Harta Karun Natuna Kepulauan Riau di Museum Sri Serindit Ranai

Harta Karun Natuna Kepulauan Riau di Museum Sri Serindit Ranai

RiauMagz.com - Natuna yang berada di tengah laut dan berbatasan dengan Vietnam bahkan lebih dekat ke Vietnam daripada ke Jakarta, banyak menyimpan harta karun. Ya, ini benar-benar harta yang terkubur baik di lautannya maupun di daratan. Lautannya dahulu bernama Laut China Selatan, menjadi Laut Natuna Utara dengan jarak 200 mil laut pada Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Pergantian nama ini pada tahun 2017 lalu untuk menjelaskan kekuasaan Indonesia atas sebagian Laut China Selatan. Penamaan Laut China Selatan (South China Sea atau Laut Tiongkok Selatan) sendiri tidak berubah pada bagian laut yang bukan dikuasai oleh Republik Indonesia.

Laut Natuna dan Laut Natuna Utara dan Laut Tionkok Selatan

Laut Natuna maupaun Laut Natuna Utara itu sendiri penuh dengan kekayaan bawah laut baik habitatnya, sumber daya alamnya, dan harta yang tenggelam di dasar lautnya. Berada di ujung utara Indonesia bagian barat, lautnya akan sangat bergelombang jika musim angin kencang. The Diamond of the South China Sea menjadi salah satu istilah bagi daerah ini.

Laut China Selatan (Laut Tiongkok Selatan) dan Laut Natuna Utara serta Laut Natuna termasuk juga perairan Anambas menjadi jalur pelayaran kapal dari atau melalui Singapore ke dan dari Filipina, China maupun Jepang. Perairan Natuna dan juga Anambas menjadi Jalur Sutra di kawasan Laut China Selatan yang melalui Laut Natuna Utara.

Harta Karun Natuna Kepulauan Riau Jalur Pelayaran

Dari data pelayaran yang melalui Natuna oleh Marine Traffic Tracking pada gambar diatas menunjukkan padatnya jalur pelayaran Natuna ini. Kapal akan melewati Lighthouse atau Mercusuar atau Lampu Suar atau menara lampu di laut atau disebut menara lampu sinyal atau sebagian pelaut menyebutnya Lampu Aldis karena ditemukan oleh Arthur C. W. Aldis. Menara Suar ini sangat berfungsi menandai kondisi laut yang berbahaya.

Di Natuna terdapat beberapa Mercusuar yang menjadi penanda bagi pelaut agar berhati-hati melewati jalur pelayaran tersebut, misalnya :
  1. Mercusuar Sekatung
  2. Mercusuar Semium
  3. Mercusuar Pulau Midai
  4. Mercusuar Pulau Kepala
  5. Mercusuar Pulau Subi Kecil

Dari perairan yang berbahaya ini, banyak kapal yang tenggelam di kawasan ini. Kapal-kapal tersebut umumnya membawa barang dagangan yang biasa saja sampai barang berharga.

Bangkai kapal dan isinya selain menjadi daya tarik para penyelam untuk melihat sejarah dan keindahan di bawah laut sehingga menjadi lokasi menyelam Natuna yang menjadi daya tarik wisatawan, daya tarik lainnya adalah adanya harta-harta yang terpendam dari kapal tersebut.

Misalnya temuan oleh nelayan bernama La Andi di tahun 2013 dekat Pantai Tanjung, Ranai Kabupaten Natuna pada kedalaman 10 meter. La Andi menemukan guci buatan China dan botol-botol wine bertahun 1882 sebanyak 8 buah. kini barang-barang tersebut disimpan di Museum Sri Serindit, Ranai Darat, setengah jam dari Kota Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Museum ini juga menyimpan harta karun yang ditemukan dari Laksamana Ceng Ho berupa keramik buatan China.

Museum Sri Serindit lokasi tepatnya di Jalan Imam Ismail, Gang Tok Ilok, Ranai Darat, Bunguran Timur - Natuna, banyak berisikan barang-barang harta karun yang ditemukan di kawasan Natuna. Berdiri sejak 2008, berada dibawah naungan Lembaga Kajian Sejarah (Lekas) Kabupaten Natuna, Propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Museum ini menjadi satu-satunya museum di kabupaten natuna yang menyimpan berbagai benda purbakala yang memiliki kurang lebih 1500 benda-benda purbakala yang telah didata, Harta Karun Natuna. Masih banyak benda-benda purbakala lainnya yang belum terdata dengan total hampir 10.000 koleksi, semuanya tersimpan rapi.

Harta Karun Natuna Kepulauan Riau di Museum Sri Serindit Ranai

Koleksi terbanyak Museum Sri Serindit adalah sekitar 80 persen keramik berusia ratusan tahun, umumnya berasal dari China, Belanda, Jepang, Daerah-daerah kawasan Asia Tenggara, Eropa dan Jawa. Koleksi peralatan rumah tangga sekitar 15 persen, dan sisa koleksi campuran. Termasuk peralatan makan dari bahan kuningan dan tembaga. Peralatan makan dari kuningan banyak didapat dari masyarakat Natuna sendiri yang mencerminkan bahwa masyarakat Natuna dahulunya kaya raya. Koleksi lainnya berupa meriam, keris tosan aji, botol-botol persia, pedang kolonial, dan koleksi perak milit Sultan Muda Riau. Khusus untuk barang-barang China terkumpul dari barang-barang berumur zaman Dinasti Shang (1600—1046 SM) sampai zaman Dinasti Ming (1368 - 1644 M).

Didirikan oleh Zaharudin yang akrab disapa Deng, museum ini buka setiap hari kecuali hari Jumat, dan menjadi pusat rujukan para arkeologi nasional untuk kawasan Laut China Selatan. Nama Sri Serindit itu sendiri diambil dari nama keris pusaka Datuk Kumbang, yakni seorang tokoh berpengaruh di Natuna pada masanya.

Harta Karun Natuna Kepulauan Riau di Museum Sri Serindit Ranai

Bukan hanya bangkai kapal Inggris, bangkai kapal Cina, bangkai kapal Belanda, bahkan bangkai kapal Rusia dan lainnya ada terdapat di sekitar perairan Natuna. Bangkai-bangkai kapal ini tidak akan diangkat, namun akan dijadikan titik objek wisata diving, hal ini menjadi lokasi penyelaman (Dive Sites) terbaik di Natuna.

Selain itu, Natuna menyimpan sumber daya batu granit yang telah diteliti para ahli geologi, bahkan ditemukan juga sungai-sungai purba dan batu neolitik yang masih misteri. Sebagian menyebut Natuna sebagai sisa Benua Atlantis pada masa lampau.

Zaharudin atau Deng dahulunya adalah pemburu harta karun, sama seperti sebagian kawan-kawannya. Harta Karun yang didapat lalu dijual kepada kolektor asing. Bahkan Museum Sri Serindit itu sendiri dibangun dari penjualan kerangka monster laut Gajah Mina yaitu hewan mamalia langka sejenis paus. Koleksi ini dijual sekitar Rp.600 juta. Uangnya untuk membangun Museum Sri Serindit. Kini Zaharudin berubah dari pemburu harta karun menjadi penyelamat harta karun.

Kini, perburuan harta karun sebenarnya masih terjadi, tetapi ada perubahan yaitu harta yang ditemukan akan diselamatkan di museum bukan dijual ke kolektor asing.

Salah satunya adalah perburuan harta karun di darat. Caranya sangat unik, yaitu dengan menggunakan sebuah tongkat besi runcing yang disebut Pemacok dengan panjang sekitar 100-150 cm yang ditusuk-tusukkan ke tanah. Jika tongkat menyentuh benda keras, bagi yang sudah terbiasa akan dapat langsung menebak isinya. Ada kesepakatan antar pemburu harta karun Natuna yaitu, jika tongkat pemburu menyentuh benda keras, maka areal 2x2 meter akan menjadi milik si pemburu, apapun isi di dalam tanah tersebut.

Perburuan harta karun Natuna di darat masih terus dilakukan, bahkan Zaharudin atau Deng itu sendiri menemukan harta karun pertamanya di tahun 1965 di tepi Sungai Ranai.

KM Djadajat atau Kapal Soekarno
Kapal Motor Djadajat (Jadayat) merupakan kapal penumpang perintis di daerah sudut-sudut pulau di Indonesia. Masyarakat Natuna menyebutnya Kapal Soekarno karena kapal ini dahulunya dijadikan oleh Kementrian Perhubungan Laut pernah digunakan oleh Presiden RI Soekarno sebagai Kapal Pemerintahan untuk mengelilingi nusantara. Walaupun kapal ini telah tenggelam di Laut Natuna Utara tepatnya di kawasan Karang Nyulung Sedanau Natuna sekitaran pulau Kembang tak jauh dari Selat Lampa saat menjelang maghrib pada tahun 1980, masyarakat tetap menyebutnya Kapal Soekarno.

Kapal motor Djadajat ini jarang disentuh tangan manusia, sehingga bangkai kapal itu hampir utuh dan telah ditumbuhi terumbu karang tempat hidup habitat laut dan dapat menjadi lokasi menyelam yang bagus di kawasan Natuna.

Versi barunya adalah Kapal Navigasi Jadayat yang dioperasikan oleh Kantor Distrik Navigasi (Disnav) Kelas I Tanjung Pinang.

Diatas Kapal Motor Djadajat itu, saat Soekarno berkeliling nusantara, beliau menulis surat untuk anak buah kapal Djadajat yang berisikan tulisan berikut ini :

Kepada anak boeah KM Djadajat.
Kerdjakanlah toegasmu dengan penjerahan djiwa raga jang penoeh!
Di tindjaoe dari soedoet jang dangkal, toegasmu ialah menjelenggarakan pengangkoetan dan perhoeboengan.
Di tindjaoe dari soedoet jang lebih dalam toegasmoe itou, berisikan soembangan kepada pembinaan administrasi negara dan ekonomi negara.
Di tindjaoe dari soedoet jang lebih mendalam lagi, toegasmoe itoe ialah soembangan kepada pembinaan kepribadian bangsa dan nation building.
Toehan memberi kepada kita satoe tanah air kepoelaoean, hanja djika kepribadian kita seirama dengan sifat tanah air kita itoelah, maka kita dapat mendjadi satoe bangsa jang besar.

Djadajat, 9 November 1958.

Soekarno, Presiden


Inilah Natuna dengan harta karun dan kekayaan Sumber Daya Alam yang kaya baik di darat maupun di laut.

RiauMagz, Wisata Riau, Wisata Kepulauan Riau, Wisata Natuna, Harta Karun Indonesia.