Penangkal Hoax

cara menangkal hoax

RiauMagz.com - Era sosial media yang begitu kuat saat ini membawa kita pada fenomena akses berita dan informasi yang begitu cepat. Dalam hitungan detik hingga menit saja, suatu peristiwa di ujung dunia sudah bisa sampai ke ujung dunia yang lain. Di satu sisi kondisi ini memberikan dampak positif bagi penyebaran informasi yang lebih cepat, tetapi dalam kondisi masyarakat yang belum siap, fenomena ini membuat apa yang saat ini trend dikatakan sebagai ‘hoax’ terjadi di mana-mana. Bahkan tanpa sadar kita juga termasuk penyebar hoax ketika menyebarkan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya. Lebih kepada faktor emosi membuat kita tidak lagi bersikap menyaring informasi yang masuk, terlebih lagi jika kita memiliki tingkat literasi yang rendah.

Dalam kamus Merriam-Webster kata hoax (dibaca hoks) berarti untuk mengelabui kepercayaan seseorang atau banyak orang untuk menerima informasi sebagai sesuatu yang asli atas sesuatu yang salah, bahkan sering tidak masuk akal. Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hoax ditulis menjadi hoaks (ho.aks) yang berarti berita bohong.

Dengan kondisi hampir semua orang memiliki peralatan dan akses internet, khususnya di perkotaan, semakin membuat penyebaran informasi semakin cepat. Hanya dalam hitungan beberapa waktu kita telah tahu ada kecelakaan pesawat Lion Air JT610 dan hanya sekejap kemudian muncullah informasi yang salah tentang selamatnya anak bayi dari kecelakan tersebut. Kemudian muncul pula video simulasi yang salah tentang jalur penerbangan pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut.

Cara Menyikapi Berita atau Informasi Untuk Menangkal Hoax
Agar tidak terjebak pada kelompok penyebar hoax di sosial media, maka kita harus tau bagaimana sih sebenarnya mekanismenya kalau kita mendapatkan informasi yang baru kita baca. Jangan terburu-buru menyebarkannya, tetapi cobalah lebih dulu untuk melakukan hal-hal berikut:
  1. Cek kebenarannya
    Redakan emosi saat membaca pesan atau status di sosial media. Dengan begitu Anda akan berpikir lebih dulu sebelum membagikan sesuatu. Cek dulu kebenaran informasi yang Anda baca tersebut. Apakah benar atau tidak? Lihat sumbernya, lihat link yang ditampilkan apakah dari sumber yang terpercaya atau tidak. Jangan terjebak dengan beriti keburukan yang cenderung memfitnah dan sejenisnya. Jangan ikut menyebarkan keburukan orang lain. Bukankah sama saja Anda membagikan berita kepada orang lain seperti Anda bercerita dengannya. Jika berita itu bohong maka akan menjadi fitnah. Pilihlah konten yang mendidik untuk dibagikan.
  2. Cek manfaatnya
    Jika informasi itu memang benar adanya, periksa lagi apakah konten tersebut bermanfaat atau tidak bagi orang lain yang membacanya. Jika bermanfaat sebarkan karena akan memberikan kebaikan pada orang lain dan juga bagi Anda. Konten yang baik adalah yang mendidik, yang memotivasi orang untuk berbuat baik dan terinspirasi. Ada juga yang sifatnya ingin menghibur, tetapi jika manfaatnya kurang atau justru menimbulkan persepsi negative dari orang lain, maka lebih baik jangan dibagikan.

Bila Anda mendapatkan informasi yang kebenarannya masih diragukan, atau bahkan berita tersebut sifatnya bohong, maka jangan sekali-kali menyebarkan informasi tersebut karena bukan hanya beban moral yang akan Anda dapatkan saat menyebarkan hoax, tetapi saat ini juga sudah banyak ancaman pidana terkait dengan penyebaran informasi di sosial media dan internet.

Mengapa Kita Menyebarkan Informasi?
Permasalahan yang umum terjadi adalah orang tidak tahu pasti berita atau informasi tersebut benar atau tidak, tapi buru-buru membagikannya pada orang lain karena :
  1. ada rasa emosi,
  2. perasaan ingin berbagi,
  3. perasaan ingin ngobrol di dunia maya (gosip)
  4. pengen eksis dan sebagainya.
Obrolan di dunia maya terasa begitu mengasyikkan, terlebih lagi jika ada sebuah berita obrolan yang sedang trend dan hangat. Tanpa melihat sumber berita yang benar atau tidak, orang banyak larut menyebarkan informasi yang belum tentu benar dan belum tentu bermanfaat.lalu berharap ada perbincangan di sosial media.

Pandangan Islam Tentang Cara Menyebarkan Berita
Islam memerintahkan kepada ummatnya untuk memeriksa lebih dulu kebenaran informasi atau berita yang diterima dari orang-orang munafik. Hal tersebut memunculkan apa yang disebut dengan istilah tabayyun atau klarifikasi terhadap objek yang diberitakan. Memperbanyak perbincangan akan orang lain akan mendekatkan seorang muslim pada keburukan. Jika berita itu tidak nyata maka sifatnya fitnah, dan bila hal tersebut nyata tetapi tetap dicaci maki dan dihujat maka akan memunculkan ghibah di dunia maya. Maka jagalah adab berbicara, bicaralah pada hal yang bermanfaat dan hindarkan untuk membicarakan banyak hal yang tidak penting apalagi terjebak pada fitnah dan ghibah.

Rasulullah saw memerintahkan kita untuk berbicara hal-hal yang baik. Semakin banyak kita bicara maka peluang untuk salah semakin besar, peluang untuk mengatakan hal yang sifatnya dusta akan semakin mungkin. Bicara yang baik, dan bila tidak bisa maka diam lebih baik.

Memberikan kritik atau saran atau kesalahan yang dilakukan seseorang tidak selamanya harus dilakukan melalui sosial media, dan jika pun harus melalui sosial media maka gunakan cara-cara yang mendidik bagi masyarakat yang melihatnya. Era sosial media membuat orang begitu mudah untuk menyanjung seseorang lalu dengan mudah pula bisa menjatuhkan seseorang hanya melalui sosial media.

Pentingnya Literasi Sebagai Penangkal Hoax
Bagaimana kita bisa memastikan apakah informasi atau berita yang kita dapatkan itu benar sifatnya atau tidak? Di sinilah pentingnya literasi. Orang yang bisa membedakan mana berita benar dan mana berita salah adalah orang yang banyak membaca sehingga ketika dia mendapatkan informasi yang salah, ia tidak lantas latah membagikannya.

Bagaimana kita bisa tahu kalau berita tersebut bohong kalau kita tidak terbiasa membaca informasi di berbagai tempat. Di buku, di majalah, di jurnal, seminar, perpustakaan dan hal-hal lain yang membuat pengetahuan kita bertambah. Misalnya ada orang yang membuat broadcast di WA mengatakan fungsi buah A untuk menyembuhkan penyakit X. Jika kita rajin membaca kita akan tahu jika informasi tersebut salah, karena faktanya buah A bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit C.

Begitulah perumpamaannya. Di era sosial media ini kita jangan latah berbagi informasi jika kita tidak tau sumber pasti kebenarannya. Perbanyak membaca saja, bukan hanya dari sumber-sumber yang tidak jelas di internet, tapi pastikan banyak membaca referensi primer seperti jurnal, buku, dan teks-teks valid lainnya yang jelas sumber dan referensinya. Ini merupakan bagian dari budaya literasi yang harus dibangun untuk mencerdaskan kehidupan sosial media di Indonesia. Pengaruhnya juga untuk memberikan kebaikan bagi para netizen, tidak latah berbagi informasi yang dampak akhirnya menyebabkan masalah hukum dan sebagainya.

Hoax dan Politik
Ada definisi lain tentang hoax apabila di bawa ke ranah politik. Politik kadang memang kejam, ia bisa merubah A menjadi B, merubah yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Adakalanya makna hoax dipolitisir oleh sebagian orang. Yang dianggap hoax segala informasi atau berita yang tidak sesuai dengan keinginan kelompok tertentu, sedangkan yang benar adalah yang memang sesuai dengan keinginan kelompoknya. Akibatnya makna hoax pun dipolitisir. Yang benar menjadi salah, dan yang salah dianggap benar.

Lalu solusinya tetap pada literasi. Kemampuan Anda memeriksa kebenaran informasi yang diterima sangat berbanding lurus dengan pengetahuan yang Anda miliki. Pengetahuan itu akan muncul jika Anda rajin membaca, rajin mengetahui informasi yang valid dari sumber-sumber yang terpercaya. Sehingga Anda akan tau, mana kebenaran yang dipolitisir dan mana kebenaran yang sesungguhnya. Di tahun-tahun politik seperti di Indonesia saat ini, sudah sangat penting bagi para netizen untuk semakin banyak memeriksa segala informasi berita yang ia terima, dengan kemampuan literasi yang baik.

Dampak Hoax
Hoax jelas sangat merugikan bagi yang mempercayainya. Apa dampak lainnya :
  1. Reputasi buruk. Informasi yang salah dapat membuat reputasi yang buruk bagi pihak yang tersangkut didalam informasi tersebut.
  2. Fitnah. Fitnah kebih kejam dari pembunuhan.
  3. Menurunkan tingkat kepercayaan
  4. Saling curiga mencurigai dalam hubungan bermasyarakat.
  5. Konflik sosial
  6. Radikalisme

Dimana kita dapat tahu tentang suatu informasi yang hoax?
Ada sekumpulan masyarakat Indonesia yang khusus membahas informasi atau berita yang salah. Merka tergabung dalam Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax FAFHH. Bagi yang sudah bosan kebanjiran berita hoax, fltnah, dan provokasi (hasutan), silakan bergabung. Mari bersama kita berbagi berita yang benar di FAFHH.

Grup: facebook.com/groups/fafhh

Page: facebook.com/mafindoid

Twitter:
twitter.com/turnbackhoax
twitter.com/mafindoid

Instagram:
instagram.com/turnbackhoaxid/
instagram.com/maflndoid

Basis data hoax: www.turnbackhoax.id

Jika ingin melapor sesuatu yang hoax atau mempertanyakan sesuatu informasi atau berita hoax:
turnbackhoax.id/lapor-hoax/
+62-811-9464-644 (Whatsapp/SMS)

Aplikasi Hoax Buster Tools (HBT): https://goo.gl/afQ58k
aplikasi ini tersedia di Google Playstore, silahkan cari dengan nama Hoax Buster Tools yang dipublikasi oleh akun Mafindo.


Rencananya artikel ini akan disampaikan dalam Millennials Peace Festival (MP-Fest) di SMAN 8 Pekanbaru
RiauMagz