaisuri itu!" seru penjaga taman saat melihat Hang Tuah dan keempat karibnya menceburkan diri ke kolam.

“Oleh karena taman Baginda Rajalah, kami mandi di sini,“ sahut Hang Jebat diikuti tawa keempat karibnya tanpa memperdulikan kekhawafiran penjaga taman.

Setelah puas mandi di kolam, kelima sekawan itu naik ke pinggir kolam. Berbagai bunga yang mekar mereka petik dan dibuat karangan bunga.

Karangan bunga itu mereka kalungkan ke leher masing-masing. Sesudah itu, mereka memetik dan memakan buah-buahan yang ada di situ, sambil bermain-main seperti anak kecil. Mereka berpantun.

Pantun Hang Jebat :
Hang Jebat Hang Kasturi,
Budak-budak Raja Melaka.
Jika hendak jangan dicuri,
Mari kita bertantang mata.


Pantun Hang Tuah :
Lokan melata di perahu,
Belah belang bercendawan.
Bukan aku tidak tahu,
Akulah hulubalang minta lawan.


Pantun Hang Kasturi :
Gajah lekir kuda perkasa,
Di mana akan aku hempaskan.
Sama lebur sama binasa,
Orang kaya di mana akan aku tunangkan.


Pantun Hang Lekir :
Adakah perisai bertali rambut,
Rambut dipintal tali cemara.
Adakah bisai tahu takut,
Kami pun muda lagi perkasa.


Pantu Hang Lekiu :
Ambil galah kaitkan jantung,
Kelelawar banyak makan di jalan.
Pada Tuhan kita bergantung,
Datang tombak kita melawan.


Karena takut, penjaga taman pun langsung melapor pada Seri Betara.

Mendengar laporan penjaga taman, Seri Betara bukan main geramnya. Raja Syah Alam yang duduk di sebelah Seri Betara pun segera menyela, “Ampunkan saya, Ayahanda! Saya tak tahu kalau Tuah dan teman-temannya berani bebuat lancang. Kalau memang oeroboh. hukumlah mereka dengan semestinya!” kata Baginda Raja Syah Alam tertunduk.

‘Hai. Pengawal. Kerahkan prajurit-prajurit bertombak ke sana! Bunuh si Tuah dan teman-temannya!” seru Seri Betara dengan rnarah.

Setibanya di taman larangan. para prajurlt langsung menyerang Hang Tuah dan teman-temannya. “Ini yang kucari,” gumam Tuah Sang Laksamana. Hang Tuah dan keempat kanbnya pun main libas saja. Hampir semua prajurit binasa di tangan mereka. Si komandan pengawal segera menghadap Seri Betara.

“Ya. Tuanku. Jangankan mati, luka pun mereka tidak. Sedangkan prajurit kerajaan binasa semua. Seorang pun tak ada yang tersisa.”

“Mari kita menghadap Seri Betara, mempersembahkan tombak prajuritnya yang putus ini," kata Tuah Sang Laksamana yang sakti kepada keempat karibnya. Mereka mencucu tangan di kolam, kemudian pergi ke paseban istana.

Seri Betara segera memalingkan muka saat melihat kedatangan Tuah Sang Laksamana dan teman-temannya. Namun, Laksamana Hang Tuah tetap saja menghadap dan memberi hormat kepada Seri Betara.

“Ya Tuanku. Ampunkan kami! Kami ini tidaktahu kalau tempat kami mandi itu taman larangan, sehingga kami dikepung oleh para prajurit. Kami pun tidak tahu kalau Tuanku ingin memperingatkan kami. ltulah sebabnya, semua prajurit kami lawan,” Tuah Sang Laksamana coba menjelaskan.

“Jika Laksamana Hang Tuah memang tak tahu bahwa itu taman larangan, apa mau dikata,” kata Seri Betara kemudian. “Tetapi jika orang Iain yang berbuat demikian, tahulah dia balasan apa yang mesti diterimanya.”

Baginda Raja Syah Alam bersama istrinya, Raden Galuh Mas Ayu, dan rombongan kemudian pamit pulang ke Melaka.


Bersambung ke :

HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU Bagian Kedua

Bacaan Lain :
Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi
PATRIOTISME HANG TUAH
Hikayat Hang Tuah, antara Sejarah dan Mitos