Tari Cegak, Mengobati Penyakit Dengan Berbaju Kresek Pisang

Warisan Budaya Tak Benda Riau 2019 Tari Cegak

RiauMagz.com - Tari Cegak menjadi salah satu budaya dari suku Bonai yang ada di daerah Rokan Hulu, Riau. Cegak berasal dari bahasa setempat yang artinya sehat. Tarian penuh legenda ini menjadi satu dari sekian banyak tradisi yang dimiliki suku Bonai dan sudah diangkat dalam warisan budaya Riau yang perlu dilestarikan. Berdasarkan penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Riau tahun 2019 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tarian ini menjadi satu dari enam warisan budaya tak benda lainnya yang diresmikan secara sah.

Tarian ini diketahui menjadi salah satu identitas budaya suku Bonai. Memiliki legenda dan sejarah yang khusus, lalu kini mulai dikembangkan oleh koreografer menjadi salah satu bentuk tarian unik dengan gerakan yang lebih variatif.

Legenda Tari Cegak

Tarian Cegak ini pada dasarnya merupakan gerakan silat. Hal didasarkan pada cerita legendanya yang memang berasal dari kisah para pesilat yang menuntut ilmu. Dahulu kala di daerah Ulak Patian, Kecamatan Bonai, Rokan Hulu tinggal beberapa orang pemuda yang menuntut ilmu kesaktian. Mereka belajar ilmu bela diri dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya menguasai ilmu tersebut.

Namun, di satu sisi mereka tidak ingin diketahui banyak orang, termasuk para musuh yang berniat jahat kepada mereka. Lalu mereka pun mencari daun-daun pisang kering untuk menutupi tubuh mereka agar tidak bisa dilihat oleh musuh. Daun pisang digunakan untuk menutupi tubuh sementara untuk penutup kepala digunakan daun pinang. Namun, suatu keanehan terjadi. Setelah mereka menguasai ilmu yang mereka pelajari, daun-daun yang ada di tubuh dan kepala mereka malah tak bisa dilepas. Daun-daun tersebut tetap menempel di tubuh dan tak bisa dilepaskan.

Berbagai cara sudah dilakukan untuk menghilangkan daun-daun tersebut tetapi tak kunjung berhasil. Akhirnya mereka pun tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan menggunakan daun-daun yang menempel di tubuh. Mereka melakukan aktivitas layaknya warga kampung lainnya dan lama kelamaan orang kampung yang semula memandang aneh kepada mereka merasa terbiasa dengan penampilan tersebut. Mereka pun diterima kembali layaknya orang-orang lain yang ada di kampung.

Suatu hari di kampung tersebut digelar acara hiburan yang memainkan musik gondang barogong. Para pemuda ini ikut bergembira dan asyik mengikuti suasana yang ada. Mendengar alunan musik tersebut, para pemuda tersebut secara refleks langsung mengikuti irama yang ada sambil memainkan gerakan-gerakan silat yang mereka kuasai. Anehnya, setelah mereka mengikuti gerakan tersebut, daun-daun yang ada di tubuh mereka pun bisa terlepas dan dibersihkan.

Alangkah gembiranya para pemuda tersebut dengan kondisi yang dialaminya. Warga kampung pun bahagia. Sejak saat itu, gerakan-gerakan yang dilakukan para pemuda tersebut pun dijadikan sebagai gerakan tarian seni yang diberi nama Tari Cagak atau tari sembuh karena sudah terbukti menyembuhkan para pemuda yang memiliki tempelan daun-daun di tubuh mereka.

Tata Cara Pelaksanaan Tari Cegak

Tari Cegak saat ini menjadi salah satu pertunjukan hiburan bagi masyarakat suku Bonai. Tarian ini dilakukan oleh para penari yang menggunakan daun-daun pisang kering pada tubuhnya membentu kostum. Sementara pada bagian kepala menggunakan pelepah pinang yang dibentuk menyerupai topeng. Tarian ini dilakukan dengan mengikuti 12 jenis gerakan di antaranya:
  1. Gerak silek pembuka
  2. Ancang-ancang
  3. Gerak Tikam Satu
  4. gerak Tikam Dua
  5. Gerak Tikam Tiga
  6. Gerak Tikam Empat
  7. Gerak Masuk Lua
  8. Gerak Masuk Dalam
  9. Gerak Guguo
  10. Gerak Guguo Busamo
  11. Gerak Bangkik
  12. Gerak Penutup.

Properti yang digunakan dalam tarian ini di antaranya ambung dan kajo. Menggunakan empat hingga lima orang pemain musik yang masing-masing memainkan alat musik tradisional seperti calempong, gong dan gendang. Waktu pelaksanaan tarian ini tidak dibatasi. Boleh dimainkan di siang atau malam hari. Lokasinya pun boleh di mana saja, di halaman rumah, di lapangan, di ruangan, pasar atau juga panggung pertunjukan yang dibuat secara khusus. Keberadaan tarian ini disambut baik oleh masyarakat setempat dan menjadi salah satu identitas budaya yang dipertahankan hingga kini.

Tarian Cegak diketahui memiliki beberapa aspek sekaligus yang semakin memperkaya keberadaan tradisi ini, di antaranya:
  1. Aspek sejarah
  2. Aspek adat
  3. Aspek masyarakat
  4. Aspek agama
  5. Aspek pendidikan
  6. Aspek seni dan pertunjukan.

Kekayaan aspek yang dimiliki Tari Cegak membuat keberadaan tradisi ini terus bertahan hingga kini, bersaing dengan aneka budaya modern yang muncul dalam kehidupan suku Bonai. Saat ini para koreografer dan pegiat seni di daerah setempat telah berusaha menampilkan tradisi ini dalam kemasan modern yang lebih segar. Tari Cegak dikemas dengan sajian yang lebih kreatif dan inovatif sehingga pada tahun 2013 lalu, tarian ini ikut dipertontonkan dalam sajian parade tari Riau.

Tari Cegak Diresmikan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Riau Tahun 2019

Keunikan tradisi Tari Cegak sebagai salah satu identitas budaya dari suku Bonai yang ada di Rokan Hulu telah memenuhi syarat untuk diajukan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Riau yang harus dilindungi. Bersama 60 kebudayaan tak benda lainnya, tarian ini pada tahun 2019 diajukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Riau sebagai satu dari sekian banyak warisan budaya paling unik dan mendesak untuk dilestarikan di Riau.

Kekayaan aspek yang dimiliki, keunikan, kondisi yang semakin terancam punah dan beberapa kekayaan aspek yang dimilikinya menjadi salah satu penyebab akhirnya Tari Cegak ini ditetapkan pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai satu dari enam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Riau yang disahkan tahun 2019.

Penetapan sertifikan WBTB dari Tari Cegak ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pelestarian dan konservasi tradisi tari suku tradisional yang ada di Riau. Saat ini bila kita lihat keberadaan tarian tradisional ini sudah terancam punah seiring masuknya budaya-budaya modern. Padahal tarian ini memiliki kekayaan tradisi yang langka dan menjadi identitas budaya suku asli yang ada di Riau.

Tak hanya Tari Cegak, tahun 2019 ini budaya suku Bonai lainnya yang Buwong Kuwayang sebagai salah satu upacara pengobatan suku asli tersebut juga masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ditetapkan pemerintah di tahun 2019. Ada dua tradisi suku Bonai yang dipandang unggul dan memiliki kekayaan aspek dalam kehidupan masyarakat setempat dalam kondisi yang sudah hampir punah dan mendesak untuk segera dilestarikan.

WBTB di tingkat nasional ini sebagai awal dari rujukan pemerintah untuk mengajukan situs-situ budaya yang dimiliki Indonesia ke lembaga internasional seperti UNESCO. Penetapan ini juga diharapkan menjadi langkah kebijakan bagi pemerintah provinsi untuk melestarikan dan menghidupkan tarian unik dari negeri seribu suluk tersebut. Kamu penasaran ingin menyaksikan tarian ini? Datanglah sesekali ke kawasan suku asli Bonai. Kamu bisa melihat lebih dekat tradisi langka ini.


Tari Cegak Suku Bonai, Bonai Ulak Patian, Rokan Hulu, Riau

RiauMagz, Wisata Riau, tradisi penyembuhan melalui tari cegak yang menggunakan kersek pisang atau daun pisang kering yang disebut latah dengan topeng dari kulit kayu ataupun pelepah pinang.