Ikhwal Bunda Melayu - Bagian Kedua

Griven H. Putera

Ikhwal Bunda Melayu

Bagian Kedua
Tulisan asli tertanggal 11 Desember 2011


Melayu dan Topi Profesor

Gunung Daik diselimuti halimun senja. Hitam kayu-kayan di kaki gunung membuat senja semakin gelap dan suram. Perahu boat baru saja menderu, membelah selat Lingga. Angin menampar laut dan perahu bagai marah tak tentu pasal. Tiga orang lelaki berdiri menentang angin laut yang garang. Perahu meluncur bagai di atas ular naga yang bertubuh liat dan kenyal. Jalan perahu meliuk-liuk. Tiba-tiba topi profesor, salah seorang tiga orang yang berdiri melayang, hilang ditelan gelombang. “Topi!” kata lelaki pensiun sastrawan dan berubah jadi fotografer dari Batam memekik kuat. Kuanca perahu menurunkan volume gas. Angin menderu-deru, gelombang bertepuk-tepuk. “Berputar. Topi profesor melayang diterbang angin.” Salah seorang penumpang tersenyum. Dalam hatinya, apa mungkin topi yang bertulis corruptor fighter itu ditemukan lagi? Bukankah gelombang senja ini luar biasa besar? Apalagi hari sudah gelap? Sebagai seorang pengemudi perahu yang handal, tuan kuanca memutar boat ke kiri, lalu berputar sampai kira 180 derjat celsius. Sambil memegang stir kemudi, matanya tak berkedip ke tengah gelombang yang berombak karena angin dan putaran kipas perahu mesin.

“Itu dia!” kata lelaki dari Batam. Pengemudi perahu tenang. Ia melihat juga, dan tentulah ia lebih dahulu nampak karena ia yang dekat, bahkan saban saat bergelut dengan laut dan gelombang. Itu tampak benar pada gerakannya yang tak terbawa oleh dahsyatnya amuk angin dan gelombang laut nan tak bersahabat saat itu. Langit semakin gelap. Laut bertambah kalap.

“Ini, Prof.” Tuan professor tersenyum kecil sambil mengibas-ngibaskan topinya sejenak. Perahu motor kembali menderu, mengiris Selat Lingga hingga gelap benar-benar telah mengepung di mana-mana. Gunung Daik bercabang tiga yang tinggal dua masih tampak bagai pulau-pulau dalam peta yang basah.


Malamnya, tuan profesor serta dua orang muda dari Batam dan Pekanbaru berdiskusi dengan tokoh masyarakat Lingga di hotel Sungling (Sungai Lingga) hingga lidah mereka berbuih-buih. Tuan profesor mengupas Melayu dan tabiat ‘bunda’ yang dikasadkan oleh orang Linga hingga menghabiskan waktu satu jam lebih, dan penjelasan tuan professor itu ditambah lagi oleh fotografer hebat dari Batam hingga sampai sekian menit pula, lalu ditambah lagi oleh orang muda dari Pekanbaru yang menghendaki pemerintah Melayu di Lingga mendirikan rumah sulup karena menurutnya, kelembutan, kesantunan Melayu yang betabiat ’bunda’ yang hakiki itu diilhami oleh ajaran tasawuf yang lembut yang berkembang pesat dahulunya di kawasan tanah ini. “Jika ingin menjadi bunda dari sekian banyak negeri Melayu di kawasan ini, maka Lingga mesti memberi tempat yang lapang bagi penganut ilmu tasawuf untuk mengembang ajarannya, karena kononnya dulu, Islam yang masuk ke nusantara, terutama di kepulauan Melayu adalah Islam bercorak tasawuf. Islam yang bertabiat ‘ibu sejati’, yang selalu menjadi rembulan, menjadi air, menjadi tanah sejuk, menjadi tempayan dari sejumlah tingkah dan kerenah anak-anaknya, nan menampung siapa saja yang perlu dan haus akan kenbenaran, kelembutan dan keindahan sejati. Bukan Islam yang berdasar fikih semata, yang mengutamakan bentuk tanpa isi. Tanpa ajaran kelembutan, keindahan, kearifan kebenaran itu, kita jangan mimpi menjadi bunda di Tanah Melayu yang besar ini!” Semua hadirin yang sebagiannya telah mengantuk sontak bertepuk tangan. Sejurus kemudian mereka termenung. Entah ngantuk lagi, entah tak berdaya, entah apa lah…

Usai diskusi, wakil peneraju kuasa Lingga, dan Kepala Dinas Kebudayaan Lingga menyambut gembira diskusi malam itu dan selekasnya meminta Presiden RI mengeluarkan SK bahwa Lingga segera ditabalkan sebagai Bunda Tanah Melayu. Tuan profesor terperanjat. Terjadilah perdebatan sekejap. Setelahnya, rombongan pemerhati budaya Melayu itu tenggelam nikmat makan asam pedas di sebuah gerai Melayu. Diskusi besar itu sepertinya lenyap dalam sepiring udang dan the manis yang tertimbun di depan mereka malam itu.

Aduhai…Malam di Lingga meninggalkan sejumlah kenangan yang tak mudah dilupakan. Menjenguk seribu tempayan, mengunjungi Mesjid Sultan Lingga, menziarahi pusara Sultan Indragiri dan menyantap masakan Melayu Daik. Malam di Daik membekaskan setumpuk kenangan, asa dan harapan. Meninggalkan sejumlah catatan panjang bagi rute perjalanan tamadun Melayu di masa hadapan.

Menjelang matahari berputik di sela dua gunung kembar Daik, paginya segerombolan burung keluang melakukan penerbangan dengan tenang. Kata Kamarul, orang Daik yang santun dan baik hati itu menyebut, burung itu hendak menyeberang ke tanah Jambi, atau mungkin juga ke Palembang, atau mungkin juga ke Melaka, mereka mencari duku, durian dan pokok-pokok yang sedang berbuah di sana. “Akh, iri benar beta pada burung-burung bersayap lebar itu. Pergi keluar negeri tanpa paspor, tanpa visa.” Tuan dari Batam ketawa terkekeh, terbakah-bakah mendengar cita-cita orang muda dari Pekanbaru itu.

Hari-hari berlalu, berita tentang helat Lingga Bunda Tanah Melayu yang berazam mengumpulkan pikiran orang-orang hebat Melayu serumpun dan hendak menggelorakan Melayu lagi itu entah apa kabarnya. Fotografer dari Batam dan kawan dari Pekanbaru lesu, Tuan Profesor pun diam dan tampak kesal. Hui, kenapa hari ini orang Melayu masih perlu pengakuan dari Jakarta dalam segala hal?

Melihat ini, saya merasa, orang Melayu kini, dalam segala ikhwal dan persoalannya telah seperti topi profesor yang tenggelam di laut senja tempo hari. Masih bisa ditemukan dan diangkat dari pucuk ombak tapi telah basah kuyup, telah dikucah dan dikuncah buih gelombang selama sekian masa. Memang, suatu saat bisa kering dan dapat ditenggerkan lagi sebagai mahkota di puncak kepala tapi harus dijemur dulu di terik panas matahari. Sepertinya, orang Melayu harus ditempa lagi oleh kerasnya lindasan panas dan hoyak zaman yang centang perenang, yang berlangsung terus dan terus hingga jamaah Melayu benar-benar cemerlang lagi di masa datang. Tapi entahlah.

Sumber foto :
http://www.attayaya.net/2011/12/lingga-negeri-bunda-tanah-melayu.html