Syair Surat Kapal, Berbuku-buku yang Penuh Ajaran

Warisan Budaya Tak Benda Riau 2019 Syair Surat Kapal

RiauMagz.com - Syair Surat Kapal merupakan salah satu tradisi masyarakat Indragiri, khususnya Indragiri Hulu yang Masih bisa ditemukan hingga saat ini. Syair ini pada masa dahulu merupakan rangkaian syair yang dibacakan dalam penyelenggaraan pernikahan masyarakat Indragiri Hulu. Syair Surat Kapal yang berisi tentang kisah perjalanan hidup pasangan yang menikah dibacakan dan menjadi salah satu kegiatan hiburan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Tradisi ini terbilang unik dan sudah mulai langka seiring dengan perkembangan budaya pernikahan modern di daerah Indragiri. Oleh karena itu, tak heran jika pada tahun 2019 ini, Syair Surat Kapal masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Provinsi Riau yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pelaksanaan Tradisi Syair Surat Kapal Indragiri

Tradisi Syair Surat Kapal ini pada awalnya dilakukan untuk kegiatan pesta pernikahan, tetapi seiring berkembangnya kehidupan modern, syair ini juga dilakukan di kegiatan-kegiatan resmi seperti hari besar Islam, acara resmi pemerintah dan sebagainya.
Pada tradisi pernikahan, syair ini biasanya akan dibacakan oleh pihak kaum pria yang mengantarkan rombongan pengantin lelaki ke rumah pengantin wanita. Simbol yang dipakai biasanya sebuah kapal kayu mini yang lengkap dengan nakhoda, juru batu, tukang kelasi, tukang masak, tukang cincu, juru mudi dan sepucuk surat berisi syair surat kapal.

Salah satu kandungan isi surat yang dominan adalah unsur ajaran. Pada mulanya syair-syair surat kapal ini ditulis dalam tulisan Arab Melayu, tetapi seiringnya waktu penulisannya kini menggunakan aksara Indonesia dalam ragam bahasa Melayu.

Dahulu, surat kapal dibacakan dalam jumlah yang sangat banyak, berlembar-lembar dan berbuku-buku. Namun, seiringnya waktu, kini pembacaan surat kapal ini hanya sejumlah 30 hingga 60 bait saja. Hal ini disebabkan karena pada masa lalu, keberadaan surat kapal ini juga menjadi hiburan acara pesta perkawinan yang digelar, sementara untuk saat ini orang menggunakan rangkaian acara ini hanya sekedar sebagai pelengkap tradisi adat saja, bukan sebagai hiburan yang ditunggu-tunggu.

Pola persajakan dalam sebuah syair di dalam surat kapal adalah bebas. Tak sama seperti sajak puisi atau sejenisnya. Unsur humor pun menjadi hal yang sering ditemukan dalam setiap naskah syair tersebut.

Irama syair Surat Kapal awalnya sangat menyerupai irama-irama dalam bacaan ayat suci Al-Quran ataupun irama al-Barjanzi. Tangga anada Arab yang digunakan adalah Makam Hijaz dari alur melodi hingga ornamentasi yang digunakan.

Contoh Syair Surat Kapal

Guna mengetahui lebih jelas seperti apa model persajakan dan ragam bahasa yang digunakan, berikut ini beberapa contoh bait Syair Surat Kapal:
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah
Atas musyawarah mufakat semue panitie
Melaksanekan tugas dengan bijaksane
Siang malam bekerja tak terase lelah

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah
Atas musyawarah mufakat semua panitia
Melaksanakan tugas dengan bijaksana
Siang malam bekerja tak terasa lelah.
(Gafar, 2004)

Sayang dan cinte sudah melokat
Seribu kate janji telalu diucap
Ketimbang celake membawe laknat
Restu keluarge mesti perolu didapat

Sayang dan cinta sudah melekat
Seribu kata janji terlanjur diucap
Daripada celaka membawa laknat
Restu keluarga mesti perlu didapat.
(Kadir, 2005)

Juragan laksmana R. Ahmad menghadap ayah
Bapak H.R. Adnan Husin dan Ibu Hj. R. Husna tersenyum saja
Apa maksud ananda sampaikan segera
Cepatlah ayah dan Mak melamar jangan ditunda.
(Gafar, 2004)

Baru sonang hati Cik Zulfarianto
Sehari tak makan tak teraso lapo
Dulu bimbang letak bepikio
Kinilah aman mate pun sodaplah tido

Baru senang hati Cik Zulfarianto
Sehari tak makan tak terasa lapar
Dulu bimbang capek/lelah berpikir
Kinilah aman mata pun sedaplah tidur.
(Kadir, 2008)

Cik Suhat punye anak perawan seorang
Dahulu kocik akhirnye godang
Ibarat bunge di taman lah kombang
Tontu tetarik dihampiri si kumbang
(Kadir, 2005)


Contoh lainnya yang pernah dilantunkan oleh Idawati:
Karena melayu ternama kaya
Datanglah kaum berbilang bangsa
Merampas harta merebut kuasa
Mengadu domba sama sebangsa

Melaka pun jatuh ke tangan portugis
Melayu yang besar mulai mengempis
Daulat mengecil tuah menipis
Massa jayanya berangsur terkikis

Syukurlah Allah Maha Penyayang
Melaka jatoh Johor berkembang
Bagaikan kayu di tengah padang
Kesana pula Melayu menumpang


Syair Surat Kapal Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Tahun 2019

Sebagai salah satu tradisi lisan masyarakat Melayu Indragiri, Syair Surat Kapal ini sudah terbilang langka dan mulai ditinggalkan orang. Padahal tradisi ini menjadi identitas yang penting bagi kehidupan masyarakat Melayu di Indragiri. Atas kondisi inilah maka pada tahun 2019, budaya tak benda Syair Surat Kapal ini diajukan dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Riau untuk masuk dalam daftar WBTB Nasional melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tepat pada tanggal 8 Oktober 2019, budaya tak benda Syair Surat Kapal ini disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional dan mendapatkan sertifikat langsung dari Kemendikbud RI. Tradisi ini dianggap memiliki banyak aspek kehidupan yang bermanfaat cukup banyak bagi kehidupan suku Melayu. Selain itu, perkembangan budaya pernikahan secara modern sedikit demi sedikit telah mengalihkan orang dari tradisi unik ini. Syair Surat Kapal ini pun semakin langka dan mulai jarang dipakai orang. Generasi muda sudah banyak yang tidak tahu tradisi ini, bahkan di lingkungan masyarakat Melayu sendiri. Kondisi ini dipandang sudah cukup mendesak dan menjadi alasan yang kuat mengapa tradisi tak benda Syair Surat Kapal masuk dalam daftar WBTB 2019 dari Provinsi Riau. Dinas Kebudayaan Provinsi Riau berhasil memperjuangkan Syair Surat Kapal terpilih sebagai WBTB dari Riau bersama 5 budaya tak benda lainnya yang disahkan pada waktu yang sama.

Disahkannya Syair Surat Kapal dalam WBTB 2019 menjadikan langkah upaya untuk mengembangkan dan mempertahankan tradisi unik orang Indragiri ini perlu semakin digiatkan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:
  1. Memperkenalkan tradisi ini dalam bentuk yang lebih modern dan menarik di kalangan generasi muda, terutama generasi milenial ke atas yang membutuhkan konsep penyajian tradisi dengan cara yang lebih kreatif dan memanfaatkan unsur teknologi.
  2. Mempertahankan kelestarian tradisi ini menggunakan sarana tekstual maupun nontekstual, seperti misalnya penulisan buku-buku yang bukan hanya untuk kalangan terbatas orang tua. Perlu juga menggarap sebuah buku untuk anak yang memuat tradisi ini untuk memperkenalkan Syair Surat Kapal kepada anak dengan cara yang lebih menarik.
  3. Menjaga kelestarian tradisi ini dengan mempertahankan pelaksanaannya di kegiatan-kegiatan resmi daerah, pernikahan pejabat, tokoh adat atau di panggung-panggung seni budaya yang ada untuk tetap menjaga kelangsungan pelaksanaan tradisi tersebut.
  4. Memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai perluasan tradisi budaya yang bisa lebih menyasar ke semua kalangan. Membuat konten digital yang lebih kreatif dan menarik bagi pengguna sosial media.

Syair Surat Kapal saat ini telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda yang dilindungi di tingkat nasional. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah daerah melestarikan tradisi ini. Jangan hanya bangga dengan raihan sertifikat pengesahan, hal yang lebih penting adalah upaya konservasi setelah itu.

RiauMagz, Wisata Riau, Syair karya sastra Melayu.