Tonil Pancur - Daik Lingga

Ujung Dermaga Desa Pancur Daik Lingga

Siang itu, serombongan manusia bergegas menuju Pancur. Sebuah desa kecil nan ramai yang tergeletak manja di tepi Laguna permai. Senja pun tiba, malam mulai memanjat kecil. Kanak-kanak berkicau dari celah daun pintu kamar hotel terapung. Mereka datang untuk sebuah canda dan gurauan orang pulau. Malam itu mereka tampil prima, menonjolkan kekuatan verbal, tanpa harus menguasai panggung. Mereka tampil dalam sebuah teater mini yang memang tak berpanggung. Posisi pemain teater [tonil] mini ini, hampir dominan memunggung alias membelakangi penonton.

Mereka tak perlu terobsesi menguasai panggung, sebab kata-kata mereka kuat dan powerfull. Kata-kata verbal mereka mengepung panggung dan mengurung segala penonton yang menyemut di atas puncak hotel menghadap punggung gunung Daik nan menawan. Ya, parade baca puisi oleh para penyair dari Pekanbaru, Jakarta, Batam dan Daik berderai. Penuh canda dan dialog-dialog mini, terkadang menggoda. Sebuah perpaduan yang terkesan anti kemapanan. Sejauh ini, segala perkakas kesenian Melayu dikepung bagai seni pejabat, demi memuaskan kemauan pejabat. Tapi, malam itu semua demi rakyat dan jelata untuk terlibat langsung dalam kesenian. Sebuah malam pembebasan dari jebakan seni para pejabat. Inilah Puisi Laguna, membaca dan menyergahkan puisi di tepi air Laguna nan molek. Ya, sengaja dipilih tepi Laguna yang amat susah ditemukan di kawasan Melayu, kecuali beberapa titik di Luzon, Selatan Thai, dan kepulauan Nusa Tenggara.

Kanak-kanak di Pancur, bergelut dan berenang di atas kata-kata yang kuat. Penuh canda dan gurauan. Diselingi parodi dan sinisme ‘lunak’ dari mulut dan idiom kanak-kanak. Beralas pada sebuah alur cerita yang sederhana, namun kepiawaian mereka menjahit narasi secara bebas dan improvisatif menjadikan teater mini [tonil] ini memiliki watak memucuk dan meninggi. Abstraksi ide cerita itu boleh dikatakan setingkat abstraksi tingkat sarjana, bukan SMA, apatah lagi SMP. Rerata pemain tonil ini adalah siswa SMP di Daik. Mereka datang dan hadir dengan serangkaian candaan dan gurauan khas Melayu dengan dialek lokal yang gemulai namun menusuk. Di desa-kota air Pancur. Sebuah aquapolis menawan. Para penyair malam itu hampir sepakat, bahwa desa-kota ini, adalah tanah puisi. “Di sini, kami kehilangan kata-kata”, ujar seorang seniman.

Mereka masih berada di lorong yang panjang dalam kreativitas. Karena usia muda, jalan panjang kreatif dan produktif itu mesti segera dirangsang dalam beragam momen dan event, termasuk jenis skala penampilan mereka. Tak sekedar dimekarkan dalam kadar lokal, akan tetapi mesti menguasai sudut teater regional, bahkan nasional dan internasional. Kekuatan watak mereka dalam penguasaan panggung, sebenarnya tak perlu diragukan lagi. Dan kinilah saat dan ketika yang tepat, melakukan perlawanan kesenian dari kampung-kampung yang tak mesti didatangi dengan seperangkat dana APBD yang cenderung mematikan kreativitas berkesenian. Dari Pancur Lingga Utara, para seniman Melayu yang berasal dari ragam suak rantau itu berazam melonjakkan seni kampung-kampung dengan bebas dan improvosatif, tak harus diisi oleh serangkaian pidato demagogi para bupati dan para kepala dinas yang tak tahu menahu dengan kejadian kesenian yang telah menyejarah dalam diri manusia Melayu. Pancur menjadi inspirasi bagi Melayu untuk melonjakkan Melayu dalam gempita yang tak sejenis lagi. Yang tak dibiasi oleh konstruksi urban dan segala Melayu di perkotaan yang cenderung menjual segala ihwal yang berbau Melayu itu. Pancur, menyuruh kita bergegas…

Jumpa lagi, tahun depan. Di sebuah musim timur yang damai dan tenang, tiada tengkujuh. Pada musim itu, segala beruk yang tertidur pulas, tak sadar berjatuhan ke air. Saking tenang dan menidurnya musim timur, bagi tanah Lingga. Pada sebuah musim, yang menebus rindu suara kanak-kanak, yang jadi cemin atas kegegabahan manusia dewasa mengenderai kehidupan yang lebih sarat keliru itu. Kanak-kanak, ialah auliya @ orang suci dalam pangkuan Tuhan.

[Yusmar Yusuf]
Tulisan asli tertanggal 10 Maret 2012

=======

Catatan gambar di atas :
Pemandangan dari ujung dermaga Desa Pancur menjadi semakin eksotis dan penuh kehangatan ketika sore hari dan waktunya matahari terbenam. Matahari berada di balik Gunung Daik menjadi sebuah hadiah yang tak terhingga bagi Desa Pancur.

Perlu waktu 3 jam menuju Desa Pancur dengan menggunakan Speedboat dari Tanjung Pinang setiap hari. Jalur lainnya adalah dari Kota Daik menuju Desa Resun dan naik kapal speedboat kecil menyusuri Sungai Resun langsung ke Desa Pancur sekitar 20 menit.

Riaumagz

Semua tentang Riau & Indonesia
TWITTER & INSTAGRAM : @riaumagz
Repost : tandai & ikuti kami Gambar dilengkapi keterangan.
#riau #riaumagz #pekanbaru