Museum Sang Nila Utama - Sejarah Perjalanan Riau


Museum Sang Nila Utama


Banyak orang berpendapat bahwa kembali ke masa lalu adalah hal yang tidak mungkin, dan mesin waktu belum ditemukan. Namun menurut saya, kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu. Salah satu cara adalah dengan mengunjungi museum, dan salah satu museum yang ada di Riau adalah Museum Sang Nila Utama yang berlokasi di Jalan Sudirman No 94, Pekanbaru. Dengan mengunjungi museum ini maka kita bisa kembali ke masa lalu Provinsi Riau, paling tidak hingga sekitar abad ke-15 masehi.

Museum Sang Nila Utama adalah sebuah museum tentang sejarah dan budaya Melayu Riau. Sang Nila Utama merupakan nama seorang raja Bintan yang berkuasa pada abad ke- 13 masehi. Museum ini menyimpan kurang lebih 3.886 koleksi yang diperbaharui setiap tahunnya. Memasuki museum ini, kita seolah kembali pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan melayu di Riau. Masa yang penuh intrik dan rahasia namun unik yang keindahannya masih tergambar dan terasa jelas di museum itu.

Museum ini awalnya bernama Museum Negeri Riau, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 001/01/1991 pada tanggal 9 Januari 1991. Kemudian, namanya berganti menjadi Museum Daerah setelah Undang-Undang No.22 tahun 1999 ditetapkan dan kemudian direvisi dengan UU No.32 tahun 2001. Tak cukup dua kali, museum ini berganti nama lagi menjadi Museum Sang Nila Utama hingga sekarang, berdasarkan Peraturan Provinsi Riau No 17 tahun 2001.

Bangunan museum ini masih mempertahankan gaya bangunan khas melayu. Ketika memasuki gerbang museum kita akan disambut jejeran gedung-gedung membentuk uruf U. Di sisi kiri kompleks museum terdapat bangunan aula yang disewakan untuk umum. Kemudian diikuti dengan bangunan kantor administrasi, kantor kepala museum, kantor penyimpanan dan perawatan benda-benda koleksi.

Di sisi kanan Museum Sang Nila Utama terdapat bangunan utama yang mengarah langsung ke jalan Sudirman. Inilah gedung pameran tempat pengunjung dapat menyaksikan beragam benda-benda pusaka bersejarah.

Gedung ini terdiri dari dua lantai dengan ruang utama terletak di lantai dua. Sebentuk tangga menyambungkan antara halaman dengan lantai dua, yang juga sebagai lobby menerima tamu. Sehingga untuk mengakses lantai bawah atau lantai pertama, pengunjung harus ke lantai dua terlebih dahulu. Di sisi kanan dan kiri lantai dua terdapat tangga menuju ke lantai satu.

Setiap lantai memuat benda-benda koleksi yang berbeda-beda. Kala itu, kami menyusuri museum ini dari sisi sebelah kanan. Setelah mengisi buku tamu di meja tamu yang terdapat di lobby pameran, kami siap untuk mengungkap rahasia Sang Nila Utama.

Di sisi sebelah kanan itu terdapat bedug raksasa, seolah mengucapkan selamat datang, ia berdiri tegap di sana.

Kemudian kita memasuki ruangan pameran dengan pintu berpelitur ukiran melayu. Ruang pameran pertama ini menyajikan sejarah Riau, foto-foto rumah adat melayu Riau (saat ini sudah sangat sulit ditemukan), foto-foto para pejuang dan tokoh-tokoh budaya-wan Riau. Kemudian foto sepuluh gubernur Riau dari tahun 1958-2013, yaitu:
  1. Mr. SM. Amin, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke 1 1958-1960
  2. Kaharudin Nasution, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke II 1960-1966
  3. Arifin Achmad, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke III 1966-1978
  4. R. Soebrantas S, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke IV 1978-1980
  5. Prapto Prayitno, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke V 9 Juni-2 Oktober 1980
  6. H. Imam Munandar, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke VI 1980-1988
  7. Drs. Mur Subero, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke VII 1988
  8. H. Soeripto, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke VIII 1988-1998
  9. Saleh Djasit SH Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Ke IX
  10. HM Rusli Zainal, Gubernur Riau

Kami terus menyusuri lantai dua hingga bertemu dengan pajangan koleksi guci-guci antik dari Cina kurun waktu sekitar abad ke- 15 masehi yang ditemukan di bawah laut. Di sini juga terdapat berbagai benda-benda kerajaan melayu yang pernah berjaya di Riau. Seperti kait kelambu yang terbuat dari perak, kemudian ada caping yang berbentuk hati, dihiasi ukiran bunga dengan bagian kiri dan kanan menggunakan rantai yang terbuat dari manik-manik. Caping digunakan untuk menutup alat kelamin wanita pada masa itu.

Sebuah sepeda ontel yang menjadi kebanggaan yang dulunya adalah sarana transportasi Soeman HS juga dipanjang di bagian ini.

Di sini juga terdapat Soluk, yaitu mahkota raja dari Taluk Kuantan yang terbuat dari emas dan keramik. Berikutnya juga ada baju besi dengan senjata api berpeluru sebesar bola pimpong.

Jika kita tidak menuruni tangga untuk ke lantai pertama, maka kita akan sampai di sayap kiri Museum Sang Nila Utama. Di sini terdapat pajangan sumber daya alam Riau yang terkenal yaitu minyak bumi dan replika istana-istana kerajaan di Riau, serta prasasti-prasasti yang temukan di Riau. Salah satunya adalah Prasasti Pasir Panjang yang berisikan pemujaan terhadap Shidarta Gautama.

Menuruni tangga menuju lantai berikutnya kita akan menemukan replika candi muara takus yang konon merupakan candi pertama di Indonesia. Jadi sejarah yang menyatakan bahwa candi pertama itu di Pulau Jawa sepertinya harus di kaji ulang lagi deh, ada yang mau membuktikannya?

Di sini juga terdapat perahu khas Riau, replika rumah adat yang terbuat dari kayu sehingga tampak seperti aslinya. Hewan-hewan endemik Riau, seperti Harimau Sumatera dan Beruang Madu. Aneka rupa pakaian pengantin di Riau. Ternyata setiap kabupaten di Riau memiliki ciri khas baju pengantin yang berbeda-beda. Di sini juga dipajang replika pelaminan dan kamar tidur pengantin melayu Riau.

Di sisi lain ruangan terdapat benda-benda peninggalan Belanda seperti senjata api, tustel, teropong hingga telephone engkol. Di sini juga terdapat wayang-wayang hingga aneka rupa topeng yang biasanya ditemukan di tanah Jawa.

Ayo... kenapa benda-benda tersebut terdapat disebuah Museum di Riau? Kita sebagai anak Riau harus mengetahui sejarah Riau dengan datang mengunjungi Museum Sang Nila Utama ini, siap?

Museum Sang Nila Utama ini buka setiap hari kecuali Hari Senin dari jam 08.00-15.00. Meskipun tujuan utama museum ini adalah untuk bimbingan edukasi, namun tidak ada salahnya kita memanfaatkannya untuk ajang rekreasi dan merefresh pengetahuan kita tentang Riau, terutama tentang masa lalunya. ***
(tya)

Sejarah Perjalanan Kota Pekanbaru Video