Pengembangan Pariwisata Religius Berbasis Masjid di Indonesia

MESJID SYAHABUDDIN SIAK RIAU

RiauMagz.com - Pemerintah terus menggalakkan pengembangan pariwisata halal di dalam negeri. Salah satu icon wisata halal Indonesia yang sedang dibangun dan dikembangkan adalah masjid.

Menurut Wapres Jusuf Kalla, keberadaan masjid di Indonesia bukan hanya sebagai icon keagamaan, tapi juga banyak yang menjadi simbol budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, keberadaan masjid menjadi sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu bagian dari destinasi wisata halal di Indonesia.

Dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki banyak sekali masjid-masjid yang bukan hanya bersifat iconic keagamaan, tetapi juga memiliki riwayat sejarah dan budaya religi di masa lampau. Jika dikembangkan dengan baik, potensi masjid-masjid tersebut akan sangat menjanjikan.

Nota Kesepahaman antara Kementerian Pariwisata dan Dewan Masjid Indonesia
Untuk mendukung pengembangan pariwisata halal di Indonesia, Kementrian Pariwisata bersama dengan Dewan Masjid Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman tentang Pengembangan Pariwisata Religi Berbasis Masjid di Indonesia. Nota yang ditandatangani tersebut bernomor:
Nomor:NK.115/KS.001/SESMEN/KEMPAR/2017
Nomor :079/PP-DMI/MoU/B/VI/2017

Nota tersebut ditandatangani oleh Ukus Kuswara selaku Sekretaris Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dan KH. Masdar Farid Mas’udi sebagai Wakil Ketua PP DMI. Kedua pihak bersepakat untuk mensinergikan kegiatan-kegiatan yang saling terkait dalam suatu kegiatan bersama dalam rangka pengembangan pariwisata religius berbasis masjid.

Nota kesepahaman ini dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan masjid sebagai pusat tempat beribadah, pusat pariwisata religi, pengembangan masyarakat dan persatuan ummat dan bangsa, serta tercapainya masyarakat yang adil dan makmur di wilayah NKRI. Nota kesepahaman yang ditandatangani tahun 2017 ini berlaku hingga tiga tahun sejak dari ditandatangani.

Potensi Wisata Religius Berbasis Masjid di Indonesia
Wisata religius merupakan wisata yang menekankan pada destinasi wisata bersifat religius. Indonesia memiliki banyak sekali destinasi wisata religius, bahkan jumlahnya mengalahkan Malaysia yang saat ini menduduki peringkat pertama wisata halal versi GMTI.

Beberapa destinasi wisata religius yang cukup banyak di Indonesia seperti makam para wali dan raja-raja kerajaan Islam, istana kerajaan Islam, masjid dan sebagainya.

Masjid menjadi salah satu icon wisata religius yang cukup kuat di Indonesia. Masjid di Indonesia umumnya dibangun dengan arsitektur yang megah, mewah dan memiliki sejarah keislaman yang kuat dalam pendiriannya. Potensi ini sangat menjanjikan jika dikembangkan layaknya masjid di negara-negara Timur Tengah yang mampu mengundang wisatawan mancanegara.

Turki misalnya dikenal dengan banyaknya masjid bersejarah, seperti Masjid Biru, Maroko dikenal dengan Masjid Hassan di Casablanca yang berlokasi di tepian laut dan mengundang banyak wisatawan. Indonesia memiliki Masjid Istiqlal, masjid-masjid akbar yang ada di hampir setiap provinsi di Indonesia. Bahkan di antaranya memiliki sejarah keislaman yang cukup kuat pada masa kerajaan Islam.

Pengembangan masjid sebagai destinasi wisata religi juga akan membantu manajemen dan pengelolaan masjid lebih baik lagi. Misalnya masjid bisa lebih bersih, lebih rapi, lebih indah, lebih memiliki program-program pemberdayaan yang dikenal masyarakat.

Memperkenalkan pada Wisatawan, Bukan Komersialisasi
Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wisata religius berbasis masjid adalah upaya pengembangan potensi dari masjid terkait agar keberadaan masjid bisa mencapai tujuan yang lebih luas untuk kebaikan ummat Islam. Jadi bukan mengkomersilkan masjid tetapi memperkenalkan masjid tersebut kepada wisatawan secara lebih luas.
Keberadaan masjid sebagai salah satu destinasi wisata religius diharapkan akan memberikan beberapa manfaat kepada masyarakat, di antaranya:
  1. Masjid lebih dikenal banyak orang, wisatawan lokal dan asing memungkinkan datang ke tempat wisata tersebut.
  2. Manajemen masjid bisa lebih professional, dalam hal kebersihan, kerapihan, program-program hingga pembangunan dan pengembangannya.
  3. Memungkinkan banyak orang merasakan syiar dan dakwah dari masjid terkait.
  4. Memungkinkan devisa untuk pemberdayaan masjid terkait.

Sudah saatnya para pengurus masjid di Indonesia berbenah pada pengelolaan masjid. Pengelolaan yang lebih professional akan membuat jamaah nyaman beribadah, orang senang datang ke masjid dan syiar dakwahnya pun lebih terasa.

Salah satu masjid yang cukup dikenal di Jogjakarta adalah Jogokariyan. Masjid ini melalui pengelolanya Ustadz Salim A Fillah telah sering diundang ke berbagai negera Eropa untuk berbagi pengalaman bagaimana pengelolaan dan pemberdayaan masjid agar lebih efektif. Saat ini masjid ini selalu menjadi daya tarik wisatawan muslim yang datang ke Jogja. Berkunjung ke Jogokariyan dianggap sebagai wisata religi yang punya makna tersendiri. Siap memakmurkan masjid?


RiauMagz, Wisata Riau