Wisata Sejarah Benteng Tujuh Lapis Rokan Hulu


RiauMagz.com - Benteng Tujuh Lapis bagian Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai di Riau
Bila Anda seorang pecinta wisata sejarah, akan sangat penting mengunjungi objek wisata Benteng Tujuh Lapis yang ada di Rokan Hulu. Objek wisata ini akan mengingatkan kita pada seorang pahlawan nasional asal Riau yang namanya sudah sangat harum di mana-mana, beliau adalah Tuanku Tambusai. Rokan Hulu boleh berbangga dengan ditetapkannya Tuanku Tambusai sebagai pahlawan nasional, dan itu bisa dibuktikan dengan situs sejarah Benteng Tujuh Lapis yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Benteng Tujuh Lapis terletak di desa Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu Riau. Atau sekitar 23 km dari makam Raja-Raja Rambah, tepatnya di tepian Sungai Batang Sosa Tambusai. Luas benteng ini hampir menyamai suatu kampung, yakni seluas 3 hektar. Pada masa Perang Paderi di awal abad XIX, dimana Rokan Hulu secara teritorial masih masuk dalam kawasan Minangkabau, di bawah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung Batusangkar Sumatra Barat, benteng tujuh lapis menjadi simbol perjuangan seorang Tuanku Tambusai bersama pengikut-pengikutnya. Di benteng inilah perjuangan mengusir Belanda dilakukan oleh sosok pejuang dari tanah melayu.

Benteng Tujuh Lapis dibangun oleh Tuanku Tambusai bersama pengikutnya pada tahun 1834. Dibuat dari 7 lapis gundukan tanah dengan ketinggian mencapai 11 mter. Benteng ini memiliki tembok yang tebal, di bagian tembok ini juga ditanam aur berduri atau tanaman bambu yang berduri. Dilengkapi juga dengan parit dengan kedalaman 10 meter.

Pada tahun 1838, benteng ini jatuh ke tangan Belanda setelah sebelumnya digempur habis-habisan selama satu tahun. Dengan jatuhnya benteng ini ke tangan Belanda, berakhir lah masa perang paderi di seluruh kawasan Minangkabau pada waktu itu. Pada tanggal 28 Desember 1839, Tuanku Tambusai pergi meninggalkan benteng tersebut, dan diketahui beliau meninggal di Negeri Sembilan, Malaysia. Selain kawasan benteng tujuh lapis, di kawasan Dalu-Dalu juga terdapat benteng-benteng lain yang dikenal dengan sebutan Kubu oleh masyarakat setempat. Semua benteng-benten tersebut menjadi simbol patriotisme para pejuang Republik Indonesia dalam mengusir penjajah dari tanah nusantara.

Pelestarian Situs Sejarah Benteng Tujuh Lapis
Seperti objek wisata pada umumnya yang ada di Riau, Benteng Tujuh Lapis sebagai salah satu situs bersejarah yang cukup penting juga membutuhkan pemugaran secara serius oleh pihak pemerintah. Saat mengunjunginya, kawasan benteng sudah cukup memprihatinkan kondisinya karena faktor konservasi yang kurang. Padahal kawasan Benteng Tujuh Lapis telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang penting untuk mempertahankan nilai-nilai sejarah di bumi Lancang Kuning. Melalui anggaran pemerintah daerah setempat tahun 2016, sebenarnya telah dialokasikan untuk pemugaran kawasan Benteng Tujuh Lapis. Fokus revitalisasinya pada zona penyangga, pengembangan, dan penunjang. Proses revitalisasi ini melibatkan banyak pihak, diantaranya pemerintah daerah, kalangan budayawan, akademisi, konsultan dan sebagainya. Rencananya, pembangunan meliputi bentuk pembangunan di bagian gerbang di dua titik berjarak sekitar 2 km dari bangunan Benteng Tuanku Tambusai, akan dilengkapi dengan diorama yang menggambarkan momen-momen kesejarahan serta perjuangan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai.

Cara Menuju Lokasi Benteng Tujuh Lapis, Rokan Hulu
Untuk mengunjungi lokasi Benteng Tujuh Lapis yang ada di kawasan Rokan Hulu, sebaiknya Anda menggunakan kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua. Apabila Anda memulai perjalanan dari pusat Kota Pekanbaru, Anda harus menempuh perjalanan sejauh dua ratusan kilometer lebih, dengan waktu tempuh normal 5 hingga 6 jam perjalanan. Perjalanan dilakukan menuju ke kawasan desa Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Untuk memudahkan perjalanan, Anda bisa menggunakan google map yang lebih akurat untuk menemukan lokasi yang Anda cari.

Nantinya, Anda akan menemukan gerbang besar bertuliskan ‘Benteng Tujuh Lapis’. Selain itu pada bagian tembok gerbang juga terdapat tulisan-tulisan Arab Melayu dengan pilar gerbang berwarna kuning yang melambangkan kejayaan melayu. Selain melihat rerimbunan tanaman dan tembok yang berdiri, Anda juga bisa menyaksikan meriam-meriam kuno yang digunakan untuk berperang pada masa penjajahan. Di bagian dalam objek wisata tidak terdapat orang berjualan makanan dan sejenisnya, sehingga jika Anda ingin masuk, pastikan membawa konsumsi dan akomodasi sendiri.


[RiauMagz | Wisata Riau | Wisata Rokan Hulu]