Kenapa Khoth Jawi? Sebuah Interview Singkat

Kenapa Khoth Jawi? Sebuah Interview Singkat

RiauMagz.com - Di bawah adalah sekelumit bincang-bincang saya (Ambar B. Arini - red) yang lebih memfokuskan terhadap pilihan yang diambil Jonkobet dalam pameran tunggalnya kali ini.

------------

Kenapa pilihan khoth Jawi begitu penting dalam pameran tunggalmu kali ini;

Sederhana saja, sudah biasa bagi saya “memungut yang terbiar dan terbuang”. Khoth Jawi? begitulah nasibnya, diberi cap arkaik, diketepikan dan agak diterlantarkan.

Wah, lantas apa yang akan kamu lakukan?

Saya melihat khoth Jawi sebagai identitas seni rupa Melayu yang otentik dan genusnya jelas. Apakah saya akan mengabaikan potensi dan peluang ini? pastilah tidak. Harus ada tindakan dan tidak boleh berhenti atau diam.

Benar sih, sebab saya melihat dari catatanmu bahwa kamu cukup lama menggeluti seni kaligrafi Arab. Nah, kesempatan apa yang kamu lihat di situ?

Aku melihat kesempatan emas! Andai persoalan khoth Jawi benar-benar kita urus bersama dukungan pihak yang berkompeten, tidak mustahil Riau akan terposisi seperti Turki sebagai pusat seni kaligrafi Arab, sedangkan kita menjadi pusat seni khoth Jawi. Satu hal pula, seniman kita dapat menghidupkan seni ragam hias, orang Arab menyebutnya zukhrufah, orang Turki menyebutnya tehzif. Baik khoth Jawi maupun zukhruf ragam hias Melayu akan saling sokong menyokong ibarat nafas yang turun naik.

Tunggu sebentar ... banyak sekali orang tidak paham atau mengenal arti Jawi. Apa dasar kuat yang mengatakan bahwa Jawi itu adalah Melayu?

Iya, pertanyaan ini wajar dilontarkan sebab Jawi dalam kromo inggil dipakai untuk menyebut bangsa Jawa, sedangkan Jawi yang dahulunya adalah sebutan untuk bangsa Melayu mulai jarang digunakan di Indonesia. Inilah penyebab banyak orang-orang kita kurang memahami dan salah sangka.

Adakah bukti otentik yang menjadi dasar klaim kamu itu?

Tentulah ada dan orang-orang akademik tahu itu. Jangan lupa bahwa bangsa Melayu menyebut dirinya Bani Jawi yang menetap di Tanah Jawi. Bahkan orang-orang Arab Yaman dan Makah juga menyebut kita ini demikian. Beberapa ulama seperti Nuruddin Arraniri menyebut dalam kitabnya istilah bahasa Jawi, bahkan sebelum itu Hamzah Fansuri, ada Syaikh Abdurro’uf Singkil, juga Syaikh Arsyad Al Banjari, Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al Fatani dll.

Mereka jelas-jelas menyebut bahwa kitab-kitabnya ditulis dalam bahasa Jawi atau telah menyalin kitab bahasa Arab ke dalam bahasa Jawi. Nah ... kitab-kitab mereka itu bukan kitab berbahasa Jawa bukan? kitab mereka itu berbahasa Melayu!

Artinya apa? ya jelas lah, Jawi adalah Melayu dan bangsa Jawi adalah bangsa Melayu, sebab faktanya bahasa Jawi adalah bahasa Melayu.

Memang sedikit aneh dan saya yakin bahwa banyak orang Indonesia tidak mengetahui hal ini. Menurutmu apa penyebab ketidaktahuan itu?

Begini mbak Ambar. Sejak negara Indonesia berdiri, maka orang-orang Arab mulai perlahan beralih menyebut kita ini bangsa Indonesia, bukan lagi bani Jawi. Istilah bani Jawi ini juga jarang dipakai orang-orang Melayu modern. Tapi, bangsa Melayu di Malaysia masih mengenal dengan baik identitas dirinya sebagai bani Jawi hingga sekarang.

Wah menarik ini! terus ada apa dengan istilah Jawi yang dipakai sebagai identitas orang Jawa, dan apa pula makna Jawa dalam konteks ini.

Oke, pelan-pelan aku paparkan, begini ceritanya. Dalam Babad Tanah Jawi ada disebutkan bahwa raja-raja Jawa berasal dari orang-orang Hindu Sumatera yang menetap di pesisir pantai. Lihat juga keterangan Raffles dalam The History of Java menyebutkan bahwa Jau bermakna jauh yang dalam bahasa Melayu jauh itu disebut Jao. Orang Jawa dalam lisan orang Melayu disebut Orang Jao, negerinya Tanah Jao. Slamet Muljana menyatakan betapa sulitnya mencari jejak sejarah bahwa raja-raja Jawa itu berasal dari pribumi Jawa. Jadi, tahulah kita mengapa bangsawan Jawa masih mengekalkan identitas Jawi-nya, yakni terkait asal usulnya dari Sumatera, dari Bani Jawi itulah. Jawi yang memeluk Islam dikenal sebagai bangsa Melayu. Sumatera ini Tanah Jawi ... Tanah Melayu, singkatnya lebih kurang begitu. Wallahu a’lam

Sebetulnya saya masih penasaran untuk mengupas jauh tentang pendapat kamu Jon. Tapi kita beralih dulu ke persoalan awal tentang pameran ini. Saya lihat penelitianmu tentang khoth Jawi menghasilkan ribuan komposisi yang begitu indah dan unik. Bagaimana sebetulnya proses lahirnya komposisi-komposisi itu?

Karibnya hubungan saya dengan khoth Arab bukan hanya sekadar untuk menjadi kaligrafer ya? Saya suka berkawan dengan goresan-goresan khoth Arab, asyik dan sangat-sangat menikmati. Bagaikan mendapat berkah rasanya. Akumulasi pengalamanpengamalan bergelut dengan khoth Arab menyebabkan saya perlu banyak membaca referensi dan mengkajinya. Kontemplasi yang cukup lama bersebati dengan jiwa saya dan berusaha supaya mahabbah “pada Nya itu” tegak berdiri. Jika dulu saya sempat bertahun-tahun intens mengikuti Musabaqoh Khoth Alquran namun sejak dua puluh satu tahun terakhir saya meninggalkan dunia kompetisi tersebut, beralih menulis khoth untuk tujuan yang berbeda. Sekarang ini lebih kepada eksplorasi pencarian hal-hal baru dan merasakan nikmatnya. Sepanjang rentang waktu tersebut adakalanya saya bersua keindahan dan syahdunya hubungan dengan Allah dan Rosulullah SAW, lewat goresan khoth Arab. Inilah dia awal saya bertemu semangat dan gairah baru. Maka, selama puasa Ramadhan 2018 tahun ini saya mulai atur langkah mengumpulkan kembali ide-ide komposisi. Pada siang dan malam-malam bulan puasa itu saya berfikir dan menuangkannya melalui goresan pena, inilah hasilnya, berupa sekumpulan karya. Boleh jadi sebab berkah kemulian Ramadhan yang menuntun terciptanya ribuan ide-ide komposisi tersebut, iya ... saya rasa begitu, berharap diberi kesanggupan menemukan komposisi khoth lafal Allah dan Muhammad selama Ramadhan.

Proses kontemplasimu lumayan menarik Jon. Emang apa alasanmu tiba-tiba menghentikan kebiasaan mengikuti kompetisi dan bergulat pada penciptaan yang sekarang ini?

Alasannya sederhana; pertama saya sadar tidak mampu bersaing dengan kaligrafer lain di MKQ. Riau gudang kaligrafer handal, kedua soal regenerasi, rasanya terlalu feodal jika setiap tahun menjadi utusan MTQ, ketiga tidaklah wilayah khoth Alquran ini mengharuskan tujuannya untuk bertanding, keempat saya merasa sudah saatnya bersyukur memiliki sekelumit seujung kuku keahlian menulis khoth Arab berqo’idah dan saya gunakan untuk muhasabah maupun memperdalam mahabbah pada Allah dan Rosulullah SAW. Setidaknya inilah yang telah saya fahami dan alami sampai detik sekarang.

Apa komentar terakhirmu untuk pameran tunggalmu kali ini.

Alhamdulillah wa sholātu wa salāmu ‘alā Rosūlillah. Bahwa semua komposisi karya yang saya susun for free bagi yang ingin menggunakan untuk tujuan maslahat umat. Terbuka peluang bagi yang berkehendak mempelajari qo’idah desain yang saya pakai serta ragam hias yang saya buat. Mudah-mudahan juga akan segera terbit menjadi sebuah buku.

Singkat sudah perbincangan ini. Semoga yang sedikit bisa digunungkan, yang setitik boleh dilautkan.
Salam

AMBAR B. ARINI


Acuan :
Istilah Jawi dipakai Nuruddin Arraniri (w. 1658 M) dalam Al Shiroth Al Mustaqim dan kitab Lata’if Al Asror li Ahl Aḷlāh al Athyar, dia menuliskan;
... menterjemah dari pada bahasa Arab kepada bahasa Jawi. (Abdullah Abdurrahman, Hal. 25) ... bahwa menta’lifkan suatu kitab dengan bahasa Jawi yang menghimpunkan segala ilmu haqo’iq ...

Demikian juga Syaikh Abdurro’uf Singkil (w. 1693 M) dalam ‘Umdat Al Muhtajin ila Suluk Al Maslak Al Mufridhin menyebut bahasa Jawi dalam kitabnya itu;
Artinya, kusertakan ia dengan bahasa Jawi padahal aku memudahkan atas segala faqir yang mengikut pada hal aku minta pahala yang amat besar daripada Tuhan yang memerintahkan pekerjaanku.

Syaikh Arsyad Al Banjari (w. 1812) dalam Sabil Al Muhtadin kembali menegaskan;
Bahwasanya kitab seorang alim yang lebih yaitu Syaikh Nuruddin Arraniri nama negerinya yang dinamai ia dengan Al Shiroth Al
Mustaqim pada Ilmu Fiqih atas mahzab Al Imam As Syafi’i RA dari pada yang sebaik-baik segala kitab yang dibahasakan dengan bahasa Jawi.


Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al Fatani (w. 1847 M) dalam Durr Al Thomin kembali menambah kuat keterangan sebelumnya;
... lagi keadaannya menterjemahkan dengan bahasa Jawi supaya difaham akan dia oleh orang yang tiada ketahui bahasa Arab.

Bahasa Jawi yang dimaksud tersebut adalah bahasa Melayu. Pada abad ke-20 Syaikh Wan Ahmad bin Wan Muhammad Zaiyn Al Fathoni (w. 1908) dalam Faridhot Al Faro’idh fi ‘Ilmu ‘Aqoidh menggunakan sebutan bahasa Melayu sebagai ganti istilah bahasa Jawi tidak seperti digunakan ulama sebelumnya;
Yang dibangsakan kepada imam Abu Al Hasan Al Asy’ariy mahzabnya lagi kepada Melayu bahasanya lagi kepada Fatani tuturannya.

Dengan demikian bahasa Jawi tidak merujuk pada bahasa Jawa. Meskipun banyak kemiripan antara bahasa Melayu dan Jawa ditilik menggunakan kaidah geneologi dan etimologi namun Jawi yang dimaksud Hamzah Fanshuri, Nuruddin Arraniri, Syaikh Abdurro’uf Singkil, Syaikh Arsyad Al Banjari itu bukan bahasa Jawa.