Pusat Pelatihan Gajah Minas Siak dan Sebanga Duri - Sejarah dan Konflik


Bermain dengan Gajah Liar di Pusat Pelatihan Gajah Minas

Bingung menghabiskan akhir pekan yang panjang di Pekanbaru atau sekitarnya? bukan waktunya lagi sekarang mengomel bahwa di sini tidak ada tempat rekreasi. Sebab di Minas, Kabupaten Siak terdapat Pusat Pelatihan Gajah (PLG), yang bisa jadi alternatif rekreasi keluarga Anda. Tempat ini merupakan kawasan kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau. Terdapat kurang lebih 30 gajah betina dan 30 gajah jantan yang siap menyambut kedatangan Anda ke sana.

Sangat mudah menemukan lokasi ini. Anda cukup membawa kendaraan keperbatasan Pekanbaru menuju Minas melewati Rumbai. Kemudian teruskan perjalanan Anda disepanjang Jalan Raya Pekanbaru-Minas Tersebut. Setelah melewati Hotel Rindu Sepadan dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasim, kira-kira sekitar 5 km dari lokasi itu, di bagian sebelah kiri, Anda akan menemukan plang nama Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak.

Belokkan kendaraan Anda ke arah tersebut. Apapun jenis kendaraan Anda pastikan tangguh, karena selepas belokan itu, Anda tidak akan menemukan jalan aspal lagi. Namun tenang aja, jalanan tanah ditengah-tengah perkebunan sawit dan ladang minyal tersebut cukup keras, bahkan jika hujan sekalipun. Anda hanya harus hati-hati memperhatikan tanda petunjuk arah menuju lokasi Pusat Pelatihan Gajah. Karena salah-salah Anda bisa berbelok di lokasi yang salah. Tenang saja, tersasar adalah kemungkinan kecil, karena PLG Minas sangat gampang ditemukan.


Setelah perjalanan sekitar 20 menit, maka Anda akan menemukan gerbang Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas yang bertuliskan SELAMAT DATANG DI PUSAT LATIHAN GAJAH MINAS dengan logo Balai Besar KSDA Riau dan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) di antaranya.


Berikutnya, Anda bisa enjoy dengan gajah-gajah liar yang telah dilatih untuk bersahabat dengan manusia tersebut. Datanglah pada pagi hari jam 08.00 pagi, karena saat itu gajah akan digiring oleh para pawangnya menuju hutan. Namun sebelumnya mereka akan mandi dulu di sungai yang terdapat di tempat tersebut. Sekalian saja, Anda nikmati pengalaman memandikan gajah.

Atau jika anda merasa jam 8 pagi itu kepagian, datanglah sekitar pukul 16.00 sore hari. Karena pada saat itu, puluhan gajah, kembali dari hutan bersama pawangnya (mahot) dan menghabiskan waktu mereka dengan beristirahat di sungai dan di bawah pohon yang terdapat dikawasan itu.

Ok, jika itu malah terlalu sore bagi Anda. Silahkan hubungi pihak pengelola PLG Minas yang contact personnya bisa Anda dapatkan dari Balai Besar KSDA Riau (mereka akan dengan senang hati membantu). Mintalah pihak Pusat Pelatihan Gajah untuk tidak menggiring semua gajah-gajah tersebut ke hutan sehingga kapanpun Anda datang, ada gajah yang siap menemani Anda bermain.

Jangan lupa ya sebelumnya, siapkanlah makanan gajah sebagai oleh-oleh, misalnya pisang, tebu, sayuran, atau buah-buahan lainnya yang gampang untuk Anda peroleh. Biasanya Anda juga akan diberi kesempatan untuk memberi makan gajah-gajah tersebut sendiri. Menaiki punggung gajah sambil keliling lokasi pelatiihan, atau diangkat dengan belalainya.

Tenang saja, bagi Anda yang parnoan atau takut dengan hewan raksasa ini, karena setiap satu gajah, ada satu pawang yang akan menjaganya. So safety, bukan? Oh iya, nama lain sebutan bagi pawang adalah mahot.

Tapi jangan aneh dulu, sebab gajah-gajah tersebut merupakan gajah liar yang telah dilatih menjadi gajah pengendali konflik manusia vs gajah yang kerap terjadi di wilayah Riau. Dan jangan mengharapkan pelayanan ekstra seperti di kebun binatang, karena di sana bukan kebun binatang. Tapi fasilitas yang mereka miliki dan kelengkapan peralatan mereka jauh lebih bagus dari di kebun binatang.

Selamat menikmati liburan Anda.


Penebangan Hutan dan Kepunahan Gajah
Riau memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Namun jumlah hutan mulai menurun seiring dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit dan industri lainnya. Belum lagi pembalakan liar terhadap hutan yang mengganggu ekosistem di dalamnya. Salah satu binatang dilindungi yang terancam kepunahannya akibat penebangan hutan di Riau adalah gajah. Tak jarang karena habitatnya diusik, gajah keluar dari hutan secara liar dan mengganggu masyarakat di sekitarnya. Jika sudah begini, bukan hanya gajah yang merasa terancam kepunahannya, namun juga keamanan manusia yang tinggal di kawasan yang baru saja ditebangi hutannya. Di Riau misalnya di beberapa daerah transmigrasi, gajah seringkali datang di malam hari dan mengganggu keamanan warga.

Di satu sisi, gajah tidak boleh dibunuh dan harus dilindungi, oleh karena itulah, pada tahun 1988 didirikan Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga Duri di Provinsi Riau. Di tempat inilah gajah-gajah liar yang mengganggu warga ditempatkan, untuk kemudian dilatih, dijinakkan, dididik agar lebih bersahabat dengan manusia. Selain itu, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat perlindungan gajah, khususnya Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) yang merupakan satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Perpindahan PLG karena konflik dengan masyarakat kami tulis di bawah ini.

Apa yang ada di Pusat Pelatihan Gajah?
Pusat Pelatihan Gajah ini banyak dikunjungi oleh mereka para pecinta lingkungan atau yang ingn melihat hiburan dari atraksi hewan gajah. Di tempat ini, pengunjung bisa menyaksikan berbagai atraksi gajah seperti gajah melompati kayu-kayu besar, gajah mengangkat kayu-kayu besar, gajah hormat pada pengunjung, melangkahi manusia yang terbaring di tanah, dan masih banyak lagi atraksi lucu binatang gajah di tempat ini. Selain itu, pengunjung juga bisa mencoba atraksi menaiki gajah dengan tarif khusus.

Gajah-gajah yang mengganggu kawasan yang didiami manusia biasanya akan ditangkap dengan cara tembak bius, selanjutnya dibawa ke PLG. Di sini, sedikitnya selama 2 hingga 4 minggu, gajah akan melalui proses penjinakan. Selama masa penjinakan, gajah diletakkan di tempat khusus yang diberi nama runk. Seorang pawang gajah akan melatih binatang ini menggunakan alat-alat seperti ganco, tali, tombak, rantai rotan dan sebagainya.

Setelah lulus proses penjinakan, selanjutnya gajah akan menjalani proses pelatihan. Proses ini dilakukan melalui tiga tahapan yakni, Latihan Tingkat Satu (LTS) dilanjutkan Latihan Tingkat Dua (LTD), dan Latihan Tingkat Tiga (LTT).


Setelah menjalani tiga tahapan di atas, barulah gajah dilatih dengan keterampilan khusus. Diantaranya seperti keterampilan untuk gajah latih, keterampilan gajah tangkap, keterampilan gajah atraksi, keterampilan gajah kerja dan sebagainya. Gajah nantinya akan dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk pembangunan nasional.

Sejarah Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas - Siak

Sejak tahun 1980an keberadaan gajah liar sudah mulai menjadi permasalah bagi masyarakat dan pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah. Agar tidak terganggunya program pembangunan di Indonesia maka dilaksanakanlah kegiatan penggiringan gajah besaran ke habitat aslinya agar keberadaan gajah dapat lestari, dimana pada saat itu dikenal dengan Operasi Ganesha dan Tata Liman.

Dalam perkembangannya, Pusat Latihan Gajah di Riau telah beberapa kali mengalami perpindahan lokasi. PLG Riau didirikan pertama kali di Sebanga – Duri pada tahun 1988, setelah lebih kurang tiga tahun PLG Sebanga berdiri terjadi pembakaran oleh masyarakat pada tahun 1991, agar aktifitas pelatihan dan pengelolaan gajah tetap berjalan untuk sementara waktu dipindahkan ke Desa Pinggir yang berlokasi di Suaka Marga Satwa Balai Raja.

Pada tanggal 29 Juni 1992 keluarlah surat keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Riau dengan Nomor : KPTS.387/VI/1992 menunjuk lokasi PLG di desa Muara Basung Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Km 100 Pekanbaru – Duri dengan luas sekitar 5.000 Ha. Namun adanya konflik lahan dengan masyarakat setempat dan perambahan lahan di lokasi Pusat Latihan Gajah menyebabkan aktifitas di Pusat latihan Gajah tidak berjalan lancar. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka pada tahun 2001 PLG Riau mulai menempati sebagian lahan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim II Siak yang berada di Kecamatan Minas Kabupaten Siak. Untuk saat ini jumlah gajah yang ada di Pusat Latihan Gajah Riau berjumlah 24 ekor, 18 ekor di Minas dan 6 ekor gajah tersisa di Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri.

Sumber :
MOTIVASI PENGUNJUNG DI PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) MINAS KABUPATEN SIAK
Nurfitriana
Jurusan Ilmu Administrasi – Program Studi Usaha Perjalanan Wisata
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau
Jurnal Online Mahasiswa
JOM FISIP Vol. 3 No. 2 – Oktober 2016
Halaman 10-11

Konflik Suaka Margasatwa Balai Raja dan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga - Duri - Bengkalis

Harian Kompas pernah menuis pada tanggal 5 April 2010 tentang lenyapnya Suaka Margasatwa Balai Raja di Duri yang menjadi perkebunan sawit warga. Seperti tulisan Nurfitriana diatas, konflik lahan terjadi dengan masyarakat. Kawasan hutan yang dahulunya seluas 16.000 hektar, saat Kompas berkunjung hanya tersisa 50 hektar saja termasuk berkurangnya lahan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga yang seharusnya 5.873 hektar. Suaka Margasatwa Balai Raja dan Pusat Pelatihan Gajah Sebanga merupakan satu kesatuan kawasan untuk relokasi gajah yang sering berkonflik dengan manusia di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu, yang tidak jauh dari Sebanga.

Berkurangnya lahan SM Balai Raja menyebabkan batalnya relokasi kawanan gajah. Sisa hutan yang 50 hektar pun tidak layak disebut hutan. Lahan itu berupa semak belukar dari rawa-rawa yang ada di sekeliling kawasan PLG. Kawanan gajah itu selalu melalui jalur yang sama dari daerah Pelapit Aman di Pangkalan Pudu ke arah daerah Tegar dan kembali lagi ke Pelapit Aman. Demikian selalu kawanan gajah itu bolak-balik setiap tahun dari dahhulu kala.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2010/04/05/09294633/Suaka.Margasatwa.Balai.Raja.Lenyap


Pusat Pelatihan Gajah Sebanga Duri

Unit Pelaksana Teknis : BKSDA RIAU
Propinsi : Riau
Kabupaten : Kabupaten Bengkalis
Luas (Hektar) : 5.873,00
No. SK : Kep. Gub. No.387/VI/1992
Tanggal SK : 29-Jun-92

PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) SEBANGA DURI - RIAU
http://www.dephut.go.id sekarang menjadi www.menlhk.go.id

PENDAHULUAN
Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) merupakan satwa langka di Indonesia yang dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Satwa ini juga merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan Pembangunan Nasional.

Serangan Gajah timbul disebabkan karena ruang gerak mereka yang semakin sempit akibat areal hutan yang semula merupakan habitat dan daerah jelajah gajah tersebut dibuka untuk perluasan areal perkebunan, pembukaan areal pemukiman transmigrasi dan eksploitasi minyak, sehingga gajah semakin terdesak dan terpisah-pisah dalam kantong-kantong dan daerah gajah yang terisolir.Mengacu dari hasil upaya pencegahan terhadap gangguan gajah yang telah dilakukan, maka pada tahun 1988 didirikan Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri di Propinsi Riau.

MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan didirikan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Sebanga-Riau adalah sebagai sarana untuk menumbuh dan mengambalikan kesan kepada masyarakat bahwa gajah bukan sebagai satwa perusak yang harus dimusnahkan tetapi merupakan satwa yang bermanfaat bagi pembangunan Nasional.

SASARAN
Sasaran dari Pusat Latihan Gajah (PLG) adalah untuk menangkap gajah-gajah pengganggu terhadap daerah pertanian masyarakat, daerah pemukiman transmigrasi dan daerah perkebunan yang kemudian dijinakkan dan dilatih untuk dapat dimanfaatkan sebagai gajah tangkap/gajah latih, gajah atraksi dan gajah kerja.

LOKASI
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor : KPTS.387/VI/1992 tanggal 29 Juni 1992 luas Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau ± 5.000 Ha yang terletak di Desa Muara Basung Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis tepatnya pada Km.100 Pekanbaru-Duri masuk ke dalam lokasi jalan Caltex ± 15 Km, dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh dari Pekanbaru 2-2,5 jam dan dari Duri ke lokasi PLG ± 45 menit.

POTENSI FLORA DAN FAUNA
Sebagian besar Flora yang tumbuh adalah kayu jenis Meranti (Shorea spp) Jelutung (Dyera costulata) dan jenis lain yang tumbuh pada hutan sekunder. Pada tempat tertentu yang telah terbuka ditumbuhi alang-alang dan tumbuhan perdu lainnya, diantaranya terdapat juga beberapa jenis tumbuhan yang dapat dimakan oleh gajah.

Fauna yang ada antara lain : Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruang Madu (Helarctus Malayanus), Kancil (Tragulus sp), Rusa (Cervus sp), Babi (Sus sp) serta berbagai jenis Aves dan ayam hutan.

KEGIATAN
Sesuai dengan maksud dan tujuan dari Pusat Latihan Gajah, yaitu mempunyai prioritas kegiatan sebagai berikut :
Penangkapan
Penangkapan gajah dilakukan dengan sistem pelacakan terhadap lokasi keberadaan gajah/kelompok gajah yang terisolasir. Sedangkan metode penangkapan gajah yang digunakan ialah dengan sistem tembak bius.Penangkapan diprioritaskan disekitar hutan yang berbatasan dengan daerah gangguan atau populasi yang terancam kehidupannya karena habitatnya sempit oleh peruntukan lain. Tujuan dari penangkapan adalah untuk meredakan gangguan gajah yang mengganggu dipemukiman transmigrasi, perkebunan.


Penjinakan
Gajah liar yang pernah ditangkap dan setelah sampai di Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau menjalani kegiatan pertama yaitu penjinakan. Pada umumnya kegiatan penjinakan memakan waktu antara 2-4 minggu. Penjinakan dilakukan di tempat tertentu yang disebut Runk (tempat penjinakan gajah) dan para pelatih/pawang menggunakan alat-alat seperti ganco, tombak, tali, rantai rotan dan sebagainya.

Dalam kehidupan ini para pelatih/instruktur dibantu oleh gajah latih. Pada program ini gajah liar yang baru ditangkap diperkenalkan pada kehidupan baru dalam lingkungan manusia.

Pelatihan
Setelah gajah "lulus" pada program penjinakan, selanjutnya mengikuti program berikutnya, yaitu program pelatihan. Program pelatihan meliputi 3 tahap:
Latihan Tingkat Satu (LTS)
Latihan Tingkat Dua (LTD)
Latihan Tingkat Tiga (LTT)

Setelah gajah "lulus" mengikuti Latihan Tingkat Satu sampai dengan Latihan Tingkat Tiga maka selanjutnya gajah-gajah tersebut dilatih keterampilan sesuai dengan kebutuhan, seperti keterampilan untuk gajah tangkap, keterampilan sebagai gajah latih, keterampilan untuk gajah atraksi, keterampilan untuk gajah kerja dan lain sebagainya yang pada akhirnya nanti gajah tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk menunjang pembangunan Nasional.

PEMANFAATAN GAJAH
Gajah-gajah hasil didikan dari Pusat Pelatihan Gajah Minas Duri Riau yang telah dimanfaatkan oleh beberapa HPH dan Kebun Binatang sebanyak 22 ekor dari jumlah 78 ekor.

Silahkan baca juga tentang :
Gajah Sumatera Elephas Maximus Sumatrensis
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau


[ RiauMagz | Wisata Riau ]

Riaumagz

Semua tentang Riau & Indonesia
TWITTER & INSTAGRAM : @riaumagz
Repost : tandai & ikuti kami Gambar dilengkapi keterangan.
#riau #riaumagz #pekanbaru