Relawan RIAU CARE INDONESIA menuju Palu-Donggala


RiauMagz.com - *Laporan Perjalanan Relawan RIAU CARE INDONESIA menuju Palu-Donggala*

*Mamuju - Palu, 06 Oktober 2018*

Pagi sebelum keberangkatan dari posko Mamuju di Rumah Jabatan Wakil Bupati Kabupaten Mamuju menuju ke Palu, sebuah broadcast dari Whatsapp (WA) masuk ke grup WA relawan Riau Care Indonesia (RCI). Broadcast itu isinya cukup membuat mental kami agak terguncang, dimana isinya adalah berita duka tentang meninggalnya salah seorang relawan yang sedang bertugas di Palu. Menurut informasinya, relawan tersebut meninggal karena kecapean dan diserang infeksi akibat udara yang sudah tercemar oleh bakteri-bakteri yang keluar dari mayat dan bangkai yang sudah beberapa hari belum terurus.

Dr. Mujaddid Abdi yang biasa kami panggil dr. Acid langsung bergerak cepat memeriksa dan memastikan kondisi anggota tim dan khususnya kondisi Muhammad Perismon yang malamnya sempat demam tinggi. Dr. Acid juga membagikan vitamin serta berpesan untuk relawan agar nanti di lokasi bencana selalu memakai masker, sarung tangan, kaos kaki dan alat pelindung diri (APD) lainnya serta mengingatkan untuk tidak bersentuhan langsung dengan mayat atau para warga yang terserang penyakit menular tanpa menggunakan APD.

*Empati Warga di Sepanjang Jalan*
Setelah memastikan kondisi kesehatan para anggota tim dalam keadaan yang baik, maka rombongan pun berangkat tepat pukul 10.00 Wita dari posko Rumah Jabatan Wakil Bupati Kabupaten Mamuju menuju ke Palu.

Satu mobil avanza yang berisi mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Hasanuddin menjadi mobil terdepan, yang kemudian diikuti oleh mobil truk bantuan, kemudian mobil yang ditumpangi tim RCI dan dibelakang kembali mobil avanza para adik-adik mahasiswa yang luar biasa ini, yang memiliki sense of humanity yang tinggi.

Dalam perjalanan kami sering melewati dan dilewati oleh rombongan-rombongan lain, baik para relawan maupun konvoi truk-truk bantuan. Yang paling berkesan dan menarik adalah rombongan besar dari Kabupaten Bone yang jumlahnya mencapai 200 mobil, diantaranya 150 truk berisi bahan bantuan.

Menurut Ustadz Irfan dari Organisasi Wahdah Islamiyyah Bone yang bergabung dalam rombongan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Bone bersama Pihak Polres Bone dan Dandim Bone sengaja melakukan koordinasi dengan seluruh pihak dan merangkul semuanya untuk sama-sama bergerak membantu Palu, Donggala dan Sigi.

"Langsung Pak Bupati, Kapolres dan Dandim yang terjun langsung mengkoordinasikan semuanya, sehingga kami bisa berangkat lebih kurang 200 unit mobil ini," ujar Ustadz Irfan.

"Bantuan berasal dari semua kalangan dan banyak organisasi yang menggalang, namun semua dikumpulkan atas nama Pemkab Bone, walaupun organisasi-organisasi itu boleh juga membawa nama masing-masing," sambungnya.


Tidak hanya para relawan maupun donatur, masyarakat di sepanjang jalan, terutama sejak dari Kabupaten Mamuju sampai nanti memasuki Kota Palu juga menunjukkan rasa empati mereka dengan mendirikan posko-posko dan rest area bagi para relawan yang menuju ke Palu. Hampir setiap masjid-masjid yang berada di sepanjang jalan itu ada posko-poskonya. Dan di setiap posko dan rest area itu menyediakan makanan dan minuman gratis bagi para relawan atau para pengungsi dari Poso yang melewati jalur tersebut.


Salah satu posko yang sempat kami singgahi di kelurahan Pasang Kayu, Kecamatan Pasang Kayu dibuat oleh para ibu-ibu dengan cara iuran. Posko tersebut menyediakan makanan baik nasi maupun mie rebus atau mie goreng, juga tersedia berbagai macam gorengan serta teh dan kopi. Pemeriksaan kesehatan juga disediakan pada posko ini, yang langsung ditangani oleh Bidan Ira, pimpinan Puskesmas Pembantu wilayah tersebut. Bahkan dr. Acid pun menyempatkan diri untuk memeriksakan kondisi kesehatannya di posko tersebut.

*Kebun Sawit Di Kiri Kanan Jalan*
Perjalanan dari Mamuju ke daerah Kabupaten Pasang Kayu memakan waktu sekitar 8 jam, namun berbeda dengan perjalanan dari Makassar ke Mamuju yang mata kami disuguhi keindahan alam ciptaan Allah Azza wa Jalla, kali ini sepanjang perjalanan sebagian kondisinya sama dengan di wilayah Riau, dimana kiri dan kanan jalan perkebunan sawit mendominasi pandangan kami, hanya sekali-sekali perkebunan pisang yang menyelingi.

Kondisi badan jalan juga banyak berlubang-lubang dalam membuat beberapa kali mobil terguncang hebat, yang akhirnya memakan korban juga, yakni lepasnya salah satu ban mobil avanza tim yang berisi mahasiswa-mahasiswa yang "berhati besar" tetsebut. Namun Allah Ta'ala masih sayang kepada kami, dimana ban mobil sebelah kiri yang lepas itu terjadi disaat sudah berada dekat posko Pasang Kayu dan dalam kecepatan mobil yang rendah.

Kami tidak bisa membayangkan jika ban mobil tersebut lepas ketika kecepatan tinggi. Mungkin ini peringatan dari Allah Ta'ala kepada kami, sehingga kami harus banyak-banyak beristigfar. Sesampai di posko Pasang Kayu kami langsung melapor kepada pihak kepolisian, yang kebetulan diterima oleh Waka Polres Mamuju Utara, AKBP Takdir Daud, SH dan beliau meminta kami untuk beristirahat di Pasang Kayu dan tidak melanjutkan perjalanan ke Palu malam ini, mengingat kondisi yang kurang kondusif pada beberapa lokasi sebelum memasuki Kota Palu. Dan beliau berjanji besok pagi pukul 08.00 wita akan mengawal kami menuju Palu.

(bersambung)

*Pasang Kayu, (23.30 wita) 06 Oktober 2018*

RiauMagz mendapat tulisan ini dari Riau Care Indonesia via Ian Tanjung