2016-06-30

Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh

Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh

“Apabila hutan mangrove di Dumai punah, maka kota tersebut akan terancam kesulitan mendapatkan air tawar!”

Bandar Bakau Situs Legenda Putri TujuhPernyataan tersebut disampaikan oleh Darwis Moh Saleh, pengelola Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh. Berdasarkan pernyataan itu pulalah sekitar 11 tahun lalu, Ia berada di posisi paling depan untuk menentang perluasan areal pelabuhan Pelindo Dumai, yang akan menghapuskan sekitar seluas 31 hektar hutan mangrove Dumai.

Tentang Legenda Putri Tujuh dapat dibaca di :
Cerita Rakyat Melayu Riau : Legenda Putri Tujuh

Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh, demikian nama kawasan konservasi mangrove ini, terbelah menjadi 2 wilayah oleh Sungai Dumai yaitu Kawasan Timur seluas 20 hektar dan Kawasan Barat sekitar 11,5 hektar.

Minggu (22/01/12) di Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh ini akan di laksanakan gerakan penanaman seribu pohon bakau yang diberi nama “Mangrove untuk Dumai”. Bersama beberapa orang teman dari komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru dan Oranye Design sengaja datang ke kota ini dalam rangka mengikuti acara tersebut.

Gerakan tanam seribu pohon bakau itu sendiri digagas oleh teman-teman dari Akademi Akuntansi Riau (AKRI) Dumai. Selain teman-teman mahasiswa, turut dalam aksi ini adalah para relawan yang berasal dari berbagai kalangan, yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian bakau di kota Dumai (baca: Mangrove untuk Dumai).

Bandar Bakau : Wisata Alam dan Penelitian


Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh memiliki sekitar 24 jenis Mangrove. Selain itu, di tempat ini juga banyak ditemukan habitat hewan-hewan pesisir seperti kepiting bakau, molusca, dan aneka ikan. Selain terdapat habitat alami, saat ini pengelola Bandar bakau juga telah menyediakan beberapa daerah khusus untuk penangkaran hewan-hewan tersebut.

Karena itu, kawasan ini memiliki potensi untuk dijadikan tempat penelitian mangrove, khususnya di kawasan pesisir barat Indonesia. Saat ini saja mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, terutama mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau, selalu melakukan penelitian di tempat ini.

Bandar Bakau ini juga memiliki potensi untuk menjadi tempat wisata alam. Suasana teduh di sekitar pepohonan bakau sangat nyaman untuk menjadi tempat bersantai. Bagi para pengunjung, beberapa pesanggrahan telah dibangun di tempat ini sebagai tempat ngobrol-ngobrol atau makan siang bersama teman atau keluarga.

Berminat untuk menanam Bakau? Pengelola juga telah menyiapkan bibit-bibit Bakau yang siap untuk ditanam. Hanya dengan membayar 50 ribu rupiah, kita bisa memberi nama pohon yang kita tanam dengan nama kita atau nama apapun yang telah kita pilih tadi.

Pohon-pohon yang ditanam khusus ini nantinya akan dipasangkan papan nama sesuai yang kita inginkan. Mudah-mudahan, 10 tahun mendatang, saat kita kembali ke Bandar Bakau, kita bisa melihat pohon yang kita tanam telah tumbuh dan berkembang.

Pengelola Bandar Bakau juga membuka kesempatan untuk membuat kegiatan tanam bakau secara missal seperti yang telah dilakukan beberapa kali di sini. Mereka siap menyediakan berapa jumlah bibit yang dibutuhkan, tentunya dengan kompensasi yang tidak mahal untuk pengganti biaya pembibitan.

Bandar Bakau : Perjuangan Tanpa Henti


Bagi Darwis Moh Saleh yang kini berusia hampir setengah abad, Bandar Bakau adalah segalanya. Setiap hari, Ia bersama beberapa orang teman-temannya yang tergabung dalam LSM Pencinta Bahari dengan setia merawat dan mengembang biakkan Mangrove di Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh ini.

Tidak ada yang menggaji mereka untuk melakukan semua itu. Hanya keikhlasan serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar mereka, membuat mereka tetap bertahan di sana. Berbagai resiko dan ancaman telah mereka lalui. Menghadapi berbagai pihak yang ingin menghancurkan hutan tersebut sudah biasa bagi mereka.

Bandar Bakau ini memang berada di atas lahan milik PT Pelindo Dumai. Kawasan ini termasuk dalam rencana perluasan pelabuhan. Sekitar tahun 1998-1999, Darwis bersama teman-temannya menentang perluasan pelabuhan tersebut.

Perjuangan panjang itu sebenarnya sampai saat ini belum berakhir. Walaupun beberapa instansi terkait seperti kementrian Kehutanan RI telah member restu, namun tetap masih dibutuhkan kesepakatan secara tertulis antara pihak pengelola, PT Pelindo dan Pemko Dumai untuk menetapkan kawasan ini menjadi hutan kota.

Mencapai Bandar Bakau

Bandar Bakau ini terletak di Jalan Nelayan Laut, Kampong Tuo Kedondong, Dumai – Riau. Tidak sulit untuk mencapai tempat ini. Posisinya masih berada di sekitaran pusat kota Dumai. Hanya saja, memang masih banyak warga Dumai sendiri yang tidak mengetahui keberadaan Bandar Bakau ini.

Seorang ibu penjaga warung makan yang kami tanyai saat hendak menuju tempat ini mengatakan bahwa untuk menuju Bandar Bakau, kita berjalan menuju daerah Purnama. Nanti kita akan bertemu sebuah jembatan yang di kedua sisinya terdapat Tempat Pemakaman Umum. Sekitar 500 meter setelah melewati jembatan, kita akan melihat plang Jalan Nelayan di sebelah kanan. Masuk ke jalan tersebut, di ujung jalannya lah terdapat Bandar Bakau ini.

Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh

Untuk menuju kota Dumai sendiri, dari Pekanbaru dengan jalan darat, memakan waktu sekitar 4 jam. Ada beberapa angkutan sewa yang melayani trayek Pekanbaru – Dumai. Ongkosnya antara 100 ribu hingga 200 ribu rupiah.

Oya, jangan lupa, untuk yang berasal dari luar kota, bisa membeli oleh-oleh kerupuk cabe khas Dumai yang bisa di dapatkan di daerah Purnama atau di dekat SPBU Raya Bukit Datuk. Harganya 10 ribu rupiah untuk bungkus besar, dan 5 ribu rupiah untuk bungkus kecil. Rasa pedas manisnya membuat kita susah untuk berhenti makan kerupuk ini begitu kita mencicipinya. Rasa pedas manisnya akan selalu mengingatkan kita akan Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh.


2016-06-29

Cerita Rakyat Melayu Riau : Legenda Putri Tujuh

Cerita Rakyat Melayu Riau Legenda Putri Tujuh

Legenda Putri Tujuh sangat termahsyur di Dumai. Legenda ini menceritakan tentang sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang terdapat di Dumai. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari.

Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.

Seorang pangeran ternama bernama Empang Kuala terpikat dengan kecantikan Mayang Suri. Kemudian ia bermaksud melamar sang gadis. Namun tanpa diduga, pinangan tersebut di tolak oleh sang ratu dengan alasan putri tertua lah yang harus menikah terlebih dahulu.

Akibat penolakan tersebut, Pangeran Empang Kuala memutuskan untuk memerangi Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Ditengah berkecamuknya perang, Ratu Cik Sima memutuskan untuk melindungi ketujuh putrinya dengan menyembunyikan mereka dalam sebuah lubang dengan dibekali makanan untuk 3 bulan.

Namun ternyata perang berlangsung lebih dari 3 bulan. Memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.

Suatu senja, saat para pasukan pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Pasukan itu pun berhasil dilumpuhkan.

Sementara itu, tanpa disadari oleh Cik Ima, ketujuh putrinya telah tewas di dalam lubang persembunyian akibat bekal mereka yang mereka miliki telah habis. Alangkah sedihnya Ratu Cik Ima. Tak sanggup menahan duka, akhirnya Ia pun wafat.

Begitu terkenalanya legenda Putri Tujuh ini, Semenjak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai.

Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. nama kilang itupun juga dikenal dengan nama Kilang Putri Tujuh.

Kemudian bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Dan konon peristiwa tempat dilumpuhkannya pasukan Pangeran Empang Kuala tersebut berada di kawasan Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh saat ini.

Lirik Tujuh Putri pun sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit. (disadur dari ceritarakyatnusantara.com)

2016-06-28

Sekolah Alam Bandar Bakau, Dumai

Sekolah Alam Bandar Bakau, Dumai

Tidak semua pelajaran dapat kita pelajari di bangku sekolah formal. Selain itu, dengan waktu belajar yang sedikit dan materi pelajaran yang banyak, maka banyak materi pelajaran yang dipelajari namun tidak mendalam.

Sekolah Alam Bandar Bakau, Dumai


Sekolah alam yang terdapat di kawasan Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh, Dumai – Riau ini salah satu solusinya. Di sekolah ini, para siswa diajarkan lebih dalam lagi tentang lingkungan pesisir pantai. Bagi anak-anak Dumai yang tinggal di kawasan pesisir, tentunya pemahaman tentang lingkungan ini sangat penting.

Di bangku sekolah formal mungkin mereka hanya mengetahui bahwa di antara sekian banyak tumbuhan, ada satu yang bernama bakau (mangrove). Di Sekolah alam, mereka mempelajari banyak jenis bakau, seperti apa bentuknya, dan bagaimana mereka tumbuh dan berkembang, termasuk berbagai jenis hewan yang hidup di sekitarnya.

Sekolah alam Bandar Bakau ini pertama kali digagas oleh Darwis Moh Saleh yang juga menjadi pengelola Bandar Bakau tempat sekolah ini berada. Bersama LSM Pencinta Alam Bahari, pada bulan September 2010 lalu, sekolah alam ini didirikan secara swadaya. Sekolah alam Bandar Bakau saat ini secara rutin membuka kelas belajar setiap hari Minggu pagi hingga petang.

Sekolah Alam Bandar Bakau, Dumai

“Pada awalnya saya risau melihat anak-anak yang bermain di Bandar Bakau ini, namun tidak mengenal bakau itu sendiri. Saat itu saya coba mengajak mereka berkeliling dan memperkenalkan berbagai spesies bakau yang ada. Ternyata anak-anak menyukainya,” papar Darwis tentang latar belakang Ia mendirikan sekolah alam ini.

Sejak itulah anak-anak yang ada di sekitar Bandar Bakau atau kota Dumai secara umum mulai belajar di sekolah ini. Kemudian untuk pengelolaan sekolahnya sendiri, ditunjuklah Syaiful sebagai kepala sekolah.

Sekolah Alam Bandar Bakau, Dumai

Menurut Syaiful yang akrab dipanggil Asay Malay, tenaga pengajar di sekolah ini berasal dari berbagai kalangan. Namun kebanyakan adalah mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau yang memang berkampus di Dumai.

Materi yang diajarkan kepada anak-anak ini juga tidak melulu tentang lingkungan saja. Mereka juga diajarkan tentang kemampuan public speaking, kesenian, serta berenang. Dan materi-materi tersebut 70 persennya diajarkan secara praktek.

“Anak-anak belajar 30 persen teori dan 70 persen praktek. Tujuannya agar anak-anak mampu mengaplikasikan apa yang dipelajarinya secara langsung,” ujar Asay.

Dari pantauan Riau Magazine saat mengunjungi sekolah alam Bandar Bakau ini, tampak anak-anak sangat menikmati belajar di tempat ini. Beberapa di antara mereka mengungkapkan keasyikan belajar di sini. Menurut mereka, pelajaran yang paling menyenangkan adalah ketika di ajak berenang.

Pengetahuan tentang lingkungan pesisir terutama seputar bakau ternyata cukup dikuasai. Ketika ditanya tentang berbagai spesies bakau dan menunjukkan yang mana pohonnya, anak-anak ini dapat menjawab dengan lancar.



Mangrove untuk Dumai di Sekolah Alam Bandar Bakau


Melaksanakan kegiatan yang bersifat peduli lingkungan tidak harus menunggu pemerintah. Mulailah dari diri kita sendiri. Semangat ini pula lah yang diusung teman-teman dari Akademi Akuntansi Riau (AKRI) Dumai yang menggagas acara “Mangrove untuk Dumai”. Dengan berbekal semangat itu, mereka mencoba mengumpulkan para relawan dan donatur untuk mewujudkan acara mereka.

Minggu (22/01/12), bertempat di Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh, Dumai, acara penanaman seribu pohon bakau itu pun dilaksanakan. Hadir dalam acara tersebut ratusan relawan dari berbagai instansi maupun pribadi.

Selain dari kota Dumai sendiri, relawan juga datang dari kota-kota lain di luar Dumai, seperti Pekanbaru, Jambi, Padang, Jakarta, Bogor dan sebagainya. Usianya pun beragam. Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa hadir mengikuti acara ini.

“Walaupun anggaran yang kita miliki sedikit, pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai akan membantu setiap kegiatan yang berhubungan dengan kelestarian hutan bakau di Dumai ini,” ujar Drs. Basri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai, mewakili Pemko Dumai, dalam sambutannya sebelum membuka acara secara resmi.

Sebelum acara menanam, para relawan terlebih dahulu mendapatkan pembekalan tentang mangrove (bakau) oleh Darwis Moh Saleh, pengelola Bandar Bakau ini. Setelah edukasi, barulah para relawan tersebut mulai bertebaran dengan membawa bibit-bibit bakau yang telah disiapkan panitia.

Mangrove untuk DumaiWalaupun tanah sekitar agak becek akibat hujan yang mengguyur Kota Minyak dan Pelabuhan ini malam sebelumnya, tidak menyurutkan semangat para relawan ini untuk berkotor ria sambil menanam bibit.
Tidak butuh waktu lama untuk menanam seribu bibit bakau tersebut. Kondisi tanah yang tidak keras dan berlumpur justru mempermdah proses penanaman tersebut.

Tidak sampai satu jam, semua bibit telah ditanam. Beberapa orang anak-anak tampak asyik bermain lumpur, walaupun mereka telah selesai menanam bibit bakaunya.

Dan demikianlah, para relawan yang hadir pagi itu di Bandar Bakau telah menanamkan investasi mereka demi kelestarian hutan bakau di pesisir kota Dumai, sekaligus mencegah kota Dumai dari dampak kekurangan air tawar yang diakibatkan punahnya bakau.

2016-06-27

Bom Bagan (Bagansiapiapi)

Bom Pelabuhan Bagansiapiapi

Bom Bagan dan sebuah senja. Dulu dan dulu lagi, seorang penyair anak Parit Aman dekat Serusa dan Raja Berjamu, membuat Puisi melodis dan mengoyak hati, bertajuk Bom Bagan. Ya, Ediruslan Pe Amanriza. Dia anak jati Bagan Siapi-api. Sebuah kota pesisir pantai berada di estuaria Rokan yang kaya, berdepan selat Melaka bergulung sejarah bahari. Tiang-tiang Bom Bagan [dermaga] itu kini telah terpacak di tengah daratan, tersebab sedimentasi muara sungai yang menyerbu ke daratan. Bagan menjulur bak jazirah baru. Bagan di kepung sungai sempit berlumpur di celah pulau Berkey.

Dulu dan dulu lagi, saya pernah lama bermastautin di Bagan dalam sebuah riset sosial. Bergerak dari kampung ke kampung. Sesekali menetas pusat kota seraya minum teh dan kopi, mie Hailam. Menikmati indah senja, makan tepi jalan, hiruk pikuk becak dan motor hilir mudik. Keramahan orang Bagan, tiang kayu nan kukuh Perguruan Wahidin, serta jazirah kenangan sepanjang jalan Perdagangan yang mayor diperkenalkan Ediruslan dalam syair atau sajak-sajak.

Dan kini, pada sebuah malam, saya menyaksikan genderang serba berubah yang menyerbu Bagan. Dulu dibungkus sabut dan jalan papan, menjadi pemandangan eksotis dalam takungan Bagan yang molek. Dia sebuah Bandar kecil yang bergemuruh, berubah dan mencari bentuk-bentuk baru dalam perjumpaan-perjumpaan baru. Kini, Bagan tak didatangi lagi dari laut. Dia seolah bukan kota air, tak kota pesisir, tapi kota benua. Dulu, jika hendak ke Bagan, semua berdasarkan jadual kapal berpergian dari Dumai dan Asahan. Kini orang ke Bagan, tak terikat waktu. Dia menjadi kota terbuka. Bagan berubah jauh dan jauh. Dalam gelap malam saya meraba, mana Bom Bagan yang menyisa beberapa tiang, tugu batu kecil prasasti ‘perjanjian dengan setan’, mana kuil Cina tua?... Semua berubah dan bergemuruh.

Kedai Cina dengan gaya arcade, bertiang kayu. Kedai Cina berdinding kayu warna khaki, juga berubah semarak dalam bungkus warna-warni berdasarkan ketersediaan pulsa warna. Bupati Annas begitu kuat dan hadir pada setiap sudut kota ini. Dia sosok yang bijak. Kepemimpinan gaya penghulu masa lalu yang dekat dengan rakyat, menyelam kemauan rakyat yang berhati keras. Tanah dengan orang-orang berhati keras ini, seperti menemukan buku dan ruas. Akibatnya? Tanah dan negeri ini begitu maju dan menemukan bentuk-bentuk baru.

Bom Bagan tinggal kenangan. Kini, tersergam wajah aquatika Bagan di pesisir Rokan Batu Enam. Horizon selat Melaka seperti menghanyut dan menjahit rindu tentang masa lalu dan sesuatu yang serba akan. Annas adalah makhluk masa lalu yang bergairah menghadirkan sesuatu bersuasana ‘akan’. Rokan Hilir menuju ‘akan’ yang begitu jauh. Dan jauh meninggalkan induknya di Bengkalis yang bercogan besar namun bertindak kecil. Annas seakan tokoh yang tak pernah mengusung cogan itu dan cogan ini. Tapi tindak dan perbuatannya besar dan gergasi, untuk meniti jazirah masa depan bagi anak-anak Rokan. Bom Bagan adalah kenangan yang dicatat Ediruslan dalam narasi panjang dan berjuntai. Annas menyuruh kita mencatat Bom Bagan dalam bungkus modern, tapi dalam rasa Melayu estuaria.

[yusmar yusuf]
Tulisan asli tertanggal 1 Maret 2012

Sumber Gambar :
Tepi Laut Bagan Siapi-api 1939
Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies

2016-06-26

Bujanggi Performance - Jazz Melayu

Bujanggi Jazz Melayu Performance

Hidangan bunyi dengan kemiripan misteri. BUJANGGI, mengawali kegelisahan waktu dalam pengucapan jazz sejati. Kemiripan bunyi yang bertapak akrhaik-purba, seakan memperoleh laman ‘pertengkaran’, bahwa bunyi itu ialah sejumlah bunyi kekinian, tak semata purba. Tapi dia seakan bergerak pada sebuah palung sungai purba tentang bebunyian dunia, yang dinukil lewat gendang telinga manusia. Kemudian diolah dalam rasa ‘bunyi’ manusia, menjadi nada, jadi jampi, dan pengobat tentang segala nadi bebunyi yang mengisi seluruh ‘kota bunyi’. Inilah ‘kota bunyi’ [sound city] sejati, dalam serangkaian penjumlahan dan persimpangan yang berbagi, berkali dan tak mengenal ‘berkurang’.

BUJANGGI PERFORMANCE,
MAJELIS DUNIA
BANDAR SERAI 16-17 MARC, 2012
PEKANBARU

KOMPOSER: ERIBOB
GROUP: BUJANGGI
JENIS ALIRAN: JAZZ
LIRIK: YUSMAR YUSUF [DI LUAR DAMAK]

Composer Eri Bob, seorang jenius ‘bebunyian’ Riau, tak laut tak darat. Tak sungai tak selat, mengecat ruang riang dalam gelegar bunyi mendayu, gemuruh, menyentak dan menghentak. Di situ… ya di ujung dari segala bunyi, tersergam kasih, sayang, damai dalam sejumlah ‘persaksian’ mengenai kehadiran cerita langit nan memucuk, darat yang menyata, air nan memuka, yang meng-ada dalam kilas balik perjalanan umat manusia: MAJELIS DUNIA.

Persaudaraan, ialah nukilan agung tentang manusia dan sejumlah perkauman dalam persimpangan yang menyulut gaduh, badai, hingga perang bani dan berujung rujuk. Sejak Ibrahim mengeja langit; bulan memujuk, matahari menunjuk. Sejak Ibrahim merapah segala lembah, air bertajuk. Sejak Ibrahim mendaki, semua rendah menjadi tinggi. Inilah awal “MAJELIS DUNIA” mengenai kesadaran ruang, kesadaran waktu, kesadaran tentang YANG SATU, keniscayaan mengenai batu yang diremas jadi puisi. Segala batu, dia berpembawaan mulia…. Dan bebatuan itu ketika digerinda, dipancung dengan ketajaman yang laju, dia berubah jadi wangi, menghiasi jemari. Jadi permata.

MAJELIS DUNIA, mengungkai sirah perjalanan batu jadi gemala. Bunyi jadi mustika. Bebatuan ialah amsal manusia yang beku dan bebunyian yang menjinak segala beku, lalu laju menuju arasy YANG SATU.

Dengan ‘simpai jazz’ sebagai pilihan ‘musica-franca’, Eri Bob menghidang dan mengukir dunia, menyerbu dunia dari sebuah titik kabus di atas planet bunyi, yang berjarak beribu batu dari tanah Ur, tempat Ibrahim berseruuuuu…. Menghidu UUUU di dua kota bunyi. Ur dan Pekanbaru.

Musik yang akan dimainkan :

  1. Jempana; jazz, sebuah rasa tentang cara mengusung dan menandu segala bunyi, sehingga menjadi sediaan tentang ‘memilih’ , bagaimana ‘memilih’ dan membuat pilihan di atas segala usungan bunyi yang merayap dan kuyup disimbah masa yang teramat gelap. Rasa Melayu, menyusup dalam ‘pengucapan’ jazz nan jelita dan mewarta. Entahlah… yang jelas bebunyian jazz, mengusung dan mengusung ‘sesuatu’.
  2. Nocturnal; malam, mengusung ambience yang menggairah bagi segala makhluk; tak merayap, tak melata, bergelantungan, bertuntun cahaya, di lantai bumi, dasar laut. Malam ialah puisi, bagi semesta. Bintang hadir dengan kisah yang jauh dan berjulur. Bulan menimbul, mengambang dan hilang. Demikianlah bunyi, kala malam dia bersahut dalam serbuk misteri nan sayup. Sesayup-sayup waktu menghulu.
  3. Gadget Generation; berterimakasih ke masa kini. Ya…. Anak-anak dan zamannya yang laksana bunda kandung dari generasi digital. Segala ihwal selesai di ujung jemari, sejak kicau minor hingga revolusi “Arab Spring”. Dia hadir di celah gang dan ramai bergemuruh di taman square, segala mall dan penanda penting dari makhluk “consumo ergo sum” [Belanja, karena itu aku ada]. Dia telah menawan “cogito ergo sum” dalam penjara waktu yang bergumpal.
  4. Majelis Dunia; inilah persidangan agung yang dihadiri gunung-gunung, lembah, padang gurun, laut, sungai, teluk, jazirah, tasik dan sejumlah risau dan gairah. Majelis yang meletakkan segala tempat dengan tapaknya, segala roh dengan spiritnya, segala putik dengan tangkainya, segala indah dengan kaidahnya. Ya, Ibrahim yang membelah jazirah demi sebuah ‘majelis persidangan’: Majelis Allah, Majelis Dunia…
  5. Sendalu; jangan berharap datang angin sendalu, jika ‘sakal’ juga yang mengantar bahtera ke tanah seberang. Dan kita pun sampai ke tanah jauh, walau sakal, walau sendalu…. Maka keluar dan bergeraklah dalam pencarian dan pencarian, sehingga pencarian, berujung temu dan menemu…
  6. Puncak Selesa; ya mahligai di puncak tempat orang melepas segala resah. Inilah puncak selesa… di puncak, orang berhanyut dalam imaji dan seru tiada satu
  7. Damak; dalam cita yang mengatasi, sebuah meta-historia mengenai lalu dan kini, demi menerjemah akan. Dia tak sosok, tak angin dan tak waktu. Dia bersemayam dalam ingatan medium, bukan minor, tapi mayor. Dengan rasa jazz, Damak berkayuh waktu dan melintas segala penat.

[naskah disediakan oleh yusmar yusuf, budayawan Melayu]
Tulisan asli tertanggal 2 Maret 2012

2016-06-25

Derajat Seniman di Jagat Raya - Puisi Jazirah

Derajat Seniman di Jagat Raya - Puisi Jazirah

Sebuah Catatan dari Puisi Jazirah

Derajat seorang seniman di alam semesta ini adalah yang tertinggi kedua setelah Tuhan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh budayawan Riau, Yusmar Yusuf,   saat acara Puisi Jazirah di Taman Batu Enam bagan siapiapi, sabtu (24/03/12). Menurut beliau, hal tersebut adalah karena kemampuan seorang seniman dalam mencipta.

"Setelah Tuhan yang maha pencipta alam semesta ini, seniman mendapat anugerah berupa kemampuan untuk mencipta juga. Karena itu posisi seniman itu sangat tinggi," demikian paparannya dihadapan ratusan masyarakat yang hadir di kawasan wisata dan perkantoran Pemkab Rohil tersebut.

Puisi Jazirah sendiri merupakan sebuah acara pembacaan puisi yang menghadirkan seniman/penyair Riau maupun lokal. Acara yang ditaja oleh Dewan Kesenian Riau ini berlangsung selama 2 hari di 2 tempat yg berbeda. Selain di Taman Batu Enam Bagan Siapiapi, malam sebelumnya (23/03/12), puisi jazirah digelar di kampus IPDN ujung tanjung atau yang lebih dikenal dengan IPDN Kampus Rohil.

Dari 2 kali pelaksanaan Puisi Jazirah di kabupaten Rokan Hilir ini, penampilan para penyair ini mendapat apresiasi dari para penonton. Para penyair ini membawakan puisi-puisi karya mereka sendiri, atau karya-karya penyair besar Riau dan Nasional seperti Ediruslan Pe Amanriza, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, hingga Chairil Anwar.

Para seniman riau yang membacakan puisinya adalah Fedli Aziz, Eriyanto Hadi, Raja Isyam Azwar, Mostamir Thalib, Syaukani Al Karim, Hang Kafrawi, Sumiyanti, Intan, Eddy Ahmad RM dan ketua DKR Kazzaini KS.

Selain itu juga turut membaca puisi, seorang praja putri asal Sumatra Selatan bernama Ririn dan pamong pengasuh, Afrizal, yang tampil di Kampus IPDN Ujung Tanjung. Sementara dari Dewan Kesenian Rohil turut membacakan yaitu Dodi dan Andi.

Acara Puisi Jazirah ini sangat mendapat sambutan yang baik dari Pemkab Rohil. Secara bergantian, Bupati dan Wakil Bupati Rohil hadir di kedua tempat pelaksanaan acara. Bupati H Annas Ma'mun hadir di Ujung Tanjung, sementara wakil bupati H Suyatno hadir di Taman Batu Enam.

Tulisan asli tertanggal 26 Maret 2012

2016-06-24

Makanan Khas Riau

Makanan Khas Riau, Bolu kemojo

Makanan khas Riau, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan makanan khas di provinsi lainnya seperti Sumatera barat, Kalimantan, serta provinsi Kepulauan Riau, yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu. Walaupun memilki persamaan dengan daerah lain di Indonesia, makanan Khas Riau tetap menunjukkan jati dirinya.

Makanan khas Riau juga memiliki beberapa perbedaan disetiap kabupaten/kota dalam provinsi ini, seperti makanan khas Pekanbaru, makanan khas Rokan Hilir, makan khas Kuantan Singingi, makanan khas Kampar, makanan khas Bengkalis, dan daerah-daerah lainnya. Namun secara umum makanan khas daerah Riau antara lain : gulai asam pedas patin, gulai belacan, gulai sayur lemak kuah santan, gulai terung asam, bacah daging, dan gulai belacan udang.

Makanan Khas Riau


Bolu Kemojo, juga merupakan makanan khas Riau yang umumnya di hidangkan jika ada peristiwa besar seperti hajatan atau hari raya. Cara pembuatan bolu kemojo ini memang mirip pembuatan bolu seperti biasa, bedanya adalah warna hijau yang menjadi ciri khas bolu kemojo.

Laksamana Mengamuk, nah yang satu ini bukan sebuah peristiwa, melainkan nama sebuah minuman yang mirip sekali dengan bajigur, makanan khas daerah jawa barat. Hanya saja bedanya didalam es laksamana mengamuk ini di tambah irisan kecil-kecil mangga kweni yang terkenal harum itu.

Lempuk Durian : Dilihat dari namanya jelas makanan ini berbahan utama durian. Atau istilah lainnya berupa dodol durian. Cirri khas lempuk durian ini menjadi salah satu makanan khas Riau yang menjadi terkenal dimana-mana. Lempuk durian merupakan makanan khas kabupaten bengkalis provinsi Riau.

Dadih, merupakan makanan khas kabupaten Kampar. Makanan seperti ini juga terdapat di sumatera barat. Dadih merupakan susu kerbau yang di fermentasikan seperti yogurt.

Makanan khas Riau lainnya yang terkenal seperti : Gendar ketan hitam, Bangket durian, Air mata pengantin, Kue 8 jam, Pais udang, pindang jamur, Rujak maharaja, Juice tiga rasa, kluntup, sayur asam, juice jagung manis, kue bangket jeruk nipis, lenggang, sambel goreng jamur, sambal belacan dan lain-lain.

Sebenarnya masih banyak makanan khas Riau yang banyak di produksi, namun hanya beberapa saja yang benar-benar menjadi ikon untuk makanan khas Riau ini. pembuatannya pun beragam, ada yang dibuat di industry pengolahan makanan, ada juga yang dibuat oleh industri rumahan.

2016-06-23

Tonil Pancur - Daik Lingga

Ujung Dermaga Desa Pancur Daik Lingga

Siang itu, serombongan manusia bergegas menuju Pancur. Sebuah desa kecil nan ramai yang tergeletak manja di tepi Laguna permai. Senja pun tiba, malam mulai memanjat kecil. Kanak-kanak berkicau dari celah daun pintu kamar hotel terapung. Mereka datang untuk sebuah canda dan gurauan orang pulau. Malam itu mereka tampil prima, menonjolkan kekuatan verbal, tanpa harus menguasai panggung. Mereka tampil dalam sebuah teater mini yang memang tak berpanggung. Posisi pemain teater [tonil] mini ini, hampir dominan memunggung alias membelakangi penonton.

Mereka tak perlu terobsesi menguasai panggung, sebab kata-kata mereka kuat dan powerfull. Kata-kata verbal mereka mengepung panggung dan mengurung segala penonton yang menyemut di atas puncak hotel menghadap punggung gunung Daik nan menawan. Ya, parade baca puisi oleh para penyair dari Pekanbaru, Jakarta, Batam dan Daik berderai. Penuh canda dan dialog-dialog mini, terkadang menggoda. Sebuah perpaduan yang terkesan anti kemapanan. Sejauh ini, segala perkakas kesenian Melayu dikepung bagai seni pejabat, demi memuaskan kemauan pejabat. Tapi, malam itu semua demi rakyat dan jelata untuk terlibat langsung dalam kesenian. Sebuah malam pembebasan dari jebakan seni para pejabat. Inilah Puisi Laguna, membaca dan menyergahkan puisi di tepi air Laguna nan molek. Ya, sengaja dipilih tepi Laguna yang amat susah ditemukan di kawasan Melayu, kecuali beberapa titik di Luzon, Selatan Thai, dan kepulauan Nusa Tenggara.

Kanak-kanak di Pancur, bergelut dan berenang di atas kata-kata yang kuat. Penuh canda dan gurauan. Diselingi parodi dan sinisme ‘lunak’ dari mulut dan idiom kanak-kanak. Beralas pada sebuah alur cerita yang sederhana, namun kepiawaian mereka menjahit narasi secara bebas dan improvisatif menjadikan teater mini [tonil] ini memiliki watak memucuk dan meninggi. Abstraksi ide cerita itu boleh dikatakan setingkat abstraksi tingkat sarjana, bukan SMA, apatah lagi SMP. Rerata pemain tonil ini adalah siswa SMP di Daik. Mereka datang dan hadir dengan serangkaian candaan dan gurauan khas Melayu dengan dialek lokal yang gemulai namun menusuk. Di desa-kota air Pancur. Sebuah aquapolis menawan. Para penyair malam itu hampir sepakat, bahwa desa-kota ini, adalah tanah puisi. “Di sini, kami kehilangan kata-kata”, ujar seorang seniman.

Mereka masih berada di lorong yang panjang dalam kreativitas. Karena usia muda, jalan panjang kreatif dan produktif itu mesti segera dirangsang dalam beragam momen dan event, termasuk jenis skala penampilan mereka. Tak sekedar dimekarkan dalam kadar lokal, akan tetapi mesti menguasai sudut teater regional, bahkan nasional dan internasional. Kekuatan watak mereka dalam penguasaan panggung, sebenarnya tak perlu diragukan lagi. Dan kinilah saat dan ketika yang tepat, melakukan perlawanan kesenian dari kampung-kampung yang tak mesti didatangi dengan seperangkat dana APBD yang cenderung mematikan kreativitas berkesenian. Dari Pancur Lingga Utara, para seniman Melayu yang berasal dari ragam suak rantau itu berazam melonjakkan seni kampung-kampung dengan bebas dan improvosatif, tak harus diisi oleh serangkaian pidato demagogi para bupati dan para kepala dinas yang tak tahu menahu dengan kejadian kesenian yang telah menyejarah dalam diri manusia Melayu. Pancur menjadi inspirasi bagi Melayu untuk melonjakkan Melayu dalam gempita yang tak sejenis lagi. Yang tak dibiasi oleh konstruksi urban dan segala Melayu di perkotaan yang cenderung menjual segala ihwal yang berbau Melayu itu. Pancur, menyuruh kita bergegas…

Jumpa lagi, tahun depan. Di sebuah musim timur yang damai dan tenang, tiada tengkujuh. Pada musim itu, segala beruk yang tertidur pulas, tak sadar berjatuhan ke air. Saking tenang dan menidurnya musim timur, bagi tanah Lingga. Pada sebuah musim, yang menebus rindu suara kanak-kanak, yang jadi cemin atas kegegabahan manusia dewasa mengenderai kehidupan yang lebih sarat keliru itu. Kanak-kanak, ialah auliya @ orang suci dalam pangkuan Tuhan.

[Yusmar Yusuf]
Tulisan asli tertanggal 10 Maret 2012

=======

Catatan gambar di atas :
Pemandangan dari ujung dermaga Desa Pancur menjadi semakin eksotis dan penuh kehangatan ketika sore hari dan waktunya matahari terbenam. Matahari berada di balik Gunung Daik menjadi sebuah hadiah yang tak terhingga bagi Desa Pancur.

Perlu waktu 3 jam menuju Desa Pancur dengan menggunakan Speedboat dari Tanjung Pinang setiap hari. Jalur lainnya adalah dari Kota Daik menuju Desa Resun dan naik kapal speedboat kecil menyusuri Sungai Resun langsung ke Desa Pancur sekitar 20 menit.

2016-06-22

Anambas Natuna - Lokasi Menyelam di Ujung Langit Utara Indonesia

Menyelam di Ujung Langit Utara Indonesia - Anambas Natuna

Menyelam di Ujung Langit Melayu
Atan Yahya
Tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos, Ahad 20 Mei 2012

[Lokasi Menyelam - RiauMagz] - Gugusan Pulau Tujuh terdiri dari gugusan kepulauan Anambas, Natuna di utara dan Tambelan di selatan. Walau kadang beberapa orang menambahkan dengan gugusan kepulauan Badas yang dipisahkan dari gugusan kepulauan Tambelan. Gugusan ini terletak di Provinsi Kepulauan Riau dengan wilayah yang sangat luas, sebagian besarnya terdiri dari lautan. Gugusan ini juga merupakan garis terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan Malaysia, Thailand, Vietnam dan China.

Berada di ujung kaki langit Bumi Melayu nun jauh di utara Indonesia. Takkan nampak di mata jika hanya berdiri di pantai Ancol Jakarta, apalagi jika berdiri di Pantai Senggigi maupun Gili Trawangan dengan terumbu karang Blue Coral-nya. Kawasan yang luas didominasi laut dengan pulau besar dan kecil yang tersebar semerata langit.

Keindahan gugusan pulau ini menyebabkan sebuah portal berita terkenal CNN.com menobatkan gugusan Anambas sebagai 5 kawasan pulau terbaik se-Asia mengalahkan kawasan Koh Chang (Thailand), Langkawi (Malaysia), Halong Bay (Vietnam), Similan Islands (Thailand). CNN menyampaikan hal ini pada pertengahan April lalu berdasarkan review bersama Herman Ho (Boat Asia 2012 managing director) dan Stuart McDonald (founder and editor of Asian travel website, travelfish.org).

Menurut CNN, di sekitar Pulau Bawah, terdapat laguna yang terlindung dengan air yang begitu biru dan jernih serta ditumbuhi dengan karang-karang yang indah. Tak jauh masuk ke pulau, akan ditemui air terjun juga dengan air yang jernih dan menyejukkan.

Lokasi selam di Anambas lainnya misalnya di bagian utara terdapat lokasi Tokong Layar, Pulau Penjalin dan Damar Pinnacle. Sedangkan di bagian selatan kepulauan Anambas ini terdapat lokasi selam seperti Karang Katoaka, Malang Biru dan Seven Skies yang merupakan lokasi tenggelamnya kapal tanker bernama Seven Skies di sekitar Pulau Tioman tahun 1969.

Sebenarnya, bukan hanya Anambas yang memiliki titik atau lokasi selam maupun sekedar snorkling. Gugusan pulau Natuna, Tambelan dan Badas sendiri pun memiliki lokasi-lokasi selam yang menakjubkan dengan berbagai variasi karang dan biota laut. Jika tak menyelam, melakukan kegiatan snorkling pun tak usah jauh-jauh.

Sebut saja kawasan Pulau Tiga di Kecamatan Pulau Tiga Kabupaten Natuna. di Sekitar Selat Lampa juga memiliki areal lokasi yang indah untuk melakukan kegiatan snorkling. Bayangkan saja, rumah penduduk yang biasanya di tepi air, memiliki halaman berupa laut dangkal dengan bebatuan karang yang tidak diganggu, sehingga tetap asri terjaga dengan berbagai jenis ikan.

Duduk di tepi pelantar rumah penduduk di Pulau Tiga dan memandang ke bawah, maka terhamparlah batu-batu karang yang indah itu sebagai asesoris halaman rumah. Jika di darat, halaman rumah ditumbuhi bunga ros, lidah mertua, asoka dan lain-lain, maka di Pulau Tiga, halaman rumah penduduk yang berada di tepi air ditumbuhi dengan bunga karang dengan ikan-ikan karang yang berseliweran kesana-kemari. Inilah harta yang terserak di halaman rumah. Inilah Natuna. Tak Perlu menyelam.

Majalah Islands pada September 2006 menyebut kawasan Natuna sebagai "The Best Undiscovered Beach". Pantai yang belum terjamah sehingga keindahaannya sangat asri. Pantai-pantai yang terserak di seluruh pulau-pulau di kawasan Natuna, tidak terbilang jumlah dan indahnya. Sebut saja pantai Tanjung yang jaraknya tak jauh dari Batu Sindu.

Jika mau snorkling, tak usah jauh-jauh. Pergilah ke Pulau Senuar (Senoa) di depan Batu Sindu. Terumbu karang yang cantik dilengkapi cerita legenda tentang Pulau Senoa itu sendiri yang berbentuk perut wanita hamil. Terumbu karang di sekitar Pulau Senoa membuat biota laut tak berpindah tempat. Ikan langka pun semacam Napoleon Biru menginap di terumbu karang itu.

Jauh di ujung utara, terdapat Pulau Sekatung yang berjarak lebih dekat ke Ho Chi Minh (Vietnam) daripada ke Jakarta. Pulau ini termasuk dalam kecamatan Pulau Laut dengan luas 1,65 km2 yang dihuni oleh beberapa keluarga ditambah personil Satgas Marinir Divisi Navigasi karena terdapat mercusuar disana. Kawasan laut di sekitar pulau ini dipenuhi terumbu karang yang cukup lebar dengan berbagai jenis ikan hias serta penyu sisik. Keindahan ini ditambah lagi dengan lokasi-lokasi lainnya seperti pantai Cemaga, keelokan pulau Selaut, Kelarik dan Sedanau sebagai kota pulau kuliner.

Inilah Natuna, dengan pulau-pulau di Ujung Langit Bumi Melayu nun jauh di utara Indonesia yang tentu saja masih berada di dalam wilayah NKRI. Memandang alam Natuna akan membuat mata lebih sehat. Memiliki potensi wisata bahari yang besar, walau memiliki kendala transportasi. Siapa yang mau membantu?

Lokasi Menyelam Anambas - Natuna :

Tokong Layar
Pulau Penjalin
Damar Pinnacle
Karang Katoaka
Malang Biru
Seven Skies
Pulau Tiga
Selat Lampa
Pulau Senuar (Senoa)
Pulau Sekatung
Kelarik
Pantai Cemaga
Pulau Bawah

Pulau Bawah Anambas
Pulau tropik terindah se-Asia

Terletak di Desa Siabu Kecamatan Siantan Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau.
Koordinat pulau bawah :
N2 30 58.0 E106 02 41.8

Foto dari FB @yuninakirmizi

Kepulauan yg terdiri dari 5 pulau besar Bawah, Sanggah, Merba, Lidi dan Elang, serta beberapa pulau kecil lainnya. Berjarak sekitar 7 jam naik pompong atau 3 jam naik speedboat dari Terempa. Memiliki laguna-laguna yang indah disekeliling pulau dengan susunan batu koral yang dramatik.

Inilah gugusan pulau di Kepulauan Riau yang diklaim sebagai Asia’s top five tropical island paradises yang diselenggarakan oleh CNN.com, mengalahkan Koh Cang dan Similan Island di Thailand, Langkawi di Malaysia dan Teluk Halong di Vietnam. Gugusan pulau yang menjadi lokasi menyelam terbaik di Indonesia.

#kepri #anambas #pulaubawah #kiabu #batam #natuna #riaumagz #beach #lagoon #laguna #blue #terempa #landscape #water #sea #PesonaIndonesia #wisataindonesia #indonesia_photography #indonesia #cameraindonesia #indonesiabangga #pictures #pictoftheday #photo #photooftheday #likesforlikes #likes #like4like #likeforlike #instalike

2016-06-21

Batobo: Pantun Tradisi Ocu Kampar

Batobo: Pantun Tradisi Ocu Kampar
Batobo: Pantun Tradisi Ocu Kampar

Batobo: Pantun Tradisi Ocu Kampar


Batobo hakekatnya merupakan sebuah tradisi masyarakat Bangkinang, Kampar dan Teluk Kuantan di Riau. Tradisi ini dibawakan dengan menyanyikan pantun secara bersahut-sahutan ketika mengerjakan ladang atau di sawah di musim menanam dan menuai tiba. Batobo dilakukan oleh generasi muda atau pemuda-pemudi atau orang yang sedang berladang pada waktu itu di ladang. Perubahan zaman dan modernitas menyebabkan tradisi ini tidak lagi ditemukan. Namun para penggiat seni Riau masih menggunakan tradisi ini untuk dibawakan secara fiktif dalam acara-acara kesenian daerah, nasional bahkan internasional.

Batobo populer di tahun 80-an. Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, Batobo berasal dari kata "tobo" atau "toboh" artinya kelompok atau sekawan. Selanjutnya ditambah awal ‘ba’ menjadi batobo atau bertoboh-toboh artinya berkelompok-kelompok atau beregu-regu atau berkawan-kawan. Sehingga kemudian secara bebas Batobo ala Riau ini disebut juga dengan bergotong royong. Yakni mengerjakan ladang atau tanah pertanian secara bersama-sama atau berkawan-kawan secara bergiliran sesuai dengan anggota tobo. Oleh karena itu, di Riau, batobo dikenal juga sebagai persatuan atau organisasi tani.

Jika dilihat dari pertunjukkan yang ditampilkan batobo adalah wujud kegembiraan ketika musim berladang tiba. Di mana para pemuda dan pemudi saling berbalas pantun dengan cara yang khas. Riwayat lain juga menyatakan kalau batobo merupakan wujud para pengolah lahan untuk menghilangkan rasa sepi dan lelah ketika berladang.


Batobo Pantun Tradisi Ocu Kampar


Ada beberapa jenis batobo, pertama, batobo yang ‘hanya’ dilakukan oleh kaum wanita. Ini merupakan awal pertama batobo dikenal dalam masyarakat. Pada zaman itu, kaum pria umumnya hidup tidak menetap di kampung atau pergi merantau, sehingga untuk kegiatan atau urusan pertanian sepenuhnya dilaksanakan oleh kaum perempuan. Tobo jenis ini disebut dengan tobo induok-induok atau tobo induk-induk (tobo ibu-ibu). Kedua, tidak terlepas dari perkembangan zaman, para bujang atau pemuda mulai membantu mengelola lahan. Hingga kemudian muncullah tobo bujang yang beranggotakan laki-laki. Ketiga, batobo jenis campuran. Jenis merupakan perkembangan yang lebih maju karena adanya tobo bujang gadih (pemuda-pemudi) yang anggotanya terdiri dari pria dan wanita, baik yang sudah menikah ataupun belum. Di sini berarti para pria dan wanita yang belum menikah. Karena tradisi di Kampar dan Taluak Kuantan menyebut induok-induok (ibu-ibu) sebagai perempuan yang sudah menikah. Meskipun kemudian perubahan makna menjadi lebih luas sehingga induok-induok di definisikan sebagai wanita.

Sebagai sebuah kelompok maka batobo umumnya dipimpin oleh tuo tobo (ketua tobo/kelompok) dengan anggota (anak tobo) berkisar antara 20-40 orang. Kegiatan batobo dibagi dalam beberapa bagian, yaitu ‘menyemulo’, yaitu saat mencangkul lahan pertama kali. Kemudian ‘membalik tanah’ atau mencangkul lahan untuk kedua kalinya. Selanjutnya disebut ‘melunyah’ yaitu menginjak-injak lahan dengan kaki (kegiatan ini khusus untuk sawah). Setelah itu ‘menanam benih’. Dan terakhir tahap memanen.

Berikut ini penulis temukan satu contoh pantun batobo yang dinyanyikan dengan khas ala masyarakat melayu Kampar dan Teluk Kuantan, Riau:

intan-intan Pulau Anggoda
toluak siantan solok aghu
acu santan odiak simpola
mano kan omuo bacampu bawu
(intan-intan Pulau Anggoda
teluak Siantan Solok Aghu
kakak santan adik ampasnya
tidaklah mungkin akan bersatu)
***



2016-06-20

Batu Basurek Prasasti Raja Adityawarman

Batu Basurek (Batu Bersurat atau Prasasti) Raja Adityawarman
Dipublikasikan di Scribd.com oleh H. Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar

Batu Basurek (logat minang) atau batu bersurat atau prasasti merupakan bentuk peninggalan yang dituliskan pada sebongkah batu. Karena ditulis diatas batu, masyarakat Minangkabau menyebutnya dengan nama “batu basurek”. Disebut juga prasasti karena memuat tentang berbagai informasi masa lalu: adakalanya tentang kehidupan masyarakat, upacara-upacara, tokoh, hukum ketatanegaraan, silsilah kerajaan, tanda-tanda kemenangan, batas wilayah kerajaan, desa perdikan (tanah kerajaan). Sebagian besar batu basurek yang terdapat di Sumatera Barat adalah peninggalan Adityawarman, seorang tokoh besar di kerajaan Melayu, yang bertakhta selama 30 tahun (1347-1377) di Pagaruyung.

Batu Basurek (bersurat) Prasasti Adityawarman Pagaruyung

Batu Basurek (bersurat) Prasasti Adityawarman
Prasasti Pagaruyung

Adityawarman pernah berperan di Mojopahit dengan meninggalkan namanya dalam prasasti Manjusri dari Candi Jago (1265 Çaka atau 1334 M), kedudukannya di Kerajaan Mojopahit sebagai Mantri Parada Utama, setingkat Werdamentri, karena ia diakui sepupu Rajapatni atau Gayatri. Pengabdiannya dikerajaan ini dibaktikannya dengan mendirikan Candi Budha yang sangat bagus di Bhumi Jawa agar memudahkan pemindahan arwah orang tua dan kerabatnya dari dunia ke alam keabadian di Nirwana.

Namanya terpatri kemudian di batu basurek (prasasti) Padang Roco 1208 Çaka (1347 M) ketika dinobatkan menjadi raja Melayu yang kemudian meluas sampai ke Pagaruyung meningalkan bukti-bukti tertulis di atas bongkahan batu. Rupanya Adityawarman telah dipersiapkan di Mojopahit dengan menempatkannya pada beberapa jabatan, seperti Werdamenteri dan sebagai duta ke Cina.

Prasati-prasasti Adityawarman yang ditemukan di Sumatera Barat itu, sebagian besar (19 prasasti) berada di Kabupaten Tanah Datar dan 2 prasasti di Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Prasasti-prasasti itu cukup banyak untuk mengungkapkan peranannya sebagai raja terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Dengan demikian dapat dianalisis kedudukan dan peranannya ditengah masyarakat Minangkabau maupun Pagaruyung.

Keadaan prasasti banyak yang rusak serta sebagian sudah patah atau hilang. Beberapa hurufnya tidak terbaca, sehingga menyulitkan untuk membuat transkripsi yang lengkap dan akurat. Ada pula prasasti dengan variasi huruf yang sesuai dengan perkembangan.

Adityawarman (1294 -1377), putra Melayu dari seorang ibu bernama Dara Jingga, asal usul ini dihubungkan dengan berita dalam Kitab Pararaton yang mengisahkan bahwa :

"Aksara sapuluh dina teka kang andon saking malayu, olih putri roro, kang sawiji ginawe binihaji denira Raden Wijaya, aran Raden Dara Petak: kang atuha arab Dara Jingga alaki dewa apuputra ratu ing Malayu, aran Tuhan janaka, kasir-kasir warmadewa, bhiseka Siraji Mantrolot. Tunggul Pamalayu lan Patumapel : Saka-rsi- sanga-samadhi: 1197


Artinya :
Sekitar sepuluh hari kedatangan rombongan yang bertugas ke Malayu, diperoleh dua orang putri, seorang bernama Dara Petak, ia diperisteri oleh Raden Wijaya, putri tua bernama Dara Jingga bersuamikan dewa (manti) anaknya menjadi raja di Malayu. Diberi nama Tuhan Janaka, masih bersaudara dengan Sri Warmadewa; gelarnya Aji Mantolot. Peristiwa Pamalayu dan Patumapel bersamaan tahun saka; pendeta-sambilan-samadi, 1197 (Machi Suhadi, 1990;230)


Suami Dara Jingga adalah seorang pejabat tinggi di kraton Mojopahit yang gelarnya "dewa". Gelar dewa itu tidak ada di kraton-kraton Jawa, tentu ia juga seorang Malayu. Dalam prasasti Adityawarman tahun 1347 M, di balik arca Amoghapasa, disebut Dewa Tuhan Perpatih adalah mertua atau bahkan ayahnya sendiri, sedangkan ibunya seorang putri Dharmasraya. Adityawarman berkuasa di Bhumi Melayu (Sumatera) setelah masa kekuasaan Sriwijaya mulai surut (menurut Prasasti Amoghapasa di *Rambahan). Bapaknya bernama Adwayawarman (Prasasti *Kuburajo). Adityawarman mengatakan bahwa ia bukanlah keturunan langsung penerus takhta kerajaan, tetapi ia bertindak sebagai raja yang adil dan pandai karena mempunyai ilmu pengetahuan (Prasasti *Ombilin).

Setelah mengabdikan dirinya di istana Mojopahit, ia kembali ke kampung halamannya, menaiki takhta kerajaan neneknya, Tribuana Muliawarmadewa, (Tiga Raja Yang Dimuliakan) yang terletak di tepi Batang Hari (1347). Kemudian ia memindahkan kerajaannya ke pedalaman Sumatera Tengah.

Adityawarman memilih daerah Minangkabau itu, karena alasan strategi, berhubung dari sana dapat mengawasi jalan perdagangan ke Palembang, Jambi dan Riau. Juga karena dapat juga menguasai perdagangan emas. Ia menamakan dirinya Raja Kanakamedinindra atau raja Pulau Emas (Prasasti *Kuburajo).

Prasasti Adityawamarman telah banyak dibaca para ahli, seperti de Casparis, Machi Suhadi, sehingga makin jelas peranannya dalam sejarah perkembangan budaya dan politik di Asia Tenggara, ketika agama Budha mulai sirna dan sinar Islam mulai berkembang Bumi Melayu (Sumatra). Ancaman agama Islam itu menimbulkan pengaruh yang cukup besar bagi Adityawarman untuk memperkuat dan memperdalam agama Budha sekte yang dianutnya.

Kebanyakan prasasti Adityawarman yang terdapat di Minangkabau memakai tulisan Sansekerta dan bahasa Melayu Kuno, meskipun ada juga tulisan JawaKuno, seperti prasasti Pagaruyung, Kubu Rajo, Ombilin, Rambatan danPariangan. Di samping terdapat juga batu basurek *di Rambahan, Sungai Langsat,dekat Siguntur, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Di *Lubuk Layang,Kecamatan Rao Mapattunggul terdapat pula batu basurek Raja Muda Adityawarman yang terlihat ketika terjadi kebakaran pada tahun 1965.

BATU BASUREK PAGARUYUNG, 1347


Di Gudam, nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas terdapat delapan buah batu basurek atau prasasti yang terletak di bawah sebuah cungkup. Batu Basurek itu terdiri dari:

1) Batu Basurek (Prasasti) Pagaruyung I
Prasasti ini berasal dari Dusun Kapalo Bukit Gombak, Batu Sangkar. Sebelumnya disebut Prasasti Bukit Gombak II, yang sekarang dinamakan Prasasti Pagaruyung.

Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dan bahasa Melayu Kuno, berangka tahun dalam bentuk candrasengkala pada baris ke-19 Wasur mmumibhuja stjalam, 1278 Çaka atau tahun 1357 M. Prasasti ini terdiri dari 19 baris tulisan yang menyatakan Adityawarman bergelar Sri Maharaja Diraja.

Adityawarman adalah raja besar yang arif bijaksana. Ia bergelar Maharaja Diraja, sebagai permata dari keluarga Dharmaraja. Kerajaannya disebut di Suwarnadwipa. Ia mendirikan sebuah bangunan bihara lengkap dengan segala sarana yang dibutuhkan orang. Ia pun dinobatkan sebagai Sang Budha yang luhur, kokoh dan kuat (Sutathagata bajradhaiya).

Batu basurek ini ditulis seorang pendeta atau seorang guru bernama Dharmadwaja. Hampir seluruh Sumatera sampai ke Semenanjung Malaka tunduk kepadanya. Sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan, ia dibantu oleh tokoh dwitunggal di bidang politik; oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, mengadakan pertemuan dengan senang hati. Artinya, kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif sepenuhnya dipegang oleh penghulu di nagari-nagari dan kerapatan adat untuk mencapai kata sepakat.

Itu sebabnya antara lain, mengapa kerajaan Pagaruyung tidak berakar diLuhak Nan Tigo. Akan tetapi ke daerah pesisir dan rantau kerajaan ini masyhur. Sedangkan dalam angkatan perang (hulubalang), ia dibantu olehDatuk Katumanggungan. Sejak 1349, Adityawarman telah mempunyai tentara yang kuat di bawah pimpinan Tuan Gadang di Batipuh, sehingga ia dapat menguasai sebagian pulau Sumatra dan Semenanjung Malaka di bawah kekuasannya. Serangan tentara Mojopahit yang menyerang kerajaan Minangkabau dapat dipatahkan di Padang Sibusuk (1409).

Isi prasasti ini adalah :
Swasyamtu prabhu (m) adwayadwayanrpa adityarman crya wangÇaÇari amararyya
Wangsapati aradhita maitritwam karuna mupakÇa mudita satwopa
Karaguna yatwam raja sudharmmaraja krtawat lekhesi (t) tisthahati //O//
Çri kamaraja adhimukti sadas (trakintha) (t) amyabhisekasutathagata bajta (w) sys.s
(g) ajna pancasadabhijna suparnna (gatra) adityawarnepate adhirajah //O// sawast //
Çrimat cri adityawarma prataparakrama rajendramomaniwarmmadewa marahadi
Raja sakolakajanapriva. Dharmarajakutilaka saranagataba jrapanjara ekanggawira.du
Sta (ri) garahacrista paripalaka saptanggaraja sayada mangundharana patapustaka pratimalaya yam ta
L (l) ah jirna pada sapta swarna bhumi. Diparbwat bhihara nanawiddhaprakara
Nan pancamaha Çabda, jalanda barbwat maniyammakraya dipaurnnamasya di sanmuka
K brahmana (w) aryyopadddyayatyada kapodra watyada mulisamun, tyada rebut rentak
Sakala pya sampurna sakyanyam masina diwisak dadatu ya datra panyambarum yam ha
Ndak barbwinasa sasanenam sapaparanam gohattya sapaparanam sapunyanam matapitadrohi sapapanam
Swamidrohi gurudrohi. tulu tayam mangumo dharmenan sapunyanam ya ghuram matapitabhak ti swami bhakti.
ta nana annadana. ya punyanya yang ghuram matapitabkati. Swamibhakti
gurubhkati, dewabhakti, sapunyana nguram maraksa cilapurnamawasya, antya (t) ma
nubhawa samyak sambhuddhamargga// O …. Sarwopakarakrta punya sudana sharmmam jirrnno
(lama) ya janaÇraya punyawrkasamanittya prapakiranal salokÇri. Adi
tyawammanrpate maniwarmadewa/. Subham astugate cake, wasur mmumi bhuya stjalam
waicaka pandaÇake, site buddhacca rajyatu //O// krtiriyam acaryya a
mpuku dhammaddhwajanama dheyassasya, abhiseka karubajra //o//


Sumber : Hasan Djaffar, Prasasti-prasasti masa Kerajaan Malayu kuno dan beberapa Permasalahannya, Seminar Sejarah Melayu Kuno, Jambi 7-8 Desember 1992

2) Batu Basurek (Prasasti) Pagaruyung II
Prasasti ini berasal Dusun Kapalo Bukit Gombak dan sekarang disebut Prasasti Pagaruyung II. Prasasti ini dalam keadaan terpotong menjadi dua terdiri dari 14 baris, sedangkan baris ke-9 dan ke-10 hilang. Pada bagian atas tulisan terdapat hiasan sejenis kala. Pada baris ke-14 menyebutkan nama Adityawarman. Batu basurek ini transkripsi belum diterbitkan dan tulisannya telah kabur, sehingga sulit dibaca.

3) Batu Basurek Pagaruyung III
Merupakan permulaan dari prasasti Batu Baragung. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah pilar batu yang ditulis dalam bentuk seloka sebanyak satu baris tulisan. Angka tahunnya ditulis dalam bentuk candrasengkala, yang menunjukkan tahun Saka 1269. Atau 1346 M. Isiprasasti tersebut adalah:

"Dware rase bhuje rupe, gatau warsasca Kartike, suklah pancatisthis some, bsjrendra”
Artinya:Pada tahun saka 1269 yang telah lalu, pada bulan Kartika, bagian bulan terang, pada hari kelima, Senin, wajra, Yoga, Indra Bajra"


4) Batu Basurek Pagaruyung IV
Prasasti ini ditempatkan di Pagaruyung, dipahatkan di batu andesit dalam keadaan tulisannya sudah sangat aus, sehingga hanya berupa bayangan putih saja. Prasasti ini terdiri dari 13 baris. Sampai baris ke-8 tulisannya sudah tidak terbaca. Sedangkan baris berikutnya hanya sedikit yang dapat terbaca,sehingga sukar untuk mendapat arti secara keseluruhan prasasti ini sangat kabur.

5) Batu Basurek Pagaruyung V
Diatas batu andesit tulisannya telah aus.Batu basurek ini berasal dari Ponggongan, kemudian dibawa ke Pagaruyung. Prasasti ini merupakan pecahan dari dengan 5 baris tulisan. Hurufnya sudahaus. Pada baris ke-5 terdapat nama Adityawarman.

6) Batu Basurek Pagaruyung VI
Batu Basurek (prasasti) ini berasal dusun Kapala Bukit Gombak yang kemudian pindah ke Pagaruyung yang ditulis dalam dua baris tulisan yang berbunyi :

"Om pagunnira tumangin kudavira”


Artinya :
"Bahagia atas hasil karya Tumanggung Kudawira".
Berdasarkan bunyi kalimatnya, prasasti sebagai suatu tanda ucapan selamat kepada Tumanggung Kudawira. Walaupun belum mengenal dengan jelas siapa tokoh Tumanggung Kudawira, namun hasil karya itu dapat dihubungkan dengan siapnya pengairan Bandar Bapahat, sebuah pengairan tertua di Asia Tenggara."


7) Batu Basurek Pagaruyung VII
Prasasti ini ditempatkan di Pagaruyung. Ukuran batunya kecil dan ditulis satu sisi dan berjumlah baris 16. Aksaranya kecil-kecil dan pahatannya dangkal, ditulis dalam bahasa Malayu Kuno. Tulisannya sudah banyak yang kabur dan aus sehingga banyak yang tidak terbaca.

Isi prasasti tersebut adalah :

1.Daha raja pra ….
2.Purnarapi jawat madana pra
3.Raja dhiraja mat sri akarenbata
4.Rmma maha raja dhiraja lagi tiada bata (NG)
5.Nabatanna mwah banwa (trampa trukda)
6.Nagari pamuta (ka) Tuhan naipi
7.Manganban Tuhan Prapatih sa ….y
8.Mulihat tidaba nta tansu
9.Tunpa riba … ra kasi
10.Hunni parihayangasi yg mangmangi
11.Satyah haduta Srimaharajaddi…
12.Raja tuhani gha sri rata
13.Matu datu hananinh
14.Tuhan prapatih tudangma ngamang sua mangwa
15.Sumpah sunda hanat waya


Artinya:
1.Raja …..
2.Yang senantiasa beramal (jumlah besar)
3.Segala raja yang mulia sri Akendrawarman
4.Penguasa para raja yang dahulu ditaklukkan dan dikalahkan
5.Dengan adanya perahu bambu
6.Yang di depan (terutama) adalah Tuhan, pemimpin
7.Yang memberi aba-aba adalah Tuhan perpatih (nama jabatan)
8.Ditarik supaya kembali
9.Disusun du ….
10.Yang selalu mengadakan pertemuan dengan rasa kasih sayang
11.Tatua yang bersumpah
12.Setia menjadi hiasan sri maharaja di …..
13.Raja (yandu) Tuhan gra sri ratu (dunia) sri
14.Datu (ratu) yang berada di ……
15.Tuhan perpatih bernama Tudang, bersumpah, apabila
16.Disumpah apa bila sedang berada di (pohon di tepi sungai) akan
dibunuh (disambar buaya).


Isi prasasti ini tidak dapat dibaca seluruhnya, karena sudah banyak hurufnya yang hilang, tetapi ada yang menyebutkan nama Adityawarman dengan gelar Maharajadiraja. Ada juga nama lain, srimat Akendrawarman, patih bernama Tuhan Perpatih dan Tuhan Gha Sri (Dunia) Ratu

8) Batu Basurek Pagaruyung VIII
Batu Basurek ini berasal dari Ponggongan, kemudian ditempatkan diPagaruyung. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu berbentuk segi-4 tediri dari dua baris tulisan yang berbunyi:

1.Om titiwarsitha ratu ganata hadadi jestamoras dwidasa dirta dana satata lagu nrpokanatajana amara Wasita wasa]
2.Shukhasthita //0//


Artinya:

"Bahagia pada tahun Saka 1291 bulan jyesta tanggal 12 (adalah) seorang raja yang selalu ringan dalam berdana emas dan menjadi contoh bagaikan dewa (berbau) harum."


Prasasti ini mempunyai tanggal candrasengkala yang berbunyi "ratu ganata hadadi", atau ratu bernilai 1, gana bernilai 9 dan hadadi 12, jadi prasasti ini berangka tahun 1291 Saka, bulan jyesta (Mai, Juni) tanggal 12. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sansekerta dengan sedikit bahasa Jawa Kuno. Isi prasasti ini berupa pujian terhadap seorang raja (Adityawarman ) yang disamakan dengan dewa.

BATU BASUREK KUBU RAJO, 1349


Batu Basurek Kubu Rajo atau Prasasti Kubu Rajo terletak situs purbakala diKuburajo, Batu Sangkar. Kubu Rajo terdiri dari dua kata, kubu dan rajo yang artinya benteng raja (Adityawarman). Prasasti ini ditulis dengan huruf Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta terdiri dari 16 baris. Tulisannya masih baik dan dapat dibaca semuanya.Teks dari prasasti tersebut bersumber : Machi Suhadi, 1990; 226-227 yaitu:

1.Om mamla wiragara
2.Adwayawarmma
3.Mputra Kanaka
4.Medinindra
5.Sukrta a wila
6.Bdha kusalaprasa
7.// dhru// maitrikaru
8.na a mudita u
9.peksa a// yacakka
10.janakalpatarurupa
11.mmdana //a// Adi
12.tyawarmma mbhupa kulisa
13.dharwansa//o//pra
14.tiksa awatara
15.srilokeswara
16.dewa // mai (tra)
17.


Secara ringkas, isi prasasti ini adalah Adwayawarmman mempunyai putra bernama Adityawarman yang menjadi raja Tanah Kanaka (= emas/Sumatera); Adityawarman berasal dari keluarga Indra. Yang terpenting dari prasasti ini menyebutkan bahwa Adityawarman menjadi Kanakamedinindra, Raja Tanah Emas (Sumatra) dan mempunyai ayah bernama Adwayawarman. Di samping prasasti tersebut, di bawah cungkup ada sebuah batu dengan teratai dan pancar matahari, simbul agama Budha, agama yang dianut oleh Adityawarman. Adityawarman mempergunakan batu-batu megalit dari zaman prasejarah untuk prasasti dan ukiran tersebut.

BATU BASUREK SARUASO, 1357


Di Saruaso terdapat 2 buah batu basurek atau prasasti dan sebuah di Bandar Bapahat.
1. Batu Basurek Saruaso I
Prasasti ini ditemukan di desa Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas. Dituliskan pada sebuah batu berbentuk kubus pada dua sisinya dengan empat baris tulisan Kuno berbahasa Sansekerta. Prasasti ini berangka tahun Saka1296 atau 1375 Masehi.

Prasasti tersebut berbunyi sebagai berikut:

1.subhamastu //o// bhuh karnne darssane saka gate jesthe sasi manggale/sukle sasthi tithi nrpotta
2.magunairadityyawarmmannrph racite visesadharani namna suravasavan/hasa
3.no nrpa asanottamasakhadyam pivvanisabha//o// puspokati saharasni/
4.tesan gandhamprthalprthak/ adittyavarmabhupala/ henagando samobhavet //o//


Secara ringkas sekarang isi prasasti ini adalah :
Pada tahun Çaka 1296 Raja Adityawarman ditasbihkan sebagai ksetrajna dengan nama Wisesadharani menurut aturan sekte agama Budha di suatu tempat bernama Suruaso

2. Batu Basurek (Prasasti) Saruaso II
Sampai tahun 1987 batu basurek atau prasasti Saruaso ini berada di halaman Bupati Tanah Datar, Batu Sangkar. Pada tahun 1992 dipindahkan ke kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jl. MT. Harjono 11 Batu Sangkar.Teks prasasti ini adalah:

1.Subha mastu //o// dwaragresillalekayat krta
2.Gunasriyauwa rajyampadam, namnascapi as
3.Nangwarmma tanaya adityawarmanmmpraboh
4.Tiratwamahiimapratapa balawan wairigaja
5.Kesari. Sattyammatapitagurokaruna
6.Ya he bajranityasmrtih


Dalam prasasti yang ditemukan di Bukit Gombak, disebutkan Adityawarman menobatkan putra mahkotanya yang bernama Ananggawarman dalam suatu upacara hewajra. Istilah hewajra didalam prasasti ini mengingatkan kita kepada upacara hewajra di Cina ketika Khu Bilai Khan dinobatkan sebagai raja oleh DalaiLama. Hal ini tidak heran mengingat Adityawarman pernah dua kali menjadi utusan Mojopahit ke negeri Cina. Aliran agama yang dianut Adityawarman Bajrayana, suatu sekte agama Budha Mahayana.

Pengaruh sekte seperti ini terdapat juga dari prasasti lempengan emas dari biara Tanjung Medan, dekat Panti, Kabupaten Pasaman. Di samping ukiran bajra yang ganda, ada nama Dhyani Budha dan kata "phat" ialah nama Tibet untuk Budha. Hubungan Tibet dengan Sumatera telah berlangsung semenjak abad ke-12 ketika Atissa, biksu dari India belajar di Sriwijaya di bawah pimpinan Dharmakirti. Atisa belajar di Malayagiri di Sriwijayapura.

BANDA BAPAHEK, SARUASO, SISTEM IRIGASI


Di Banda Bapahek (bandar/parit/aliran berpahat) terletak 1 km dari Saruaso terletak Banda Bapahek, sebuah irigasi yang tertua di Asia Tenggara. Irigasi ini menembus dinding batu karang dibuat atas perintah Adityawarman untuk mengairi sawah-sawah yang terletak dilembah Saruaso. Irigasi ini terletak 2 meter dari Batang Selo.

Adityawarman merasa perlu membuat dua buah maklumat di dinding berjajar.Bidang sebelah kiri terpahat 10 baris dengan aksara yang lazim dipakai pada prasasti lainnya yang berbahasa Melayu Kuno dan bahasa Sansekerta.

Untuk membaca prasasti ini sangat sulit karena keadaan tulisan yang sudah aus dimakan masa. Dari sisa tulisan yang dapat dibaca, terdapat nama Adityawarman dan nama desa Surawasawan, yaitu grama Surawasawan, yang artinya penguasa Suruaso.

Pada dinding yang sebelah kanan prasasti ditulis dengan aksara Granta dari India Selatan dengan corak bahasa Tamil. Pada masa pemerintahan Adityawarman terdapat kelompok masyarakat yang berasal dari India Selatan yang hubungan kerja dengan rakyat Adityawarman. Masyarakat dari India Selatan itu telah tinggal selama 300 tahun di Pagaruyung. Mereka datang dari pantai barat dan menetap di Pariangan pada abad 11, ikut membantu menata kembali 'nagari' dan 'koto' di Minangkabau. Kata 'nagari dan koto adalah kosa kata bahasa Tamil.

BATU BASUREK OMBILIN



Di Ombilin, di tepi Danau Singkarak terdapat sebuah batu basurek yang ditulis sendiri oleh Adityawarman. Batu basurek itu telah patah sebelah atas,sehingga tinggal hanya 9 baris. Batu Basurek ini menyebutkan bahwa, "Ia (Adityawarman) mempunyai sifat sebagai matahari yang membakar orang jahat dan menolong orang yang baik”. Dan pada bagian terakhir prasasti itu dibunyikan :

"nahi nahi nrpawangsawidhyadharendra nahi nahi ….. dharmadharman-adityawarma//”


Oleh de Casparis teks ini diterjemahkan :

(meskipun) bukan keturunan raja-raja, (namun) ia adalah raja dari widhyadharma bangsanya.


Widhyadhara berarti yang memegang ilmu pengetahuan dan dianggap maha tahu dan membantu manusia. Sloka ini tidak saja memuji Adityawarman yang memerintah selaku raja yang adil dan sangat pandai, melainkan juga menyinggung tentang asal usul Adityawarman.

Mengingat begitu mudahnya Adityawarman menjadi raja di Melayu, seharusnya prasasti Ombilin ini ditafsirkan dengan:

"(meskipun) bukan keturunan langsung dari raja, (namun) ia adalah raja dari widhyadhara bangsa".


Sepanjang bukti sejarah yang lain pada batu basurek Kuburajo, ayahandanya adalah Adwayawarman dan dalam kitab Pararaton disebut 'dewa' dan tidak pernah memerintah sebagai raja Melayu. Karena itulah ia menyatakan dirinya memegang ilmu pengetahuan dan dianggap maha tahu dan membantu manusia untuk menjadiRaja di Kanakamedinindra (Prasasti Kuburajo).

BATU BASUREK RAMBATAN 1291



Batu basurek atau prasasti Rambatan ini ditemukan tahun 1950 di desa LimoSuku, Kepala Koto, Kecamatan Rambatan terdapat sebuah batu bersurat Adityawarman, yang disebut Prasasti Rambatan. Prasasti ini terdiri dari 6 baris tulisan yang sudah aus. Bahasanya Melayu Kuno yang ditulis pada tahun 1291 Çaka atau 1370 Masehi. Di atas batu basurek itu ada gambar dua ekor ular yang saling membelit. Gambar ini merupakan lambang dunia bawah. Penganut agama Budha mencari kebenaran untuk mencapai dunia bawah atau nirwana.

Pada prasasti tersebut terdapat jejak kaki Budha yang sekarang berada di desa Bodi, Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Tapak Budha disediakan Adityawarman sebagai tempat pemujaan bagi pengikut agama Budha. Adityawarman memerintah menterinya membuat cungkup untuk tempat berteduh bagi para peziarah Budha ke tempat itu.

PRASASTI RAMBAHAN 1286



Di desa Rambahan, Kecamatan Pulau Punjung, daerah hulu Batang Hari,ditemukan sebuah prasasti Adityawarman yang dipahatkan di belakang arca Amoghapasa, sekarang ditempatkan di Museum Nasional di Jakarta. Arca ini adalah kiriman dari Raja Kertanagara pada tahun Saka 1208 untuk ditempatkan diDarmasraya (1286 M).

Tulisan Adityawarman dipahatkan pada bagian alas arca yang ditemukan di Padang Roco tahun 1911. Prasasti ini ditulis denga huruf Jawa Kuno dan berbahasa Sansekerta, dalam bentuk candrasengkala yang menunjukkan 1268 Çaka atau 1347 M Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Diraja Adityawarman, yang menyebutkan dirinya Srimat Sri Udayadityawarman. Disebutkan juga beberapa hal seperti: penyelenggaraan upacara bercorak tantrik, pendirian arca Budha dengan nama Ganaganya dan pemujaan kepada Jina. Disebutkan juga Rajendra Mauli Muliawarmmadewa Maharajadhiraja dan nama Malayupura.

Arca yang tingginya 4m ditemukan di Sungai Langsat, sekarang di daerahKabupaten Sawah Lunto Sijunjung ditemukan pada tahun 1935. Arca perujudan Adityawarman ditempatkan pada sebuah candi, yang sekarang terletak di dekat Batang Hari, di dusun Padang Roco. Candi ini bernafaskan Budha Mahayana, agama yang dianur raja-raja Melayu.

Pada tahun 1992 di tempat ini ditemukan juga komplek percandian yang terdiri dari 3 buah candi, sebuah candi induk 36 x 36 m, dikelilingi dua candi Perwara yang luasnya masing-masing 20 x 20 m

BATU BERSURAT LUBUK LAYANG



Di Lubuk Layang, di Kecamatan Rao Mapattunggul, Kabupaten Pasaman,ditemukan sebuah batu bersurat atau prasasti yang terlihat ketika terjadi kebakaran di desa tersebut pada tahun 1965. Kini ditempatkan pada sebuah cungkup di Lubuk Layang.

Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu pada kedua sisinya. Sisi depan terdapat 9 baris kalimat dan sisi belakang 8 kalimat yang semuanya berbahasa Melayu Kuno. Keadaan prasasti sudah sangat aus dimakan masa. Prasasti ini tidak menyebutkan nama Adityawarman, melainkan menyebut Bijayendrawarman sebagai jauwa raja atau raja muda di Sri Indrakila Parwatapuri.

Prasasti diduga kuat prasasti ini ada hubungannya dengan bekas-bekas Candi Tarung-Tarung dan Pancahan di Kecamatan Rao Mapattunggul dan dengan sebuah biara yang terletak di Tanjung Medan, Nagari Petok,Kecamatan Panti Panti, Kabupaten Pasaman.

PRASASTI PADANG ROCO, SUNGAI LANGSAT 1275



Prasasti ini ditemukan di Padang Roco, Sungai Langsat, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Prasasti itu dipahatkan pada alas sebuah arca Amoghapasa. Prasasti ini mempergunakan huruf Jawa Kuno, bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta, dipahatkan dalam 4 baris tulisan pada tiga sisi alas arca. Arca Amoghapasa yang ditemukan di Padang Roco mengandung arti Padang Arca.

Teks prasasti tersebut adalah:

1. a. // Swasti Cakawarsita, 1208, bhadrawada masa,ti
b. thi pratipada Çuklapaksa, mawulu wage wrhaspati wara, madangkungan, grahacara nairitistha, wicaka
c. naksasatra, cakra (dewata, ma) ndala, subha
2.a. Yoga, kuwera, parbeca kinstugna muhurtta, kanya
b. nan tatkala paduka bharala arryamoghapaÇa, lokeÇwara, caturdacatmika saptaratnasahita, diantuk
c. dari bhumi jawa ka swarnabhumi diprasatista di darmaÇraya, akan
3.a. punya cri wiÇpakumara, prakaranan dititah paduka Çri ma
b. harajadhiraja Çri krtanagara wikrama dhammottunggadewa mangiringkan paduka bharala, rakryan mahamantri dyah
c. adwayabhahma, rakryan srikan dyah sugatabrahma muan
4.a. samangat payangan han dipangkaradasa, rakryan damun puwira
b. an punyeni yogja dianumodanan jaleh sakapraja di bhumi malayu, brahmana kesatya sudra a
c. ryyamaddhyat, Çri maharaja Çrimat tribhuwanaraja mauliwarmmade
d. wa pramukha //


Secara ringkas artinya :

1. Tahun 1208 Çaka (1275), arca Amoghapasa dibawa dari pulau Jawa ke Suwarnabhumi (Sumatra)
2. Arca ini ditempatkan di Darmasraya
3. Yang membawa dan mengantarkan arca ini adalah Sri Wispakumara
4. Pengiriman arca ini merupakan hadiah dari Raja Kertanegara
5. Hadiah ini sangat menggembirakan masyarakat Malayu, terutama RajaTribuanaraja Maliawarmadewa


Sumber tulisan :
Machi Suhadi, Silsilah Adityawarman dalam Kalpataru No.9 (Saraswati: Esai-Esai Arkeologi), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1990

De Casparis, J.G, Peranan Adityawarman, Seorang Putra Melayu di Asia Tenggara dalam Persidangan Antar Bangsa Tamadun Malayu II, Kuala Lumpur, Malaysia: 1989

Hasan Djaffar, Prasasti-prasasti masa Kerajaan Malayu Kuno dan Beberapa Permasalahannya, Seminar Sejarah Melayu Kuno, Jambi 7-8 Desember 199


Sumber Batu Basurek Prasasti Raja Adityawarman scribd.com :
http://www.scribd.com/doc/4551679/Batu-Basurek

2016-06-19

Hang Tuah Hikayat Ksatria Melayu - Bagian 2

Hang Tuah Hikayat Ksatria Melayu - Bagian 2
Hang Tuah


HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU Bagian Kedua
Oleh :
MOSTHAMIR THALIB
MAHYUDIN AL MUDRA

Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Adicita Karya Nusa
Yogyakarta
Edisi Pertama, 2004


HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU – Bagian Kedua


Beberapa tahun kemudian...

Kerajaan Melaka yang aman dan tenteram tiba-tiba bergalau. Bukan disebabkan oleh orang-orang yang mengamuk atau diserang musuh, tapi oleh fitnah. Berkembang kabar tentang Hang Tuah, kesatria muda perisai Kerajaan Melaka, penasihat pribadi kesayangan Raja Melaka, telah berbuat tidak sopan dengan seorang dayang istana.

Ketika fitnah itu semakin menyebar, Patih Kerma Wijaya bersama beberapa pengikutnya datang menghadap Baginda Raja. Di hadapan Baginda Raja, fitnah itu diceritakan secara rinci. Penjelasan Patih Kerma Wijaya dikuatkan pula oleh para pengikutnya.

Mendapat laporan itu, Baginda Raja sangat marah dan memanggil Bendahara Paduka Raja. “Hai, Bendahara. Usir si Tuah celaka itu! Dia sudah berbuat tidak sopan di dalam negeri ini!” perintah Baginda Raja dengan geram.

Bendahara Paduka Raja terkejut melihat kemurkaan Baginda Raja yang demikian hebat, hingga membuatnya tidak berani menanyakan tentang kesalahan yang telah dilakukan Hang Tuah Sang Laksamana yang kebal dan sakti

Bendahara Paduka Raja lalu menemui Tuah Sang Laksamana. Dia menceritakan kemarahan dan kehendak Raja mengusir Tuah Sang Laksamana Yang Kebal. “Karena perintah Raja, aku tak dapat menolongmu, Anakku,” jelas Bendahara sedih.

Mendengar bahwa dirinya diusir, dengan tenang Tuah menghunus keris dan menyerahkannya kepada Bendahara Paduka Raja sambil berkata, “Si Tuah ini tak akan bertuan lebih dari satu dan tak mau menantang rajanya. Laksanakanlah Datuk, apa yang Baginda Raja perintahkan terhadap saya!”

“Dengarlah Laksamana! Aku sangat berat melaksanakan perintah Baginda Raja. Sekarang, yang penting tinggalkan Melaka dulu, sebab Baginda Raja sedang murka kepadamu," kata Bendahara Paduka Raja dengan sedih. Mendengar jawaban Bendahara Paduka Raja, terpikir oleh Tuah untuk merantau ke lndrapura dan minta perlindungan dari Bendahara Seri Buana, Raja lndrapura. Setelah berpamitan ke Bendahara Paduka Raja, Tuah kemudian pergi berlayar ke lndrapura.

Setibanya di Indrapura, Hang Tuah disambut dengan suka cita oleh Bendahara Seri Buana. Tuah diizinkan tinggal di sebuah rumah milik kerajaan Kampung Bendahara.

Sebulan berlalu, Tuah Sang Laksamana mulai betah tinggal di lndrapura. la semakin mengenal orang-orang yang tinggal di Kampung Bendahara.

Suatu hari, saat duduk di depan rumahnya, Tuah Sanga Laksamana melihat seorang perempuan tua bernama Dang Ratna, inang Tun Teja, melintas di hadapannya. Tuah pun segera mencari tahu rumah Dang Ratna dari tetangganya. Setelah tahu, Tuah lalu pergi ke rumah Dang Ratna. Ketika bertemu Dang Ratna, Hang Tuah berkata, “Hai, Ibu! Ibu saya Iihat serupa betul dengan ibu saya di Melaka,” ujar Tuah Sanga Laksamana kepada Dang Ratna dengan memelas. Dang Ratna terheran-heran melihat Tuah Yang Kebal tiba-tiba menangis.

“Oh, Anak Muda! Tak usahlah bersedih hati. Anggap saja ibu ini sebagai ibumu sendiri. Ibu sudah tua dan juga tak punya anak,”jawab Dang Ratna.

Hari itu juga, Tuah Sanga Laksamana menjadi anak angkat Dang Ratna. Bukan main gembiranya Dang Ratna mendapat anak angkat yang gagah dan perkasa. Karena sangat gembira, Dang Ratna kemudian menceritakannya kepada para dayang Tun Teja, hingga terdengar pula oleh Tun Teja.

Dari hari ke hari, Dang Ratna makin sayang pada si Tuah, melebihi dirinya sendiri. Hang Tuah pun tahu inang tua itu sangat sayang kepadanya. Pada suatu hari. ia mengajukan permintaan kepada ibu angkatnya itu.

“Jika ibu memang sayang kepada saya, katakan pada Tun Teja mohon supaya dia berkenan menerima saya sebagai orang yang mengasihinya…”

Dang Ratna sangat terkejut mendengar permintaan itu. Ia mengeluh tidak berani menyampaikan permintaan seperti itu kepada tuan putrinya. Tetap Tuah terus mendesak, hingga akhirnya Dang Ratna tidak blsa Iagi menolak.

Keesokan harinya, Dang Ratna pergi menemui Tun Teja. Namun hari itu Dang Ratna belum berani menyampaikan keinginan Hang Tuah. Baru pada hari berikutnya Dang Ratna memberanikan diri bicara, saat menemani Tun Teja di taman. Dengan gugup, Dang Ratna mengutarakan rasa hati Tuah Sang Laksamana.

Mendengar perkataan Dang Ratna, Tun Teja marah. “Raja Melaka saja aku tolak. apalagi hambanya!” serunya dengan muka merah padam.

Tun Teja lalu memerintahkan dayang-dayang untuk menghukum Dang Ratna. lnang tua itu digosok mukanya dungan sabut kelapa. Akibat hukuman itu, Dang Ratna pulang ke rumahnya dengan muka terluka. Ketika Dang Ratna sampai di rumah, Tuah Sang Laksamana terkejut melihat ibu angkatnya terluka. Setelah mendengar cerita ibunya, Hang Tuah tergerak hatinya untuk menyadarkanTun Teja.

Malam harinya Hang Tuah berdoa. agar Tun Teja disadarkan atas perbuatannya yang tidak pantas kepada Dang Ratna. Pagi harinya, ia pergi ke rumah Dang Ratna dan meminta agar ibu angkatnya itu datang kepada Tun Teja untuk mendoakan yang sama.

Dang Ratna yang semula ragu-ragu akhirnya mau juga pergi. Ketika sampai di istana, Dang Ratna melihat Tun Teja tengah tidur-tiduran. Dengan diam-diam, Dang Ratna menghampiri Tun Teja lalu berdoa dengan khusyu Segera setelah selasai berdoa, Dang Ratna pergi. Sesaat kemudian, Tun Teja bagai terbangun dari mimpi. Tiba-tiba, ia merindukan Dang Ratna dan Hang Tuah. Ia bangun dan menyuruh dayang-dayang memanggil Dang Ratna.

Mendapat perintah Tun Teja, dua orang dayang segera mengejar Dang Ratna. Karena takut, Dang Ratna malah berlari. Akhirnya, kedua dayang itu berhasil membujuk Dang Ratna untuk menghadap Tun Teja.

“Jangan takut! Saya hendak menanyakan tentang si Tuah. Di mana dia sekarang?” tanya Tun Teja kepada Dang Ratna yang ketakutan.

“Ampunkan saya, Tuan Putri! Setelah Tuan Putri menolak keinginannya, katanya dia hendak kembali ke Melaka.”

Tiba-tiba Tun Teja merasa sangat sedih. Matanya berlinang. “Tolonglah saya. Bawalah dia ke rumah Mak Inang!" pinta Tun Teja pada Dang Ratna.

Setelah berpamitan, Dang Ratna lalu pulang dan langsung menghias rumahnya dengan tabir warna-warni dan kelambu bertirai keemasan.

Malam harinya, dengan menyamar dan ditemani beberapa dayang, Tun Teja menyelinap pergi ke rumah Dang Ratna. Sesampainya di rumah Dang Ratna, Tun Teja disambut Tuah Sang Laksamana dan diajak ke kelambu bertirai keemasan yang telah dipersiapkan Dang Ratna. Dengan santun, Hang Tuah mempersilakan Tun Teja duduk. Tun Teja lalu menyorongkan tempat sirih kepada Tuah, sebagai pernyataan sikap hormat dalam adat Melayu. Tuah pun menyambutnya dengan santun.

Sejak malam itu, hubungan Tuah Sang Laksamana dengan Tun Teja semakin erat. Tun Teja pun semakin sering datang menemui Hang Tuah.

Beberapa waktu kemudian. lndrapura disinggahi perahu Melaka pimpinan Tun Ratna Diraja dan Tun Bija Sura. yang datang dan membeli gajah di Myanmar. Mereka bertemu Tuah Sang Laksamana. Karena sudah saling kenal. permintaan Tuah Sang Laksamana ikut ke Melaka dikabulkan. Tuah Sang Laksamana membawa serta Tun Teja dan Dang Ratna.

Di perairan Riau Kepulauan, perahu Melaka diserang Tun Jenal. saudara Tun Teja, namun gagal. Rombongan Melaka melanjutkan perjalanan. Setibanya di Melaka, mereka disambut dengan meriah. Saat itulah. tampak Hang Tuah dengan tangan terikat, dan mengejutkan Raja Syah Alam yang duduk di balairung. "Mohon ampun, Tuanku! Selama ini saya tinggal di lndrapura dan sempat diminta jadi Laksamana, tapi saya tolak karena hanya ingin mengabdi pada Tuanku seorang,” jelas Tuah Sang Laksamana Yang Sakti. Raja Syah Alam lalu memerintahkan ikatan Hang Tuah dilepas.

Setelah ikatannya lepas. Tuah Sang Laksamana memberi hormat pada Raja Syah Alam. "Wahai. Tuanku. Hamba datang dari Indrapura untuk mempersembahkan anak panah manikam yang melekat di dada Duli Tuanku dan cermin yang Tuanku idamkan.“ kata Tuah Sang Laksamana yang sakti. Tun Ratna Diraja lalu menjelaskan bahwa Tuah Sang Laksamana telah membawa serta Tun Teja yang pernah diidamkan-idamkan Sang Baginda Raja.

Baginda Raja Syah Alam segera bangkit dan merangkul Hang Tuah. Dia lalu menyuruh dayang-dayang dan para istri pembesar kerajaan untuk menjemput Tun Teja. Hal tersebut tentu sangat mengejutkan Tun Teja. Ia pun menangis. Hang Tuah lalu memberinya pengertian, sambil berdoa dengan sungguh-sungguh agar hati Tun Teja dipalingkan darinya. la mohon agar Tun Tejn mau menerima pinangan Raja Syah Alam. Tun Teja pun akhirnyn mau menikah dengan Raja Syah Alam. meskipun Raja Syah Alam telah beristrikan Raden Galuh Mas Ayu. Setelah menikah, Tun Teja tinggal di Melaka. Hubungan antara lndrapura dan Melaka pun semakin baik. Tun Jenal yang semula menentang, akhirnya menyetujui saudaranya menjadi istri Raja Syah Alam. Tuah Sang Laksamana pun kembali menjadi Laksamana Melaka. Dengan kepandaian, kecakapan, dan kebijakannya, Kerajaan Melaka semakin maju dan berkembang.

Beberapa tahun kemudian, Hang Tuah kembali difitnah berbuat tidak sopan dengan seorang dayang istana. Penyebar fitnah itu adalah Patih Kerma Wijaya bersama teman-temannya yang merasa iri dengan kedudukan Tuah Sang Laksamana. Mendengar kabar itu, tanpa mencari tahu kebenarannya, Raja Syah Alam kembali memerintah Bendahara Paduka Raja agar membunuh Hang Tuah.

“Aku hanya perlu kabar dia sudah mati!" Kata Raja Syah Alam saat Bendahara menghadap.

Dengan sedih, Datuk Bendahara pergi menemui Tuah Sang Pemegang Keris Taming Sari. “Maafkan aku, Tuah! Aku tak dapat berbuat apa-apa untuk membelamu."

Tuah Sang Laksamana Yang Sakti tetap tegar menerima hukuman Raja. Namun, Bendahara tidak tega membunuh Hang Tuah dan mengungsikannya ke Hulu Melaka. Peristiwa ini tidak diketahui oleh siapa pun. Sebelum pergi, Hang Tuah menitipkan keris Taming Sari pada Bendahara agar diberikan kepada Baginda Raja. Oleh Raja Syah Alam, keris Taming Sari lalu diberikan pada Hang Jebat.

Mulai saat itu, Hang Jebat menggantikan posisi Hang Tuah sebagai Laksamana Kerajaan Melaka.

Semenjak memberi hukuman kepada Hang Tuah, Raja Syah Alam selalu tampak murung.

“Menyesalkah Tuan telah membunuh Laksamana Hang Tuah?” tanya Hang Jebat. Raja Syah Alam tidak menjawab. Beliau tetap berusaha menutupi kesedihan hatinya.

Untuk menghibur hatinya, Raja Syah Alam meminta Hang Jebat melantunkan syair dan hikayat Melayu. Suaranya yang merdu membuat para dayang saling berebut mengintip Hang Jebat. Tak jarang Raja tertidur di hadapan Hang Jebat. Pada saat inilah, secara diam-diam, para dayang menggoda
Hang Jebat.

Setiap kali Raja Syah AIam pergi, Hang Jebat semakin berani bertindak tidak sopan di depan para pembesar kerajaan. Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu terpaksa mengingatkannya. Namun, Hang Jebat tidak mempedulikannya sedikit pun. Raja Syah Alam sebenarnya telah diperingatkan Tun Teja tentang sikap Hang Jebat itu. Namun, Raja Melaka tetap sayangi pada Hang Jebat. Raja Melaka malah
memberinya gelar Paduka Raja

Lama-kelamaan Raja Syah Alam menyadari keIaIaiannya yang terlalu terlalu memanjakan Hang Jebat. Dia tidak dapat lagi mengendalikan tingkah laku Hang Jebat dan terpaksa harus pindah ke Istana Raden Galuh Mas Ayu. Hang Jebat tinggal sendiri di istana bersama para dayang.

Mengetahui hal itu, Hang Kasturi pun berniat menyadarkan kekeliruan Hang Jebat. “Hai, Jebat. Keterlaluan perbuatanmu! Sekarang aku dititahkan raja untuk membunuhmu!” teriak Hang Kasturi sesampainya di halaman istana.

Sambil tersenyum, si Jebat berkata, “Ketahuilah olehmu, Saudaraku. Aku berbuat demikian ini karena Laksamana sudah dibunuh! Aku harus menuntut balas pada Raja Melaka. Demi Tuhan, aku tidak mau bertarung denganmu."

Hang Kasturi memahami maksud si Jebat. “Aku mengerti maksudmu, tapi aku diperintahkan oleh tuanku. Jika harus mati pun, aku rela."

Beberapa prajurit pengawal Kasturi lalu mengeroyok si Jebat. Namun, mereka bukanlah tandingan Hang Jebat, apalagi dengan keris Taming Sari pemberian Raja ada di tangannya. Korban pun berjatuhan. Setiap kali tikam, setiap kali pula nyawa melayang. Setelah semua prajurit tewas, Hang Kasturi tinggal sendiri berhadapan dengan Hang Jebat. Bukannya menyerang, Hang Jebat malah kembali masuk istana dengan tenang.

"Sekali lagi aku bilang, aku tidak ingin bertarung denganmu, Saudaraku!" seru Hang Jebat keras.

Hang Kasturi pun gagal. Temenggung Tun Utama, dan Tun Bija Sura juga mencobanya, namun mereka juga tidak berhasil.

Raja semakin khawatir menyaksikan perbuatan Hang Jebat yang semakin kurang ajar. Ia terkenang pada Hang Tuah. “Sayang si Tuah sudah tidak ada. Di mana akan kucari orang seperti dia,” gumam Raja. Ia termenung, menyesali tindakannya yang telah memerintahkan untuk membunuh Hang Tuah.

Saat itulah Bendahara menghadap dan menceritakan bahwa Hang Tuah masih hidup. “Maafkan saya, Tuanku, karena telah melanggar perintah Tuanku. Hang Tuah tidak saya bunuh. Sekarang dia masih hidup di Huiu Melaka.” Mendengar hal itu Raja Melaka sangat gembira. Ia pun kemudian memerintahkan agar Hang Tuah segera dijemput.

Kemunculan Hang Tuah di Melaka disambut dengan sukacita. "Hai. Laksamana! Aku sangat dipermalukan. Aku minta bantuanmu untuk menghapus arang di mukaku ini,". kata Raja Syah Alam ketika menyambut Hang Tuah.

"Daulat Tuanku,” Tuah Sang Pemegang Keris Taming Sari memberi hormat. Karena masih letih. Hang Tuah pamit terlebih dahulu untuk beristirahat.

Setelah tenaganya pulih, Tuah kembali menghadap Raja dan menyatakan kesiapannya melawan Hang Jebat. Hang Tuah meminta kembali keris Taming Sari pada Raja Syah Alam. Tapi keris itu sudah terlanjur diberikan pada Hang Jebat. Sebagai gantinya, Hang Tuah diberi keris Purung Sari.

Dengan keris Purung Sari itulah Tuah Yang Sakti pergi ke istana raja untuk menemui Hang Jebat.

Sesampainya di halaman istana, Hang Tuah berteriak. “Hai, Jebat! Mengapa engkau tidak setia pada rajamu? ”

Mendengar suara itu, Hang Jebat berdebar-debar. Suara itu mengingatkannya pada Tuah Sang Laksamana. “Laksamana sudah mati dibunuh Bendahara, siapa pula yang datang ini, seperti Laksamana,” pikirnya. Hang Jebat lalu menjawab, “Siapa engkau yang hendak menantangku?”

“Hai, Jebat. Akulah Laksamana Hang Tuah yang baru datang dari Hulu Melaka."

Hang Jebat terdiam dan termenung. “Hai, Laksamana, jika tahu engkau masih hidup, aku tak akan melakukan perbuatan ini!"

“Kenapa engkau juga membunuh orang-orang yang tak berdosa? Besar sekali dosamu Jebat..!!" teriak Tuah Yang Sakti sambil meloncat ke dalam istana. Keduanya pun langsung berkelahi dengan seru. Hingga berjam-jam, tak satu pun yang terluka.

Pada suatu kesempatan, Hang Tuah berhasil merebut keris Taming Sari, dan menghujamkannya ke dada Hang Jebat. Hang Jebat pun merintih kesakitan, hingga membuatnya terpaksa lari dan bersembunyi, setelah sempat merebut kain selempang Hang Tuah untuk membalut luka dadanya.

Setelah membalut lukanya. Hang Jebat mengamuk. Bahkan hingga ke tengah pasar dan perkampungan masyarakat. Kajadian ini berlangsung beberapa hari. Korban tak berdosa pun terus berjatuhan.

Tuah Sang Laksamana merasa bertanggung jawab untuk menghentikan perbuatan Hang Jebat.

“Hai. Jebat. Hentikan perbuatanmu dan segeralah bertobat!" Mendengar seruan itu. Hang Jebat malah menertawainya. Keduanya pun kembali bertarung. Hingga akhirnya, saat lukanya semakin parah, Hang Jebat pun tersungkur dan tak sanggup lagi berdiri. la hanya bisa mengeluh kesakitan.

“Hai. Sahabatku. Segeralah habisi nyawaku ini! " kata Hang Jebat sambil merangkak mendekati Hang Tuah. Tuah Sang Laksamana pun segera memapah Hang Jebat ke dalam rumahnya. Luka Hang Jebat lalu dibersihkan dan dibalut lagi dengan kain selempang Hang Tuah. Namun, Hang Jebat sepertinya tak sanggup lagi untuk bertahan. Hang Jebat lalu berpesan pada Tuah Sang Laksamana, “Tuah, Aku punya satu permintaan. Tolong pelihara anakku yang akan lahir dari kandungan Dang Baru. Kalau dia laki-laki, berilah nama Hang Kadim!" desah Hang Jebat sambil menahan perih luka di dadanya. Hang Tuah mengiyakan permintaan itu, lalu memberi sekapur sirih agar dimakan Hang Jebat. Kemudian Hang Jebat meminta agar Tuah Sang Laksamana melepaskan balutan luka di dadanya. Balutan itu dibuka pelan-pelan dan seketika itu Hang Jebat meninggal di pangkuan Hang Tuah.

Sejak kematian Hang Jebat, Melaka kembali tenteram. Rakyat Melaka dapat mambangun negerinya kembali hingga menjadi kerajaan besar. Hang Tuah pun kembali diangkat menjadi Hu ubalang Kerajaan Melaka.

Setelah beberapa tahun, Melaka berkembang menjadi kerajaan yang cukup dikenal oleh negeri-negeri di Asia dan di Eropa. Dengan dermaga internasionalnya negeri ini menjadi pusat perdagangan yang penting dan ramai di Asia Tenggara. Kapal-kapal dagang yang datang dari seluruh penjuru dunia melakukan transaksi dagang disini. Rakyat Melaka semakin sejahtera.

Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, Raja Syah Alam mengirim utusan dagang ke Kerajaan Bijaya Nagaram di India yang dipimpin Laksamana Hang Tuah.

Setelah berlayar beberapa hari, Tuah Sang Laksamana dan para pembesar Melaka sampai di India. Rombongan tidak hanya disambut hangat oleh para pembesar kerajaan, tetapi juga oleh Raja Kerajaan Bijaya Nagaram. Karena kecakapannya, Hang Tuah pun dipercaya memimpin duta Kerajaan Bijaya Nagaram ke negeri China.

Beberapa hari kemudian rombongan Kerajaan Bijaya Nagaram pimpinan Tuah Sang Laksamana berlayar ke negeri Cina. Ketika sampai di pelabuhan Cina, Syahbandar mempersilahkan rombongan itu berlabuh di samping perahu-perahu Portugis. Hal ini diprotes oleh orang-orang Portugis.

“Hei, jangan merapatkan perahu kalian dekat perahu kami. Kalau Kapten kami datang, kalian akan ditembak!” teriak salah seorang awak kapak Portugis.

Sikap ini hanya ditertawakan Hang Tuah, hingga membuat orang Portugis marah. “Mengapa harus marah seperti itu? Kami ini pendatang juga. Di mana disuruh berlabuh, disitulah kami ikuti. Tapi kalau memang hendak menantang, satu lawan satu pun kami tidak takut,” sindir Tuah Sang Laksamana. Tanpa memperdulikan kemarahan orang Portugis, rombongan Hang Tuah turun dari geladak kapal.

Hang Tuah dan rombongan lalu menghadap empat menteri kerajaan negeri Cina. Sebelum masuk menghadap Baginda Raja, keempat menteri itu berpesan agar Tuah Sang Laksamana dan rombongan tidak memandang wajah Raja Cina, apalagi menatapnya.

Kedatangan rombongan Hang Tuah di istana disambut Raja Cina dengan hangat. Meskipun sudah empat kali menghadap, Tuah Sang Laksamana masih belum dapat melihat wajah Raja Cina. Hang Tuah lalu menemukan cara agar dapat melihat wajah Raja Cina. Ia akan memesan mie dan sayur kangkung yang tida dipotong-potong. “Ketika makan, kepalaku harus mendongak. Saat itulah wajah Raja Cina pasti akan terlihat,” pikir Tuah Sang Laksamana.

Ketika berlangsung perjamuan, Hang Tuah berhasil melaksanakan siasatnya, hingga dapat melihat wajah Raja Cina. Tindakan Tuah Sang Laksamana ini rupanya diketahui pengawal Raja yang segera hendak menangkapnya. Untunglah, Raja Cina mencegahnya. “Hai, Pengawal. Jangan kalian hukum dia! Dia orang bijaksana dan berbudi,” kata Raja Cina.

Sejak peristiwa itu, Raja Cina justru memberikan berbagai macam hadiah kepada Hang Tuah. Beberapa hari setelah perundingan dengan para pembesar Cina selesai, Tuah Sang Laksamana dan rombongan bertolak kembali ke India.

Ketika awak perahu Hang Tuah mulai menarik tali jangkar di pelabuhan Cina. Beberapa perahu Portugis bermaksud menghadang perahu Hang Tuah. Hal ini membuat Syahbandar Cina marah. “Hei Portugis. Kalau mau berkelahi, di tengah laut saja. Jangan di pelabuhan ini,” teriaknya.

Beberapa perahu Portugis kemudian segera berlayar ke tengah Iaut. Di tengah laut, perahu-perahu Portugis yang dilengkapi dengan meriam menghadang perahu Hang Tuah. Mereka pun langsung menyerang perahu Hang Tuah dengan menembakkan meriam. Namun, setiap kali hendak ditembakkan, meriam itu tidak dapat meletus karena kesaktian Hang Tuah.

Terjadilah perang Iaut antara perahu antara perahu Hang Tuah dan perahu Portugis. Peperangan itu dimenangkan Tuah Sang Laksamana. Kapten perahu Portugis dan seorang perwiranya kemudian terjun ke laut, melarikan diri ke Manila, Filipina.

Rombongan Tuah Sang Laksamana meneruskan perjalanan ke India dengan tenang. Selanjutnya, mereka pulang ke Melaka.

Setibanya di Melaka, Tuah Sang Laksamana melaporkan hasil kunjungannya ke India dan Cina pada Raja Syah Alam. Banyaknya negeri sahabat Melaka semakin menyibukkan Raja Melaka, hingga membuatnya jenuh. Untuk menghiIangkan kejenuhan itu, Raja Melaka dan keluarganya berwisata ke Singapura.

Maka berangkatlah rombongan Raja. Raden Galuh Mas Ayu naik perahu Mendam Birahi yang dinahkodai Tuah Sang Laksamana Yang Sakti. Raja Syah Alam dan Tun Teja naik perahu Kota Segara, diikuti perahu Batil Tuasa yang dinaiki Bendahara Paduka Raja, dan perahu Rancung Mengkuang yang dinaiki anak Bendahara.

Ketika sampai di Selat Singapura, tiba-tiba terlihat seekor ikan bersisik emas dan bermatakan mutu manikam di sekitar perahu Raja Syah Alam.

Rombongan Melaka berebut ingin melihatnya, termasuk Raja Syah Alam dan Tun Teja. Ketika menengok ke permukaan air itulah, tiba-tiba mahkota emas terlepas dan tanggal dari kepala Raja Syah Alam. Dia segera menyuruh pengawal meminta bantuan Hang Tuah untuk menyelami Iaut di sekitar perahu.

Mendapat laporan pengawal raja, Hang Tuah langsung terjun ke laut sambil menghunus keris Taming Sari. Di dasar laut, ia menemukan mahkota raja dan segera membawanya ke permukaan air. Ketika hampir mencapai perahu, tiba-tiba muncul seekor buata putih yang sangat besar. Karena terkejut, keris dan mahkota di tangan Hang Tuah pun terlepas.

Tanpa rasa takut, Hang Tuah pun segera memburu buaya itu, hingga berhasil menangkap ekor dan bertarung dengannya. Namun, buaya itu ternyata pintar. la menyeret Tuah Sang Laksamana jauh ke dasar laut yang sangat dalam dan gelap. Karenanya, Tuah Sang Laksamana pun jadi kehabisan udara, dan harus kembali sejenak ke permukaan untuk menghirup udara. Setelah itu, Hang Tuah pun kembali memburu buaya putih tadi. Namun, apa mau putih itu telah lenyap, berikut juga dengan mahkota Sang Raja. Hang Tuah pun kesal, dan dengan terpaksa kembali ke permukaan. Rombongan raja yang melihat pusaran air laut tak jauh dari perahu mengira Tuah Sang Laksamana telah mati. Ternyata, Hang Tuah selamat.

“Ampun, Tuanku! Saya tidak berhasil mendapatkan mahkota emas itu,” kata Tuah Sang Laksamana setelah naik ke kapal Raja Syah Alam.

“Sudahlah, kalau memang sudah demikian kehendak Yang Maha Kuasa, apalah daya kita, yang penting Laksamana selamat,” jawab Baginda Raja dengan wajah sedih.

Baginda Raja lalu menyuruh Bendahara memerintahkan semua perahu memutar haluan, kembali ke Melaka. Sejak peristiwa itu, Raja Syah Alam selalu terlihat bersedih. Laksamana Hang Tuah pun mulai sering sakit dan jarang menghadap rajanya.

Sementara itu, di markas Portugis di Manila, Filiplna

Gubemur Portugis di Manila, Filiina sangat marah mendapat laporan dua orang perwiranya yang menceritakan kekalahan di perairan Laut Cina Selatan.

Kejadian ini akhirnya dilaporkan ke pusat Kerajaan di Lisabon, Portugis.

Mendapat laporan itu, Raja Portugis memerintahkan Dong Suala dan Gubernur Portugis di Manila menjadi panglima perang untuk membalas kekalahan atas Melaka. Setelah melakukan persiapan beberapa bulan, angkatan perang Portugis yang berkekuatan empat puluh perahu perang bergerak menuju ke Selat Melaka.

Ketika kapal-kapal Portugis sampai di perairan Bintan. Selat Melaka, Raja Syah Alam langsung memerintahkan kepada seluruh rakyatnya di seluruh teluk, tanjung, rantau,dan daratan untuk ikut mempertahankan Melaka dari ancaman Portugis.

Karena Laksamana Hang Tuah sedang sakit, Raja Syah Alam memerintahkan Maharaja Setia dan Maharaja Dewa untuk memimpm perlawanan yang berpusat di Laut Bintan.

Dalam sekejap, Laut Bintan sudah penuh dengan riuh dan gemuruhnya dentuman-dentuman meriam dan teriakan para prajurit Melaka dan Portugis.

Mendapat laporan Bendahara, Raja Syah Alam segera memerintahkan untuk meminta bantuan Tuah Sang Laksamana yang saat itu sedang sakit. Bendahara pun pergi menemui Hang Tuah. Ketika Bendahara Paduka Raja sampai di rumahnya, Tuah Sang Laksamana terlihat masih lemah. Bendahara kemudian membantu Tuah Yang Sakti duduk, lalu menceritakan ancaman serangan Portugis. Mendengar berita itu, Tuah Sang Laksamana memaksakan diri untuk pergi menuju istana. Ketika sampai di istana, ia disambut Raja Syah Alam.

“Mari, mari Laksamana," sambul Raja Syah Alam. “Kita semua ikut merasa sedih atas kondisi Laksamana. Tapi sekarang, bagaimana pendapal Laksamana? Empat puluh perahu Portugis dengan peralatan Iengkap akan menyerang Melaka."

“Apalagi yang kita tunggu? Secepatnya kita harus mengusir mereka dari sini," sahut Tuah Sang Laksamana seraya menyatakan kesiapannya menjadi panglima perang.

Niat itu pun Iangsung direstui oleh Raja Syah Alam.

Walaupun masih sakit, Laksamana Hang Tuah tetap memimpin pasukan Melaka. Peperangan dahsyat pun terjadi lagi di Selat Melaka. Suara meriam saling bersahutan. Banyak pasukan Portugis dan Melaka yang mati.

Dengan berani Tuah Sang Laksamana meloncat naik ke sebuah perahu Portugls dan melibas habis semua prajurit Portugis yang ada di atasnya.

Melihat banyak kawannya yang mati, enam perahu Portugis kembali ke pangkalan. Dua Panglima Perang Portugls, Kapitan Gubernur dan Dong Suala, sangat marah mendengar laporan itu. Mereka kemudian segera membantu prajuritnya yang tengah berperang di Seat Melaka.

Kedatangan bantuan Portugis itu disambut Tuah Sang Laksamana dengan tembakan meriam. Akibatnya, tiang layar perahu Kapitan Gubernur dan Dong Suala patah. Serangan itu dibalas Kapitan Gubernur yang juga menyebabkan tiang layar dan kemudi perahu Maharaja Setia patah. Peluru prajurit Melaka berhasil melukai Kapitan Gubernur Portugis. La jatuh terduduk. Beberapa saat kemudian, praiurlt berhasil melukai Panglima Dong Suala.

Walaupun beberapa pemimpinnya sudah tidak berdaya, para prajurit Portugis terus menembaki perahu-perahu Melaka dengan membabi-buta. Saat itulah, tiba-tiba sebuah peluru mesiu menghantam Tuah Sang Laksamana. Dia pun terpelanting sejauh 7 meter dan jatuh ke laut. Beberapa perahu prajurit Melaka segera menyelamatkan Tuah Sang Laksamana, lalu dinaikkan ke perahu Mendam Birahi. Walaupun badannya kebal dan tak Iuka sedikit pun, tetapi Tuah Sang Laksamana tak dapat berkata-kata.

Laksamana Hang Tuah dibawa perahu Mendam Birahi kembali ke Melaka, diikuti perahu Maharaja Setia dan Maharaja Dewa. Karena banyak pemimpinnya yang terluka, para prajurit Portugis pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke pangkalannya di Manila, Filipina.

Beberapa tahun kemudian.....

Baginda Raja Syah Alam sudah tidak lagi memimpin kerajaan Melaka, dan telah digantikan oleh anaknya, Putri Gunung Ledang. Saat itu, Laksamana Hang Tuah sudah tidak lagi menjabat sebagai laksamana kerajaan Melaka. Ia sudah lanjut usia, dan menyepi di puncak bukit Jugara di Melaka.

Mengetahui keadaan ini, Portugis datang dengan berpura-pura sebagai pedagang. Mereka mendapat izin dari Tuanku Putri Gunung Ledang untuk membangun gudang-gudang besar tempat menyimpan barang-barang perniagaan mereka di Melaka.

Ternyata gudang itu bukan saja berisi barang-barang perniagaan, tetapi juga meriam, mesiu, dan peralatan perang lainnya. Gudang tersebut akhirnya dijadikan benteng. Melalui “gudang-benteng” inilah kemudian Portugis menyerang, menghancurkan, dan merebut Melaka. Prajurit Melaka melawan serangan Portugis dengan gagah berani, namun karena persenjataan Portugis sangat kuat dan lengkap, akhirnya dengan terpaksa para pemimpin kerajaan pun harus mengungsi ke Johor, Riau, Singapura, dan daerah sekitarnya untuk menyusun kekuatan baru.

-TAMAT-

Tulisan ini sambungan dari tulisan pertama :
HIKAYAT HANG TUAH KSATRIA MELAYU Bagian Pertama

Bacaan Lain :
Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi
PATRIOTISME HANG TUAH
Hikayat Hang Tuah, antara Sejarah dan Mitos