Ikhwal Bunda Melayu Bagian Ketiga

Griven H. Putera

Ikhwal Bunda Melayu

Bagian Ketiga (selesai)
Tulisan asli tertanggal 17 Desember 2011


Mimpi? Kerja, Doa!


Manusia tanpa azam, mati. Tanpa cita-cita sengsara. Tanpa impian, lara. Harapan masyarakat Lingga hendak menjadikan Lingga sebagai bunda tanah Melayu adalah impian. Dan itu mesti. Itu harus. Orang Melayu harus punya cita-cita, punya mimpi. Dan jangan pernah putus asa. Ingat ajaran Tuhan. Bukankah kitab suci mengajarkan supaya jangan pernah putus harapan? Namun mimpi itu akan maujud melalui serangkaian usaha yang matan dan terorganisir rapi.


Kata bunda sungguh agung. Pemilik rahim yang melahirkan zuriat penuh kasih dan sayang tanpa batas. Menjadi pengganti Tuhan di bumi. Sumber cinta abadi, mataair kasih yang tulus dan telus sepanjang hayati. Payung yang siap-sedia membentang kala hujan turun di perabung diri, atau kala matahari terik memanggang siang jiwa. Bunda; menjadi kuntum bulan saat kelam di gulita malam. Bunda, segalanya datang dan bermuara. Bunda adalah sebidang tanah harapan, juga hamparan persemaian benih impian dan bunga kenangan. Di hati bunda segala taman nirwana terentang sejauh hati memandang. Di senyum bunda, matahari dan bulan menjadi hidup dan berarti, tak pernah lindap, tak pernah suram. Di lembut belai kasihnya, manusia dan alam sekitar dipeluk damai dan nyaman. Di lambai tangannya bertiup angin surgawi yang melelapkan kebencian, meredam kemarahan dan memupus keserakahan, sebaliknya menumbuhkan tunas-tunas cinta abadi nan tiada lekang dihumban zaman.


Bunda Tanah Melayu? Aduhai…


Jika Lingga hendak menjadi bunda, kinilah masanya melakukan beberapa tapak jalan yang kuat dan kokoh bagi tegaknya sebuah peradaban yang gemilang; pertama, pemerintah daerah hendaklah menyatukan semua elemen masyarakat untuk mewujudkan Lingga yang bunda. Terutama Dinas Kebudayaan, sudah saatnya menumpukan semua kegiatan seni-budaya yang bertabiat bunda itu. Menumbuh-kembangkan kreatifitas kesenian dan kebudayaan yang mengutamakan pancaran akal budi dari olah batin hakiki yang berkasad utama mencerahkan nilai kemanusiaan melalui sanggar-sanggar yang menghasilkan karya bernas dan bermutu, karya yang bukan sembarang jadi, bukan hanya untuk tujuan hiburan semata. Dalam konsep bunda itu, tak ada kesah seni untuk seni. Karya seni yang lahir sepatutnya membawa setimbun nilai keadaban yang wujud dalam keindahan, kebenaran dan kelembutan. Dalam hal ini, Dinas Kebudayaan tak bisa berdiri sendiri, ia mesti ditopang Dewan Kesenian dan Lembaga Adat yang mesti menggesa diri dan insan seniman untuk menggali dan berkarya yang bersumber dari akar budaya Melayu yang telah bertabiat bunda sejak ribuan tahun lampau. Di samping itu, pemugaran situs budaya adalah mutlak dilakukan tanpa mengetepikan keaslian situs-situs tersebut. .


Ikhwal Bunda Melayu Bagian Ketiga - pantai pasir panjang, bunda wisata

Kedua, peran dan fungsi Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan mesti ditingkatkan lebih intensif, seperti pemberdayaan lembaga pendidikan formal dan nonformal. Khusus bagi Kementerian Agama, mengangkat dan membangkitkan kembali ajaran sufi yang kini agaknya bagai batang terendam di pulau ini adalah menjadi fokus utama. Sudah saatnya Kementerian Agama Lingga duduk bertindih lutut dengan satu-dua orang ulama tasawuf bagaimana secepatnya di kaki gunung Daik berdiri rumah sulup. Gunung Daik yang terkenal tempat orang bertapa dahulu kala itu mesti dibudayakan lagi sebagai tempat orang mengaji diri, menyelami kearifan Tuhan dan alam semesta, dan suatu hari kelak dapat pula dibawa ke tengah masyarakat dengan cara dan mediasi yang berbeda dari tradisi masa lampau. Kalau dulu mencari sakti diri dari penunggu gunung Daik, Kini harus menggali kekuatan itu dari Tuhan Allah Azza Wajalla melalui pancaran Ilahi yang selama ini tertimbun dalam diri yang dhaifi. Keteduhan dan keperkasaan gunung Daik secara lahir akan menjadi lengkap pula bila segi batiniahnya tegak setara. Sehingga gunung nan anggun itu mampu menjadi pengawal bagi tabiat bunda yang akan dipikul anak-anaknya nanti. Harapannya, suatu hari kelak bakal muncul generasi Melayu baru yang bertambah santun, menebar damai, tenteram, nyaman dan harmonis yang berlandaskan Islam tasawuf. Sehingga lajunya perkembangan pembangunan material yang tak terbendung tidak mengoyak tatanan nilai adat budaya. Dan tatanan nilai Melayu yang didasari Islam Tasawuf itu tak lekang dipungkang zaman. Kegagahan dan kelembutan orang-orang Lingga hendaknya mampu menjadi pengawal bagi asri dan damainya tanah Lingga sepanjang masa. Kalau alam raya Bali diselamatkan oleh nilai luhur hinduisme yang mereka anut, Lingga diharapkan mampu dipagar oleh nilai ‘bunda’ dari pancaran ajaran Islam sufistik. Keindahan yang maha indah inilah yang akan dijual kepada penziarah nantinya.


Menuju helat bunda tanah Melayu yang dicita-citakan itu, usaha ini tak menunggu esok hari, satu atau dua-tiga bulan sebelum acara berlangsung. Semua kerja itu harus dilakukan hari ini. Hari ketika kesadaran mulai tiba. Bukankah orang bijak selalu berkata, jangan tunda esok kalau sesuatu bisa dikerjakan hari ini? Kerinduan kita kepada suara mengaji perempuan-perempuan molek Melayu Lingga nan mengalun syahdu hendaknya berdenyut saban bakda shalat maghrib atau kala fajar menyingsing di puncak gunung ketika pagi menyapa hari. Daik yang masih dipagari kayu-kayan dan dipayungi gunung kembar nan gagah menjulang itu menjadi semakin teduh dan damai bila saban waktu syair gurindam dan lantunan ayat suci bersahutan dari rumah ke rumah penduduk, dari surau ke surau hingga terperam jauh ke dalam pelukan gunung dan larut dalam laut nan selalu menyimpan setimbun harapan.


Sahabat dan karibku. Untuk kerja ini, akhirulkalam hamba kaulkan, Janganlah tuan dan puan terlalu menggantungkan asa dan harapan kepada orang lain. Terlalu tergantung kepada orang selalu saja mendatangkan kekecewaan. Bergantunglah kepada diri sendiri, dan jangan lupakan Tuhan. Dan jangan pernah kecewa. Bila tuan dan puan kecewa, Tuhan ‘kan marah. Kalau Tuhan marah, habislah sudah. Tamatlah kita. Maka kata Hang Tuah bahwa ‘tak melayu hilang di bumi’ akan tinggal sebutan, akan kehilangan makna. Melayu memang tetap wujud tapi nasibnya bagai buah masuk ke ambung. Memang ada tapi terbilang, tidak. Masuk gelanggang iya tapi hanya pecundang. Akh, semoga jangan! Wallahu a’lam.


Sumber foto :
Pariwisata Daik Lingga