2016-07-10

Wisata Air di Daik Lingga yang Sangat Menakjubkan

Salah satu sudut Dermaga Pelabuhan Tanjung Buton
Daik Lingga

LINGGA BUNDA TANAH MELAYU, itulah julukan bagi negeri Kerajaan Riau-Lingga yang sekarang menjadi Kabupaten Lingga sejak tahun 2003 ini dan beribukota di Daik. Daerah ini kemudian berkembang dan mensejajarkan posisinya dengan saudara tuanya kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau. Berbagai infrastruktur, sarana dan prasarana gencar dibangun.

Daik, merupakan ibukota Kabupaten Lingga yang baru terbentuk tahun 2003. Tak banyak orang yang tahu tentang keberadaan Daik. Mungkin juga tak banyak orang yang tahu tentang keberadaan Kabupaten Lingga. Begitu kabupaten ini mulai dijalankan berdasarkan undang-undang pembentukan kabupaten tersebut, Kota Daik dan daerah-daerah lainnya di Kabupaten Lingga mulai menggeliat menunjukkan keberadaan mereka di tengah kancah wilayah pemerintahan Republik Indonesia. Geliat pembangunan terasa di sana-sini.

Satu hal yang sangat menarik perhatian adalah keindahan alam yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta kepada negeri "Bunda Tanah Melayu" ini. Sungguh tepat julukan Bunda Tanah Melayu melekat erat untuk menyebut seluruh wilayah Kabupaten Lingga. Bukan saja karena kondisi alam yang sangat indah dengan ratusan pulau-pulau yang terhampar, tetapi juga karena di Lingga-lah peradaban Melayu makin berkembang walau kemudian meredup karena kejayaan Pulau Penyengat.

Banyak bukti sejarah yang menunjukkan bahwa daerah ini adalah pusat pemerintahan kerajaan yang besar di negeri Melayu. Wisata sejarah yang memberikan gambaran kejayaan Kerajaan Melayu Riau-Lingga pun terdapat di seantero pulau Lingga. Replika Bangunan Gerbang dan Istana Damnah, Situs Istana Damnah, Situs Pondasi Istana 44, Situs Istana Robat, Benteng Bukit Cening, Benteng Bukit Pasir Panjang, Benteng Tanjung Cengkeh, Benteng Kuala, Benteng Pulau Mepar, maupun Benteng Kubu Parit. Semuanya membuktikan bahwa daerah ini adalah pusat pemerintahan dan perkembangan kebudayaan Kerajaan Melayu di Riau.

Ketika memandang dari sisi kiri dermaga Pelabuhan Tanjung Buton
berlatar belakang Gunung Daik
Daik Lingga

Menikmati secangkir kopi, sambil menyaksikan momen matahari tenggelam di sebelah barat laut Lingga dihiasi pemandangan indah si cabang dua Gunung Daik, merupakan sebuah kenikmatan yang dapat kita rasakan saat bersantai di taman pelabuhan Tanjung Buton (TB), Daik Lingga.



Pantai Pasir Panjang
30 menit perjalanan dari kota Daik

Pantai Pasir Panjang Karang Bersulam Terletak di Kecamatan Lingga tepatnya di Dusun Mala Kabupaten Lingga. Wisata Pantai Daik Lingga ini menjadi menawan dengan pasir pantai yang putih sepanjang pantai yang berbentuk teluk atau laguna.


Air Terjun Resun
Objek wisata air terjun Resun, Desa Resun Kecamatan Lingga Utara



Desa Pancur Lingga yang sangat eksotis
rencananya akan diadakan kegiatan oleh pekerja dan penggiat seni
"Pancur Lagoon Poetry Reading"


2016-07-09

Yuk Dengarkan Pasir Berbisik di Beting Aceh

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh

Beting Aceh adalah pulau pasir yang berada di Rupat Kabupaten Bengkalis, Riau. Dinamai Beting Aceh karena pulau ini pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan yang berasal dari Aceh. Pantai Beting Aceh yang sangat putih bersih ini terbentang dengan luas sekitar 3 hektar.


Keunikan dari Pantai Beting Aceh adalah pasirnya akan berbunyi jika digesek-gesekkan dengan tangan atau kaki. Sehingga banyak orang menyebutnya Pasir Pantai Berbisik. Terinspirasi dari film Pasir Berbisik yang dibintangi oleh Dian Sastro.

Selain Beting Aceh ternyata ada pantai lagi yang tak kalah indahnya di Pulau Rupat yaitu Pantai Pesona. Pantai ini berhadapan langsung dengan perbatasan Malaysia dan memiliki nama yang berbeda-beda. Sebagian warga desa menyebutnya Pantai Tanjung Lapin, Pantai Teluk Rhu maupun Pantai Tanjung Punak.

Pulau Rupat sendiri memiliki luas 1.524,84 km2, yang sebenarnya merupakan gabungan 4 pulau yang seakan-akan menyatu menjadi sebuah pulau. Terdiri atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara. Kecamatan Rupat berada di selatan Pulau Rupat dan memiliki 10 desa yaitu, Desa Makeruh, Desa Batu Panjang, Desa Hutan Panjang, Desa Pangkalan Nyirih, Desa Pergam, Desa Sei Cingam, Desa Sukarjo Mesin, Desa Tanjung Kapal, Desa Terkul, dan Desa Teluk Lecah.

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh

Kecamatan Rupat Utara seperti namanya, berada di utara Pulau Rupat dan memiliki 5 desa yaitu Desa Kadur, Desa Tanjung Medang, Desa Tanjung Punak, Desa Teluk Rhu, dan Desa Titi Akar. Kedua kecamatan ini memiliki potensi yang berbeda-beda. Kecamatan Rupat Utara memiliki potensi wisata air dengan pantai pasir yang panjang dan sangat indah. Pantai inilah yang disebut Pantai Pesona Pulau Rupat Utara yang menjadi objek pengembangan wisata pantai Kabupaten Bengkalis.

Pantai Pulau Rupat


Pantai ini memanjang dari timur ke utara dan berhadapan langsung dengan Tanjung Rusa di Port Dickson - Malaysia. Daerah pantai yang memiliki kelompok tanah mineral dengan tingkat perkembangan muda, baik dengan ciri hidromorfik maupun tanpa ciri hidromorfik. Pantai Utara ini dapat melihat kapal-kapal nasional dan internasional yang melintas, hal ini didukung keadaan laut yang memiliki kedalaman 10-30 meter.

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh

Saat admin riaumagz berkunjung ke Pantai Pesona Desa Teluk Rhu Pulau Rupat Utara November 2011 silam, admin melalui jalur speedboat Bengkalis menuju pelabuhan Tanjung Medang. Transportasi saat itu masih tergolong sulit khususnya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Medang Pulau Rupat menuju desa Teluk Rhu sebagai salah satu lokasi wisata di pantai Pesona tersebut. Ketidak-tersediaan kendaraan umum akhirnya tertutupi oleh masyarakat yang menyediakan ojek kendaraan roda 2 dengan ongkos saling tawar-menawar.

Untuk kunjungan admin Riaumagz di bulan April 2016 lalu, admin melalui jalur Dumai melalui pelabuhan penyeberangan Purnama Dumai menuju pelabuhan Tanjung Kapal di Pulau Rupat yang memakan waktu sekitar 45 menit. Dari pelabuhan penyeberangan Pulau Rupat melalui jalan darat menuju ke Desa Teluk Rhu di Rupat Utara memakan waktu sekitar 2 jam.

Transportasi menuju Pulau Rupat sendiri sebenarnya sudah lancar dengan tersedianya kapal speedboat, kapal RORO, maupun kapal pompong dari beberapa pelabuhan lain menuju Rupat. Dari Pelabuhan TPI Purnama Dumai tersedia kapal speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Medang Rupat dengan ongkos Rp.110.000 dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Kemudian ada juga kapal RORO dari Dumai menuju pelabuhan Tanjung Kapal di Rupat Selatan yang dapat melanjutkan perjalanan darat menuju Pantai Pesona di Desa Teluk Rhu. Rute perjalanan lainnya adalah menggunakan speedboat dari Bengkalis menuju pelabuhan Tanjung Medang maupun kapal pompong yang akan berlabuh di Desa Kadoor (Kadur).

Pantai Pulau Rupat


Semua usaha untuk mencapai lokasi Pantai Pulau Rupat yang telah bernama Pantai Pesona ini sungguh terobati dengan keindahan alamnya. Pantai pasir yang memanjang 12 km dan cukup datar sangat asyik untuk bermain bola atau permainan lainnya. Kondisi pantai Pesona ini mirip dengan kondisi Pantai Sanur di timur Bali dengan pasir yang datar. Jika kondisi cuaca bagus di malam hari, akan terlihat cahaya-cahaya lampu di Port Dickson Malaysia.

Pantai Pesona Pulau Rupat ini menjadi salah satu dari lima daerah unggulan wisata dalam MasterPlan Pariwisata Nasional untuk Propinsi Riau yaitu Pulau Rupat, Candi Muara Takus, Istana Kesultanan Siak, Bakar Tongkang Bagan Siapiapi dan Ombak Bono Sungai Kampar di Pelalawan.

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh
Menara Mercu Suar Pulau Rupat

Pantai yang memiliki panjang 12 km dengan pasir putih yang cukup datar. Pantai Pesona ini menghadap ke timur sehingga wisatawan dapat menikmati matahari terbit di pantai (sunrise) sama persis dengan Pantai Sanur di Bali. Sedangkan jika ingin menikmati pesona matahari terbenam, wisatawan harus menuju pantai Tanjung Medang atau pun menikmati dari ujung pulau bagian utara tepatnya di Menara Mercu Suar Rupat Utara. Lokasinya tak jauh dari dari Pantai Teluk Rhu.

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh


Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh
Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh
Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh

Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh
Pantai Pesona Pulau Rupat, Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh


Baca juga :
Pantai Pulau Rupat - Pantai Pesona

Silahkan lihat video Pasir Pantai Berbisik Beting Aceh Rupat Utara





2016-07-05

Ketika Manusia Merayakan Kemenangan


Ketika takbir diteriakkan sambil menari-nari diiringi dentuman irama atau tetabuhan alat musik, ketika itu manusia merayakan kemenangan.

Ketika suara takbir terdengar sayup, tenggelam diantara bunyi letusan kembang api, disaat itu manusia merayakan kemenangan.

Disaat seorang anak kecil terlelap dipangkuan bunda di atas motornya, di antara kemacetan, asap knalpot dan deru mesin, di saat itu manusia merayakan kemenangan.

Selamat merayakan kemenangan, semoga kita bisa memberi makna yang lebih baik di masa yang akan datang.

Taqabbalallahu Minna Waminkum
Redaksi RiauMagz

2016-07-04

Lingga di Penghujung 2011 - Matahari belum tiba


Griven H. Putera
Lingga di Penghujung 2011

Matahari belum tiba. Rumah penduduk di sela-sela pohonan masih berselimut kabut. Di samping surau, bermunggak-munggak nisan terpaku menunjuk langit. Sewujud-wujud mata memandang, kumpulan awan seperti kapuk-kapuk berarak dari kaki menuju pucuk gunung amat pelan. Di kaki gunung, beberapa ekor bangau berkeliaran di bekas ladang padi yang tersisa. Seekor ayam betina hitam berlari jauh sambil berkotek-kotek dari sapi jantan kuning yang mengibas-ngibaskan ekornya.

Dua orang lelaki duduk di teras atas penginapan. Seorang kurus jangkung berkulit terang, berbaju putih dan bercelana pendek menatap gunung dengan dua tangan mendekap dada. Lelaki itu ingin mencari ‘engel’ yang paling sempurna untuk mengabadikan keindahan pagi itu di kamera nikonnya. Seorang lagi sibuk memainkan tuts laptop. Sambil sesekali matanya berkilat menangkap setiap gerakan di depannya. Itulah aktivitas dua orang peserta “lawatan Sejarah” sempena “Lingga Bunda Tanah Melayu” di Daik Lingga sebelum acara seminar dimulai hari itu.

“Bangsa Melayu adalah bangsa yang dizalimi oleh penjajah, seperti Inggris di Malaysia dan Belanda di Indonesia. Akibat penjajahan itu, negeri Melayu terkoyak-moyak. Mereka memutuskan selat, sungai dan muara. Lalu sejarah duka itu menyebabkan kita terpisah dengan nama Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Selatan Thai. Kegiatan ini merekatkan kembali kemesraan kita sebagai resam anak Melayu yang berumpun satu,” kata Shamsuddin Othman [pensyarah pada Universitan Putra Malaysia] memulai bentangan kertas kerjanya pagi itu.

Sementara itu, Wahyu Hidayat, tenaga pengajar pada STAI Sulthan Muhammad Syafiuddin, Sambas, menyarankan kepada pemerintah Lingga, agar terwujudnya Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu mesti melakukan rencana-rencana kerja, seperti percepatan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan berbasis khazanah kebudayaan lokal. Selanjutnya membangun balai kajian sejarah dan budaya Melayu dalam menggali dan membentuk ruang-ruang intelektual. Selain itu, pemerintah juga mesti melakukan percepatan pembangunan infrastruktur berbasis wisata budaya maritim serta melakukan sejumlah kegiatan seni budaya maritim dunia.

Sementara itu, Dr. Restu Gunawan, Kasubdit Peradaban sejarah, Dirjen Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia menjelaskan, “Selama sekian waktu, Lingga hampir hilang dalam peta. Terutama ditelan oleh kebesaran saudara-saudaranya sendiri, seperti Penyengat, Batam, Johor dan Singapura. Padahal, sesungguhnya sejarah Lingga di masa lalu jauh lebih besar daripada negeri-negeri yang lain itu. Setelah era otonomi daerah bergulir, kinilah saatnya mengembalikan kegemilangan peradaban yang pernah diraihnya di masa lampau itu. Penguasaan dunia bahari di kawasan Lingga-Johor-Riau sudah tiba waktunya untuk dikembalikan. Dalam bidang kebudayaan, Lingga harus mampu menghasilkan makna simbolik bagi kawasan regional maupun provinsi. Keberhasilan pengungkapan ‘Bunda Tanah Melayu’ merupakan salah-satu hasil yang cukup baik. Tapi jangan sampai di situ saja, ia harus dimanifestasikan melalui rekonstruksi kerajaan Lingga, maupun pembangunan museum yang tidak hanya menyimpan artefak sejarah tetapi juga memburu naskah-naskah kuno harus dilakukan, baik di arsip nasional Jakarta mau pun di negeri Belanda. Dan tak kurang pentingnya dari semua kerja di atas, pengajuan tokoh Lingga menjadi Pahlawan nasional perlu dilakukan secepatnya.”

Diskusi akhirnya khatam. Kafilah kebudayaan Melayu di Asia Tenggara itu pun santap siang lima sejambar, menikmati makanan Melayu khas Daik Lingga di bawah tudung saji [tudung manto dalam bahasa Lingga].

Usai mengambil air sembahyang di telaga pemandian putri yang airnya jernih bak akuarium, beberapa orang kafilah kebudayaan Melayu melakukan ekspedisi di sungai Resun yang tepinya ditumbuhi pokok bakau dan aneka kayu-kayan yang masih perawan. Menaiki perahu boat sambil dibentengi gunung Daik yang tampil lembut dan memesona.

Kira pukul tiga petang, kafilah peradaban Melayu tiba di sebuah danau yang terletak di bibir laut. [Pancur Lagoon]. Di tepi bukit kecil yang ditumbuhi ilalang, berhadapan danau dan Gunung Daik yang menjulang, tampak berderet rumah-rumah panggung papan. Kampung kecil di tepi danau itu dihuni etnis Melayu dan Tionghoa yang hidup berdampingan saling damai.

Perahu dayung hilir mudik ke tengah ke tepi tanpa jeda. Motor boat pun keluar masuk mulut sungai Resun seperti tanpa jeda. Masyarakat berkeliaran di pelantar rumah, pelantar yang juga menjadi lebuh raya, jalan silaturrahmi antar warga.

Tak mau ketinggalan ingin menikmati masakan Pancur, kafilah pun minum kopi, santap mi tiaw dan meratah goreng pisang petang itu sambil menyaksikan perahu yang di dayung kaum hawa ke sana kemari di antara jembatan-jembatan kecil yang tersergam di antara rumah-rumah penduduk.

Matahari mulai lelah. Merah malap. Sesaat lagi ia akan rebah di pelukan gunung. Kafilah budaya tak mau cepat pulang ke kota Daik. Ingin menyaksikan betapa manjanya matahari petang menjelang senja itu dari puncak sebuah hotel yang terjungul di tepi danau. Sayang, awan tak mau bersahabat. Sampai hari gutub, dan menjadi gelap semuanya, gemawan tak mau bingkas menyelimuti gunung Daik. Semakin lama gunung legenda itu dipeluknya semakin erat dan rapat. Sepertinya, petang itu awan tak mau berbagi kasih dengan manusia. Ia seperti tak ridha kalau kegagahan Gunung Daik dan kemanjaan matahari saat itu ditangkap, dijepret kamera dan dinikmati para seniman budayawan yang datang dari berbilang negeri. Saat itu, manusia betul-betul kalah dari alam! Betul-betul kalah! Sungguh! Hue hue hue…

Pancur Lagoon Poetry Reading

Ditulis oleh :
Griven H. Putera

2016-07-03

Profil Riau Rhythm Chambers Indonesia

Profil Riau Rhythm Chambers Indonesia Suvarnadvipa

Tidak banyak grup band di Riau yang memainkan musik Melayu. Di antara beberapa itu, RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA (RRCI) adalah salah satu yang konsisten menjadikan musik Melayu sebagai aliran utama mereka. Namun yang unik dari grup musik ini adalah bagaimana mereka memadukan lantunan nada-nada Melayu dengan nada-nada musik eropa/modern.

Beberapa tahun lalu Riau Magazine berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Rino Dezapaty, salah satu pendiri dan juga komposer dari RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA. Berikut ini hasil wawancaranya.

Riau Magazine (RiauMagz): Kapan kelompok atau grup musik ini ini didirikan?

Rino Dezapaty (RD): RRCI Berdiri pada tahun 2002 tepatnya bulan Juni di Pekanbaru. Yang mendirikan 3 orang, Saya (Rino), Hari Sandra dan Alyusra.

RiauMagz : Ide awalnya mendirikan grup musik ini?

RD: Sebenarnya alasan mendirikan RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA ingin memberikan eksistensi terhadap apresiasi budaya khususnya musik tradisi. Kenapa namanya Riau Rhythm Chambers, identitas musik yang terlahir dilingkungan kita dan konsep-konsep musik yang disuguhkan bermuatan Melayu Riau terdiri dari banyak ragam. Rhythm adalah irama, irama Riau yang kita suguhkan. Penambahan Indonesia adalah kebanggaan kita menjadi bagian di nusantara dan republik ini.

RiauMagz: RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA adalah grup musik yang menampilkan musik Melayu, tapi dengan nuansa atau kemasan yang berbeda. Bagaimana tanggapannya?

RD: Lebih tepatnya kami bermain di wilayah world music, musik tradisional Melayu yang dieksplorasi dalam warna musik Eropa (barat) menjadi kemasan musik grup melayu ini.

RiauMagz: Bisa ceritakan tentang konsep bermusik RRCI?

RD: Sebenarnya konsep musik RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA sederhana saja, pola Melayu degan gesture yang dinamis, dipadukan dengan gaya musik barat yang progresive. Dengan membawa konsep seperti ini, musik melayu yang biasa terdengar sederhana dan bersahaja akan lebih padat karena secara komposisi menggabungkan unsur progresive chord yang luas. Lebih tepatnya "Etchno Electro" ini juga sudah ada kajiannya. Dan kita sebagai salah satu follower tipe musik Etchno Electro.

RiauMagz: Apakah tidak takut konsep bermusik grup RRCI yang memadukan musik Melayu dengan musik Barat/modern ini akan justru menghilangkan identitas musik Melayu yang orisinil?

RD: Melayu lebih dekat dengan kebudayaan Eropa dan budaya Arab (negara-negara maghrib) namun originalitasnya terletak pada instrument yang kita gunakan dan irama serta cengkok (grenek)/gaya muatan musik melayu asli sendiri., tergantung dari pada komposisinya. Grup musik kami mempunyai visi dan misi ingin menyetarakan musik tradisi nusantara, dan mencoba berkolaborasi dengan musik barat, hasilnya lebih padat namun tetap malay's taste dan lebih bersahaja dan mengalir. Segmentasinya generasi muda, karena musik barat sudah terbiasa tumbuh dan berkembang pada kebudayaan anak zaman sekarang dan lebih mendominasi saat ini dijalur industri. Ibaratnya kita ingin memberikan penawar kepada telinga penikmat musik muda, untuk lebih mengerti musik tradisionalnya dengan musik yang menjadi kebiasaan didengar mereka sekarang.

RiauMagz: Bagaimana respon kalangan seniman, budayawan terhadap musik yang disajikan RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA?

RD: Secara responsif, pro dan kontra adalah hal yang wajar, namun seni tetaplah seni. Penyajian tetap menjadi selera, ada yang senang dengan originalitas, ada yang senang dengan kekinian bahkan ada yang tidak senang sama sekali. It's fair, dan kembali kepada persoalan selera. Point centre kita adalah young generation (generasi muda) dan mengangkat muatan-muatan lokal dari ceruk-ceruk diwilayah rural (pedesaan) kepada kalangan urban (perkotaan). Karena episentrum dari kebudayaan dan musik tradisi itu di pedesaan/kampung-kampung dan tetap kita lestarikan. Kemudian di wilayah urban inilah kita mengembangkan dalam kemasan kekinian. Kemasan adalah hal yang menjadi perubahan dalam seni pertunjukan RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA. Bagi generasi muda tentang musik tradisi ada yang kurang paham menjadi paham, oleh sebab itu bagi budayawan yang sudah paham malah akan menjadi berbeda pemahamannya karena menyangkut dengan selera, hehehe...

RiauMagz: Sebagai seorang seniman yang sering tampil, bagaimana Anda melihat animo masyarakat terutama generasi muda terhadap kesenian tradisional Melayu, khususnya musik?

RD: Well, animonya sangat luar biasa. Bisa dilihat dari setiap pertunjukan yang berbayar atau menjual tiket. Hampir 80 persen terjual, ini membuktikan musik etnik masih mendapat tempat dihati pendengar, penikmat bahkan kritikus musik. Hiburan tetap menjadi hiburan, namun yang berbeda dari RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA adalah nilai jual, nilai edukasi dan pelestarian menjadi option utama dalam kita bermusik. Segeralah kita membangun budaya itu dari kita sendiri dan dengan gaya kita sendiri menterjemahkan agar Melayu terus berkembang pesat dan menjadi pioner di Asia Tenggara..

RiauMagz: Ada satu lagu RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA yang sering terdengar di mana-mana di Riau, khususnya Pekanbaru. Ada yang menyebutkan judulnya Satelit Zapin atau Planet Zapin. Mana yang betul judulnya?

RD: Memang berjudul Satelite of Zapin awalnya, namun 60 persen kemudian lebih setuju memberi title karya ini menjadi Planet Zapin. Kurator kita (Alm) Ben M Pasaribu yang akhirnya memberikan judul karya ini.

RiauMagz: Lagu Planet Zapin ini bisa dikatan masterpiece RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA. Bisa diceritakan proses penciptaannya?

RD: Memang sedikit rumit untuk membuat karya Planet Zapin, musik zapin yang bisa diterima dikalangan apapun, bukan zapin kuno ataupun zapin yang terbiasa dimainkan hanya dengan waktu tertentu. Ini menarik sekali, gagasan ini muncul ketika mengeksplor musik jogi melayu. Dengan rhythm dan beat classic disco, saya sebagai komposer juga memberi kebebasan kepada instrument lain untuk melakukan solist (solo) agar memberikan aspek kepada penikmat dan pendengar bahwa integritas bermusik bukan hanya dalam satu rhythm saja. Namun kalimat dialog satu sama lain akan lebih bervariatif.

RiauMagz: Bicara musik Indonesia. Dikalangan musisi atau beberapa penikmat musik tanah air, musik melayu dikatakan sebagai perusak musik indonesia. Contoh kasus, Kangen Band, ST12, Wali, dsb.. Tanggapannya?

RD: Well, mereka itu bukan perusak. Penilaian itu yang salah. Sebenarnya kembali kepada jati diri musik kita, bahwa musik barat sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan sehari-hari bangsa ini. Indonesia hampir kehilangan identitas, keren-kerenan kadang kebule-bulean. Namun sebagian besar bangsa ini tidak tau kalau kita dirampok secara besar-besaran oleh negara barat, mengambil kultur, budaya serta musik-musik nusantara. Jadi yang mengatakan perusak itu adalah orang-irang yang tidak tau dengan musik identitas Indonesia. Industri tetaplah industri, mengambil peluang untuk berbisnis secara retail, CD dan yang lagi booming adalah RBT (Ring Back Tone). RBT bukanlah bisnis musik, hanya bisnis provider namun justru menguntungkan musisi secara langsung. Jadi jangan menyalahkan wali, ST 12, kangen Band dsb. Tapi itu membuktikan selera sebagian besar bangsa ini tidak kebarat-baratan dan mereka sangat mencintai produk dalam negri

RiauMagz: Apa nih langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh grup ini?

RD: Memang kita akui RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA lebih bersifat independen secara distribusi awalnya, namun sekarang kita sudah melakukan pertemuan dengan manajemen label di jakarta untuk urusan publisher. Mudah-mudahan mendapat kesepakatan yang baik, dan ini juga akan kita sebar luaskan keseluruh kelompok musik yang ada, agar bisa lebih muncul kepermukaan industri musik tanah air. Insya Allah.

RiauMagz: Amiin..

Profil Riau Rhythm Chambers Indonesia Suvarnadvipa

Video Penampilan RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA dalam konser tunggal mereka, saat membawakan lagu Planet Zapin.


Profil Riau Rhythm Chambers Indonesia


Personil:
  • Rino Dezapaty : Gambus
  • M. Santoso David (santos) : Biola
  • Ardiansyah (Anute) : Accordeon
  • Akmal E (ayah) : Perkusi
  • Yayan Yanuar : Piano Keyboard
  • I Gusti Putu Ardiana (Gepe) : Drum
  • Iwan : Guitar
  • Galuh Fitra : Bass
  • Derry Martalova : Vocal
  • Yunita Hartati : Vocal

Album/Singel:
  1. Kebangkitan Melayu, bekerja sama dengan Pemprov Riau sebagai ikon provinsi Riau (2004)
  2. Songket Riau Kemilau instrument melayu (2006)
  3. Riau Menangis - mini album (2008)
  4. Atan Hip - Hop (rilis 2012)

Pengalaman Tampil:
  • Riau Hitam Putih International World Music Festival
  • Surabaya Full Music
  • Beberapa kota lain di Indonesia seperti Yogyakarta, Bali, Jakarta.
  • Festival Film Busan - korea Selatan
  • Turkiye Folk Music – Turki
  • Serta beberapa kota lain di luar negeri seperti Kuala Lumpur, Amsterdam, Dll.

Prestasi/Penghargaan:
  • Juara umum nasional Lomba Pop Daerah di jakarta
  • Honoure Le musique de folklore
  • Dan beberapa penghargaan lokal serta menjadi materi mata perkuliahan kesenian.

Fans Page/Twitter:
  • Facebook: Riau Rhythm Chambers Indonesia
  • Twitter: @riaurhythm

Manajemen:
  • Rumah Masa Depan Management Jakarta
  • Publisher serta management lokal dipegang oleh Melayu Raya Entertainment.
  • Publisher international bekerjasama dengan FP Entertainment Kula Lumpur - Malaysia.

Contact Person :

Rino Dezapaty : +62-81378870807 - +62-81959755583, email : riaurhythm@yahoo.com - rinodeza@yahoo.com

2016-07-02

Mulut Manusia


Hanya sebuah rongga, lubang. Dia satu, tapi macam seribu. Mengalahkan mata yang dua, telinga yang dua. Sebelum orang berkata melalui mulut, dia harus melihat dengan dua mata dan mendengar dengan dua telinga. Tapi dua instansi [mata dan telinga] kalah laju dengan mulut yang satu. Dan manusia modern memfestivalkan mulut itu menjadi sesuatu yang yang serba lebih. Menipu dengan mulut, berkelit dari kesalahan cukup dengan mulut, membangun mimpi besar untuk mengentas kemiskinan rakyat, bagi seorang pemimpin cukup menggunakan mulut. Ketika menjual ‘barang dagangan politik’ masa kampanye, mulut berbuih-buih. Rekan seperjalanan mulut itu, dibantu dengan kehadiran microphone, sound system. Maka jadilah, mereka yang mampu merebut mike, microphone atau pengeras suara, dan apa-apa yang keluar dari mulut mereka, seolah-olah kebenaran itu sendiri.


Ketika pemimpinnya besar bual dan pembengak, maka rakyatnya yang menjahit mulut. Karena tak ada gunanya memfestivalkan bunyi mulut yang bau, yang busuk namun direnjis melalui segala pengharum, padahal substansinya adalah busuk. Para pemimpin negeri ini sejatinya bermulut besar, pembual dan busuk. Rakyat yang sudah letih dan letoi dengan segala bunyi itu, lebih elok melakukan tutup mulut. Maka sejak tiga bulan terakhir kita dikejutkan oleh sejumlah orang yang mengambil keputusan di luar akal sehat arus perdana. Dan mereka berkemah di depan [kononnya] ‘rumah rakyat’. Tak selesai pada tangga ini, mereka memanjat jenjang yang lebih tinggi. Mereka juga berkemah, membawa mulut yang tersimpai oleh jahitan sekenanya. Mereka menyuarakan sesuatu melalui ‘nir suara’. Media massa menyerbu dan membentuk semacam agenda setting. Rakyat dan pejabat yang sehari-hari besar bual di kampung sendiri, terkejut. Peneraju adat yang ke mana-mana menjinjing simpai moral dan nilai resam, terdiam kaku dan membisu. Kenapa?


Mulut itu hanya selonsong rongga. Tempat segala ihwal bermula. Adam terpelanting ke muka bumi, tersebab tak bisa menjaga mulut. Pertarungan berdarah pertama anak manusia [Habil dan Qabil] juga karena persoalan mulut. Maka sejumlah peristiwa besar di dunia ini berawal dan berakhir karena medan mulut. Perang dimulai, karena ada mulut-mulut yang menyulut kesumat. Dan perang berhenti, karena sejumlah mulut melakukan diplomasi dan perjanjian damai untuk menjinakkan nafsu hewaniah secara sesaat. Nafsu berkuasa, adalah naluri purba yang setara dengan instink hewaniah itu. Instink hewaniah yang melekat pada hewan di belantara raya, bertarung dalam sergahan dan auman bunyi yang keluar dari batang rongga bernama mulut. Singa, harimau, gajah, kuda, dingo, kerbau, elang sampai ayam, mengeluarkan suara menggerunkan bagi lawan atau mangsanya. Sebelum pertarungan fisik, maka terjadi pertarungan bebunyian, menggunakan kekuatan ‘trompet’ mulut.


Mereka yang menebar bunyi dan suara dari podium ke podium, dari mimbar ke mimbar, panggung ke panggung, dari pentas ke pentas, atau dari majelis ke majelis, ialah sederet bebunyian yang berhajat menakluk dan mengelak, sekaligus membuat persimpangan baru. Persimpangan yang menjebak dan menyesatkan. Auman, lengkingan dan ceracau yang keluar dari mulut para pemimpin yang bau, yang dingin dan busuk, tak lebih dari sebuah bual besar, yang tak memberi faedah apapun bagi orang ramai. Dia hanya menjadi pembenar segala kesalahan dan kebodohan yang dibangunnya selama ini. Untuk itu rakyat tak sudi diajak dialog lewat bunyi. Dan mereka, secara mengejutkan mengunci dan menyimpai rongga mulut, untuk menjauh dari segala bohong dan bengak, terutama bual yang besar…. Hehehe.


Yusmar Yusuf
[Budayawan]

2016-07-01

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru

Tulisan asli tertanggal 15 Desember 2011

Sebagai sebuah hobi atau profesi, blogging atau ngeblog cendrung bersifat individual. Kemudian ia menjadi sebuah fenomena ketika para blogger (orang yang ngeblog) ini bergabung dalam sebuah perkumpulan atau komunitas. Fenomena munculnya komunitas blogger ini ternyata hanya ada di Indonesia. Di sini, berbagai komunitas blogger terus tumbuh dan berkembang. Komunitas-komunitas itu mulai dari yang berbasis kedaerahan, sampai yang berbasis platform, tempat blog mereka, atau berdasarkan jenis blognya.

Jumlah komunitas blogger di Indonesia saat ini mungkin sudah berada di angka ratusan. Satu di antara komunitas tersebut, adalah Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru. Sesuai dengan namanya, komunitas ini berbasis kedaerahan, tepatnya di kota Pekanbaru. Anggota Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru atau yang biasa disapa Blogger Bertuah sebagian besar berdomisili di Pekanbaru. Ada juga anggotanya yang berasal dari daerah lain di Riau, bahkan beberapa orang yang menjadi bagian dari komunitas ini berasal dari luar Riau dan luar negeri. Mereka yang berasal dari luar Riau ini disebut juga sebagai simpatisan.

“Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru didirikan pada tanggal 28 Februari 2009. Tidak mudah untuk mengumpulkan blogger-blogger yang ada di Pekanbaru. Saat itu saya mencoba melacak dari sekian banyak blog yang saya kunjungi, untuk mencari siapa-siapa aja yang berasal dari Pekanbaru. Kalau ketemu kemudian meninggalkan pesan di komentar atau melalui buku tamu yang ada di halaman blog yang dikunjungi itu mengenai jadwal kopdar (singakatan dari kopi darat, istilah untuk bertatap muka atau ngumpul-ngumpul: red). Akhirnya terkumpullah 11 orang yang kemudian menjadi pendiri dari Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru.” Ujar Prima atau yang sekarang dikenal Datuk Bertuah tentang ikhwal berdirinya komunitas ini.

Pertemuan demi pertemuan terus diadakan dan anggotanya pun terus bertambah. Namun sama halnya dengan hobi lain. Ada kalanya seseorang berhenti menjalani hobinya. Begitu pula para anggota Blogger Bertuah ada yang datang dan ada yang hilang.

“Itu sudah hukum alam. Biarkan saja.. Beberapa di antara yang berhenti ngeblog itu, kadang kembali lagi.” Kata Taufik, ketua Blogger Bertuah.

Lebih lanjut Taufik juga menceritakan tentang perkembangan Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru yang dulunya melaksanakan kopdar di tempat-tempat makan, sekarang sudah memiliki sekretariat sendiri, walaupun menumpang di garase salah seorang anggota. Namun di sekretariat tersebut tersedia akses internet wi-fi yang bisa digunakan para anggotanya yang datang kesana.

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru

“Koneksi tersebut kita dapat setelah mengadakan MoU dengan PT Telkom Riau Daratan untuk pelaksanaan berbagai kegiatan pelatihan. Lumayan, teman-teman bisa berinternet secara gratis.” Jelas Taufik.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas ini sebagian besar memang seputar pelatihan. Berbagai kalangan pernah menjadi peserta pelatihan mereka. Siswa-siswi, guru, mahasiswa, sampai ibu-ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Propinsi Riau pernah mereka latih. Tidak hanya di Pekanbaru, peserta pelatihan juga berasal dari kabupaten/kota yang ada di Riau. Komunitas ini pun beberapa kali juga mengadakan pelatihan di luar kota Pekanbaru, seperti di Duri, Dumai, Bagan Siapiapi dan Teluk Kuantan. Pengetahuan para peserta pelatihan ini pun beragam, ada yang buta sama sekali dengan internet, bahkan sampai menggunakan komputer atau laptop pun masih gemetaran.

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru

“Butuh kesabaran untuk melatih orang yang benar-benar awam atau buta dengan internet. Materi pun kadang benar-benar dari dasar tentang pengenalan komputer dan fitur-fiturnya.” Cerita Ais, yang khusus mengurusi pelatihan.

Dari awal berdiri hingga sekarang, komunitas ini telah memiliki hampir 300 anggota, yang terdiri dari berbagai kalangan. Ada pelajar, mahasiswa, pegawai kantoran, hingga ibu rumah tangga. Mereka ini memiliki blog dengan konten yang berbeda-beda. Ada yang menulis tentang kegiatannya sehari-hari, informasi seputar Pekanbaru atau Riau, tips dan trik atau tutorial komputer dan internet, dan sebagainya. Tidak ada pembatasan, anggota di komunitas ini dipersilahkan mau menulis tentang apa saja, sesuai dengan bidang atau minatnya.

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru

Blog, sebagaimana teknologi lain yang berada di dunia internet berkembang sangat pesat. Karena itu, para anggota Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru terus meng-update kemampuan dan pengetahuan mereka tentang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini. Beberapa kali anggota komunitas ini mengikuti temu blogger berskala nasional di Jakarta, Bekasi, Solo dan Sidoarjo. Bertemu dengan teman-teman blogger dari berbagai daerah di Indonesia tentunya akan menambah pengetahuan dan wawasan para anggota blogger Bertuah.

Mudah-mudahan Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru ini dapat terus melakukan kegiatan-kegiatannya, sesuai dengan visi dan misi mereka untuk menjadikan masyarakat Riau melek internet, dan berinternet secara baik dan benar.

Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru


  • Sekretariat:  Jl. Sakinah 1 No. 2, Tangkerang - Pekanbaru
  • IG : @bloggerbertuah dan @bertuahtv
  • twitter: @bloggerbertuah dan @bertuahtv